[FF] Love Is Blind


@We_LoveKDrama

@We_LoveKDrama

Nama: Amelia Kartikawati

Nickname: Amelia Kartika Widodo

Akun Twitter: @AmeliaYSW

Title FF: Love Is Blind

Genre: Romance

Main Casts:

  • Super Junior Choi Siwon
  • Park MaeRi (OC)

Supporting Casts: Super Junior KyuHyun

Length: OneShot

——————————————————————————————————————————————-

[Park MaeRi POV]

Sore menguning yang memanjakan mata kini datang kembali. Terlihat suasana kota Seoul yang begitu bersinar oleh temaram indah senja di pinggir pantai, tetapi mungkin sangat berbeda dengan wajahku yang justru terlihat mendung sekarang. Hatiku bergetar tak menentu seperti desiran pasir di ujung pantai yang tak berpenghuni, kosong.

Aku melirik sekilas pada seorang pria yang kini tengah berdiri disampingku, sejak tadi ia masih terdiam tenang dan sesekali menyibakkan poni rambutnya yang beterbangan karena angin. Sungguh mempesonakan dua bola mataku, Choi Siwon.

“Hmmm…Siwon-ah?” panggilku, terdengar penuh keraguan. Memang.

“Ya, MaeRi-ya?” balasnya dengan nada bertanya. Kuperhatikan dua mata indah pria ini tetap fokus memandang jauh ke tengah hamparan air disana, sementara sepasang tangannya dilipat di depan dada.

Aku mulai menundukkan kepala, tapi ujung mataku tetap mengawasi pria tampan ini. Tiba-tiba dadaku terasa berat dan berkecamuk, bimbang. “Apa kau tahu tentang apa yang sedang kupikirkan saat ini?” lirihku.

Siwon hanya diam, tapi mengangguk. “Kau tahu??” seruku antusias sambil semakin menatap lekat garis tegas wajah Siwon. Indah.

“Kau memikirkan aku kan?” tebaknya yang langsung membuat semburat merah menyembul jelas dari dua pipi tirusku. Aigo! Bagaimana ini?! “Mengakulah, Nona Park!” desis Siwon kemudian.

Aku masih diam. Detik kemudian aku pun segera kembali pada posisiku semula, mataku memandang antusias pada air luas di depan sana. Berusaha tenang, tapi sebenarnya hatiku kini sedang bertalu-talu seirama dengan tanganku yang bergetar hebat. “Jantungku selalu berdentum tak teratur ketika kau berada di dekatku. Ini memalukan, tapi aku harus mengakuinya. Aku sedang jatuh cinta padamu, Tuan Muda Choi!” cerocosku cepat, sedetik kemudian aku mulai menundukkan kepala dan memejamkan mata demi menahan rasa canggung yang mendera.

Hening beberapa menit.

Cukup lama aku menunggu jawaban dari pria itu, tetapi ia malah masih tak bersuara. Tak tahan terus menebak-nebak, akhirnya kuberanikan menoleh ke arah pria yang telah kukenal selama lebih dari dua tahun ini. “Choi Siwon?” panggilku.

Siwon segera menoleh padaku dan langsung mencopot sepasang earphone yang menutupi dua lubang telinganya. Apa?! Earphone?! “Apa? Tadi kau bicara apa?” Pria tegap bermata indah itu malah balik bertanya dengan raut wajah penasaran dan terkesan lugu.

Aku pun hanya bisa merengut sambil menghela napas berat. Jadi sejak tadi Siwon tidak mendengarku bicara?! Ia malah sibuk mendengarkan lagu melalui earphone-nya itu?! Padahal aku sudah setengah mati menahan rasa gugup demi menyatakan cinta untuk pria babo ini! Aissh, ini bukan gayaku. Kenapa aku bisa seberani tadi?!

Aku tak menyahuti Siwon dan langsung memutar dua roda kursi yang telah membantuku berjalan selama dua bulan ini, menjauh dari Choi Siwon yang masih berdiri sambil memasang tampang bodoh di ujung pantai sana. Ya, aku adalah Park MaeRi, sudah dua bulan ini aku menderita kelumpuhan akibat kecelakaan berat yang kualami beberapa waktu lalu. Dokter bilang kelumpuhan ini hanya sementara, tapi aku sendiri tidak yakin pada mulut dokter itu. Entahlah.

“Kenapa kau hanya diam? Apa yang kau bicarakan tadi?” tanya Siwon lagi setengah berteriak. Kini ia mulai berlari mendekatiku, lalu dua tangan kekar pria ini dengan sigap memegang ujung kursi roda milikku, ia menuntunku sampai mobil.

“Bukan apa-apa, aku mau pulang!” seruku dengan nada menyebalkan. Menurutmu siapa yang tidak sebal dengan peristiwa ini? Memalukan.

***

“Kau sedang ada masalah?” tanya Siwon untuk kesekian kalinya. Dia terlihat bingung melihatku terus diam tak menyahut, tersirat tanda tanya besar dalam ekspresi wajahnya. Aku tetap tak peduli, rasanya saat ini aku lebih memilih untuk memperhatikan jalanan dari balik kaca mobilnya daripada harus angkat suara. Mungkin aku sedang meratapi nasibku sendiri.

Aku jatuh cinta pada Choi Siwon, orang yang selama ini selalu ada didekatku setelah aku mengalami peristiwa kecelakaan itu. Dia adalah teman kuliahku dulu yang baru saja kembali dari Amerika. Entahlah, kurasa ia sengaja kembali darisana karena mendengar tentang kecelakaan yang menimpaku. Dan ini semakin membuatku merasa yakin bahwa ia memiliki rasa yang sama sepertiku, tapi dengan keadaanku yang lumpuh seperti sekarang? Kurasa keyakinanku jadi berkurang hampir 75%.

***

Hari ini aku menjalani terapi di rumah sakit lagi, berharap aku bisa kembali seperti dulu. Menjadi normal dan bisa menapaki jalan lagi seperti yang lainnya, tapi aku ragu.

“Setelah hampir dua bulan, tetap saja kakiku masih sulit kugunakan untuk menumpu tubuhku. Hentikan saja terapi konyol ini, Chagi!” seruku pada KyuHyun, kekasihku. Ya, mungkin kalian heran kenapa aku menyatakan cinta pada Siwon, padahal aku masih memiliki kekasih. Aku sendiri juga heran dengan diriku. Hmm…aku hanya merasa bahwa Kyu tidak lagi seperti dulu, pria itu berubah. Setelah kecelakaan yang kualami, aku merasa ia menjadi sedikit menjauh dan menghindariku. Mungkin ia malu mempunyai kekasih yang lumpuh dan menyebalkan sepertiku.

“Kau tidak boleh seperti itu! Kita harus terus berusaha, dokter bilang ini hanya sementara. Bertahanlah, Chagi,” omel Kyu yang malah semakin membuatku meradang. Aku marah pada diriku sendiri.

“Aku tidak mau, ini sulit! Lebih baik kau pergi saja! Aku tidak pantas lagi menjadi kekasihmu!” seruku terisak. Entah sejak kapan derasnya buliran air mulai memenuhi dua bingkai mataku, akhirnya aku hanya bisa menunduk lemah tidak berani menatap mata Kyu.

Kudengar Kyu menghela napas berat, tapi ia hanya diam, tidak membantuku menghapus air mata ini. Ya, pria yang telah hampir setahun menjadi kekasihku itu mendadak berubah setelah aku lumpuh. Aku sadar bahwa sebelum lumpuh pun aku sering menyusahkannya, apalagi sekarang. Di dunia ini tidak ada yang namanya cinta buta! Pasti KyuHyun cukup mengerti tentang hal itu karena dia adalah tipe pria yang selalu mencari keuntungan. Entahlah kenapa dulu aku menerimanya menjadi kekasihku. Errggh…

“Jangan menangis lagi, aku disini,” bisik seseorang, kurasakan sepasang tangan menyentuh pundakku lembut.

“Choi Siwon?” kagetku, aku pun mulai celingukan bingung. “Dimana Kyu?” tanyaku serak sambil terus berusaha menyeka air basah di pipiku.

Siwon hanya mengangkat bahunya ringan sambil menatapku. “Entahlah.”

“Apa maksudmu dengan entahlah?! Apa Kyu adalah seorang hantu hingga bisa menghilang begitu cepatnya!” seruku berapi-api, merasa tidak puas dengan jawaban Siwon.

“Hey, gadis babo! Kau ini sedang sakit, jadi berhentilah bersikap menyebalkan seperti itu!” desis Siwon sambil mengulum tawa, tapi kalimatnya ini menyerang tepat di hatiku.

“Baiklah, aku tahu! Aku memang menyebalkan! Aku sakit dan tidak akan pernah sembuh!” teriakku frustasi sambil makin terisak. Kalau saja aku bisa berlari, mungkin aku ingin segera menjauh dari sini. Mungkin aku ingin cepat-cepat pergi ke surga saja. Memalukan ketika aku harus menangis dihadapan Choi Siwon, orang yang dulu sama sekali tidak pernah kuprediksi untuk kujadikan sebagai pria yang masuk kedalam hati terdalamku. Aku menelan ludahku sendiri, dulu kubilang bahwa aku sangat membencinya, tapi sekarang semua berubah. Siwon telah menjagaku selama dua bulan ini, bahkan perhatiannya lebih besar dari yang diberikan oleh KyuHyun padaku. Wajar saja bukan jika aku mulai jatuh hati padanya?

“Bu-bu-kan seperti itu maksudku, MaeRi-ya!” ujarnya tak enak hati. Sedetik kemudian Siwon mulai membungkuk demi menghapus air hangat yang membanjiri wajahku, jemarinya begitu lembut. Sungguh. Sementara aku yang terduduk kaku di kursi roda ini hanya bisa menatap kagum pada senyum indah dan lesung pipit menggemaskan miliknya. Aigo! Kenapa aku baru menyadari bahwa ia sangat tampan? Kukira ia hanya seorang namja menyebalkan yang sering sekali menyusahkanku ketika kami masih sama-sama kuliah dulu.

“Kenapa?” ucapku, masih serak.

Kini Siwon mulai mengangkat sebelah alisnya, mungkin bingung. “Kenapa? Kenapa apanya?”

Aku menarik napas sebelum buka suara, mengumpulkan energi agar tak makin terisak. “Kenapa kau cepat-cepat kembali dari Amerika setelah mendengar bahwa aku kecelakaan? Padahal pekerjaanmu disana sangat banyak dan bukankah kau sama sekali tidak pernah merelakan hal lain sampai mengganggu pekerjaanmu yang sering kau banggakan itu? Tapi kenapa sekarang kau malah mengambil cuti hampir dua bulan untuk tinggal di Korea?” cerocosku. Pertahananku roboh, cucuran air dari mataku mulai mengalir lagi. Lebih deras.

Siwon hanya memandangku aneh, tapi aku bergeming. Rasanya banyak sekali pertanyaan yang ingin kutanyakan pada Siwon sejak dua bulan lalu. Aku lelah selalu menebak-nebak. “Apa semua yang kau lakukan itu adalah demi menjagaku?” tanyaku akhirnya, menyuarakan isi hati.

Tiba-tiba Siwon menyimpulkan seulas senyum, manis. “Menurutmu?” Aku mulai mengkerutkan keningku, menebak apa yang ada dalam pikiran Siwon saat ini. Pria ini selalu sulit untuk kutebak sejak dulu. “Aku mendengarnya…”

Aku masih menautkan kedua alisku, memilih untuk menunggu kalimat berikutnya yang terlontar dari mulut pria yang telah mencuri hatiku selama dua bulan ini. “Kau jatuh cinta padaku?” sambungnya sambil menyeka lagi basahan di dua permukaan pipiku.

Deg! Hatiku seperti terserang puting beliung, rasanya isi rongga dadaku sedang berputar-putar tak menentu di dalam sana. Oh, Tuhan. “Kau…kau…kau mendengarnya?” gugupku yang hanya ditanggapi sebuah anggukan kecil dari Siwon. “Lalu kenapa tidak langsung menjawab?”

Siwon mulai berdiri tegap sambil menarik napasnya panjang, ini membuatku terserang panik. Tidak, kumohon, jangan tolak aku. Memang sejak dulu aku sama sekali belum pernah menyatakan cinta duluan pada seorang pria, tapi untuk Choi Siwon, kurasa ia adalah pria spesial yang harus secepatnya kuperjuangkan. “Aku tahu bahwa sekarang aku bukanlah Park MaeRi yang normal seperti dulu, tapi hanya saja aku merasa kau bersikap terlalu baik padaku selama dua bulan ini dan-”

“Berhentilah mengomel, Nona Park! Aku juga jatuh hati padamu! Sejak lama, sampai sekarang dan sampai kapanpun!” seru Siwon.

Aku tertegun. “Apa kau sedang bercanda?”

“Kapan aku pernah bercanda denganmu hah? Lebih baik aku melanjutkan pekerjaanku di Amerika daripada menghabiskan waktu untuk bercanda dengan gadis bodoh sepertimu!” ledeknya sambil terkikik kecil. Aisssh, sejak masih kuliah dulu ia memang tipe pria dingin dan juga pekerja keras. Dia bilang bahwa ia harus sukses dan bisa bekerja menjadi seorang animator di perusahaan film Amerika. Ya, mimpinya pun terwujud. Makanya saat melihat ia pulang ke Korea untukku, aku jadi menerka tentang sesuatu. Sepertinya ia memiliki rasa lebih untukku, entahlah. “Ini adalah cinta buta. Aku menerimamu apa adanya, apapun keadaanmu,” lirihnya sambil mengusap lembut kepalaku.

Cih! Cinta buta? Apa ada yang seperti itu? Entahlah, tapi aku merasa lega saat mendengarnya berkata seperti itu. Kuharap ini bukanlah omong kosong. “Berarti kita jadi sepasang kekasih sekarang?” tebakku antusias.

“Tidak! Kau kan belum memutuskan hubunganmu dengan Kyu,” jawabnya ketus.

Astaga, aku hampir lupa jika aku masih memiliki KyuHyun. Tapi dimana pria itu? “KyuHyun!?” pekikku saat melihat seseorang dengan tangan dan kaki terikat ke pohon, mulutnya pun diplester oleh sebuah lakban hitam. Pohon itu letaknya ada dibelakang tempatku dan Siwon mengobrol sejak tadi. Aigo! Apa yang terjadi?!

“Mmmm…mmmm.” Kyu hanya menggumam tak jelas dari sana, sementara aku masih melongo. Aku segera menoleh cepat pada Siwon demi mencari jawaban dan pria itu mengangguk. Apa maksudnya?!

“Cepat, putuskan pria itu,” ujar Siwon sambil menahan tawa meledak dari mulutnya, mungkin karena melihat ekspresi mata Kyu yang terlihat marah. Entahlah apa yang terjadi. “Jangan terlalu lama! Ayo lakukan, putuskan dia,” ujar Siwon sambil mendorong kursi rodaku untuk lebih mendekat pada Kyu.

Melihat Siwon terus mendesakku, akhirnya kulakukan. “Aku ingin kita berpisah, aku sudah tidak mencintaimu dan kupikir kau juga sudah tidak mencintaiku,” ujarku. Kyu terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya sambil sesekali meronta minta untuk dilepaskan.

Kini Siwon mulai mendekati KyuHyun yang menjadi teman satu kampus kami juga dulu, perlahan ia melepas tali dan plester yang melekat pada mulut Kyu. “Kau gila hah?! Mau membuatku mati?!” teriak Kyu sambil mendorong kasar bahu Siwon.

Siwon hanya menyambutnya dengan senyum sinis. “Itu hukuman untukmu!”

“Dasar gila!” umpat Kyu pada Siwon. Sebenarnya apa yang terjadi? Aku pun hanya bisa melongo bingung. “Kau! Park MaeRi! Aku juga sudah muak denganmu! Kau masih normal saja, sudah begitu menyebalkan! Apalagi sekarang saat kau lumpuh!” teriaknya penuh emosi sambil menunjuk-nunjuk ke arahku.

Aku tertegun. Apa benar dia adalah KyuHyun-ku? Kasar.

Kini cepat-cepat Siwon mendekatiku, lalu ia langsung menutup dua telingaku menggunakan telapak tangannya. Pria ini. “Jangan didengar, MaeRi-ya!”

“Kalian memang pantas bersama! Dasar pasangan tidak waras! Ingat, kita sudah berpisah!” seru Kyu lagi sambil mulai berlalu dari taman sebuah rumah sakit besar di Seoul ini. Pria itu berjalan sambil mengusap-usap tangan kanannya bekas tali tadi, mungkin ia kesakitan.

Aku pun segera menepis tangan Siwon dari dua telingaku. “Jangan didengar omongan setan itu! Kau tidak boleh menangis lagi!” paniknya sambil menggenggam erat dua tanganku, ia menatapku penuh khawatir.

Aku tersentuh. Segera aku menggelengkan kepalaku sambil mengulum senyum. “Tidak, selama kau ada disini, aku hanya ingin tersenyum terus,” ujarku yang membuatnya menghembuskan napas lega. “Apa yang kau lakukan padanya tadi?” tanyaku kemudian.

Tiba-tiba senyum Siwon mulai mengembang saat mendengar pertanyaanku, kurasa ini akan jadi cerita yang menarik. “Kemarin KyuHyun bercerita padaku bahwa ia ingin memutuskanmu. Aku bahagia karena menurutku pria setan itu sama sekali tidak pantas untukmu. Sejak kuliah pun kau tahu bahwa ia adalah seorang playboy! Kenapa kau masih saja mau menjadi kekasihnya?!” protes Siwon yang hanya kutanggapi dengan sebuah tawa kecil. Kurasa ia sedang cemburu.

“Tuan Muda Choi, kau tidak menjawab pertanyaanku tadi! Apa yang kau lakukan pada Cho KyuHyun? Kenapa mengikatnya di pohon seperti itu?” tanyaku.

Siwon menarik napas panjang, mungkin ia akan bercerita banyak hal setelah ini. “Aku tahu bahwa sejak dulu kau paling tidak suka jika diputus oleh pasanganmu duluan, jadi tadi aku mencegah Kyu untuk memutuskanmu duluan. Saat kau terisak, aku segera membungkam mulutnya, menariknya dan mengikatnya ke pohon besar tadi,” cerocosnya.

Tawaku meledak sempurna. “Hahahahahahahaha!”

“Kau bangga padaku?” tanyanya yang kusambut dengan anggukan mantap. “Sebenarnya sejak dulu aku sudah menyukaimu, tapi kau selalu mengabaikanku…”

“Kau sangat menyebalkan karena terus meminta bantuanku untuk mengerjakan tugasmu, padahal hanyalah tugas mudah! Dulu kau sangat mengganggu ketentraman belajarku,” desisku.

“Dasar bodoh! Waktu itu aku hanya mencari alasan saja agar selalu bisa dekat denganmu! Saat mendengar bahwa kau dan Kyu bersama, jujur aku sudah hampir frustasi!”

“Benarkah?” desisku pura-pura meragukannya. Sedetik kemudian Siwon mulai menundukkan kepalanya dan malah mengecup sekilas keningku.

“Maaf telah membuatmu menunggu lama. I Love You,” bisiknya, membuat hatiku bergetar.

***

Terapi yang kulakukan hari ini telah selesai, baru kali ini aku merasa antusias menjalani terapi, kurasa aku akan cepat sembuh karena ada Siwon yang selalu menjagaku. Ya, aku harap.

Kini kami berdua sedang berjalan menuju halaman parkir rumah sakit. “Kenapa waktu itu berpura-pura tidak mendengar pernyataan cinta dariku?” tanyaku sambil mendongakkan kepala demi melihat wajah Siwon yang kini tengah mendorong kursi rodaku dari belakang.

“Kau mau tahu?” tanyanya sambil mengulum senyum, aku pun mengangguk. “Karena aku mau jika aku duluan yang menyatakan cinta padamu. Aku menunggumu memutuskan Kyu, lalu baru aku akan menyatakan cintaku. Tapi kau malah dengan beraninya berkata cinta padaku, padahal masih punya kekasih! Dasar bodoh!” omelnya.

Aigo! Ternyata Siwon sangat mengerti perasaanku, jadi inilah jawaban dari semua pertanyaan teman-temanku dulu. Siwon sama sekali tidak pernah punya kekasih, padahal banyak yeoja yang mengejarnya. Sampai-sampai ada seorang yeoja -yang cintanya pernah ditolak oleh Siwon- yang menganggap bahwa Choi Siwon tidak normal. Kkkk~ ternyata pria ini tengah menungguku, menunggu cinta dariku. “Banyak yang lebih cantik dariku, aku menyebalkan dan aku tidak normal lagi seperti dulu. Kenapa masih mau mengejarku?” cerocosku.

“Cinta itu buta, Chagi,” bisiknya sambil tersenyum simpul.

Aku pun mulai mengulum senyum lega sekaligus tersentuh karena ia tak peduli dengan apapun keadaanku, meskipun aku lumpuh. Kuharap ini bukan sekedar mimpi, kumohon.

***

Akhirnya kami sampai di depan pagar rumahku, memang sepi karena semua anggota keluargaku sedang pergi ke luar kota untuk acara tahunan keluarga besar Park. Kini Siwon menggendongku untuk keluar dari mobilnya. Saat ia menggendong tubuhku menuju kursi roda, kami berpandangan sangat lama sekali seolah ini adalah tatapan terakhir kami. Ya, inilah rasanya jika sedang dimabuk cinta, wajar.

Aku duduk di kursi roda, terasa sangat nyaman apalagi ada Siwon disampingku. Tapi tiba-tiba saja seseorang dari belakang menarik ujung baju kekasihku itu dengan kasar. Cho KyuHyun dan dua orang temannya?

Siwon ditarik oleh dua orang teman Kyu menuju tengah jalanan di sekitar kompleks rumahku, kemudian mereka mengeroyok Siwon dengan sadisnya. Kyu meninju dan menampar sambil memegangi tangan Siwon kebelakang hingga pria itu tak bisa berkutik. Tidak, mereka bertiga dan kekasihku itu hanya sendirian. Ini tidak adil.

Sementara itu, aku pun terus memutar kursi rodaku demi mendekati mereka, berharap bisa menolong Siwon. Tapi aku tak berdaya, panik. Suasana kini sangat kacau. “KyuHyun-ah, hentikan!” teriakku yang sama sekali tak dipedulikan. Sialnya disini juga tidak ada siapapun, jalanan ini sangat sepi. Entahlah tak ada satupun mobil atau tetangga yang melintas. Benar-benar sial.

“Itu hukuman untukmu karena sudah berani mengikatku di pohon! Kau juga berani menggoda Park MaeRi! Sekarang ambillah gadis lumpuh tak berguna itu!” teriak Kyu sambil menunjuk ke arahku.

Buuk…Buukk…Braak…

Mereka bertiga benar-benar menghajar habis Siwon-ku. Tidak! Aku tidak sanggup melihat darah segar mengucur dari pelipis dan hidung Siwon, belum lagi luka memar membiru di sudut-sudut bibir dan pipinya. Tiga orang terkutuk itu harus dihukum, mereka menendang dan memukul Siwon sedemikian kejamnya. Tuhan, apa yang harus kulakukan?

“Hentikan! Kumohon!” teriakku lagi sambil terisak. Entah sejak kapan aku terisak, aku tidak sanggup menahannya. Air mata terus menetes membasahi pipi hingga mengalir turun menuju bibirku, tercekat dan tenggorokannku terasa keras.

“Dasar tidak berguna! Cih!” umpat Kyu yang diiringi oleh tendangan dari teman pria Kyu yang berbadan besar dan yang satunya lagi berambut pirang. Kulihat mereka juga menendang perut dan meludahi tubuh Siwon. Aaaarggggh! Andai aku tidak lumpuh, pasti aku sudah mengambil pisau dari dalam rumah dan langsung menusuk pria-pria setan tadi.

Kulihat Kyu melirikku sekilas sambil tersenyum sinis, sedetik kemudian ia pergi bersama dua temannya tadi. Mereka memasuki sebuah mobil sport hitam milik KyuHyun dan menjauh dari pandanganku. Baguslah! Kuharap kalian selamat sampai rumah, kuharap malaikat penjemput maut tidak marah dengan apa yang kalian lakukan kini pada malaikat tanpa sayapku. Choi Siwon. “Siwoooon…,” isakku.

Kini Siwon mulai berusaha bangkit mendekatiku dari ujung jalan sana, ia tetap tersenyum sambil berjalan terhuyung dan sesekali meringis menahan sakit. Aku bisa melihat peluh di keningnya yang bercampur dengan kucuran cairan merah, pasti menyakitkan. “Kumohon jangan menangis! Aku baik-baik saja,” lirihnya sambil memegangi perutnya sendiri. Pasti sangat sakit karena mereka tadi menendangnya sangat keras.

“Siwon!!!!” seruku kencang saat melihat sebuah truk keluar dari pertigaan jalanan depan rumahku, truk itu melaju cepat. Tak bisa kutepis, aku takut membayangkannya. Tidak, jangan, aku mohon. Tanpa pikir panjang lagi, aku langsung bangkit dari kursi rodaku dan berlari menuju tubuh lemah Siwon yang masih berjalan terhuyung disana.

“Tuan Muda Choiiiiiiiiiiiiii….” Aku segera mendorong tubuh Siwon, sangat keras kudorong dia. Namun terlambat, mobil itu telah mendekat dan menghempaskannya bersamaku. Kami berdua. Kami terpisah.

Ciiiiiiit~~~ Kudengar suara decitan rem mobil yang begitu memekakkan terlinga, entahlah…Aku pasrah.

Perlahan aku menelisik diantara tetesan darah yang mengalir disekitar mataku dan mendapati Siwon terbaring di ujung sana sama sepertiku. Terasa begitu jauh. Sepi. Rasanya waktu berhenti begitu saja seolah ini adalah saat terakhir untuk kami saling menatap satu sama lain. Pria itu tersenyum bersimbah darah, lebih parah dari tendangan dan siksaan dari Kyu bersama teman-temannya tadi. Aku tahu Siwon pasti sangat tersiksa, tapi pria itu masih berusaha untuk menggapai tanganku.

“Kau sembuh, kau bisa berjalan lagi,” lirihnya susah payah. Sungguh aku tidak sanggup menatap matanya yang penuh luka serpihan kaca mobil itu. Sakit, aku sangat sakit melihatnya tersiksa seperti itu. Susah payah, akhirnya tangan kami bertemu. Saling menggenggam. Kueratkan genggaman tanganku padanya, semakin erat. Kini bau amis darah mulai bercampur dengan air mata yang menetes dari pelupuk mataku. Aku merasakan sakit ditubuhku, tapi aku tak peduli. Rasanya aku juga tidak akan peduli jika sampai harus menghadap surga nanti, yang penting Siwon baik-baik saja. Kumohon.

“Ja-ja-ja-jangan menangis, MaeRi-ya,” ujarnya terbata. Siwon ingin menggapai wajahku demi menghapus air hangat dari bingkai indah mataku ini, tapi gagal. Tiba-tiba tanpa seijinku ia menutup kedua matanya sendiri dan kulihat tangannya melemas. Begitupun aku, aku lelah. Aku tak sanggup lagi membayangkan apa yang akan terjadi pada kami setelah ini, kuputuskan untuk ikut menutup kedua mataku. Menahan luka. Aku ingin ikut bersamamu, Choi Siwon.

Samar-samar kudengar banyak orang mulai datang dengan seruan panik, menghampiri kami. “Ada kecelakaan!!! Tolong!!!”

***

Tiga bulan kemudian…

Aku berjalan menuju altar dengan antusias, ada rasa canggung mengingat ini adalah upacara sakral yang kuharap hanya terjadi seumur hidup sekali dalam kehidupanku. Aku akan menikah dengan Choi Siwon. Menikah di surga? Tentu saja tidak. Kami masih ada di bumi, kami masih menyatu dan kami masih bernyawa.

“Aku akan menikah dengannya,” lirihku antusias.

Kurasakan senyum Siwon dari depan altar mengembang hingga menggetarkan hatiku, ini nyata. Pria itu berdiri disana mengenakan tuxedo putih lengkap dengan dasi kupu-kupu yang menggantung pada leher jenjangnya, kerupawanan wajahnya sudah tidak perlu diragukan lagi. Dia melihatku seolah sedang terpesona dan antusias, tapi aku tahu bahwa kini ia tengah merasakan gelap yang luar biasa, bahkan sangat gelap.

Aku sampai di depannya, kutarik napasku beberapa detik. Aku gugup. “Ini tanganku,” ucapku sambil mengulurkan tanganku pada Choi Siwon.

Sedetik kemudian akhirnya kami mengucap janji dihadapan Tuhan. Benarkah? Ini nyata? Aigo! Kami menjadi sepasang manusia yang resmi, ini seperti sebuah mimpi. Aku hanya milik Choi Siwon dan Choi Siwon hanya milikku. Beberapa saat kemudian, tepuk tangan meriah mulai menggema di seluruh penjuru ruangan gereja besar ini. Riuh sekali. Bahkan kudengar sayup-sayup suara KyuHyun yang ikut meneriakkan semangat di ujung bangku sana. Ya, pria itu menjadi sahabat kami selama tiga bulan ini. Mungkin merasa bersalah akibat kebutaan yang Siwon alami. Ya, kini Siwon tak bisa melihat lagi, sementara aku sudah menjalani kehidupan normalku kembali. Menyedihkan.

“Cium…cium…cium…” Teriakan itu menggema di dalam gereja. Aku sangat gugup, tanganku pun jadi dingin sekali.

“Dimana bibirmu?” tanya Siwon yang langsung membuatku terkekeh geli. “Hey, jangan tertawa, aku serius!”

“Ini…,” ucapku sambil mengarahkan tangannya agar menyentuh bibirku. Atmosfer canggung pun mulai memenuhi jantungku, tak bisa kuhindari bahwa sesuatu di dalam dadaku kini sedang bergetar hebat. Sangat hebat. Ini pertama kalinya kami akan melakukan ciuman dan kini kami harus melakukannya dihadapan banyak orang. Tuhan, apa yang harus kulakukan?

Begitu tau bibirku, Siwon mulai mencondongkan tubuhnya mendekatiku. Aku pun mulai memejamkan kedua mata, bersiap untuk menerima sesuatu yang sangat kutunggu-tunggu sejak lama. Aku sangat menantikan ini.

Chuuu~~~

Spontan aku langsung membuka mataku lebar-lebar. Apa ini? Ternyata pria bodoh ini malah hanya mengecup keningku saja. Bibirku!! Aku mau di bibir!! Lama Siwon menempelkan bibirnya disana, di keningku. Hening. Kulirik sekilas pada semua tamu yang hadir, mereka menatap kami terkagum-kagum. Mungkin inilah yang disebut cinta buta yang menginspirasi banyak orang diluar sana. Seorang gadis normal yang mencintai seorang pria buta.

“Aku kan sudah memberitahumu dimana bibirku!” kesalku setelah Siwon kembali pada posisinya semula.

“Tapi aku mau keningmu, aku ingin memberimu energi agar di otakmu ini hanya ada aku!” serunya yang langsung membuat Pastur di samping kami terkikik geli.

“Aiiissh! Kau ini!” desisku sambil memukul pelan pundaknya.

Siwon yang membuatku mampu berjalan lagi, Siwon yang membuatku berani berlari demi menolongnya dari truk yang telah menghempaskan kami. Tapi truk itu pula lah yang juga menyatukan hati kami agar semakin erat. Tuan Muda Choi juga benar-benar membuktikan omongannya bahwa ia mencintaiku secara buta sejak awal. Aku mengerti dan merasakan hal itu, cinta buta. Kini giliranku yang menjadi mata Siwon. Kini giliranku yang akan mencintainya secara buta. Meski pria ini telah benar-benar buta, aku tidak peduli.

[Siwon POV]

Aku tahu pasti bahwa gadis ini akan menjagaku, cinta memang benar-benar buta. Aku tidak menyesal, bahkan semua terjadi begitu saja. Selama aku sudah menemukan MaeRi-ku, gadis impianku sejak dulu, aku rela melepas pekerjaan yang selalu kubanggakan itu. Menjadi animator tak lagi bisa kujalani dengan keadaanku saat ini, tapi Park MaeRi telah berhasil menguatkanku.

“Saranghae,” bisikku sambil langsung memeluknya. Waktu terasa berhenti seolah hanya menjadi milik kami berdua. Dua mataku terasa mengabur, aku memang selalu merasa gelap dalam tiga bulan ini. Tapi kali ini berbeda, untuk pertama kalinya aku meneteskan air mata sejak mengalami kegelapan.

“Jangan menangis,” bisik MaeRi serak. Aisssh! Gadis ini menyuruhku tidak menangis, tapi dia sendiri kini sedang menangis!

Setelah ini aku akan berusaha membuka usaha baru, aku ingin membuat kehidupan istriku menjadi lebih baik. Aku tidak mau membuatnya menyesal karena telah memilihku dengan keadaanku yang seperti ini. Sementara itu aku juga masih tetap melanjutkan aktivitas favoritku, menggambar. Aku menggambar di dalam gelapku, menggambar sesuatu yang kulihat terakhir kali ketika mataku masih bisa menangkap cahaya. Park MaeRi.

Note: Thanks for reading! Hehehe🙂

THE END

——————————————————————————————————————————————-

Berikan penilaian kalian tentang FF ini di kolom komentar. Don’t be silent reader ya ^^

Pos ini dipublikasikan di Fan Fiction, K-DID dan tag , , , . Tandai permalink.

6 Balasan ke [FF] Love Is Blind

  1. adminwld berkata:

    cieee dicium siwon xD aaaaaaaa

  2. jinyeongie berkata:

    temanya keren, aku suka. Cinta itu memang buta xD

  3. so sweet, sampe nangis baca ini romantis bangetttttttt……….terlalu menyentuh…

  4. kyuhyun kok kasar banget…aku sedih pas kyuhyun gebukin siwon kyuhyun jahat bangettt aku ampe nangis pas baca kyuhyun mukulin siwon.iiiiiiiiiiiihhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh……….EVIL ITU NGAJAK RIBUTTTT😄

Don't be silent reader, tulis komentarmu di sini ^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s