[FF] Nuna, Saranghae


Nama: Patricia Tirtaputri

Nickname: Syen

Akun Twitter: @Syen_VIP

Title FF: Nuna, Saranghae

Genre: Romantic

Main Casts: Lee Taemin, Han Dongmi

Supporting casts: Choi Minho, Key, Onew, Jonghyun, Choijin, Taeyeon

Length: OneShot

——————————————————————————————————————————————-

“Wow, kamar ini keren,” Seru Taemin sembari mengangkat kopernya ke dalam kamar.

Kamar itu tidak terlalu besar dan memuat dua ranjang dengan seprai, bantal dan selimut bercorak laut. Di sudut ruangan ada sebuah lemari besar berwarna coklat kayu yang dapat memuat kira-kira dua buah koper. Lantainya tesusun dari kayu-kayu yang dirangkai sejajar. Ada sebuah jam dinding berbentuk setir kapal di dinding antara kedua ranjang yang terpisah. Ada pula sebuah meja kayu kecil yang dihias kerang. Kamar itu juga dilengkapi toilet kecil di dekat pintu masuk. Namun, yang paling menonjol dari semuanya adalah sebuah jendela besar yang menghadap ke arah pantai dengan gorden berwarna hijau membingkai di sekelilingnya. Ruangan itu didesarin rapi agar penghuninya dapat menikmati suasana pantai.

“Ya! Masukkan kopermu ke lemari, Taemin.” Ujar Minho yang lebih tertarik menata kopernya dibanding menikmati keindahan kamar itu.

“Ayolah, hyeong, nikmati sedikit,” Taemin menggerutu. Setelah memasukkan kopernya ke dalam lemari, ia segera menuju ke arah jendela dan mengamati indahnya pemandangan di luar. Laut mendesir pelan, menghantam pasir pantai dengan lembut. Kapal-kapal kecil mengapung di berbagi tempat di laut. Beberapa orang asing sedang mnikmati berjemur di bawah terik matahari. Anak-anak kecil berlarian di tepi, melempar bola. Beberapa keluarga kecil sedang membentuk istana pasir. Seorang gadis duduk memeluk kakinya sembari menatap keindahan pemandangan di depannya.

“Semua selesai, ayo, kita turun makan.” Panggil Minho yang sudah berjalan menuju pintu. Taemin meninggalkan pengamatannya dan mengikuti Minho keluar dari kamar menuju restauran hotel.

Restauran hotel berada di ruang terbuka dan berada dekat dengan pantai. Meja-meja pantai melingkar di sekeliling kasirnya. Tidak ada lantai maupun kayu yang mendasar di bawahnya, melainkan pasir pantai yang berwarna coklat mudah dan kerikil-kerikil. Taemin sangat senang dengan tempat ini, tapi Minho sebaliknya merasa terganggu dan menggerutu beberapa kali ketika pasir masuk ke dalam sandalnya. Restauran itu lumayan ramai oleh pengunjung dan turis asing. Ketika melihat Taemin dan Minho, beberapa gadis bersorak riang mengambil kamera mereka dan mengambil gambar kedua bintang itu.

Mereka menemukan Onew, Key, dan Jonghyun sudah terduduk di salah satu meja dengan ekspresi berbeda-beda. Onew sedang sibuk menatap buku menu dan menggumamkan sesuatu ke pelayan di sebelahnya. Key dengan kacamata hitam bertenger di hidungnya menatap pantai dengan pandangan kagum. Jonghyun duduk bersandar sembari sibuk memainkan ponselnya. Ketika mendapati kehadiran Minho dan Taemin, mereka memberhentikan aktivitas mereka dan tersenyum menyapa.

“Kalian lama sekali!” Omel Key.

“Kami sudah memesankan makanan lebih dahulu, kalian pesanlah minuman,” Onew menyerahkan buku menunya pada Minho dan Taemin.

Mereka masing-masing memesan minuman dan pelayan itu pergi setelah semua pesanan dibaca ulang.

“Hyeong, tempat ini bagus ya.” Puji Taemin masih dengan mata berbinar-binar.

“Ya,” Key mengangguk setuju, “Aku bisa membayangkan kita tampil seksi dalam pemotretan dengan pemandangan seindah ini.”

“Jam berapa pemotretannya?” Tanya Minho.

“Choijin hyeong sih bilang pemotretannya dimulai pukul 2.” Jonghyun menjawab tanpa ada ketertarikan sama sekali. Ia kembali memainkan ponselnya dan tersenyum-senyum sendiri.

“Apa yang kau lakukan? Mengepost sesuatu di me2day atau twitter?” Tanya Key pada Jonghyun ingin tahu.

“Lihat saja sendiri.”

Tak lama kemudian seorang pelayan perempuan mengantarkan minuman mereka. Pelayan perempuan itu membawa minuman mereka dengan pandangan kosong dan bahkan tidak menyadari bahwa ia sedang meletakkan minuman di meja para bintang Korea. Ia meletakkan minuman itu dengan canggung dan tangannya terpleset memegang cangkir terakhir hingga isinya tumpah ke arah Taemin.

“Ah! Mianhae…” Seru pelayan itu.

“Ya! Dongmi! Kau ini niat kerja tidak sih?” Seorang pelayan perempuan lain berlari ke arah mereka. Pelayan perempuan itu menatap seluruh anggota Shinee dengan pandangan meminta maaf, “Maafkan dia, kalian tidak apa ‘kan? Oh tidak, Taemin oppa, bajumu basah. Seharusnya aku tidak membiarkan dia mengantarkan minuman.”

“Eng, gwenchana.. tak apa kok.“ Kata Taemin. Bajunya memang terkena air, tapi ia yakin baju itu akan kering beberapa saat.

“Ya! Lihatlah perbuatanmu, Han Dongmi! Aku benar-benar tak mengerti kenapa bos masih mempertahankanmu di sini. Kau ini sudah kerja asal-asalan, bisanya hanya bengong di pantai!” Bentak pelayan tersebut pada pelayan Dongmi. Gadis bernama Dongmi itu hanya menunduk tanpa membalas. Semua kepala menengok pada mereka dan memberikan pandangan mencela pada pelayan bernama Dongmi.

Tidak lama setelah membereskan kegaduhan yang terjadi di meja, makanan mereka pun akhirnya datang. Dengan tatapan mata memandang dari segala sisi, para anggota Shinee memakan makanannya. Mereka sudah tidak asing lagi dengan tatapan para penggemar atau oran-orang yang sekadar ingin tahu, walau awalnya memang agak risih. Di tengah menyantap makanan mereka, Choijin, manager Shinee, datang mengabarkan jadwal pemotretan mereka. Pemotretan berlangsung dari siang hingga matahari tenggelam, dari pantai hingga pelabuhan yang letaknya cukup jauh dari hotel mereka. Begitu kembali ke kamar semuanya tertidur dengan pulas karena kelelahan.

Matahari belum terbit ketika Taemin terbangun. Ia mengintip keluar jendela dan masih mendapati hari masih gelap. Dilihatnya jam dinding di kamar hotel itu. Anak panah kayu tersebut menunjukkan masih pukul 4 pagi. Taemin kembali ke kasurnya dan menarik selimutnya, tapi ia tidak bisa tidur. Ia menoleh pada Minho yang masih tertidur pulas. Berguling ke kanan kiri tidak membuatnya tertidur. Ia tidak biasa terbangun sangat pagi. Biasanya, Jonghyun atau Key lah yang bangun lebih pagi

Akhirnya Taemin memutuskan untuk pergi ke pantai yang tidak jauh dari hotel mereka. Paling tidak ia bisa menikmati pemandangan matahari terbit. Pasti indah.

Taemin menemukan sebuah batu karang besar di pangkal pantai. Ia memanjat naik dan duduk di sana. Menikmati bunyi ombak yang bergelung, air yang memukul batu, udara pagi yang segar, pemandangan indah yang berbeda dengan Seoul yang dikelilingi kendaraan dan gedung-gedung.

“Eh permisi,” Sebuah suara menginterupsi keasyikan Taemin. Laki-laki itu menoleh. Di bawah sinar redup bulan di pagi hari, ia dapat melihat seorang gadis dengan rambut panjang tergerai duduk tidak jauh dari dekatnya. “Apa kau artis yang kemarin tersiram air?”

Taemin mengernyit sebelum bertanya, “Kau pelayan kemarin?”

“Ne,” Kata gadis itu pelan, “Aku minta maaf soal kemarin.”

“Ehm tidak apa. Kau sudah berada di sini dari tadi?” Tanya Taemin. Jujur saja ia sama sekali tidak menyadari kehadiran gadis itu.

“Ne. Aku melihatmu memanjat ke sini.” Kata gadis itu.

“Oh,” Taemin mengangguk. Mungkin karena terlalu gelap, ia tidak menyadari bahwa gadis itu duduk di sana. “Apa kau keberatan aku di sini?”

Gadis itu terdiam sejenak sebelum berkata, “Sedikit. Tapi karena kemarin aku sudah menyirammu, tak apalah.”

Taemin mengangguk dan tersenyum

Matahari mulai memunculkan sedikit sinarnya beberapa saat kemudian. Perlahan-lahan keluar dari air. Memancarkan sinarnya ke segala arah.

“Banyak artis yang sering ke sini. Melakukan pemotretan, syuting, liburan.” Kata gadis itu dengan nada bengong. Pandangannya teretancap pada pemandangan di depannya.

“Pemandangan di sini memang indah.” Taemin menanggapi dengan jujur.

“Benar. Perlu setahun penuh untuk benar-benar menjelajahi berbagai tempat indah di sini. “ Kata gadis itu. “Kau suka laut?”

“Sangat suka. Aku suka lumba-lumba.” Kata Taemin.

“Lumba-lumba memang cantik. Mereka itu makhluk pandai. Aku pernah berteman dengan seekor lumba-lumba, namanya Lon. Tapi mereka hanya hidup di tengah laut. Ah maaf, aku terlalu banyak ngomong ya?” Tanya gadis itu.

“Tidak ‘kok.” Taemin tersenyum. Senyuman yang biasa membuat para penggemarnya jatuh cinta. “Ceritakan padaku tentang pulau ini.”

Mereka berbincang-bincang hingga matahari benar-benar menerangi pantai. Dari bincang-bincang itu Taemin mengetahui bahwa gadis bernama Dongmi itu lebih tua dua tahun darinya. Gadis itu sangat menyukai laut. Dia terus menceritakan segala sesuatu tentang pulau itu. Semua ceritanya sangat menarik dan Taemin merasa semakin mencintai pulau yang indah itu.

“Seharusnya jadwal kami hanya pemotretan dua hari, tapi semua member–terutama aku–memaksa manager kami supaya kami diberi waktu berlibur. Sudah sejak lama kami jarang berlibur.” Taemin menjelaskan. Ia tersenyum memikirkannya. Memang jadwal Shinee selalu sibuk. Mereka juga berencana akan tour keliling Asia bulan depan.

“Susah ya jadi artis,” gumam Dongmi, “kalau kau mau, aku bisa membuat liburanmu asyik.”

Taemin mengernyit dan memasang wajah bertanya. Gadis itu tersenyum penuh misteri dan tiba-tiba saja ia berdiri. Sebelum Taemin sempat menebak apa yang akan gadis itu lakukan, gadis itu melompat ke bawah, ke arah air di bawah batu karang. Setelah beberapa saat tersadar dari kekagetannya, Taemin merangkak ke tepian batu karang dan melihat arus air deras menghantam batu karang. Ia panik apa yang terjadi pada gadis itu., tapi tidak lama kemudian wajah Dongmi keluar dari air dan ia melambai sembari berteriak “turunlah!’.

Bukannya takut ketinggian atau tak bisa berenang, tapi dengan arus air sederas itu, itu bukan pilihan pertamanya untuk lompat indah.

“Aku akan menarikmu.” Dongmi berjanji. “Percayalah.”

Entah kegilaan apa yang membuat Taemin merangkak maju dan melompat ke depan. Sensasi terjun dengan angin menampar tubuhnya dan perut bergejolak ia rasakan di udara, lalu ia mendapat sensasi yang lebih mengerikan lagi saat di air. Mulanya ia merasakan dinginnya air yang luar biasa lalu ia merasakan tekanan-tekanan arus air yang mendorong paksa tubuhnya. Beberapa detik kemudian sebuah tangan terjulur menarik Taemin pelan dan ia mendengar suara tepat di telinganya, “kau bisa berenang ‘kan? Ayo!”. Sekuat tenaga Taemin menggoyangkan tangan dan kakinya. Matanya terpejam. Ketika tekanan-tekanan air mulai surut, ia membuka matanya dan kini ia tidak berada di bawah batu karang itu lagi, melainkan di lautan. Ia berada tidak begitu jauh dari pantai dan batu karang tadi, tapi kakinya sudah mengambang di air. Dongmi masih menggandeng tangannya berenang memutar. Air di laut berbeda dengan air di kolam renang. Air di laut lebih jernih dan asin. Taemin dapat melihat batu-batu, pasir, ikan kecil yang berada di dasarnya tanpa kacamat pelindung.

“Asyik ‘kan?” Tanya Dongmi yang dibalas dengan anggukan semangat Taemin. “Tapi ini belum seberapa. Menyelam lebih asyik lagi. Lebih banyak ikan dan terumbu karang.”

Mereka berenang berputar-putar beberapa saat hingga Dongmi menarik mereka ke pantai. Sudah lama sekali sejak debut pertamanya Taemin merasa selelah dan sesenang ini.

“Maaf ya aku nggak bisa lama-lama,” Kata Dongmi saat mereka telah sampai di pantai. Baju mereka basah kuyup dan berat saat berjalan. “aku harus kerja sebentar lagi dan sebentar lagi ada yang akan berselancar.” Ia menunjuk sekelumpulan laki-laki bertelanjang dada dan membawa papan selancar.

Mereka duduk-duduk di pantai sejenak untuk mengeringkan baju. Tiba-tiba Dongmi memekik dan ia menunjuk pulau di sebrang. Cahaya matahari menyinari pulau itu dan pulau itu berpendar ungu. “Pulau ungu. Sudah lama sekali sejak pulau itu berpendar ungu,” Gadis itu menjelaskan dengan bersemangat, “katanya, kalau kau mendapatkan sebotol pasir ungu, impianmu bakal terkabul. Tapi…” setelah beberapa saat pulau itu tidak berpendar ungu lagi, “itu jarang sekali.” Dongmi melihatnya dengan muram. Ia memandang ke pantai dengan tatapan kosong.

 

“Nuna, aku bisa membayarnya.. kita tidak perlu…”

“Sst.. Diamlah.” Dongmi menghentikan perkataan Taemin. Ia mengamati sekitarnya lalu berjalan dengan cepat ke depan meninggalkan Taemin bersembunyi di belakang pohon kelapa. Gadis itu berlari dengan cepat dan menghilang dalam sekejap. Taemin menunggu selama beberapa saat dengan khawatir. Hari masih begitu pagi, bahkan matahari belum benar-benar menampakkan sinarnya. Beberapa saat setelah menunggu dalam sinar redup matahari pagi, Dongmi berlari kembali dan ia terjatuh saat mencapai pohon kelapa dimana Taemin bersembunyi. “Taemin ah~ bantu aku dong.”

Taemin berlari dan membantu Dongmi berdiri. Ia juga membantu gadis itu membawa benda-benda tambahan yang ia bawa.

“Nuna, kau tahu aku bisa membayar untuk meminjam alat menyelam… kita tidak perlu…”

“Kalau membayar apa asyiknya?” Dongmi menanggapi singkat.

Setelah memakai perlengkapan menyelam mereka, Dongmi menjelaskan dengan singkat cara memakai tabung oksigen dan bernafas di dalam air. Mereka tidak menggunakan perahu untuk menyelam, dan Taemin dapat memastikan bahwa mereka memang tidak memerlukan perahu karena Dongmi dapat berenang lebih cepat dan lebih kuat dari perahu.

Awalnya Taemin kesusahan bernafas dalam air. Dongmi membawanya ke permukaan beberapa kali, tapi akhirnya ia terbiasa juga. Gadis itu membawanya ke laut yang lebih dalam. Awalnya ia tidak dapat melihat apa-apa. Butuh waktu beberapa saat sampai cahaya matahari menerangi air dalam. Kini ia dapat melihat berbagai macam terumbu karang menghias dasar laut. Berbagai macam ikan keluar dari karang-karang tersebut, berenang bebas di dalam air. Ada yang merah, kuning, biru. Ada yang besar dan kecil. Ada yang berenang bergerombol maupun sendiri. Pemandangan itu benar-benar indah. Dongmi mengajaknya berenang dan bermain bersama ikan-ikan itu.

Mereka hanya dapat menikmati kesenangan itu selama setengah jam karena Dongmi harus mengembalikan peralatan selam mereka. Walau hanya setengah jam, tapi Taemin benar-benar menikmati pengalaman ini.

Dongmi berhasil mengembalikan peralatan selam itu tanpa ketahuan pemiliknya. “Begini lebih asyik ‘kan? Menyelam gratis?”

Taemin terkekeh, “Nuna, kau benar-benar contoh yang buruk.”

Mereka berjalan bersama menuju pantai dan melihat pantai sudah tidak sepi lagi. Banyak remaja maupun keluarga turis yang melakukan kegiatan.

Semenjak hari mereka berenang bersama, hari berikutnya mereka menghabiskan pagi bersama. Tidak satupun dari anggota Shinee maupun manager dan staff mereka yang mengetahui hal itu. Taemin dapat mengelabuhi mereka dengan baik karena Minho selalu bangun siang.

Tapi tidak untuk hari berikutnya. Ketika Taemin sedang bersiap-siap keluar, suara Minho mengkagetkan Taemin.

“Ya! Taemin! Jangan pikir aku tidak tahu. Sudah kuduga kau selalu pergi di subuh-subuh.” Minho berdiri di belakang Taemin. “Kau tak bisa menyembunyikannya dariku. Kau mau pergi kemana?”

Taemin menghadap hyeongnya dengan pasrah. Ya, kalau sudah ketangkap basah begini, apa lagi yang dapat ia perbuat selain mengaku?

 

——————————————————————————————————————————————-

 

“Lalu bagaimana kau bisa kemari?” Dongmi bertanya dengan bingung setelah Taemin menceritakan penangkapan basah Minho.

“Rahasia.” Kata Taemin, lalu tersenyum. Senyuman manis yang membuat beribu gadis di dunia ini leleh.

Dongmi mendengus. Hari ini gadis itu akan membawa Taemin ke pondok penyewaan papan seluncur milik temannya. Pondok penyewaan papan seluncur itu sangat dekat dengan hotel tempat Shinee menginap. Pondok itu sudah buka dan dijaga oleh seorang gadis. Gadis itu kira-kira seumuran dengan Taemin. Wajah gadis itu tidak seperti gadis Korea biasa. Rambutnya hitam, matanya hijau. Taemin menebak bahwa gadis itu campuran.

“Dongmi eonni!” Seru gadis itu saat melihat kehadiran Dongmi.

“Taeyeon-ah!” Dongmi juga berseru senang. Ia memperkenalkan Taemin pada Taeyeon dan berkata bahwa mereka mau meminjam papan seluncur. Taeyeon begitu heboh saat berkenalan dengan Taemin. Rupanya gadis itu adalah salah satu penggemar Shinee, walaupun biasnya adalah Key. Dongmi melihat-lihat papan seluncur dan ia tak puas dengan papan seluncur yang digantung di depan, ia meminta Taeyeon untuk mengijinkan papan seluncur lain di dalam pondok. Ia menyuruh Taemin menunggu bersama Taeyeon karena Taeyeon masih ingin bertanya macam-macam pada Taemin.

“Tidak kukira, laki-laki yang diceritakan eonni itu adalah Taemin oppa! Kalau begini sih aku akan merestui kalian!” Kata Taeyeon penuh semangat.

“Kami tidak pacaran kok,” Taemin jadi salah tingkah sendiri.

“Oh ayolah.. Aku bisa langsung tahu kok, eonni pasti juga suka dengan oppa,” Taeyeon tersenyum, “sudah sejak lama sejak melihat eonni benar-benar tersenyum. Eonni yang dulu seperti kembali lagi.”

Taemin mengernyit, “apa maksudmu?”

Taeyeon mengedip-ngedipkan mata bingung, “Oppa tidak tahu… ehm.. kalau begitu lupakan saja.”

“Taeyeon-ah, apa yang terjadi pada Dongmi?” Tanya Taemin ingin tahu. “Ceritakan padaku.”

Taeyeon menggigit bibir sebelum berkata, “Janji jangan pernah bilang pada eonni bahwa aku yang menceritakannya?” Taemin mengangguk, lalu Taeyeon melanjutkan dengan ragu-ragu, “Eonni sudah setengah tahun menjadi pemurung dan penyendiri sejak… sejak… oppaku meninggal.” Taeyeon menelan ludah sebelum melanjutkan, “Oppaku itu.. dia orang yang baik, dan keren. Dia peselancar dan perenang yang baik. Dan dia… berkencan dengan eonni.”

“Lalu, apa yang terjadi pada…?”

Taeyeon menggigit bibirnya, “Oppa… ikut ayah menjadi pelaut. Lalu datanglah bencana, kapal mereka karam, dan bukan hanya itu saja penderitaan bagi eonni. Berita itu datang tepat…”

“Di hari ulang tahunku.” Dongmi menyaut dengan muram.

Taemin dan Taeyeon menoleh dan mendapati Dongmi sudah berada di belakang mereka.

“Eonni maaf…” Taeyeon berjalan ke arah Dongmi dengan perasaan bersalah.

“Tak apa,” Suara Dongmi menjadi datar. Semangatnya yang tadi mengobar telahh hilang. “Ehm, Taemin, sepertinya aku tidak bisa berselancar denganmu hari ini. Mianhae…” Gadis itu berlari pergi begitu saja meninggalkan mereka berdua.

 

——————————————————————————————————————————————-

 

Hari itu adalah hari terakhir bagi Shinee untuk menikmati liburan mereka di pantai. Dan sejak hari Taemin mendengarkan cerita dari Taeyeon, ia tidak pernah menemui Dongmi. Gadis itu tidak ada di batu karang tempat mereka biasa bertemu, juga tidak ada di restauran hotel. Ia khawatir apa yang terjadi pada gadis itu. Tanpa sadar ia merindukan pengalaman-pengalaman menantang yang dialaminya bersama gadis itu. Ia juga merindukan kisah-kisah yang diceritakan Dongmi. Merindukan senyum dan tawa gadis itu. Merindukan setiap pagi yang ia habiskan dengan gadis itu. Hanya gadis itu yang menempati posisi utama di pikirannya saat ini. Ia bahkan tidak merasa tertarik melihat hasil-hasil pemotretan Shinee.

Sikap uring-uringan Taemin itu tidak luput dari anggota Shinee. Tapi hanya Minholah yang mengetahui penyebabnya dengan pasti. Minho tidak membocorkan satupun kisah yang telah diceritakan Taemin padanya.

Di hari terakhir, para penggemar yang tinggal di sana memberikan cindera mata pada Shinee. Mereka mendapat baju, aksesori, dan benda-benda lainnya. Tapi yang menarik perhatian Taemin adalah sebuah botol kecil yang diberikan oleh entah siapa. Botol itu diletakkan di depan pintu kamarnya sore hari menjelang matahari terbenam. Jika dilihat sekilas, botol itu hanya botol biasa yang berisi pasir. Hanya saja, ketika tertimpa cahaya, pasir itu akan berpendar ungu.

“Hyeong, aku harus menemuinya!” Seru Taemin pada Minho begitu mendapatkan botol itu. Tanpa menunggu respon dari Minho, Taemin sudah melesat keluar dari kamarnya dan berlari pergi. Ia menuju ke pantai dengan berharap-harap. Matahari sudah hampir terbenam ketika ia sampai di batu karang yang ia sering kunjungi bersama Dongmi. Harapannya pupus seketika ketika melihat tak ada satupun orang di atas batu karang itu. Putus asa, Taemin hendak berbalik pergi, tapi seseorang mencegatnya.

“Taemin, tunggu, eng… aku minta maaf,” Taemin menoleh dan ia mendapati Dongmi berada di sebelahnya, “aku sembunyi tadi.. aku… mianhae. Tidak seharusnya aku menjauhimu. Aku hanya… kacau.”

Tapi Taemin tidak menghiraukan apapun yang gadis itu katakan. Ia segera memeluk gadis itu. “Nuna, nuna, aku mencemaskanmu. Nuna,” ia berhenti sebentar sebelum melanjutkan, “maukah kau ikut aku ke Seoul?”

Dongmi tidak menjawab. Taemin melepaskan pelukannya setelah beberapa saat. Dongmi menunduk menatap pasir dan masih terdiam.

“Itulah impianku saat ini, nuna.” Kata Taemin. Ia mengangkat botol yang dibawanya sedari tadi. Pendar ungunya meredup ketika matahari sudah turun menjauh.

“Pasir ungu?” Dongmi menatap benda itu dengan ragu, “tapi, Taemin, waeyo? Kenapa… kenapa kau ingin aku… ke Seoul?”

“Karena..” Taemin menjawab dengan suara pelan tapi pasti, “Aku menyukaimu, nuna.”

 

——————————————————————————————————————————————-

 

1 year later…

“Mari kita sambut tamu kita. Salah satu Hallyu star yang sedang berada di puncak kejayaannya, SHINEE!” Teriakan membahana sang MC disambut oleh sorakan para penonton. Seluruh anggota Shinee naik ke atas panggung diiringi lagu terbaru mereka, Sherlock. Mereka melambai pada penonton yang memekik-mekik girang lalu bersama-sama duduk di tempat yang disediakan. Sang MC menyambut mereka dengan gurauan seperti biasa. Saat ini Shinee menjadi tamu dalam sebuah acara tanya jawab dengan idola yang berlangsung satu setengah jam.

“Kami telah mengundi pertanyaan dari para penggemar dan mendapat pertanyaan menarik,” Sang MC mengedip dan para penonton menunggu dengan semangat, “Kalian ‘kan bintang idola, apakah mungkin kalian pernah ditolak oleh seorang gadis?”

Pertanyaan sang MC membuat studio heboh oleh penonton yang berbisik-bisik dengan penasaran. Seluruh anggota Shinee saling bertatapan satu sama lain dengan malu-malu. Taeminlah yang menjawab terlebih dahulu. “Tentu saja pernah.” Studio menjadi heboh mendengar jawaban dari Taemin.

“Wow.. Gadis yang menolakmu pasti sangat menyesal saat ini.” Kata sang MC tertawa dan menganggukkan kepala ke arah penggemar Taemin.

Taemin tersenyum, “Entahlah, tapi,…” Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan, “walau ditolak, aku tidak pernah menyesal telah menyukainya.”

Kalimat terakhir Taemin membuat para penggemarnya memekik-mekik heboh.

 

THE END

——————————————————————————————————————————————-

Berikan penilaian kalian tentang FF ini di kolom komentar. Don’t be silent reader ya ^^

Pos ini dipublikasikan di Fan Fiction, K-DID dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Don't be silent reader, tulis komentarmu di sini ^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s