[FF] When God Falling in Love


Nama: Patricia Tirtaputri

Nickname: Syen

Akun Twitter: @Syen_VIP

TitleΒ FF: When God Falling in Love

Genre: Romantic, Fantasy

Main Casts: Choi Joonhong, Jang Jaerim

Supporting casts: Ji Eun, Yoseob, Taeyeon, Dongwoon, Hana, Yoo Jaesuk, Seo Songsaengnim

Length: OneShot

Author’s Note: Maaf judulnya agak frontal ya >_<, tapi ini cuma fiksi belaka yang melibatkan sedikit Dewa-dewi. Dan minta maaf juga endingnya aneh dan mengecewakan karena nulis endingnya buru-buru. GomawoπŸ™‚

β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”-

 

Pagi subuh ketika pantai masih sepi, aku berjalan di sepanjang pantai sambil menenteng sebuah ember untuk di isi kerang. Saat itulah pertama kali aku bertemu dengannya. Tubuhnya yang jangkung terbaring di atas pasir pantai. Suara desiran air laut lembut berkumandang di sebelahnya. Aku menghampiri tubuh itu,menduga-duga ia adalah orang yang terdampar.

“Hei, kau baik-baik saja?” Aku berlutut di sebelahnya, menggucang pelan lengannya. Kuperiksa denyut nadi dan nafasnya. Ia masih hidup. Kugoyangkan sekali lagi lengannya.

Perlahan kelopak matanya terbuka. Ia mengerjap beberapa kali sebelum kedua bola mata hitam tajamnya menatapku.

“Kau tak apa-apa?” Tanyaku.

Laki-laki itu mendorong sikunya untuk mengangkat tubuhnya. Aku menyangga punggungnya untuk membantu hingga ia terduduk.

“Di mana ini?” Tanyanya bingung.

“Pantai Hanenim,” Jawabku, “kau siapa? Kenapa berada di sini?”

“Aku…” Ia berpikir sejenak, “Choi Joonhong. Aku tidak tahu kenapa bisa di sini.”

Ia menatapku lembut dengan kedua mata hitamnya.

Ia terlalu sempurna, pikirku saat itu. Wajahnya tampan tanpa bercela. Rambut pirang ikal, mata, hidung, bibir, lekukan wajah. Semua tampak sempurna. Ia sangat tampan dan manis. Sungguh sebuah kebohongan bila aku berkata bahwa aku tidak terpesona.

“Aku Jang Jaerim. Apa kau hanya mengingat namamu?” Tanyaku bingung.

Joonhong mengangguk.

Akhirnya aku memutuskan mengajak Joonhong ke penginapan milik orang tuaku. Mereka menerima Joonhong dengan senang hati. Mereka mengijinkan Joonhong tinggal di salah satu kamar penginapan kami hingga ingatannya kembali.

Sudah hampir sebulan sejak kedatangan Joonhong di hidupku. Tanpa terasa, kami menjadi dekat. Ia sering membantuku di kedai penginapan maupun membantuku mencari kerang untuk dijual. Orang tuaku juga sudah menganggap Joonhong sebagai keluarga kecil kami. Mereka menyayangi Joonhong seperti anak mereka sendiri. Namun, satu pun ingatan Joonhong tak ada yang kembali.

“Joonhong a..” Panggilku pelan. “Masih tidak adakah ingatan yang kembali?”

Sore hari di bawah matahari senja, kami berdua jalan berdampingan di sepanjang pantai.

“Tidak.” Jawab Joonhong.

“Kau harus ke rumah sakit..” Kataku, “Bukannya apa, tapi..”

“Jaerim a,” Joonhong berhenti dan menatapku lekat, “aku sudah sering mengatakan aku tidak mau ke rumah sakit. Jangan bahas ingatanku lagi. Kalau memang ingatan itu tak kunjung kembali, berarti semuanya tak penting.”

“Tapi..”

Tiba-tiba Joonhong mengangkat tubuhku. Aku memekik dan ia tertawa-tawa lalu melemparkanku di air laut. Sekujur tubuhku basah dan kedinginan.

“Joonhong! Sialan kau!!” Seruku marah.

Joonhong tergelak. Aku berdiri dan mendorongnya ke air. Tapi Joonhong terlalu kuat, sehingga akhirnya kami berdua sama-sama jatuh. Joonhong berdiri terlebih dahulu dan ia mengangkatku lagi. “Kalau kau bicara tentang ingatanku lagi, aku akan menceburkanmu lagi.”

“Baiklah, aku tidak akan membicarakannya.” Ucapku kesal.

Joonhong menjulurkan lidah, lalu menggendongku hingga ke pantai. Ia meletakkanku di pasir dan ia duduk di sebelahku. Kami berdua memandang langit di kejauhan. Matahari perlahan turun. Indah sekali.

“Tunggu!” Seru sebuah suara kecil.

Aku menoleh ke belakang. Dua anak kecil berlarian mengejar seorang anak kecil lain yang menaiki sepeda di tepi pantai.

“Jaerim,” panggil Joonhong. Aku menoleh padanya dan memandang laki-laki tampan itu dengan pandangan bertanya. “Kenapa kau tidak sekolah?”

Pertanyaan Joonhong membuatku terdiam. Aku memandang langit dengan sendu. Sekolah. Satu kata yang membuatku teringat banyak hal.

“Sudah lama aku berhenti sekolah dan aku memang tidak butuh,” jawabku, “toh kelak aku akan meneruskan pekerjaan orang tuaku. Tidak perlu sekolah tinggi-tinggi.”

Joonhong mengernyit, “Aku tidak sependapat.”

Seharusnya aku juga tidak sependapat dengan jawabanku sendiri. Aku sangat ingin sekolah, ingin sekali. Tapi aku tahu bahwa aku tak akan pernah ke sekolah lagi. Ada alasan lain di balik itu, namun hanya alasan tadi yang dapat kuucapkan.

β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”-

“Cepat sedikit!!” Seruku pada Joonhong.

“Aku sudah cepat!” Bantah Joonhong.

Joonhong menggoncengku bersepeda hingga pasar. Aku menggendong ember berisi kerang untuk dijual sedangkan Joonhong yang mengemudi sepeda. Joonhong memancal sepeda sangat cepat hingga kami hampir terjungkal saat ia mengerem di depan pasar.

“Kan! Gara-gara kau menyuruhku cepat-cepat!” Ujar Joonhong sembari meraih lenganku agar aku tidak terjatuh. Salah satu kakinya ia gunakan untuk menumpu di tanah.

Aku turun dari kursi bonceng dan nyengir.

“Dongwoon! Kita sudah telat!” Seru sebuah suara di belakang kami.

Aku menoleh dan mendapati dua orang teman satu sekolahku. Dongwoon dan Yoseob, dengan seragam dan tas ransel di pundak, berlari terburu-buru. Mereka tidak melihatku, tapi aku terus memandang hingga sosok mereka lenyap.

“Kau ingin sekolah.” Tuduh Joonhong.

Aku menoleh pada Joonhong. “Sudah kubilang tidak, aku memandang mereka karena mereka temanku.” Dustaku.

Kami berdua berjalan di sepanjang pasar menawarkan kerang-kerang hingga hanya tersisa sedikit. Sisa kerang-kerang itu kami bawa pulang untuk persediaan di kedai penginapan. Sepanjang perjalanan pulang, Joonhong terdiam dan tampak sedang memikirkan sesuatu. Begitu sampai di depan penginapan dan setelah memarkirkan sepeda kami, Joonhong meraih ember yang kupeluk dan membawanya ke dapur kedai. Aku mengikuti Joonhong.

“Ada yang ingin kutawarkan,” Kata Joonhong.

“Apa?”

Joonhong meletakkan ember itu di atas meja dan ia menoleh padaku. “Kalau kau kembali sekolah, kau boleh minta satu permintaan dariku.”

Aku memejamkan mata dan menghela napas. “Kenapa kau begitu ingin aku kembali sekolah?”

“Karena kau ingin sekolah.”

“Aku tidak ingin!” Bantahku. “Joonhong, kau tidak mengerti kenapa..”

“Dan aku tidak ingin mengerti!” Joonhong bersikeras. “Yang aku tahu, kau ingin sekolah dan kau harus kembali.”

“Joonhong, jaebal, jangan bahas ini lagi. Aku tidak ingin berdebat seperti ini.” Ucapku sembari menatap lantai kayu.

“Kau selalu menghindar.” Tuduh Joonhong.

Benar, aku selalu menghindar. Hanya saja hidup menghindar seperti ini lebih baik. Joonhong tidak pernah mengerti. Tak ada yang pernah mengerti.

Beberapa hari setelah itu, aku dan Joonhong saling diam. Kami bertemu di kedai seperti biasanya dan bekerja tanpa mengobrol. Joonhong masih tetap membantuku memilah kerang di pantai dan menjualnya di pasar, tapi hanya sekadar itu.

Setelah beberapa hari, aku benar-benar tidak tahan. Selesai mengerjakan tugasku di kedai, sendirian aku pergi meninggalkan kedai. Semakin dekat dengan tempat tujuan, hatiku semakin berat. Hanya beberapa meter di dekat tempat tujuan, aku berhenti. Bahkan memandangnya dari jauh, aku sangat merindukan gedung kecil itu. Sudah lama sekali sejak aku berada di jalanan ini. Sudah terlalu lama.

“Berani sekali kau datang ke sini.” Sebuah suara bergema di belakangku.

Aku menoleh dan hatiku mencelos seketika. Di belakangku, sekelompok remaja berdiri menatapku keji. Salah seorang perempuan berjalan ke arahku. Bibirnya berkedut.

“Jang Jaerim a.. Kukira kau sudah mengerti kalimat terakhirku waktu itu. JANGAN PERNAH MENAMPAKKAN DIRI LAGI!” Ia membentak tepat di depanku. Aku mundur ketakutan. Seharusnya aku memang tidak ke sini. Ini bukan tempatku.

“Apakah kau tak mengerti?” Tanya gadis itu menyipitkan mata.

“A.. Arra..” Aku mundur sekali lagi.

“Itu juga yang kau ucapkan waktu itu!” Ucap gadis itu sengit, “rupanya, perkataan saja tak cukup untukmu!”

Gadis itu membalikkan badan dan melambai pada gengnya. Seharusnya aku dapat menggunakan kesempatan ini untuk lari, tapi aku terlalu takut. Dua orang kroni gadis itu menarik paksa tubuhku. Langit sudah hampir gelap ketika mereka menyeretku ke sebuah gubuk tua dan mendorongku ke dalamnya.

“Hana! Apa yang mau..” Aku mulai panik.

Setelah mendorongku masuk, Hana tersenyum licik, “Nikmatilah!”. Gadis itu menarik daun pintu tertutup diiringi tawanya. Aku berlari mendorong pintu, tapi seperti yang sudah kuduga, Hana telah menyangga pintu itu.

Aku tersekap di dalam gubuk tua entah di mana. Mungkin bukan gubuk, melainkan gudang. Hanya ada satu ventilasi kecil dan aku yakin tubuhku tidak akan cukup untuk keluar dari sana. Perlahan air mataku keluar, aku ketakutan. Tidak akan ada orang yang tahu aku di sini, dan jika Hana tidak mengeluarkanku, aku akan mati kelaparan beberapa hari kemudian.

Di tengah tangisku, aku merasakan udara panas menyesakkan mengelabuiku. Aku berdiri perlahan, memandangi warna oranye yang perlahan-lahan menelusuri duan pintu, lalu atap-atap jerami. Butuh beberapa waktu sebelum aku menyadari apa yang terjadi. Kebakaran! Api menjalar dari segala arah mengurungku. Aku berlari ke pojokan di mana api belum tersulut.

“Rasakan!” Teriak Hana dari kejauhan, “Lebih baik kau lenyap!”

Suara tawanya berkumandang di antara lautan api.

Baiklah, aku tidak akan mati beberapa hari kemudian. Sebentar lagi aku akan mati. Kalau tidak terbakar, aku akan mati kehabisan oksigen.

Kuusap air mataku. Mereka tidak berguna, keluarnya mereka tidak akan membantuku menghentikan kobaran api. Kugunakan kerah bajuku untuk menutupi hidungku dari asap, namun kerah bajuku hanya menolong selama beberapa menit. Api semakin menjalar dan asapnya semakin menyesakkan pernapasanku. Aku terbatuk-batuk dan mulai kehilangan kesadaranku. Sayup-sayup aku mendengar teriakan yang memercikan sedikit harapan dalam hati.

“Apinya terlalu besar!”

“Panggil rumah.. Tidak panggil semua warga!”

“Terlalu jauh!”

Semakin lama suara-suara itu menjadi jauh. Pandanganku juga mulai kabur. Lalu aku mulai berhalusinasi, aku melihat wajah Joonhong yang panik. Ia mengangkatku.

“Bertahanlah!” Suara Joonhong terdengar di kejauhan.

Aku merasakan lengannya perlahan mengangkat tubuhku, membawaku berjalan bersamanya. Lalu aku samar-samar melihat balok kayu di dekat pintu jatuh tepat di atasku. Joonhong melepaskan salah satu tangannya dari tubuhku dan mendorong kayu itu menjauh, lalu ia kembali mengangkat tubuhku. Berikutnya, halusinasiku berakhir dan hilang bersamaan dengan kesadaranku

β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”-

Ketika terbangun, aku sudah berada di kamar tidurku. Aku tidak sendirian di sana Joonhong, eomma, appa, dan beberapa orang memadati kamar kecilku. Lampu kamarku bersinar terang.

“Apa.. Apa yang terjadi?” Tanyaku dengan suara serak. Kugunakan sikuku untuk mendorong tubuhku berdiri. Joonhong membantuku hingga aku terduduk.

“Apa yang terjadi?” Tanyaku sekali lagi.

“Kau terperangkap di gubuk yang terperangkap.” Jawab Joonhong.

Kusentuh pelipisku. Ya, aku mengingatnya.

“Lalu?”

“Lalu aku menolongmu.” Kata Joonhong.

“Tapi, bagaimana kau tahu?” Tanyaku bingung.

Joonhong menunjuk sekelompok orang di belakang dengan jempolnya. “Mereka yang pertama menemukanmu, dan mereka lah yang memanggil bantuan.”

Aku mengerjap mengamati sekelompok orang itu. Perlahan aku mulai mengenal satu persatu wajah mereka.

“Dongwoon? Yoseob? Ji Eun? Taeyeon?”

Satu persatu dari mereka mulai tersenyum.

“Kita melihat geng Hana menguncimu dan membakar gubuk itu,” Ji Eun menjelaskan dengan suara manisnya, “setelah mereka pergi, kami berusaha menerobos gubuk, tapi pintu gubuk itu sudah terbakar.”

“Kalau kau butuh saksi untuk melaporkan mereka,” Ujar Yoseob, “kami akan jadi saksinya.”

Perlahan bibirku tersenyum. “Gamsahae.. Sungguh, mungkin tanpa kalian aku akan mati.” Kataku tulus.

“Cheonma, kita ‘kan teman.” Kata Taeyeon, ia menambahkan “Kembalilah sekolah.”

Setelah mereka pulang, eomma duduk di sebelahku, membawa semangkuk bubur.

“Makanlah.”

Aku mengangguk dan mulai menyuapkan sendok demi sendok bubur. Selesai makan, eomma menepuk puncak kepalaku. Sudah bukan pertama kalinya bagi eomma mendapatiku dalam keadaan seperti ini, walau sebelum-sebelumnya aku tidak dalam keadaan di ombang-ambing kematian.

“Appa akan melaporkan mereka ke pihak polisi.” Kata eomma.

“Jangan!” Sergahku, “Jangan, kumohon.”

“Jaerim, kau tidak bisa terus begini, eomma juga ingin..”

“Eomma, kumohon jangan. Aku takut.” Kataku pelan.

Joonhong berbisik pada eomma dan setelah eomma itu eomma mengangguk dan ijin keluar. Tinggal aku dan Joonhong yang berada di kamar.

“Jaerim a..” Panggil Joonhong lembut, duduk tepat di depanku, “kita harus mengobrol.”

Setelah lama tidak mengobrol, aku baru menyadari bahwa aku merindukan laki-laki tampan ini. Tapi, aku sedang dalam keadaan tidak ingin membicarakan apapun mengenai Hana dan gengnya.

“Kalau kau memaksaku, aku menolak!” Ucapku langsung.

“Tidak, aku tidak memaksamu, aku hanya ingin tanya.” Kata Joonhong. “Apa mereka musuhmu?”

“Mereka? Hana dan gengnya?” Tanyaku bingung. Hana memang sangat membenciku, dan begitu pula aku membencinya. Tapi musuh? “Entahlah. Kurasa aku hanya orang yang ditindas.”

“Benar.” Kata Joonhong. “Mereka bukan musuhmu. Musuhmu itu ketakutanmu pada mereka.”

Aku memandang Joonhong tidak mengerti. “Apa maksudmu?”

“Kau membiarkan dirimu ditindas, kau tak pernah melawan, kau takut.”

“Benar! Aku takut!” Seruku disertai buliran mata yang mengalir. “Aku takut!”

“Tenanglah.” Joonhong menarik tubuhku dalam pelukannya. “Lawanlah rasa takutmu.”

Aku menggeleng, “Tidak bisa.”

Setelah Joonhong melepaskan pelukannya, aku menatap lekat laki-laki itu. “Kumohon, Joonhong. Biarkan saja seperti ini. Toh, aku bisa hidup damai tanpa bersekolah.”

“Dan kau akan selamanya menghindar, apa itu maumu?” Tanya Joonhong. “Jaerim, hidup tanpa persaingan dan perlawanan itu nggak akan pernah ada. Karena persaingan dan perlawananlah, damai itu ada.”

Kugigit bibirku pelan. “Tapi kalau aku melapor.. Mereka.. Mereka akan..”

“Jaerim, kau punya teman. Lihat ‘kan! Kau perlu membuka matamu lagi. Kasih sayang itu selalu menang melawan ketakutan.” Kata Joonhong.

Akhirnya aku mengangguk walau masih dengan berat hati. Joonhong tersenyum lalu menepuk kepalaku. Ketika ia menarik tangannya kembali, aku teringat sesuatu. Kutarik lengannya dan memeriksa telapak tangannya. Tangan Joonhong bersih, mulus, tak bercela. Aku mengernyit bingung.

“Ada apa?” Tanya Joonhong.

“Aku melihatmu melempar balok kayu terbakar,” kataku bingung, “tapi kenapa tidak ada bekas luka bakar ataupun sedikit goresan di telapak tanganmu?”

“Oh.” Wajah Joonhong memucat. Ia menarik tangannya. “Mungkin kau berhalusinasi.”

“Tapi..”

“Istirahatlah.” Joonhong menyela, ia menghindari tatapanku. β€œBesok kau harus ikut ke kantor polisi sebagai saksi dari korban.”

β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”-

Hari berikutnya, kami mengurus pencobaan pembunuhan Hana di kantor polisi. Tapi polisi baru menangkap Hana dan gengnya seminggu kemudian setelah mereka menemukan salah satu barang bukti yang terjatuh di TKP. Selama proses pengadilan, aku tak berani memandang Hana. Aku tahu, dia pasti sedang melihatku dengan pandangan membunuh. Hana di adili sesuai hukum pencobaan pembunuhan dan dihukum kurung 2 tahun.

“Semua sudah selesai.” Joonhong menepuk-nepuk pundakku menenangkan.

Aku mengangguk. Ya, semuanya sudah selesai.

Esoknya, ketika terbangun dari tidur, aku merasakan perubahan. Semua ketakutanku telah pergi.

Walau masih pagi, kedai penginapan sudah di penuhi orang-orang. Sebagian darinya adalah turis. Aku baru saja akan pergi ke dapur membuat makanan, tapi Joonhong mencegatku. Ia menyuruhku duduk di salah satu kursi pengunjung, lalu ia masuk ke dapur. Beberapa detik kemudian, Joonhong datang membawa nampan makanan dan menaruhnya di depanku.

“Perayaan kecil-kecilan.” Katanya. “Hadiah atas kau yang telah melawan takutmu, hari ini aku akan menggantikan seluruh tugasmu di kedai.”

Aku tersenyum lalu mengangguk, “Baiklah, aku terima.”

Kami makan sarapan kecil kami sambil mengobrol dan bergurau. Setelah lama tak mengobrol dan bergurau, rasanya saat ini seperti hal yang sudah terlalu lama.

Selesai makan, Joonhong menepati janjinya dengan menggantikan pekerjaanku. Hari ini aku dapat menikmati satu hari tanpa bekerja. Aku memilih berjalan-jalan di belakang kedai yang menghadap pantai. Udaranya sejuk dan menyenangkan. Ketika aku mengitari penginapan, aku mengintip ke kamar Joonhong yang berada di lantai satu. Joonhong membuka gorden jendelanya dan menampakkan isi kamarnya yang tertata rapi. Tapi pintu kamarnya terbuka. Aku bergegas masuk ke penginapan untuk menutup pintu kamarnya, dan saat itulah, ketika aku akan menutup pintu kamar itu, aku menemukan selembar kertas terjatuh tepat di depan pintu. Kuraih selembar kertas itu. Kertas itu bukan kertas polos biasa, melainkan selembar perkamen yang isinya berupa coretan-coretan tinta yang tak di mengerti.

β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”-

Beberapa hari kemudian, aku memutuskan untuk masuk sekolah. Sudah tidak ada Hana dan gengnya yang menjadi alasan bagiku untuk tidak masuk sekolah. Walau begitu, saat pertama kali memasuki gedung sekolah, hatiku dilanda rasa khawatir. Seluruh tubuhku di selimuti bayang-bayang ketakutan. Aku berjalan perlahan menelusuri koridor sekolah yang padat. Tidak ada perubahan yang terjadi di sana.

“Akhirnya kau masuk juga!” Seseorang merangkulku dari belakang. Aku sontak menoleh dengan terkejut. Ji eun telah berdiri di sebelahku dan tersenyum lebar.

Ketika memasuki kelas, beberapa murid tersenyum menyapaku. Beberapa dari mereka meminta maaf dan mengemukakan perasaan bersalah mereka karena dulu terpaksa menjauhiku. Aku tidak menyalahkan mereka, toh aku tahu bagaimana tindakan semena-mena Hana dan gengnya. Dengan absenya Hana dan gengnya, hari pertama sekolahku benar-benar jauh lebih menyenangkan. Ternyata aku benar-benar merindukan sekolah, merindukan teman, merindukan celoteh membosankan guru. Joonhong tahu betul itu.

‘Kringgg!!’

“Jaerim, kita pulang bersama yuk!” Ajak Taeyeon dan Ji eun.

“Aku ingin sekali, tapi aku harus menemui Yoo songsaengnim.” Kataku pada mereka.

“Yoo saeng..? Maksudmu Yoo Jaesuk saeng? Guru sejarah kita?” Tanya Taeyeon bingung.

Aku mengangguk. “Besok aku pasti pulang bersama kalian.”

Setelah mereka pulang, sendirian aku menuju ruang guru. Yoo Jaesuk adalah laki-laki paruh baya yang tinggi dan kacamata persegi bertenger di hidungnya. Wajahnya baik dan ia guru sejarah yang sangat disenangi murid-murid. Ketika melihat kehadiranku, Yoo songsaengnim menyambutku dengan senang.

“Lalu ada perlu apa menemuiku?” Tanya Yoo songsaengnim setelah berceloteh panjang lebar tentang betapa berartinya kehadiranku.

“Begini,” aku mengeluarkan secarik perkamen dari saku rokku dan memberikannya pada Yoo songsaengnim, “aku menemukan ini di.. Di gudang.. Aku hanya ingin tahu jika Yoo saeng tahu tulisan apa yang tergores di sana.”

Yoo songsaengnim membuka perkamen itu dan mengernyit memandang coretan di sana. Ada sekitar lima baris gambar persegi, matahari, lingkaran dan simbol tidak jelas lainnya di sana. Jelas sekali itu bukan bahasa jepang, bahasa mandarin, maupun alphabet.

“Aku tidak yakin,” gumam Yoo saeng, “seperti rune, tapi kukira ini rune kuno?”

“Rune kuno?”

“Ya, bagian dari hieroglyph.” Kata Yoo songsaengnim.

“Oh.” Tanggapku. Rune. Hieroglyph. Dari mana bahasa alien ini berasal?

“Kalau rune modern, aku bisa membacanya, tapi aku tidak pernah mempelajari rune kuno.” Kata Yoo songsaengnim seraya mengembalikan perkamen itu padaku.

“Baiklah. Gamsahamida, Yoo saeng.”

“Sama-sama, dan sekali lagi aku senang bertemu denganmu.” Kata Yoo songsaengnim tulus.

Keluar dari ruang guru, aku bergegas menuju perpustakaan. Perpustakaan di sekolah kami sangat kecil dan hanya ada 10 rak kecil buku yang memuat hanya buku pengetahuan lama yang telah usang. Perpustakaan selalu sepi dan selalu menjadi temanku. Selama masa penindasan Hana terhadapku dulu, hanya perpustakaan inilah yang menjadi temanku. Aku tidak membaca, melainkan hanya duduk, menyembunyikan diri dari kehidupanku. Walaupun hanya 10 rak buku, ada sekitar seribu buku bejejer di sana. Hampir setengah jam aku mencari, namun tak juga kutemukan buku rune. Aku mulai berpikir Yoo saeng tadi hanyalah membual.

“Apa yang kau cari?”

Aku menoleh dan Seo songsaengnim, guru perpustakaan, telah berada di sebelahku.

“Rune kuno.”

“Rune kuno?” Tanya Seo saeng mengernyit. “Ikut aku.”

Seo saeng berjalan mengitari beberapa rak, memilah-milah buku di satu rak, lalu berjalan ke rak lain. Ketika sampai di rak ketiga, Seo songsaengnim tersenyum. Ia menarik sebuah buku usang yang sudah menguning dan menyerahkannya padaku.

“Gomawo Seo saeng!” Ucapku senang.

Seo saeng tersenyum, mengangguk, lalu meninggalkanku.

β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”-

Aku berlari pulang ke rumah dan hampir terjatuh karena tersandung pasir. Seseorang menarikku dan ia mendengus.

“Ckck.. Hati-hatilah.” Suara Joonhong menyambutku.

“Oh, annyeong.” Aku menyapanya.

“Annyeong, bagaimana hari pertama sekolahmu?” Tanya Joonhong.

“Menyenangkan!” Aku tersenyum.

Hanya selama beberapa detik aku merasakan perubahan pada wajah Joonhong. Wajahnya memerah.

“Sini, ikut aku!” Joonhong menarikku.

“Eh, ke mana?”

Joonhong terus menarikku ke sisi pantai yang jarang kukunjungi. Banyak karang terjal dan arus air di sana terlalu deras. Biasanya aku takut melalui tempat ini, tapi dengan Joonhong menggengamku, tak ada sedikitpun ketakutan padaku. Joonhong mengajakku memanjat salah satu batu karang.

“Kenapa kita ke sini?” Tanyaku bingung.

Joonghong berdiri di belakang, memegang pundakku dan mengarahkan tubuhku ke arah matahari sore yang akan turun. Ombak bergelombang di kejauhan memperdengarkan suaranya yang indah. Namun ada satu hal yang lebih menarik perhatianku. Di kejauhan, aku melihat cahaya indah berkilauan. Cahaya itu memancar dan membentuk pantulan indah di laut.

“Apa itu?” Tanyaku.

“Emh.. Hadiah.” Jawab Joonhong.

“Hadiah?”

“Ya, itu hadiah pemandangan indah dariku karena kau masuk sekolah.” Kata Joonhong.

“Sampai kapan kau akan berhenti memberiku hadiah?” Aku tertawa. “Tapi, gomawoyo.. Joonhong a..”

Aku membalikkan tubuhku dan entah bagaimana tubuhku secara reflek memeluk Joonhong. β€œGomawo, untuk semuanya! Gomawo karena telah menolongku. Gomawo karena membuatku kembali bersekolah.” Setelah kami merengangkan pelukan di antara kami, Joonhong merengkuh wajahku dan menciumku. Awalnya aku kaget, namun aku membalasnya. Hari itu aku baru sadar bahwa perasaanku pada Joonhong bukanlah hanya perasaan sebagai teman maupun saudara. Aku mencintai dia.

β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”-

β€œPacarmu ganteng sekali!”

β€œDan manis!”

β€œLihat, dia menunggmu lagi!”

Aku berjalan ke arah Joonhong yang menunggu di depan gerbang sekolah. Joonhong menjulurkan tangan dan aku melepaskan tas ranselku, memberikan padanya. Sudah hampir seminggu Joonhong melakukan hal ini. Hal-hal kecil yang manis.

β€œKau tak perlu menungguku tiap pulang sekolah.” Ujarku.

Joonhong menoleh padaku dan mengangkat alisnya, β€œKau tidak senang?”

β€œBukan begitu, kau terlalu mencolok.” Kataku. β€œKau terlalu β€˜wow’.”

Laki-laki itu tergelak. Ia menggandengku dan tersenyum. β€œKau beruntung sekali ya?”

Aku mendengus. Kami berdua jalan menelusuri pantai sebelum pulang ke penginapan. Ombak bergelung lembut di kejauhan. Matahari sebentar lagi akan turun, dan seperti biasa kami menikmati pemandangan itu berdua. Hanya berdua. Berada bersama Joonhong memandangi pantai adalah satu dari beribu hal paling indah yang pernah kurasakan.

Aku benar-benar diselimuti oleh kabut kebahagiaan selama seminggu penuh dan melupakan begitu saja buku rune kuno yang kupinjam di perpustakaan. Aku baru menyadari keberadaan buku itu ketika suatu malam, saat sedang menata tasku, buku itu terjatuh. Aku mengambil buku itu dan mulai membolak-balik halamannya yang telah menguning dan terisi dengan coret-coretan yang tintanya sudah pudar. Ada beberapa bagian dalam buku yang sobek. Buku itu benar-benar kacau. Namun dengan kehadiran buku itu, rasa penasaran terhadap kertas yang terjatuh di kamar Joonhong muncul lagi. Kuambil kertas perkamen Joonhong yang kusimpan di salah satu laci meja dan mulai menyamakan gambar-gambar yang tercoret di kertas dengan di buku.

β€œKembalilah?” Ku balikkan buku dan mulai mencari lagi. β€œJelo. Eh…” Kubalikkan buku itu dan ku baca sekali lagi. Aku melupakan tulisan yang baru ku artikan sebelumnya. Akhirnya kusobek secarik kertas dari bukuku, dan aku menuliskan satu-satu terjemahan surat itu.

Aku tidak ingat sudah berapa lama waktu yang kugunakan untuk menterjemahkan sebaris demi sebaris kalimat. Namun, kalimat-kalimat itu tidak membentuk suatu pernyataan yang masuk akal sama sekali. Setelah baris terakhir kuterjemahkan, kubaca semua tulisan yang telah kuterjemahkan:

β€œkembalilah Jelo

jangan mencampuri lebih banyak

ingatlah siapa dirimu

laut.”

Oke, sepertinya ini sajak atau pantun. Mungkin Joonhong menemukan perkamen ini di suatu tempat. Hah! Bodoh sekali aku menghabiskan waktuku untuk hal yang tidak berguna seperti ini.

Ketika aku memutuskan untuk merangkak ke tempat tidur dan mengabaikan kertas dan buku rune kuno itu, tiba-tiba saja jendela kamarku yang menghadap ke laut menjeblak terbuka. Kudengar suara keras desiran ombak yang menghantam pantai di sertai lolongan anjing. Angin bertiup kencang membuat tubuhku merinding.

β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”-

Hari Minggu cuaca cerah. Badai di laut sudah mereda. Sejak malam itu, laut terus menerus di datangi badai dan dengan terpaksa aku hampir tidak bisa tidur nyenyak selama beberapa hari. Suara bising badai laut dan lolongan anjing terus menerus muncul setiap malam.

Hari ini, Joonhong dan aku menghabiskan waktu kami berdua. Kami mengelilingi pasar dan membeli sepasang kaos kembar. Lalu, kami mengunjungi pantai, berbarin di pasir dan menikmati cuaca cerah yang sudah kami rindukan. Ketika menjelang sore, Joonhong mengajakku ke karang di mana kami melihat pantulan-pantulan indah akibat matahari turun. Setiap detik bersama Joonhong tak ternilai harganya. Hanya ketika bersamanya, aku bahagia.

β€œAda yang ingin kubicarakan dengan orang tuamu setelah kita pulang.” Joonhong berbisik padaku ketika kami tengah menikmati pemandangan sore di atas karang.

Setelah matahari tenggelam, kami sama-sama menuju penginapan. Ia membawaku ke ruang depan di mana kedua orang tuaku sedang duduk termanggu menatap layar televisi sambil menjaga tempat resepsionis. Ketika Joonhong berkata β€˜ingin membicarakan sesuatu dengan orang tuaku’, pikiranku mulai melayang-layang. Semua imajinasiku mulai terkumpul dan membentuk drama sendiri di pikiranku. Joonhong ingin melamarku! Itulah kesimpulanku. Aku tidak dapat menahan senyumku ketika kami sudah duduk berhadapan di sofa.

β€œAda apa Joonhong?” Tanya eomma bingung.

β€œAda yang ingin kubicarakan dengan kalian.” Kata Joonhong. Aku menoleh padanya dan melihat wajahnya pucat. Mungkin dia tegang, pikirku.

β€œApa?” Tanya eomma.

β€œAku…” Joonhong berhenti sebentar. Ia memandang lantai denga gusar. β€œAku akan meninggalkan tempat ini.”

Sontak aku menoleh. Orang tuaku melotot bingung.

β€œMwo?” Seruku bersamaan dengan orang tuaku.

β€œYa.. aku akan keluar dari sini. Aku akan meninggalkan pulau ini.” Joonhong berbicara dengan suara datar dan pelan.

Aku menatap Joonhong, menunggu tawanya seperti biasa setelah menggodaku. Menunggu senyumnya ataupun cengirannya. Menunggu kalimat β€œAku bercanda.” Keluar dari bibirnya. Tapi alih-alih, Joonhong menatapku serius.

Kulepas genggaman Joonhong dengan marah. β€œLeluconmu tidak lucu!”

β€œAku tidak bercanda!” Sergah Joonhong. β€œAku serius.”

β€œBohong! Kau gila!” Bentakku marah. Aku bangkit berdiri.

β€œBenar, kurasa aku sudah gila.” Joonhong menelungkupkan kepalanya dengan frustasi.

β€œAku tidak mengerti.” Ujarku datar, lalu berlari ke kamarku meninggalkan mereka.

Apa sih yang dipikirkan dia? Hanya beberapa minggu kami menjadi sepasang kekasih. Kami baru saja kencan pagi ini, lalu dengan mudahnya ia berkata akan meninggalkan tempat ini? Meninggalkan tempat ini, meninggalkanku. Perasaan bingung bercampur marah ini membuat aku labil. Aku mulai berpikir apakah Joonhong teringat masa lalunya? Apakah ada seseorang di masa lalunya? Tiba-tiba saja air mataku menetes keluar.

β€œJaerim a… maafkan aku.” Aku mendengar suara Joonhong di luar kamar.

β€œAku tidak butuh minta maaf!” bentakku. β€œAku butuh penjelasan!”

Joonhong terdiam.

β€œKenapa tak ada penjelasan? Joonhong… apa ingatanmu kembali? Apa ada seseorang…”

β€œTidak, Jaerim! Baiklah aku akan menjelaskan.” Kata Joonhong. β€œIjinkan aku masuk.”

Aku membuka pintu kamarku dan membiarkan Joonhong masuk. DI bawah lampu kamarku, wajah tampan Joonhong tampak pucat dan stres.

β€œJelaskan.” Tuntutku.

β€œJaerim, aku tidak pernah kehilangan ingatanku.”

Tidak pernah kehilangan ingatan? Ku usap air mata yang baru saja turun. β€œLalu?”

β€œDengar, mungkin kau tak akan mempercayai penjelasanku, tapi aku akan menjelaskannya padamu.” Joonhong menghela napas panjang sebelum memulai. β€œNama asliku adalah Zelo, atau lebih dikenal sebagai Zelos. Aku adalah dewa persaingan yang telah jatuh cinta pada seorang mortal.”

β€œDewa?”

β€œNe.”

Oke, tak masuk akal. Kalau memang Joonhong ingin berbohong, masih ada setumpuk kebohongan yang jauh lebih masuk akal. Mungkin dia memang sudah tidak waras. Tapi detik berikutnya aku teringat saat Joonhong menolongku di tengah gubuk kebakaran.

β€œApa karena itu kau tidak terluka walau terbakar?” Tanyaku hati-hati.

β€œNe.”

Kutelan ludahku dengan susah payah. Seharusnya aku mendengus tawa atau mengejeknya, tapi entah kenapa aku tidak melakukannya. Apa yang baru saja dikatakan Joonhong sangat konyol dan tidak masuk akal. Namun walau begitu, entah kenapa aku mempercayainya. Mugkin karena kesempurnaan Joonhong.

β€œMian, ini benar-benar salahku,” Joonhong menggeleng, β€œtidak seharusnya aku jatuh cinta padamu. Tidak seharusnya aku membuatmu jatuh cinta.”

Pernyataan Joonhong barusan membuat hatiku perih. β€œApa kau menyesal telah jatuh cinta?” Pertanyaanku membuat Joonhong mengangkat kepalanya dengan kaget.

Sepasang bola mata Joonhong menatapku, mengingatkanku pada pandangan pertamanya saat pertama kali kami bertemu.

β€œTidak.” Kata Joonhong.

Aku memejamkan mata. β€œJoonhong, jujur aku tidak tahu aku harus percaya atau tidak… Semuanya tidak masuk akal.”

β€œTidak memang.” Joonhong menggertakan gigi.

β€œKalau kau memang dewa… Kenapa kau turun ke bumi?”

Joonhong memejamkan mata sejenak sebelum menjawab, β€œAwalnya, aku turun ke bumi adalah untuk menolongmu. Aku selalu mengamatimu sendirian, dan selalu menghindari kehidupanmu sendiri. Aku ingin membantumu, aku ingin kau melawan ketakutanmu sendiri. Tapi mungkin, sebenarnya aku telah jatuh cinta padamu.”

β€œLalu kenapa kau meninggalkanku?” Tuntutku. β€œKalau kau bisa tinggal di dunia, kita bisa bersama.”

Joonhong menggeleng, β€œCinta antara dewa dan mortal itu terlarang. Bahkan laut menentang kita.”

β€œLaut menentang kita?”

Laut menentang kita. β€œKembalilah Jelo. Jangan mencampuri lebih banyak. Ingatlah siapa dirimu. β€œ Begitulah isi surat Joonhong. Beberapa hari ini, laut terus diselimuti badai. Laut menentang kita. Semua tampak jelas. Joonhong tidak berbohong, ia berkata yang sebenarnya, dan kebenaran itu membuat air mataku keluar lebih deras.

β€œJaerim,” Joonhong merengkuh wajahku dan mengusap air mataku. Lalu ia memelukku.

β€œKita tidak akan pernah bertemu lagi?” Tanyaku disela sesunggukanku.

Joonhong menggeleng.

Malam itu Joonhong terus berada di sisiku. Ia menggenggam jemariku hingga aku tertidur. Ketika terbangun keesokan paginya, Joonhong sudah tidak ada di sisiku. Ia telah pergi, dan semua orang yang pernah mengenal Joonhong tidak mengingat apapun tentang dirinya. Kehidupanku kembali seperti sebelumnya, hanya saja ada sebuah kenangan dan perasaan yang kumiliki sendiri. Kenangan akan pertemuan dan perpisahan dengan seorang dewa. Perasaan cinta terlarangku pada seorang dewa.

 

THE END

β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”-

Berikan penilaian kalian tentang FF ini di kolom komentar. Don’t be silent reader ya ^^

 

Pos ini dipublikasikan di Fan Fiction, K-DID dan tag , , , . Tandai permalink.

Don't be silent reader, tulis komentarmu di sini ^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s