[FF] My Goofy Bodyguard


@We_LoveKDrama

@We_LoveKDrama

 

Nama: Amelia Kartikawati

Nickname: Amelia Kartika Widodo

Akun Twitter: @AmeliaYSW

Title FF: My Goofy Bodyguard

Genre: Romance, Action, Comedy

Main Casts:

  • Super Junior Cho KyuHyun
  • Lee Ji Bin (OC)

Supporting Casts:

  • Super Junior Yesung
  • Luna (F(x))
  • Victoria (F(x))

Length: OneShot

——————————————————————————————————————————————-

[Lee Ji Bin POV]

Aku berjalan dengan riang menuju halte bus, hari ini aku sangat senang sekali bisa membuat ‘musuh’ ku di klub memasak kesal padaku karena pengajar kami memuji bahwa masakanku jauh lebih enak darinya. Namanya Victoria, dia sangat menyebalkan dan selalu sinis padaku, entah aku tidak tahu sebabnya padahal aku termasuk mahasisiwi yang pendiam di kampus.

Ketika aku melewati sebuah gang kecil, tiba-tiba terdengar suara gaduh dari dalam gang. Mataku menelisik kesana, mencoba mencari sumber suara-suara itu. Apa ini? Kulihat segerombolan pria bertampang preman sedang mengejar seorang namja yang sepertinya tak asing di mataku…Kyu?

Oh tidak, Kyu berlari ke arahku. Kenapa aku harus bertemu dengannya disaat seperti ini. “Kyu!! Apa yang kau lakukan!!” teriakku. Namja yang sedang memasang tampang kebingungan ini menarik tanganku dan membawaku lari bersamanya. Aku kelimpungan mengimbangi langkah kakinya yang berlari sangat cepat.

“Sudah ikuti saja aku!” teriaknya sambil tetap berlari, kulihat dia sudah hampir kehabisan napas dan wajahnya dipenuhi peluh. Kenapa dia harus melibatkanku di acara kejar-kejaran ini!

“Kau benar-benar merusak mood-ku! Tunggu saja sampai Hyung mu tahu tentang ini! Kau akan mati!” ancamku.

“Ini lebih gawat dari Yesung Hyung!” ucapnya tanpa menatapku, ia masih fokus pada jalanan di depan kami dan membawaku berlari sekencang mungkin.

“Hah?” tanyaku tak mengerti. Kyu semakin mengeratkan genggamannya di pergelangan tanganku. Aku merasa sedang bermain dalam sebuah film action, tapi aku sangat ingin jika Lee Min Ho -aktor favoritku- yang menggandengku saat ini, bukan namja biasa seperti Cho KyuHyun.

Beberapa menit kemudian, Kyu menuntunku masuk ke belokan gang lainnya, berharap preman tadi tidak akan bisa menemukan kami. “Ya!! Kau yakin jika lewat sini kita akan aman?” tanyaku meragukannya, bagiku ia memang sangat pantas untuk diragukan.

“Aku tidak tahu, kita coba saja,” jawab Kyu santai. Aku pun mulai menelan ludah, firasatku sudah tidak enak.

Sedetik…

Dua detik…

Tiga detik…

Ternyata firasatku benar! Kulihat gang kecil ini sudah buntu, aku dan Kyu celingukan mencari jalan keluar, sementara itu di mulut gang sudah terlihat segerombolan pria yang mengejar kami tadi, mereka memasang tampang horor dan siap untuk menghantui kami.

“Sial! Mereka akan menangkap kita!” gumam Kyu. Kulirik dia sekilas, tampaknya dia juga sama takutnya denganku. Dia memang tidak bisa diandalkan.

“Kyu, apa yang akan kau lakukan sekarang?” tanyaku ketakutan sambil mencoba mengatur napas setelah berlari tadi. Kyu hanya diam, tampaknya ia sedang mencoba mencari akal. “Kyu, kau kan jago taekwondo. Gunakan saja ilmu taekwondo yang diajarkan Yesung Oppa!” saranku sambil mengguncang-guncang lengannya. Aku benar-benar tidak mau mati konyol bersamanya disini.

“Waaah, tidak biasanya kau memuji kemampuan bela diriku. Aku tahu kalau aku memang hebat,” ucapnya sambil menepukkan tangannya ke dada, ia tersenyum penuh kemenangan.

Aissh! Dia masih sempat bercanda disaat seperti ini. “Babo! Ini bukan waktunya bercanda!” teriakku.

Kyu hanya diam, memandangku sebentar, lalu menundukkan kepalanya dengan lemas. “Mereka kan berenam, sedangkan aku hanya sendirian. Tidak mungkin aku melawan, ini akan sulit, Ji Bin-ah.” Dia terlihat frustasi. Ternyata dugaanku selama ini benar, dia memang tidak berbakat dalam urusan bela diri dan nyali-nya juga sangat kecil, dia sangat berbeda dengan Yesung Oppa.

“Lalu apa yang harus kita lakukan?” tanyaku panik, pria-pria tadi sudah sudah mulai berjalan mendekati kami. Salah satu dari mereka mengarahkan tangannya ke leher memberi isyarat bahwa kami akan segera ‘habis’ sebentar lagi.

“Aku tidak tahu, kau bisa menghilang kan?” tanya Kyu semangat, matanya berbinar-binar.

“APA?” pekikku. Aku sedikit ragu, apa aku salah dengar?

“Iya, gunakan saja mantra sihirmu.”

Kulirik segerombolan pria tadi semakin berjalan mendekati kami yang sedang berdiri terpojok di tembok besar sebuah gedung bertingkat ini.

“Aaawwww!! Kenapa kau menginjak kakiku!!” teriak Kyu meringis kesakitan, lalu langsung menoleh cepat ke arahku.

“Kau gila? Ha? Menyuruhku menggunakan mantra sihir?”

Dia masih memaksa. “Sudah cepat ucapkan mantranya!”

Kesabaranku sudah benar-benar habis, aku tidak mungkin memakai mantra itu. “Kau sudah benar-benar gila, Kyu!” Pria-pria tadi sudah sangat dekat menuju hadapan kami, tapi kami masih saja meributkan tentang mantra itu.

“Cepat! Kau kan sering sekali menonton film Harry Potter! Pasti ada mantra untung menghilang kan?” tanyanya polos setengah frustasi. Aissh! Sejak kapan Kyu jadi gila, kenapa aku baru menyadarinya setelah lima tahun tinggal serumah dengannya?

“ITU KAN HANYA FILM, BABO!” teriakanku menjadi pudar ketika salah satu pria bertampang preman tadi menarik tanganku, memeluk leherku dengan lengan besarnya, kemudian dia menodongkan pisau tepat di samping pipiku. Aku hanya bisa memejamkan mata sambil menahan napasku, pisau ini benar-benar tajam kelihatannya.

“Cepat beri tahu kami dimana anak itu? Atau kekasihmu ini akan berakhir dengan goresan di wajahnya?” ancam si preman, suaranya terdengar berat.

Sebenarnya ada dua hal yang membuatku memejamkan mata dan juga menahan napas…yang pertama, karena aku sangat ketakutan. Yang kedua, karena…bau mulut pria ini. Aku rasa sebelum dia sempat menggores wajahku dengan pisau, aku sudah mati duluan akibat paru-paruku terserang bau busuk mulutnya. Hoeek…Apa yang dimakan pria ini!

“Dia bukan kekasihku!” tegas Kyu membuyarkan lamunanku.

Ah, sial! Apa Kyu ingin mengorbankanku? Jangan-jangan ia akan kabur meninggalkanku sendiri disini, mengingat dia adalah orang yang sulit untuk dipercaya.

Terjadi hening beberapa saat. Preman-preman ini saling berpandangan bingung.

Tiba-tiba…

BAK BUK BRUK BRAK BUK!!

Kyu menendang perut si preman yang menyanderaku, lalu bertubi-tubi menyerang yang lainnya. Aku sangat bersyukur akhirnya aku bisa menghirup udara bersih lagi dan terbebas dari mulut tercemar pria tadi. Oh Tuhan, ternyata udara bersih yang selama ini aku hirup sangatlah berharga, mulai sekarang aku akan lebih mensyukurinya.

Melihat pria-pria tadi tersungkur, Kyu segera menarik tanganku dan kami berlari bersama keluar dari gang, kami terus berlari sekuat kami mampu. Kyu terus menggenggam tanganku erat, entah kenapa ini membuatku semakin semangat untuk berlari. Adrenalin-ku terpacu, benar-benar seperti dalam sebuah film action yang…romantis. Aku pun mulai senyum-senyum sendiri.

***

Akhirnya kami sampai di trotoar jalan raya, preman-preman tadi sudah tidak terlihat batang hidungnya. Dengan sangat terpaksa, untuk pertama kalinya aku harus mengakui bahwa tadi Kyu benar-benar hebat!

Aku masih ngos-ngosan dan mengatur napasku. “Kyu, apa yang telah kau lakukan? Kenapa mereka sampai mengejarmu?” ucapku menuntut penjelasan.

Kyu malah terkekeh, napasnya juga masih ngos-ngosan. “Kau suka kan berpetualang denganku? Seperti dalam film action kan? Aku memang benar-benar keren!” ucapnya sambil tersenyum padaku. Wajahnya benar-benar terlihat semakin tampan saat ia sedang menyeka keringat yang membasahi dahinya, tapi aku bersumpah tidak akan pernah mengakui ketampanannya itu! Dia telah melibatkanku dalam sebuah peristiwa yang hampir membahayakan keselamatanku, seharusnya dia berpura-pura saja tidak mengenalku tadi.

Aku langsung memukul kepalanya dengan tas kecilku. “Film action kepalamu! Kau hampir saja membuat wajah mulusku tergores!”

“Ish, aku kan sudah menolongmu, kenapa kau masih saja memukulku!” teriaknya sambil mengusap-usap kepalanya.

“Tolong apanya? Kau yang melibatkanku!” balasku sambil berteriak juga.

Kyu hanya mendengus kesal, lalu kedua matanya seperti mencari-cari sesuatu di antara jalan raya yang sedang terlihat ramai ini. Kemudian dia meraih tanganku.

“Taksi!” teriaknya sambil mengulurkan tangan kanannya ke arah jalan.

***

Di dalam taksi aku terus mendesaknya untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, tapi ia malah memutar-mutar pembicaraan. Tampaknya ia sedang berusaha menutupinya dariku.

“Kau kalah berjudi?” tebakku sembarangan untuk yang kesekian kalinya. Padahal aku tahu betul jika Kyu tidak mungkin berjudi, bisa-bisa Yesung Oppa akan langsung memecatnya sebagai adik.

“Kau ini! Berisik! Sudahlah jangan dipikirkan lagi! Yang penting kita selamat kan?” ucapnya sambil memeluk leherku dengan lengan kanannya dan tangan kirinya mengelus puncak kepalaku lembut.

Aku hanya mendengus kesal sambil melirik wajahnya yang berlumuran senyum itu. Rasanya percuma aku memaksanya bicara, dia tidak akan mau bercerita.

Drrrrrttttt….

Apa ini? Kenapa tiba-tiba seperti ada sengatan listrik menyerang hatiku ketika menatap Kyu?

***

Sampai rumah, kulihat Yesung Oppa sedang sibuk melakukan push up di teras belakang. Wah, dia keren sekali, ia terlihat semakin tampan saat wajahnya dipenuhi keringat seperti itu, apalagi sekarang ia sedang memakai sebuah kaos tanpa lengan. Aigo!

Ketika melihatku pulang, Yesung segera menghampiriku.

“Kenapa wajahmu kusut sekali, Ji Bin-ah?” tanya Yesung penuh perhatian padaku. Aku melirik Kyu sekilas, mulutnya terlihat mengerucut.

“Yaa!! Hyung!! Akulah adikmu, kenapa kau tidak menanyakan keadaanku juga?” protesnya. Kyu memang sering iri padaku karena Yesung Oppa terlihat lebih menyayangiku daripada dia.

“Untuk apa aku menanyaimu? Bukankah kau setiap hari memang sudah terlihat kusut? Jadi aku tidak akan heran,” jawab Yesung enteng. Kurasa dia masih dendam dengan Kyu karena masalah kemarin, masalah Ddangkoma.

“Aissh! Sepertinya kau masih kesal padaku!” gerutu Kyu sambil berlari kecil menuju kamarnya, tingkahnya benar-benar manja dan kekanakkan. Mungkin karena ia sudah hidup sendiri bersama Hyung-nya ini dari kecil, orang tua mereka sudah meninggal karena sebuah kecelakaan pesawat saat Kyu masih berumur lima tahun, sedangkan Yesung berumur sepuluh tahun. Aku tahu bahwa itu pasti tidak mudah bagi mereka, tapi kenyataannya mereka masih bertahan sampai sekarang.

“Kau kenapa?” Yesung bertanya lagi, dia sama sekali tidak mempedulikan Kyu yang ngambek. Kyu memang selalu ‘dikucilkan’ di dalam rumah. Entah kenapa, tapi mungkin ini adalah cara kami menyayanginya.

“Hmm aku tidak apa-apa, Oppa. Aku hanya kecapekan karena mengikuti klub memasak di kampus tadi,” jelasku sambil nyengir seadanya. Kurasa aku tidak mau bercerita yang sebenarnya, karena pasti Yesung akan semakin marah pada Kyu. Setidaknya ini hadiah untuk Kyu karena ia sudah bersusah payah menyelamatkanku tadi.

***

Keesokanharinya aku sudah melihat Yesung dan KyuHyun sangat akrab, mereka melakukan olahraga-olahraga kecil di teras belakang. Aku benar-benar tidak mengerti kenapa mereka bisa bertengkar karena hal sepele, tapi kemudian begitu cepat berbaikan. Ya, aku sudah tidak heran karena aku tinggal selama lima tahun bersama mereka. Kenapa? Kerena kedua orangtuaku menitipkanku di Busan –rumah YeKyu, sementara mereka pindah ke Jepang. Sebelumnya aku tinggal di Seoul bersama kedua orangtuaku, sedangkan KyuHyun dan Yesung adalah anak dari teman Appa-ku. Orangtuaku membiayai sekolah mereka, hingga Yesung sekarang sudah bekerja sebagai pengajar bahasa inggris di kampusku, sementara Kyu dan aku masih kuliah karena kami memang seumuran.

“Untunglah kau bisa terhindar dari mereka, Kyu.” Sayup-sayup aku mendengar percakapan antara Yesung dan KyuHyun.

“Kemarin aku benar-benar hebat Hyung! Mereka berenam, tapi aku mengalahkan mereka sendirian! Aku benar-benar seperti seorang superman untuk Lee Ji Bin.” Kyu memuji dirinya sendiri sambil memasang senyum lebar.

“Ne..ne..Kau hebat,” ucap Yesung, terlihat dari nada bicaranya bahwa ia sangat tidak ikhlas memuji adiknya itu.

“Kalian membicarakan masalah kemarin? Sebenarnya kenapa Kyu dikejar-kejar seperti itu?” tanyaku tiba-tiba. Kulihat mereka berdua terlihat terkejut setengah mati.

Kyu gelagapan. “Enggg…”

“Ah, sudahlah. Lupakan saja, Ji Bin-ah! Itu tidak penting,” sambar Yesung sambil nyengir.

Ada apa ini? Kenapa Yesung Oppa juga seperti menyembunyikannya dariku? Sebenarnya aku tidak begitu ingin tahu, tapi sekarang ini aku merasa bahwa mereka berdua sedang menyembunyikan sesuatu yang besar dariku.

Kulihat mereka berdua menatapku canggung. Aku hanya bisa memandang mereka dengan ribuan tanda tanya di dalam kepalaku. “Wae?” tanyaku.

Yesung mendekatiku dan memegang bahuku. “Kau tidak rindu pada kedua orangtuamu?” tanyanya tiba-tiba. Ada apa ini? Biasanya dia selalu menghindar jika aku membicarakan tentang orangtuaku.

“Hmm tentu aku rindu. Mereka sudah kembali dari Jepang? Apa mereka masih menginginkanku sebagai anaknya?” Pertanyaan bertubi-tubi keluar dari mulutku, sudah lama aku ingin menanyakan ini pada Yesung. Orangtuaku tidak pernah bercerita padaku kenapa mereka pindah ke Jepang tanpa mengajakku, bahkan sampai sekarang mereka juga sangat jarang meneleponku. Aku sempat merasa bahwa mereka memang sengaja ingin membuangku, namun aku beruntung memiliki kedua orang ini (baca: YeKyu) yang sangat menyayangiku. Aku tahu mungkin mereka baik padaku karena ingin balas budi pada kedermawanan Appa-ku selama ini, tapi aku tidak peduli apapun alasannya, yang aku tahu adalah Yesung dan KyuHyun selalu ada disisiku saat aku tertawa ataupun menangis.

“Sebenarnya orangtuamu tidak sedang berada di-“ Kalimat Kyu terhenti, kulihat sekilas Yesung Oppa mencubit pinggangnya seperti memberi isyarat agar ia tidak melanjutkan kalimat itu.

“Awww!” teriak Kyu, ia melotot pada Yesung, Yesung juga sedang melotot padanya. Sebagai adik, akhirnya Kyu mengalah dan menunduk lemas.

“Kau kenapa Kyu?” tanyaku pura-pura tidak tahu.

“Digigit Ddangkoma!” jawab Kyu keras sambil menunjuk ke arah kandang Ddangkoma yang tergeletak manis di atas meja kecil di samping tempat kami berdiri sekarang. Aku hanya mengangkat sebelah alisku, mana mungkin Ddangkoma yang ada di dalam kandang bisa menggigit pinggangnya. Alasan yang tidak logis.

“Ya! Kenapa menyalahkannya? Kau ini!” seru Yesung menoyor kepala Kyu. Dia tidak mau kura-kura kesayangannya yang tidak berdosa dibawa-bawa dalam masalah yang sangat tidak penting ini.

“Aku kan adikmu kenapa kau lebih menyayangi Ddangkoma!” Kyu mulai lagi bersikap manja pada Hyung-nya.

“Adik macam apa yang tega membiarkan Ddangkoma-ku kelaparan, kau sengaja mau membunuhnya? Hah?” seru Yesung kesal.

“Hyung, kenapa kau masih mengungkit itu? Sudah kubilang bahwa aku lupa!” jelas Kyu. Sebenarnya sangat lucu melihat mereka bertengkar seperti ini, tapi saat ini aku sedang tidak bernafsu untuk tertawa. Pikiranku masih melayang ke orangtuaku.

“Oppa…Kyu…,” panggilku, berusaha melerai perdebatan konyol itu.

Lima menit kemudian…

Akhirnya setelah melalui perdebatan yang panjang dan melelahkan, mereka kembali pada obrolan utama dan mulai memandang wajahku intens.

“Hmm begini, aku dan Kyu…sudah saatnya kami melepasmu…,” ucap Yesung dengan sangat berat, sepertinya dia tidak rela melepasku. Ah, aku tahu dia memang sangat menyayangiku. Kyu menepuk-nepuk bahu Yesung, berusaha menenangkannya. Kulirik wajah keduanya, sangat sendu dan penuh haru.

Aissh! Kenapa suasananya jadi seperti ini? Seolah mereka seperti sepasang ibu dan ayah yang tidak siap melepasku untuk menikah. Dramatis.

Aku menautkan kedua alisku. “Ada apa sebenarnya? Melepasku?”

Kyu memandang wajah Hyung-nya sekilas, lalu kulihat Yesung mengangguk seolah memberi ijin. “Mereka menyuruhmu pindah ke Seoul besok. Mereka sudah kembali,” ucap Kyu.

Seketika senyumku mengembang. “Benarkah? Wahhh!!” Aku sumringah, tapi Yesung malah menyambut keceriaanku ini dengan jitakan kecil di kepala.

“Kau tega meninggalkanku?” tanyanya dengan tampang melas.

“Oppa, bukan begitu maksudku…aku hanya bahagia bisa bertemu dengan orangtuaku lagi setelah lima tahun,” jelasku tidak enak hati.

Yesung tidak menyahutiku dan hanya tersenyum lemah. Dia memang sangat mudah sekali tersentuh, meskipun dia adalah pemegang sabuk hitam taekwondo tapi hatinya benar-benar lembut seperti bayi.

Kulihat Kyu kembali menepuk-nepuk bahu Yesung, ia terlihat menahan tawanya. Kurasa Kyu tidak akan sedih jika aku pindah ke Seoul, bahkan mungkin mungkin ia akan menggelar acara syukuran tujuh hari tujuh malam karena pasti perhatian Hyung-nya akan 100% terfokus hanya olehnya.

***

Dua hari kemudian…

Hari ini aku berangkat ke Seoul tidak sendirian, Kyu menemaniku. Tentu saja Yesung yang memaksanya, kami akan tinggal di Seoul selama kurun waktu yang belum ditentukan, bahkan kedua orangtuaku sudah mengurus kepindahan kami ke salah satu universitas swasta terkemuka di Seoul. Sebenarnya Yesung sangat ingin ikut bersama kami, tapi ia punya tanggung jawab sebagai seorang dosen muda salah satu universitas di Busan.

Yesung memeluk tubuhku erat, sambil sedikit terisak. “Oppa, aku kan hanya pindah ke Seoul, tidak jauh. Kita masih bisa sering bertemu,” ucapku sambil mengelus punggungnya.

“Hyung, kau sedang mencari kesempatan ya?” sindir Kyu yang sepertinya sudah tidak tahan melihat adegan pelukan kami.

Tiba-tiba Yesung Oppa langsung melepas pelukanku dan memasang gaya kuda-kuda seakan siap menyerang Kyu dengan tendangan taekwondo-nya. “Kau harus jaga baik-baik dia! Awas kalau kau macam-macam disana!” ancam Yesung.

Secara spontan Kyu juga langsung memasang gaya kuda-kuda, kurasa kemampuan bela diri Kyu sudah lebih meningkat dari sebelumnya. Dia punya gerak refleks yang terlatih.

“Baiklah, Hyung!” teriaknya. Mereka berdua masih tetap pada posisi tadi.

OMO! Tapi ini kan di stasiun! Kenapa mereka melakukan hal konyol seperti itu disini. Memalukan. Beberapa orang yang lalu-lalang memandangi kami bertiga dengan tatapan aneh, mungkin mereka mengira bahwa kami adalah kakak beradik yang baru saja turun dari gunung setelah berlatih bela diri dan siap mengadu nasib di ibukota.

“Tenang saja aku akan menjaganya, Hyung. Iya kan, Ji Bin?” tanya Kyu menoleh ke arahku sambil menepuk-nepuk bahuku. Ia tersenyum penuh arti ke arahku, wajahnya sangat mencurigakan.

“Ternyata tidak terasa kau sudah besar sekarang, terlihat dewasa dan manis. Padahal dulu waktu pertama datang ke rumah, kau masih bocah SMP ingusan,” kenang Yesung sambil mencubit pelan kedua pipiku. ‘Bocah SMP ingusan’ bukanlah sebuah kata kiasan, tapi memang saat pertama bertemu dengan Yesung aku sedang terserang pilek dan tanpa sengaja aku bersin di depannya sehingga membuat cairan hidungku terpeper ke wajahnya ketika aku melakukan bow. Aku masih menyesal, malu, sekaligus geli ketika melihat wajah Yesung berlumur cairan lengket itu. HAHAHAHAHA.

“Jaga dirimu baik-baik disana,” ucap Yesung lagi. Aku mengangguk dan tersenyum.

“Oppa sangat menyayangimu,” kata Yesung lagi sambil memelukku (lagi+++). Aduh, aku jadi terharu. Dia memang sangat menyayangiku dan sudah menganggapku sebagai adik kandungnya sendiri.

“Sampai kapan kalian akan berpelukan terus? Keretanya sudah hampir berangkat!” gerutu Kyu, segera ia menarik tanganku menjauh dari pelukan Yesung Oppa. Aku tahu jika pelukan kami diteruskan, aku yakin pasti ini akan berakhir dengan tangisan Yesung. Kenapa dia begitu mudah sekali tersentuh! Dia kan pria, kenapa cengeng sekali! Kadang aku sempat berpikir, kenapa orangtuaku menitipkanku pada orang-orang aneh ini?

***

[KyuHyun POV]

“Tadi di stasiun, kau dan Yesung Hyung sangat berlebihan,” ledekku pada Ji Bin setelah beberapa jam kemudian kami tiba di Seoul, tepatnya di rumah Keluarga Lee.

“Kenapa memangnya? Kau iri padaku?” Ji Bin balik meledekku.

“Iri? Yang benar saja!” Aku mengelak. Kulihat dia tertawa kecil memandangku, senyumnya masih terlihat polos seperti dulu. Kulihat kedua matanya yang juga ikut tersenyum, kurasa matanya semakin bertambah lebar dibandingkan saat aku pertama bertemu dengannya. Aigo! Membuatku gemas saja.

“Kau lihat apa? Apa kau mengagumi senyumku ini?” godanya membuyarkan lamunanku. Aku terkesiap dan hanya mendesis malas, kulirik Ji Bin mulai sibuk dengan ponselnya. Yah, pasti dia mengirim pesan pada Hyung-ku! Seperti ucapan ‘selamat malam’ atau ‘selamat makan malam’…Aissh! Menyebalkan, kenapa sejak dulu Ji Bin selalu lebih perhatian pada Yesung daripada aku!

“Ya!! Ji Bin-ah, kau harus bersikap baik denganku mulai sekarang karena keselamatanmu ada di tanganku,” ucapku mantap memberinya peringatan.

***

[Lee Ji Bin POV]

“Ya!! Ji Bin-ah, kau harus bersikap baik denganku mulai sekarang karena keselamatanmu ada di tanganku.” Ucapan KyuHyun membuatku menghentikan niatku untuk membalas pesan dari Yesung Oppa.

Aku menoleh cepat ke arah Kyu yang sedang duduk tepat disampingku, sebenarnya aku ingin membantah kalimatnya tadi dan ingin segera memukul kepalanya seperti biasa saat aku sedang kesal dengannya. Tapi aku harus ingat bahwa memang keselamatanku ada di tangan namja yang sebenarnya tidak bisa aku andalkan ini.

“Kenapa memandangku seperti itu?” tanya Kyu yang lebih terdengar seperti sedang menantangku.

“Ne, aku tahu! Aku akan bersikap baik padamu!” desisku terpaksa, aku menyerah.

Baru saja kedua orangtuaku menjelaskan alasan sebenarnya kenapa mereka meninggalkanku sendirian di Busan, ternyata mereka ingin aku aman dari kejaran penagih hutang. Yah, perusahaan Appa-ku punya hutang yang sangat banyak pada perusahaan rival-nya, Shin Group.

Akhirnya kedua orangtuaku berpura-pura pindah ke Jepang dengan alasan mencari pinjaman dana, padahal selama lima tahun ini sebenarnya mereka masih ada di Seoul, menunggu pulau pribadi kami terjual. Yah, memang tidak memudah menjual pulau itu, tapi akhirnya setelah lima tahun, ada juga yang mau membelinya dengan harga tinggi sehingga hutang Appa- bisa lunas. Hmm aku baru tahu jika selama ini kedua orangtuaku ternyata sedang ada dalam pelarian, aku jadi menyesal pernah menganggap mereka telah membuangku.

Dan ternyata preman yang dulu pernah hampir mengeroyok Kyu dan aku adalah suruhan dari Shin Group, mereka sudah mengendus keberadaanku di Busan dan berniat ingin menculikku sebagai jaminan agar orangtuaku cepat membayar hutang. Beruntung aku punya Yesung dan Kyu yang memang sejak kecil sudah mempelajari ilmu bela diri, jadi aku selalu aman. Orangtuaku dan YeKyu memang sengaja menyembunyikan masalah hutang ini karena tidak ingin membuatku khawatir.

Kulihat Appa-ku baru saja keluar dari ruang kerjanya. “Appa, kenapa menyuruh namja bodoh ini menjadi bodyguard-ku?” protesku sambil mengarahkan jari telunjukku ke arah wajah Kyu.

“Ya!! Jangan sembarangan menusuk hidungku!” gerutu Kyu sambil menepis jariku. Ternyata secara tak sengaja jari telunjukku menyentuhi ujung hidungnya, untung saja jariku tidak salah masuk ke lubang hidungnya. Fiuuuh…

“Katanya kita sudah aman?” tanyaku lagi pada Appa.

“Kita memang sudah membayar semuanya, tapi kami hanya berjaga-jaga, kau tahu kan keluarga Shin sangat kejam? Siapa tahu dia masih menaruh dendam pada Yesung karena dulu ia pernah menghajar habis anaknya yang bernama ShinDong itu,” jelas Appa.

Ah, benar juga. Mereka tidak mungkin bisa mengalahkan Yesung atau KyuHyun, tapi pasti akan mengincarku sebagai gantinya. Kalau sejak awal tahu seperti ini, aku tidak akan ikut klub memasak di kampus, melainkan ikut klub bela diri. Aku jadi was-was dengan keselamatanku sendiri.

“Kyu, jagalah selalu putri tunggal kami,” ucap Eomma tiba-tiba, beliau baru keluar dari dalam kamar.

Kyu tersenyum sopan pada Eomma, lalu berbalik ke arahku sambil memasang senyum evil-nya dan mengedipkan sebelah matanya. “Tentu saja, dia sudah aku anggap seperti saudara sendiri, Ahjumma,” ucapnya sambil mengusap pucuk kepalaku.

Aku sangat merasa tidak aman dengan senyumnya ini, mencurigakan. Jangan-jangan dia akan balas dendam denganku setelah aku bersama Yesung ‘mengucilkannya’ di Busan dulu?

***

Dua bulan kemudian…

“Kau tinggal satu rumah dengan Kyu? Kau siapanya?” tanya segerombolan yeoja yang sekarang sudah tepat duduk berjajar di depanku. Wajah mereka terlihat sumringah sekali.

“Ne, kami sudah seperti saudara,” jawabku sambil nyengir seadanya. Ini sudah kesekian kalinya orang-orang di kampus bertanya padaku tentang hubunganku dengan Kyu.

“Bolehkah kami meminta nomer ponsel KyuHyun?” pinta salah satu dari mereka, sedetik kemudian mereka saling cekikikan. Sebenarnya aku tidak pernah keberatan memberikan nomer Kyu, tapi ini kan jam istirahat, aku ke kantin ini mau makan, bukan untuk diwawancarai tentang Kyu!

Aku hanya mengangguk dan tersenyum. “AAAA!! Gomawoyo,” seru salah satu dari mereka dengan antusias.

Benar-benar sulit dipercaya, disini KyuHyun banyak digilai yeoja, dari mahasiswi sampai dosen-dosen muda kami yang cantik. Dia benar-benar menjadi seorang Don Juan disini, KyuHyun dipuja karena ketampanan dan kemampuan bela dirinya yang memang semakin hebat. Ah, dia benar-benar semakin terlihat mempesona selama tinggal di Seoul, mungkin karena senyumnya yang khas itu atau mungkin mataku saja yang mulai katarak.

***

Brukk…

Aku melemparkan satu tas penuh kado-kado dari ‘fans’ Kyu di atas tempat tidurnya, sementara dia terlihat sedang sibuk bermain game.

“Tolong katakan pada fansmu, bahwa aku bukanlah manajermu! Jadi stop menitipkan ini semua padaku!” seruku kesal.

“Aissh, kau ini kasar sekali, hargailah perasaan fans, mereka juga manusia!” jawabnya, matanya masih fokus bermain game.

Tampaknya dia sudah berpikir bahwa dirinya adalah seorang selebritis, tapi harus kuakui itu karena kenyataanlah yang memaksaku. Setiap hari aku lihat banyak sekali mahasiswi mendekatinya di kampus, menyapanya, memberi makanan, coklat, bunga, bahkan yang paling ekstrim adalah ada seorang yeoja yang pernah mengiriminya bra. Gila! Sepertinya dunia ini benar-benar akan kiamat! Namja biasa yang selalu aku bully dulu, kini menjelma menjadi sosok flamboyan dan sialnya…aku juga mulai tertarik padanya…AAAAAAAAAA!!!!

Aku hanya mendengus kesal mendengar jawaban Kyu, lalu aku memutuskan untuk melangkah keluar dari kamarnya.

“Lee Ji Bin…”

Aku menoleh dan hanya menggumam malas. “Hmmmm?”

Kyu turun dari ranjangnya dan berjalan mendekatiku. “Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?” Raut wajahnya serius sekali. Ada apa ini?

“A-a-apa?” tanyaku gugup ketika menyadari bahwa ia menunjukkan gelagat yang tidak seperti biasanya.

Kulihat Kyu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, terlihat bingung dan ragu. “Hmm tidak jadi…hmm bukan apa-apa.” Ia terdengar seperti menggantungkan kalimatnya dan ini sukses membuatku penasaran setengah mati.

Aku melotot ke arahnya. “Katakan! Kau mau membuatku penasaran! Jangan permainkan aku!”

“Tidak apa-apa. Lupakan saja,” ujar Kyu santai sambil keluar dari kamar.

“Menyebalkan!” gerutuku yang tidak dipedulikan oleh Kyu.

***

Pagi ini, aku berjalan-jalan di sekitar Sungai Han bersama KyuHyun. Udaranya sejuk sekali, pemandangan disini sangatlah indah apalagi ditambah dengan Kyu yang sekarang sedang berdiri disampingku memandang jauh ke depan sungai dengan tatapan yang meneduhkan.

Aku memandangi wajah Kyu dengan teliti, matanya, hidungnya, bibirnya. Sejak kapan dia jadi setampan ini? Kenapa aku tidak menyadarinya dari dulu? Kupikir Yesung lah yang aku cintai, ternyata aku sadar bahwa selama ini aku telah menipu diriku sendiri, sebenarnya aku jatuh cinta pada Kyu.

“Yaa!! Ji Bin-ah!! Lucu sekali belalang ini,” ucapnya sumringah sambil sibuk memainkan seekor belalang di atas telapak tangannya. Aku tidak sadar sejak kapan dia menangkap belalang itu karena mungkin aku terlalu sibuk memandangi wajahnya tadi.

“Belalang jenis apa itu?” tanyaku asal.

Kyu menoleh ke arahku. “Mollayo, tapi ini lucu sekali, ayo kita beri nama dia,” ujar Kyu. Aku hanya memandang nanar ke arah Kyu, namja ini kenapa sikap kekanakkannya belum juga pudar.

“Kita beri nama Yeye saja, eotteokhae?” tanya Kyu dengan mata berbinar-binar, mungkin dia berharap banyak bahwa aku akan sama antusiasnya dengannya mengenai belalang ini.

“MWO? Yeye? Kau mau menyamakan Oppa-ku dengan belalang!” seruku sambil memukul kepalanya dengan tas kecil yang tergantung di bahu kananku sejak tadi. Yeye adalah nama panggilan sayang yang aku berikan pada Yesung Oppa sejak dulu.

“Aissh! Kau ini! Selalu membelanya!” gerutu Kyu sambil mengusap kepalanya. Aku hanya meliriknya, bibirnya terlihat sedang komat-kamit.

“Bahkan kau tidak pernah memberikanku panggilan sayang seperti yang kau lakukan pada Yesung Hyung,” gumamnya pelan, tapi aku bisa mendengarnya dengan jelas.

Aku memasang tampang pura-pura kesal. “Panggilan sayang apa? Kau mau kupanggil dengan nama Kyuyu?”

“Ya!! Itu aneh kedengarannya! Panggil saja aku Jang Geun Suk atau Rain, itu terdengar lebih jujur,” ucapnya nyengir. Aku hanya menahan tawaku yang sudah hampir meledak…kkkkk yang benar saja.

“Jangan menahan tawamu seperti itu! Kau terlihat menyebalkan! Lagipula aku kan juga tidak kalah tampan dari mereka,” kata Kyu penuh percaya diri sambil membetulkan letak poni rambutnya yang sebetulnya tidak terlihat berantakan. Yah, bagiku, Cho KyuHyun lebih tampan dari namja manapun di dunia ini, hanya saja aku tidak mungkin mengatakan itu padanya, bisa-bisa dia akan terbang jika mendengar pujianku ini.

Kulihat Kyu mengambil ponsel dari dalam saku celananya, sementara tangannya yang lain masih sibuk menggenggam belalang tadi. “Kajja kita berfoto bersama belalang ini!” ajak Kyu sambil menarik tubuhku agar lebih dekat dengannya.

JEPRET~~~~~~~~~

“Hahahaha kenapa wajahmu cemberut seperti ini…kau terlihat jelek, Ji Bin-ah!” ledek Kyu tak henti-hentinya tertawa saat melihat hasil jepretan foto tadi. Sementara aku hanya diam dan meliriknya kesal.

“Sekali lagi,” ucap Kyu sambil berusaha memeluk bahuku dengan lengannya.

“Kyu, hentikan!” seruku jengkel sambil menghindari tubuhnya. “Dengarkan aku! Jangan bertingkah kekanakkan seperti itu! Dewasa lah sedikit!” bentakku.

Kulihat perlahan Kyu meregangkan genggaman tangannya, membiarkan belalang tadi lepas dan terbang entah kemana. Kyu menatapku dalam. “Apa aku sangat kekanakkan?” tanyanya.

Ada apa ini? Apa aku salah bicara? Aku tidak pernah melihat tatapannya yang seperti itu, mungkin ucapanku tadi terlalu kasar. “Menurutmu?” Aku balik bertanya, aku harap dia sadar dan mau berubah menjadi sedikit dewasa.

Kyu menghela napasnya lalu duduk begitu saja di atas rumput tempat kami berdiri dari tadi. “Ji Bin-ah, kau pernah jatuh cinta?” tanyanya tiba-tiba.

“Hah?” Aku terkejut dengan pertanyaannya. “Pe-pe-pernah…,” jawabku gelagapan. Pernah! Bahkan aku sedang merasakan jatuh cinta sekarang! Denganmu! Aku ingin sekali berteriak padanya seperti itu, tapi mana mungkin aku punya nyali.

“Bagaimana rasanya?” tanya Kyu lagi, dia mendongakkan kepalanya ke atas, memandangku yang masih berdiri mematung.

“Hmm aku tidak tahu, hanya aku merasa selalu ingin dekat dengannya terus,” jelasku jujur. Yah, aku merasakannya Kyu! Padamu! Seandainya dia bisa mendengar isi hatiku ini.

Kyu menepukkan kedua tangannya dengan keras. “AHA!” serunya sambil berdiri lagi menghadap wajahku yang mungkin sudah terlihat seperti orang bodoh sekarang.

“Lee Ji Bin! Aku sedang jatuh cinta! Benar-benar jatuh cinta!” serunya lagi sambil menepuk-nepuk kedua bahuku, lalu sedetik kemudian dia memeluk tubuhku.

Drrrrrttttt……

Ah, sial! Getaran aneh itu muncul lagi dan semakin menggema di dalam hatiku.

“Eee benarkah? Aku sangat berharap jika kau sedang jatuh cinta padaku,” ucapku pelan. AAAAAAA! BABO!!! Apa yang sedang aku bicarakan!!

Kyu melepaskan pelukannya lalu menatapku mataku dengan pandangan penuh tanda tanya. Sementara aku hanya mengatur napas, memikirkan jawaban apa yang harus aku katakan jika Kyu bertanya. Mau ditaruh dimana mukaku ini!

“Hmm KyuHyun-ah, aku…aku…hanya..eunggg..kau jangan salah paham…,” racauku tak jelas. Aku tidak tahu harus bicara apa, aku yakin pasti wajahku sudah memerah sekarang.

“Kau bilang apa tadi?” Respon Kyu membuyarkan ketakutanku.

“Ha?”

“Iya, saat aku tadi memelukmu, kau bilang apa? Aku tidak dengar,” jelas Kyu santai.

Aku lega! Ternyata KyuHyun tidak mendengar ucapan bodohku tadi. “Ah, itu…aku hanya bertanya, kau jatuh cinta dengan siapa?”

Kyu tersenyum, menunjukkan deretan gigi-gigi putihnya tepat di depan kedua mataku. “Luna. Kau tahu dia kan? Mahasiswi dari jurusan hukum. Aigo! Dia sangat mempesona.” Kyu berdecak kagum, wajahnya terlihat berseri sambil sesekali mengedarkan pandangan matanya ke atas langit, mungkin saat ini dia sedang membayangkan wajah cantik Luna. “Ini pertama kalinya aku jatuh cinta, dia cinta pertamaku,” lanjutnya lagi.

“Oh, benarkah?” kataku datar. Aku sedikit kecewa, lebih tepatnya bahwa aku sedikit patah hati, hmm bukan sedikit, tapi banyak.

“Tapi dia menolakku, dia bilang aku terlalu kekanakkan. Aku harus berubah jadi dewasa dulu agar bisa menjadi namja-chingu nya,” cerita Kyu, nada bicaranya melemah.

Mataku mendelik, kurasakan jantungku hampir meledak. “Euuuungg…k-k-kau sudah menyatakan cintamu?”

Kyu mengangguk cepat. Pantas saja dia tadi bertanya padaku tentang sifatnya yang kekanakkan itu. Bisa-bisanya Luna menolak seorang Cho KyuHyun, padahal banyak sekali yeoja diluar sana yang menginginkannya, termasuk…aku.

“Ji Bin-ah, aku akan berubah,” ucap Kyu tersenyum penuh arti. Aku hanya mengangkat sebelah alisku, mencoba untuk memahami kalimatnya. “Aku akan jadi namja yang dewasa, dingin dan juga serius agar Luna bisa menerimaku,” lanjutnya sambil berjalan tenang melewati tubuhku yang masih tetap berdiri mematung disini.

“Kajja kita pulang!” teriaknya dari arah belakangku, suaranya terdengar sudah jauh.

“Kau mau merubah sifatmu hanya karena Luna? Bukan karena aku?” gumamku lemas. Aku membalikkan tubuhku ke belakang, berjalan mengikuti langkah kaki KyuHyun yang sudah jauh di depanku. Sepanjang jalan aku hanya bisa menundukkan kepalaku ke bawah, energiku habis setelah mendengar curhatan KyuHyun tadi. Dia jatuh cinta, yah, dia sudah dewasa, dia berhak jatuh cinta.

***

Dua bulan kemudian…

Aku berdiri disini, di depan cermin besar yang terpasang di dalam kamarku. Aku mengamati tiap lekuk tubuhku dari ujung kepala sampai kaki.

“Kyu, apa aku tidak cukup pantas untukmu? Kenapa kau memilih untuk bersama Luna?” tanyaku frustasi pada pantulan diriku sendiri didalam cermin. Kedua mataku terlihat sembap, aku menangis semalaman saat mengetahui bahwa ternyata KyuHyun dan Luna sudah resmi berpacaran sejak sebulan yang lalu. Yang membuatku menangis bukan hanya karena hubungan mereka, tapi karena aku mengetahui ini bukan dari mulut Kyu langsung, melainkan dari gosip yang beredar di kampus. Sejak hari ‘belalang di Sungai Han’ itu, Kyu benar-benar menepati omongannya, dia berubah, lebih dewasa, tidak meyebalkan dan cool. Tapi sejak ia berubah, ia semakin jarang mengobrol denganku, dia tidak lagi menggodaku, dia tidak lagi mencemburui hal-hal kecil tentangku dan Yesung. Hari-harinya dipenuhi dengan perjuangan untuk mendapatkan cinta Luna, jujur hatiku sangat sakit karena merasa terabaikan olehnya.

[FLASHBACK]

“Kyu, apa aku harus benar-benar pergi sendirian? Tidak bisakan kau mengantarku?” tanyaku untuk kesekian kalinya ketika aku harus datang ke acara undangan ulang tahun temanku, namun aku ragu jika berangkat sendirian karena acara tersebut diadakan agak jauh dari daerah tempat tinggalku.

“Ji Bin-ah, jangan kekanakkan seperti itu, kau sudah besar dan kau harus mandiri. Lagipula kau sudah aman kan selama beberapa bulan di Seoul? Appa-mu juga sudah tidak menyuruhku menjadi ‘bodyguard’ mu lagi,” jelas Kyu. Yah, sekarang Kyu jadi sering menasehatiku agar tidak bertingkah kekanakkan, harus mandiri, jangan tergantung pada orang lain, bla bla bla. Itu membuatku muak.

“Tapi aku ingin kau menemaniku, lagipula temanku ini sangat mengagumimu. Ia sering mengirim salam untukmu,” tuturku.

“Sudahlah, aku pergi dulu, Luna sudah meneleponku terus dari tadi,” jawab Kyu santai sambil melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.

“Kyu, kau berubah! Sekarang hidupmu hanya untuk Luna, Luna dan Luna. Kau bukan KyuhYun! Kembalikan Kyuhyun-ku yang dulu,” serangku padanya. Sudah lama aku ingin mengatakan ini padanya. Kurasakan air hangat mulai mengalir dari pelupuk mataku, padahal aku sudah berjuang mati-matian untuk menahannya keluar. Kenapa aku tetap tidak bisa menahan tangisan ini! Babo!

[KyuHyun POV]

Aku menghentikan langkahku tepat di ambang pintu keluar, aku ingin sekali berbalik ke arahnya, tapi deringan telepon dari Luna yang tidak berhenti dari tadi memaksaku untuk tetap melangkah keluar dan membiarkan Lee Ji Bin menangis sendirian. Aku tidak bisa terus-terusan menemaninya, aku ingin Ji Bin sadar bahwa dia harus mandiri karena suatu hari nanti pasti aku akan menemukan cinta sejatiku dan begitu juga sebaliknya, itu artinya kami akan hidup masing-masing. Ji Bin tidak boleh terlalu tergantung padaku ataupun Yesung Hyung, dia bukan lagi Ji Bin kecil yang dulu kami asuh.

“Aku pergi dulu,” pamitku dingin. Aku menutup mata ketika mendengarnya semakin terisak, aku terus melangkah keluar tanpa menunggu jawaban darinya.

***

[Author POV]

Ji Bin melangkah dengan hati-hati di sekitar halte bis yang sudah mulai sepi, hari sudah sangat gelap ketika ia pulang dari acara ulang tahun temannya itu. Ji Bin semakin mempercepat langkah kakinya ketika menyadari bahwa ada dua orang pria yang sedang mengikutinya dari belakang, ia merasa bahwa sepertinya mereka mempunyai niat jahat. Ji Bin terus melangkah ke depan, bahkan kedua kakinya sudah mulai setengah berlari, keringat dingin mulai membasahi dahinya, ia pun celingukan mencoba untuk menemukan taksi, tapi tidak ada satupun yang melintas.

“Mau apa kalian?” bentak Ji Bin saat dia melihat dua orang pria tadi sudah tepat berdiri di depannya. Pria-pria itu memasang tampang yang menakutkan.

“Tidaaaak….,” teriak Ji Bin ketika salah seorang dari pria tadi menarik paksa tas yang sedang dibawanya. Ternyata mereka berniat untuk merampok Ji Bin, kemudian dengan nekat Ji Bin menginjak kaki salah satunya dengan keras lalu segera berlari.

“Yaa!! Bocah kurang ajar!! Kau tidak akan lepas dari kami!!” murka salah satu penjahat itu, ia terlihat memegangi ujung kakinya yang telah terkena tusukan sepatu hak tinggi Ji Bin tadi.

Ji Bin terus berlari sekuat dia mampu, pikirannya sudah terbang ke hal-hal yang buruk tentang nasibnya setelah ini, wajahnya terlihat pucat karena ketakutan, napasnya juga mulai tersengal-sengal. Ji Bin juga merasakan kakinya terasa berat karena sepatu hak tinggi yang dipakainya, akhirnya ia memutuskan untuk melepas sepatu tadi dan menentengnya sambil terus berlari, sapuan angin malam yang dingin pun semakin membuat bulu kuduknya berdiri.

“Apa yang harus aku lakukan?” gumam Ji Bin panik saat mendapati bahwa ia berlari ke arah yang salah. Lalu Ji Bin memutuskan untuk masuk ke dalam sebuah pabrik kertas yang sudah lama kosong tak berpenghuni, tempat ini juga tidak mempunyai penerangan yang baik, bahkan hampir seluruhnya sangat gelap.

“Kyu, aku takut. Apa aku harus mandiri dengan cara seperti ini?” isak Ji Bin, kini ia berjongkok untuk bersembunyi diantara kardus-kardus besar di dalam pabrik kertas tadi. Ji Bin sudah tidak mempedulikan keadaan dress abu-abu kesayangannya yang sekarang sudah terlihat kusam terkena debu-debu tebal di sekitar kardus, ia juga tak lagi mempedulikan tatanan make up-nya yang sekarang sudah bercampur baur dengan air matanya.

Kresek-kresek….

[Lee Ji Bin POV]

Aku mendengar suara mencurigakan yang mulai mendekatiku, aku panik sekali dan mulai membayangkan hal-hal buruk yang akan menimpaku. Jangan-jangan pria-pria tadi masih mengejarku? Bagaimana ini? Aku mulai merapatkan tubuhku agar lebih masuk ke dalam sela-sela kardus besar ini, aku sangat takut, aku harap aku bisa selamat.

Suara sepasang langkah kaki semakin mendekatiku dengan pasti, aku semakin erat memeluk lututku sendiri yang kini sudah mulai bergetar hebat. Aku merasa wajahku sudah sangat basah, air mataku tak berhenti mengalir, aku menelungkupkan wajahku di sela-sela lututku sambil terus berdoa dan meneriakkan nama Kyu di dalam hatiku.

Brakk!!

Seseorang membuka kardus besar tempatku bersembunyi sebelumnya, aku hanya bisa memejamkan kedua mataku dengan pasrah, percuma aku melawan, tempat ini sangat gelap, aku menyerah. Aku terus menangis dan satu-satunya yang ada dalam pikiranku adalah KyuHyun-ku, bodyguard-ku.

“Jangan menangis lagi.” Suara itu berbisik tepat di telingaku karena sekarang aku merasakan tubuh seorang namja sedang memelukku erat, seolah ia ingin memudarkan semua rasa takutku.

“Yesung Oppa,” panggilku masih terisak dalam pelukannya, aku masih belum berani untuk membuka kedua mataku. Aku takut kalau ini hanyalah halusinasiku saja karena aku memang sangat merindukan Yesung sejak kemarin.

“Aku sempat melihatmu saat orang-orang tadi mencoba mengambil tasmu lalu kau berlari ke arah sini. Untung saja aku tidak kehilangan jejakmu, kau berlari sangat kencang, kau hebat, Ji Bin-ah,” ucapnya. Ini bukan halusinasiku, suara ini benar-benar nyata terdengar di daun telingaku, perlahan aku memberanikan diri untuk membuka kedua mataku yang masih tergenang air.

“KyuHyun?” Aku mendelik ketika ternyata mendapati bahwa yang sedari tadi memelukku bukanlah Yesung, tetapi KyuHyun. Dia ada disini? Menyelamatkanku? Benarkah?

“Babo! Kenapa kau tidak memberikan tasmu saja tadi? Kau hampir saja mencelakakan keselamatanmu sendiri!” omelnya.

Aku hanya diam memandang wajahnya. Ah, benar juga kata Kyu! Kenapa aku tidak menyerahkan tasku saja dan langsung cepat pergi? Lagipula tidak ada barang yang terlalu berharga didalam sana.

“Aku takut, Kyu. Gomawo,” ujarku dengan nada bergetar.

“Ada aku disini, jangan takut lagi! Berhentilah menangis! Mianhae aku tidak mengantarmu tadi,” balas Kyu tulus seraya kembali memeluk tubuhku yang masih bergetar. Sementara aku hanya diam bersembunyi dalam dekapan Kyu, menikmati setiap detik yang berjalan sambil sesekali mengendus aroma tubuh Kyu yang semakin membuatku jatuh cinta padanya.

***

Keesokanharinya aku melihat Kyu dan Luna sedang bertengkar hebat di aula kampus kami, aku pun menguping pembicaraan mereka dari ujung pintu aula. “Kyu, kenapa kau tidak datang tadi malam! Aku menunggumu!” gerutu Luna dengan manja. Eeww! Aku muak melihat gayanya itu.

“Mianhae,” balas Kyu singkat. Aku baru tahu ternyata KyuHyun membatalkan janjinya dengan Luna hanya karena ingin menjemputku tadi malam, tampaknya dia masih sangat mempedulikanku. Yah, tentu saja. Aku kan ‘saudara’-nya.

“Tadi malam kau bersama Lee Ji Bin kan?” tuduh Luna yang langsung membuat Kyu menoleh tajam pada yeoja itu.

“Sudahlah aku tidak mau membahas itu, kita kan masih bisa membuat janji lagi malam ini,” jawab Kyu santai lalu berniat untuk berbalik arah dan berjalan meninggalkan Luna. KyuHyun, kau terlihat keren saat mengabaikan Luna seperti itu! Abaikan saja dia terus!

Tiba-tiba kulihat Luna memeluk tubuh Kyu dari belakang. “Jangan ulangi itu lagi! Aku sangat menyayangimu, jangan tinggalkan aku hanya demi Lee Ji Bin!” cerocos Luna sambil terus mengeratkan tangannya ke sela-sela lengan besar KyuHyun.

Tampaknya Luna yang awalnya menolak Kyu, ternyata malah benar-benar telah jatuh cinta pada Kyu. Tentu saja, siapa yang bisa menolak pesona seorang Cho KyuHyun? Kulihat Kyu membalikkan tubuhnya agar menghadap Luna, lalu mereka bertatapan selama beberapa menit kemudian saling berpelukan erat satu sama lain.

Aku hanya bisa menelan ludahku dari kejauhan, napasku sesak, kedua kakiku terasa lemas, kemudian aku putuskan untuk menghentikan aktivitas mengintipku dan langsung berlari menjauh dari sekitar aula. Sepertinya aku harus mulai sadar bahwa KyuHyun memang menyayangiku, tapi hanya sebagai saudara, TIDAK LEBIH.

“Jangan menangis, Lee Ji Bin! Jangan! Jangan!” gumamku pada diriku sendiri, aku mencoba menahan air mata yang sudah mendesak ingin keluar dari pelupukku ini, tapi gagal. Aku menangis sambil terus berlari dan berusaha mencari tempat sepi di sekitar kampus, aku melirik bahwa orang-orang mulai menatapku dengan ribuan tanda tanya dalam kepala mereka, ini sangat memalukan.

***

“Dia yang memulainya Kyu!” teriakku pada Kyu untuk kesekian kalinya.

“Kau mempunyai punya basic bela diri yang diajarkan Yesung Hyung semasa tinggal di Busan dulu! Sementara Luna? Dia pasti akan kalah jika melawanmu!” bentak Kyu. Terlihat dari raut wajahnya bahwa dia sangat marah padaku karena tadi siang aku dan Luna bertengkar hebat di kantin kampus. Luna mengancamku agar tidak menggoda Kyu lagi, dia pikir dia siapa berbicara seperti itu? Aku tidak pernah menggoda Kyu!

“Dia bohong! Aku tidak memukulnya apalagi sampai menendangnya, bahkan dia yang menamparku duluan! Aku saja belum sempat membalasnya karena kau sudah datang untuk melerai kami,” jelasku mati-matian agar Kyu mau percaya, tapi ternyata tidak.

“Stop! Hentikan! Aku tahu kalau kau tidak pernah menyukai hubunganku dengan Luna selama ini, tapi bisakah kau menghargaiku? Dia kekasihku dan kau adalah saudaraku, bukankah seharusnya kalian bisa saling rukun?”

Kenapa Kyu tidak mempercayaiku? Kenapa dia malah lebih percaya pada yeoja sialan itu? Cinta sudah membuatnya buta dan tidak lagi menggunakan logika! Mana mungkin aku mencari gara-gara pada yeoja itu duluan? Seharusnya KyuHyun tahu bahwa aku bukanlah tipe wanita yang seperti itu.

Aku menarik napasku dalam. Benar! Aku memang saudaranya dan Luna adalah kekasihnya. “Baiklah, maafkan aku,” ucapku akhirnya, aku menyerah untuk membela diri.

Kyu hanya diam memandangku, wajahnya masih terlihat emosi dan kedua matanya seolah sedang menyalahkanku atas semua kekacauan ini. Belum pernah aku melihatnya semarah ini padaku, sepertinya cinta sudah benar-benar membuatnya buta, dia tidak lagi memikirkan perasaanku ketika dibentak olehnya seperti tadi.

Air mataku mengalir ketika melihat Kyu berjalan pergi dari hadapanku. “Yah, kita adalah saudara, tidak lebih,” gumamku sambil tersenyum pedih. Seketika aku langsung merindukan Yesung Oppa, kalau saja kami bertiga tetap tinggal di Busan, mungkin Kyu tidak akan berubah seperti ini. Aku menyesali semua yang telah terjadi.

Sejak pertengkaran itu, hubunganku dengan Kyu menjadi sangat canggung, aku dan dia selalu mempunyai urusan yang terpisah sehingga kami jarang sekali bercanda bersama ataupun mengobrol banyak.

[FLASHBACK END]

Tiba-tiba kudengar ponselku berdering, aku langsung mengangkatnya ketika tahu siapa yang menelepon. “CHAGI!! I MISS YOU!!” teriak seorang namja dari ujung sana, Yesung Oppa.

“I miss you too,” jawabku lemah dan serak, suaraku hampir habis karena menangis semalaman.

“Wae? Kenapa tidak bersemangat? Kenapa suaramu serak?” Pertanyaan bertubi-tubi meluncur tajam dari mulut Yesung, terdengar dari nada bicaranya bahwa dia sangat khawatir padaku.

“Ah, aniyo. Aku hanya baru bangun tidur, Oppa,” jawabku bohong. Aku tidak ingin Yesung khawatir karena masalah ini, bisa-bisa dia langsung menyuruh Kyu kembali ke Busan karena telah membuatku menangis. Dan aku tidak mau kalau sampai berpisah dengan Kyu.

“Hmmm…apakah Kyu menjagamu dengan baik disana?”

“Ne, tentu.” Aku berbohong lagi. Kyu tidak pernah lagi mengikuti kemanapun aku pergi, bahkan mengobrol denganku saja jarang, dia terlalu sibuk dengan cinta pertamanya itu.

“Baguslah. Ji Bin-ah, aku…”

Sebelum sempat menyelesaikan kalimatnya, aku sudah memotong omongan Yesung. “Oppa, aku sedang sibuk. Aku tutup dulu teleponnya, nanti aku hubungi lagi.”

KLIK~~~

Tanpa menunggu jawaban dari Yesung, aku langsung menutup telepon secara sepihak. Aku tidak sanggup berlama-lama mengobrol tentang Kyu, aku takut ketahuan sedang menangis. Situasi ini benar-benar membuatku gila!

“Kyuuuuuuuuuu!!! Aku menyukaimu!! Kenapa kau tidak pernah menyadarinya!!!” teriakku lepas karena aku yakin bahwa rumahku sedang kosong, kedua orangtuaku sedang pergi ke rumah nenekku, sementara Kyu sejak dua hari lalu menginap di rumah teman prianya. Yah, disini Kyu banyak punya teman baru dan semua temannya adalah namja-namja yang sepopuler dirinya di kampus.

Tiba-tiba kurasakan tubuhku terasa lemas setelah berteriak tadi, aku jatuh terkulai lemas ke lantai dingin kamarku ini, kepalaku pusing, syaraf-syaraf tubuhku terasa kehilangan kekuatannya, air mataku tak mau berhenti mengalir, aku patah hati dan ini rasanya sangat sakit sekali.

“Kyuuu,” panggilku lemah di sela-sela tangisanku, lalu aku merasa semuanya menjadi gelap, semakin gelap dan sangat gelap.

***

Aku mengerjapkan kedua mataku, kepalaku masih terasa berat dan aku mendapati tubuhku sudah tidak berada di bawah lantai lagi, sepertinya ada seseorang yang telah mengangkatku ke atas ranjang dan juga menyelimutiku dengan selimut tebal ini.

“Kau sudah bangun?,” ucap seseorang yang sekarang sedang mencoba mengompres kepalaku dengan kain yang sebelumnya telah dicelupkan ke dalam air dingin. Cho KyuHyun.

“Kapan kau pulang?” tanyaku lemah, suaraku masih terdengar serak.

“Wajahmu pucat sekali, kenapa tidur di lantai? Kau bisa sakit jika seperti itu, babo,” ucap KyuHyun, dia tidak mempedulikan pertanyaanku tadi dan masih sibuk mengompres kepalaku. Sepertinya aku sedang terserang demam, serangan demam yang diakibatkan oleh suatu peristiwa yang disebut dengan ‘patah hati’.

Aku hanya diam menatap wajahnya yang sudah sangat dekat jaraknya dengan wajahku, bahkan aku bisa merasakan hembusan napasnya menyapu lapisan kulit wajahku, sangat menenangkan hatiku. Cara bicara Kyu sudah sangat berbeda, nada bicaranya terdengar dingin dan terkesan dewasa. Ada apa denganku ini! Dulu aku selalu ingin melihatnya tampil dewasa dan tidak cengengesan, tapi sekarang kenapa aku malah merasa kecewa? Jujur, aku merindukan sifat konyolnya yang dulu, sangat rindu.

“Kenapa menatapku seperti itu?” tanyanya tiba-tiba membuyarkan semua lamunanku. Aku masih diam, masih menatapnya dengan kedua mataku yang sembap ini, aku sedang tidak berselera untuk bicara apapun karena dengan menatap matanya saja sepertinya akan jauh lebih menyenangkan. Mata kami bertemu selama beberapa menit, tapi ini malah membuat kepalaku semakin pusing dan membuat kedua mataku berkedut ingin menangis.

Aku segera melepas kontak mataku dengannya, aku takut jika diteruskan maka pertahananku akan roboh dan akhirnya air mataku pecah. “Kyu, bisakah kau menjauh dariku?” pintaku, karena aku merasa jarak antara wajah kami sudah terlalu dekat.

“Wae? Aku ingin seperti ini terus,” bisiknya tepat di ujung hidungku. Sejak kapan Kyu bisa menggoda wanita seperti ini? Dia sukses membuat jantungku berguncang hebat.

Kyu tidak mempedulikan perkataanku, dia semakin mendekatkan wajahnya padaku dan memaksaku untuk memejamkan kedua mataku, tanpa sadar aliran air pun mulai membasahi pipiku. “Kyuuuu,” panggilku lemah, aku ingin menahan tubuhnya agar berhenti mendekatiku. Tapi gagal.

CHUUU~~~~

Dia mencium keningku lembut dan sangat dalam, beberapa menit aku seperti merasa sedang berada di tempat yang paling indah di dunia ini.

“Jangan menangis lagi, saranghae…”

Aku segera membuka kedua mataku dan mendapatinya sedang tersenyum evil di depan mataku. “Euuum?” gumamku dengan nada bertanya.

“I LOVE YOU!” tegas Kyu sambil terkekeh, lalu ia mengusap air mataku dengan jari-jarinya yang lembut itu.

Aku mengangkat alisku, sepertinya aku belum bangun dari mimpiku semalam. Aku menampar pelan kedua pipiku sambil memejamkan kedua mataku, namun ketika membuka mataku lagi, aku masih melihat Kyu di hadapanku. Aku kembali menampar pipiku dengan lebih keras, berusaha menyadarkanku dari mimpi ini. Mana mungkin KyuHyun berkata ‘saranghae’! Mana mungkin!

“Hey, apa yang kau lakukan?” tanya Kyu sambil memegangi kedua tanganku, mencegahku untuk menampar pipiku lagi. Ternyata ini bukanlah sebuah mimpi, ini nyata. “Saranghae…”

Aku mengerjapkan mataku dua kali, lalu menelan ludahku. “Kyu, a-a-a-pa yang kau katakan?” tanyaku untuk sekedar memastikan bahwa aku tidak salah dengar.

“Aku mendengar semuanya, teriakanmu yang sangat keras sebelum kau pingsan tadi. Kau menyukaiku kan?”

Mulutku setengah menganga, antara malu dan takut. Bagaimana ini? Luna pasti akan membunuhku jika ia tahu bahwa aku menyukai kekasihnya.

“Aku juga menyukaimu.” Pengakuan Kyu membuat mulutku semakin menganga lebih lebar dua kali lipat. “Aku sudah memutuskan hubunganku dengan Luna sejak lama, yeoja sepertinya tidak pantas mendapatkan namja hebat sepertiku,” jelas Kyu sambil menepukkan tangannya ke dada, ia tersenyum penuh kemenangan seperti dulu.

Aku terkejut. “MWO?” Inikah KyuHyun-ku yang dulu, yang narsis, yang konyol, apa dia sudah benar-benar kembali?

“Dia terlalu banyak memintaku berubah, aku merasa seperti sebuah robot. Sejujurnya Luna bukanlah cinta pertamaku, kaulah cinta pertamaku.” Kyu menarik napasnya sebelum melanjutkan, “Sejak kau tak sengaja menyemprotkan cairan hidungmu tepat ke wajah Yesung Hyung, aku tahu bahwa aku sedang jatuh cinta padamu.”

“Hah? Apa maksudmu?” tanyaku tak mengerti.

“Yesung Hyung tidak marah diperlakukan seperti itu, itu artinya kau pantas dicintai, kau pantas aku lindungi,” jelas Kyu sambil membangunkan tubuhku sehingga posisiku sekarang menjadi duduk, kemudian dia memelukku erat dan hangat.

Sebenarnya aku tidak begitu mengerti dengan penjelasan Kyu, apa hubungannya antara ingus dan jatuh cinta? Kenapa dia bisa jatuh cinta padaku karena alasan aneh seperti itu? Yah, tapi aku tidak peduli apapun alasannya, yang aku tahu bahwa Cho KyuHyun juga mencintaiku. Aku pun mulai menyunggingkan senyum di sudut-sudut bibirku dan semakin mengeratkan tanganku ke punggung Kyu, aku ingin memeluknya lebih lama.

“Saranghae…mianhae telah mengabaikanmu selama ini,” bisik Kyu tepat di daun telingaku.

“Nado saranghaeyo…mianhae aku juga pernah menyuruhmu berubah. Seharusnya aku mencintaimu apa adanya,” balasku.

KyuHyun melepas pelukan kami, ia tersenyum dan mengelus lembut kepalaku. “Tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan. Dan aku akan berusaha menjadi dewasa untukmu, untuk menjagamu. Tapi aku juga akan menjadi konyol seperti biasanya jika aku melihatmu menangis lagi seperti tadi, aku ingin selalu menghiburmu dan menjadi alasanmu tersenyum setiap hari,” ucap Kyu. Ah, sejak kapan dia jadi romantis seperti ini, aku merasa tersentuh.

“Kau sudah besar ternyata, pandai sekali merangkai kata-kata,” komentarku setengah meledek, lalu aku tertawa kecil memandang wajahnya yang berlumuran senyum.

“Kyuuuuu,” teriakku saat dia meraih daguku dan berniat mengambil salah satu yang sangat berharga dalam hidupku selama ini, ciuman pertamaku.

CHU~~~~

Sedetik…

Dua detik…

Tiga detik…

“Aigo! Ternyata seperti ini rasanya berciuman?” ucap Kyu setelah melepaskanku dari ciumannya, lalu dia menunjukkan smirk-nya. Sementara aku masih melongo sambil memegangi bibirku yang terasa basah karena perbuatan KyuHYun tadi.

“Kau mengambilnya tanpa persetujuanku! Itu yang pertama untukku! Kenapa kau tidak melakukannya dengan lembut!!” protesku kesal. Aku yakin bahwa sekarang wajahku sudah memerah sempurna akibat perlakuan Kyu tadi. Jujur saja aku tidak terlalu menikmati ciumannya yang sangat singkat tadi, Kyu terkesan terlalu terburu-buru. Aku rasa dia tidak terlalu pandai dalam urusan ini, mungkin kami berdua harus sering berlatih. Aigo! Apa yang sedang aku pikirkan! Pikiran-pikiran yadong mulai menyerang otakku! Huufhh…

“Ini juga yang pertama untukku,” balas Kyu polos.

Aku membulatkan kedua mataku. “Kau belum pernah melakukannya dengan Luna?” tanyaku sedikit hati-hati ketika menyebut nama ‘Luna’.

Kyu menggeleng. “Entah kenapa saat bersama Luna, aku merasa tidak berselera untuk menciumnya. Kajja kita lakukan sekali lagi,” ucap Kyu tiba-tiba. Dia segera meraih tengkukku dan langsung memiringkan kepalanya, dia ingin melakukannya lagi, tanpa minta ijin denganku terlebih dahulu! Erggh…

“Yaaaa!!!! Apa yang kau lakukan!!!” teriak seseorang yang baru saja masuk ke dalam kamarku, dia memegangi ujung kaos yang dikenakan Kyu sambil memasang tampang garang. Posisi KyuHyun kini lebih terlihat seperti seekor kucing kampung yang akan segera dibuang ke tempat sampah oleh manusia.

Mataku membulat sempurna. “Yesung Oppa?”

“Kau!! Apa yang kau lakukan pada adikku!!” teriak Yesung sambil mencengkeram kerah kaos KyuHyun. Wajah Kyu terlihat ketakutan, seberapa dewasanya Kyu tetap saja dia akan takut pada Hyung-nya.

“Hyung…eunggg aku…ini hanya salah paham,” jawab Kyu gelagapan, ia mulai kehabisan napas karena Yesung sekarang malah memposisikan kedua tangannya untuk mencekik leher Kyu.

Kulihat Yesung menoleh ke arahku yang masih terkejut dengan kedatangannya. “Kenapa kau menutup teleponku tadi? Aku mau bilang kalau aku sudah ada di perjalanan menuju rumahmu!!” protesnya kesal.

“Eunggg…jeongmal mianhae, Oppa. Aku tadi…Hmm ini hanya salah paham.” Akhirnya aku turun dari ranjang dan mencoba untuk menenangkan Yesung agar emosinya tidak semakin terbakar.

Akhirnya secara perlahan, Yesung mulai membebaskan KyuHyun. “Uhuk…uhukk…Hyung, kau hampir membunuhku,” gerutu Kyu. Aku yang tidak tega melihatnya, langsung menepuk-nepuk pelan punggung Kyu agar saluran pernapasannya kembali berjalan dengan normal.

Kulirik Yesung memandangi wajahku dan KyuHyun secara bergantian, kemudian ia mulai menyipitkan kedua matanya dengan penuh curiga. “Kalian berpacaran?” selidik Yesung.

Sementara kami hanya tersenyum canggung, kemudian berpura-pura memutar bola mata kami ke arah lain. Kudengar Kyu malah sedang asyik bersiul untuk menghindari pertanyaan Yesung.

“Yaa!! Kenapa tidak pernah bercerita padaku!!!” teriak Yesung keras seraya menghentakkan kedua kakinya di atas lantai, dia terlihat sangat kesal. Sementara aku dan Kyu hanya tertawa geli melihat tingkah orang yang sangat kami sayangi ini.

***

Empat tahun kemudian…

Aku menangis di pojokan ruang sempit nan gelap ini sambil menggenggam amplop coklat yang aku tidak tahu apa isinya, kurasa dokumen penting. Kulihat Kyu sudah mulai tak sanggup menghadapi mereka, pria-pria berbadan besar dan bertampang sangar itu. Aku ingin sekali menolong Kyu yang sudah hampir ‘habis’ karena tendangan dan pukulan mereka, tapi kemampuan taekwondo-ku yang hanya sebesar upil juga tidak mungkin menolongnya terlalu banyak. Aku tidak mungkin menggunakan keahlian memasakku kan untuk melawan mereka? Atau menggunakan mantra menghilang dari film Harry Potter? Ah, kurasa aku sudah sama gilanya dengan Kyu.

Kulihat penjahat-penjahat itu mulai mendekatiku, aku semakin memundurkan langkah kakiku dengan terburu-buru. Kukira semua masalah dari Shin Group sudah hilang sejak hutang keluarga kami lunas, tapi ternyata belum.

“Serahkan amplop itu!” gertak si penjahat botak. Aku masih bergeming, kulirik Kyu sudah tersungkur sambil memandangiku di pojok ruangan pengap ini, dia mengisyaratkan agar aku tidak menyerahkan amplop coklat ini.

“Serahkan! Cepat!” sahut yang lainnya.

PLAKK~~~

Tiba-tiba salah satu dari mereka menampar pipi kananku, kurasakan pipiku mulai panas dan mungkin sudah memerah, rasanya sakit sekali. Tapi aku tahu ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan keadaan Kyu saat ini, tubuhnya memar dan wajahnya berlumur darah.

“Ji Bin-ah, lariii! Larii! Ppali!! Jangan pedulikan aku!” teriak Kyu lemah dari pojok sana.

Aku tidak mungkin lari, aku tidak mungkin meninggalkan Kyu yang sudah hampir mati sendirian disini. Beberapa menit aku berpikir, menimbang keputusan tepat apa yang seharusnya aku ambil. Aku memandangi wajah Kyu disana selama beberapa menit dan akhirnya aku memutuskan untuk menyerahkan amplop coklat ini saja.

“Kau pintar sekali, Nona!” ucap si penjahat botak sambil tersenyum sinis. Lalu dia memberi isyarat pada anak buahnya yang lain untuk segera pergi meninggalkan tempat ini. Yah, tujuannya sudah tercapai, amplop coklat itu.

Begitu penjahat-penjahat tadi pergi, aku langsung berlari menghampiri tubuh lemah Kyu di ujung sana. “Kyuuuuuuu!!!” teriakku sambil terisak.

“Babo! Kenapa kau lepaskan amplop itu! Seharusnya kau tadi berlari!” gerutu Kyu. Dia masih saja memikirkan tentang amplop itu, padahal keadaannya sekarang sudah sangat memprihatinkan.

“Aku tidak peduli dengan isi amplop itu! Aku tidak mungkin meninggalkanmu disini sendirian,” isakku sambil membelai kepala Kyu yang penuh keringat dan juga cairan merah berbau amis.

Kyu hanya tersenyum menatapku dan berbisik pelan, sangat pelan. “Thank you for loving me.”

“KYUUUUUUUUUUUU!!!” Tangisku pecah saat melihat Kyu menutup kedua matanya, dia pasti sangat tersiksa dengan pukulan penjahat-penjahat tadi. Dia benar-benar bodyguard yang setia untukku dan keluargaku, dia menjagaku sampai akhir dia menutup matanya saat ini, di atas pangkuanku.

“Kyu!!! Jangan tinggalkan aku!!!” isakku. Memori masa lalu kami mulai terlintas semua di kepalaku, saat Kyu melawan penjahat di gang kecil, saat dia memelukku di dalam sebuah pabrik kertas tua, saat dia mengompres keningku, saat pertama kali dia menciumku, saat dia mengajakku berfoto bersama belalang. Aku tidak bisa menerima keadaan ini, aku tidak rela kehilangannya.

“Kyuuuuuuuuuuu!!!!!”

“Jangan menangis, aku belum mati.” Kudengar suara bisikan Kyu, dia membuka matanya lagi, dengan lemah Kyu mengarahkan tangan kanannya untuk membelai pipiku yang basah ini. Aku tahu dia pasti tidak akan pernah meninggalkanku, dia pasti akan berusaha agar tetap hidup dan selalu menjadi pelindungku di setiap hembus napasnya. Aku tahu itu, bertahanlah, Kyu!

“CUT!” Kudengar suara berat seorang pria baruh baya berteriak di ujung sana, lalu gemuruh tepuk tangan mulai memenuhi sudut-sudut ruangan ini.

“Daebak!” teriak Eomma dan Appa ku dari samping kursi sutradara. Kulirik Yesung Oppa bersama Ddangkoma yang ada di tangannya sedang tersenyum padaku dan juga Kyu.

Yah, saat ini aku dan Kyu sedang bermain dalam sebuah film pendek, ternyata akting Kyu keren juga, tetapi tentu saja tidak jauh lebih keren dari aktingku.

“Kau hebat! Natural sekali,” puji Kyu sambil menjawil lembut hidungku. Aku hanya tersenyum seraya mengusap lembut darah buatan yang bercampur dengan keringat di dahi KyuHyun.

“Bagaimana ya jika aku benar-benar mati dalam adegan tadi?” tanya Kyu padaku tiba-tiba.

Aku mengangkat kedua bahuku dan menggeleng cepat. “Aku tidak mau membayangkannya. Aku tidak mau kehilanganmu dalam sebuah film ataupun di kehidupan nyata!” tegasku.

Kyu terkekeh mendengar ucapanku. “Jadi, apa kau masih meragukan kemampuan bela diriku?”

Aku menggeleng dan tersenyum, aku benar-benar semakin jatuh cinta pada namja yang sekarang sudah bekerja menjadi seorang pengacara muda ini.

“Hyung, kau terlalu perhatian pada kura-kuramu, sampai ada wanita secantik itu kau malah lebih memilih menggendong kura-kura itu daripada menggandeng tangan Vic,” ledek Kyu ketika melihat Yesung Oppa datang mendekati kami bersama Vic.

“Ddangkoma, ternyata dia masih bodoh seperti dulu ya?” tanya Yesung pada kura-kura di gendongannya dengan wajah meledek.

“Ya!! Hyung! Kenapa berbicara pada kura-kura bodoh itu? Apa kau sudah jadi gila sekarang?” seru Kyu dengan nada menyebalkan.

“Ya!!! Jangan kurang ajar padaku! Aku ini Hyung-mu!” teriak Yesung sambil melotot ke arah Kyu dan siap menghempaskan tinjunya.

Sementara mereka sedang ribut, tiba-tiba Vic menyapaku dengan ramah. “Lama kita tidak bertemu, bagaimana kabarmu?” sapanya sambil tersenyum.

Kenapa dia ramah sekali, jangan-jangan ini modus barunya untuk mengerjaiku. Aku memang sedikit ragu dengan kebaikan Vic, mengingat dia adalah orang yang paling sinis padaku ketika aku masih kuliah di Busan dulu.

“Dulu kukira kau suka sekali menggoda Yesung Oppa, jadi aku membencimu, tapi ternyata semua itu hanya salah paham. Ternyata kau sudah dianggap seperti adiknya sendiri,” jelas Vic menjawab semua pertanyaan yang membuncah dalam kepalaku, sepertinya dia bisa membaca pikiranku.

“Mwo?” seruku kaget.

“Aku menyukai Yesung Oppa dari dulu, tapi aku selalu cemburu denganmu, jadi aku membencimu. Kau mengerti kan maksudku?” tanya Vic, mencoba memastikan apakah aku sudah mengerti penjelasannya atau belum.

“Aigo! Vic Unnie! Jadi sekarang kalian berpacaran?” tanyaku antusias setelah menyadari sepenuhnya penjelasan Vic tadi.

“K-k-kapan kalian berpacaran?” teriak Kyu yang sama terkejutnya denganku.

“Sejak kau dan Ji Bin tinggal di Seoul,” jawab Yesung Oppa tersenyum lembut memandang Vic. Aigo! Mereka terlihat bahagia sekali, aku harap Vic bisa menjaga Yeye Oppa dengan baik dan mencintainya secara tulus.

***

“Kita akan jadi bintang, Chagi!” seru KyuHyun antusias saat melihat hasil rekaman film pendek kami beberapa hari yang lalu.

“Bintang kepalamu! Ini kan hanya film pendek yang akan diputar di acara resepsi pernikahan kita minggu depan,” celotehku sambil melirik tampang konyolnya itu.

“Hahahaha…yah setidaknya aku adalah bintang di hatimu kan?” goda Kyu sambil menjawil pelan daguku.

“Aishh…Jangan merayuku!” desisku malas sambil melirik kesal wajahnya yang sekarang sedang tersenyum lebar memandangiku.

THE END

——————————————————————————————————————————————-

Berikan penilaian kalian tentang FF ini di kolom komentar. Don’t be silent reader ya ^^

Pos ini dipublikasikan di Fan Fiction, K-DID dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke [FF] My Goofy Bodyguard

  1. adminwld berkata:

    aaaa Yesung😀
    wah mimin dibuat senyum2 sendiri nih hihihi, authornya daebak ^^

  2. deenovifatma berkata:

    kyaaaa Yesung oppa…

    keren… daebak!!
    alurnya bagus, gak gampang ditebak ^^

  3. reika berkata:

    daebak
    semoga sukses terus buat authornya🙂

  4. amyhye berkata:

    Adegan Kyu ngompres Ji Bin dan nyatain perasaannya, feel-nya dpt bgt ewh! >.<
    Suka bgt sm FF-nya, thor. Bs ngerasain sedihnya Ji Bin pas Kyu berubah + pacaran sm Luna:')

Don't be silent reader, tulis komentarmu di sini ^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s