[FF] Autumn In You


Nama: Septi Melia Utami

Nickname: septimelia

Akun Twitter: @septimelia

Title FF: Autumn in You

Genre: Romance, Sad

Main Casts: Cho Kyu Hyun, Lee Aki (OC)

Supporting casts: Lee Teuk, Lee Aki’s eomma, Lee Sung Min, Min Ji, etc.

Length: OneShot

——————————————————————————————————————————————-

 

…Sebab cinta bukan seperti daun-daun yang berguguran, yang menua, jatuh dihempas angin, dan lenyap menjelma tanah. Ia kekal…

 

Duduk di bangku taman paling ujung, dengan kepala yang tertunduk dan sesekali terdengar segukan dari mulutnya. Hari telah mendekati tengah malam, tapi gadis itu tetap bergeming pada posisinya. Mungkin ia satu-satunya makhluk bernyawa di tempat itu.

Perlahan tangannya mengusap dahinya, menyampirkan rambut yang mengenai wajahnya yang putih. Ditariknya ke belakang rambutnya yang hitam, panjang, dan keriting di bagian ujungnya. Jari-jarinya yang lentik perlahan mengusap sisa-sisa air mata di wajahnya. Entah apa yang membuatnya rela membasahi wajahnya yang putih pucat dengan air yang masih sesekali keluar dari kedua matanya.

Gadis itu merogoh kantong celana panjang yang ia kenakan, mengeluarkan ponselnya. Jari-jarinya mulai bekerja menekan beberapa tombol, dan ditempelkan ponselnya tadi pada telinganya.

“Yeoboseo.” Suara di seberang menyahut.

Gadis itu menggigit bibir bagian bawahnya, menahan tangis. Air mata mulai menggenang kembali di kedua matanya yang cokelat pekat.

Tak ingin orang yang diteleponnya cemas, ia buru-buru menguasai dirinya dan menarik nafas panjang, berharap suaranya akan terdengar normal di telinga orang itu.

“Kyu Hyun-a….” Dan hasilnya, suaranya tetap saja serak. Gadis itu mengutuk dirinya sendiri dalam hati.

“Aki-ya? Neo oddieya? Aku mencarimu sudah dua minggu ini.” Suara di seberang kembali terdengar, kali ini yang diyakini gadis itu bernada khawatir.

“A-aku….”

“Aki-ya, kau sedang tidak menangis, kan?”

Gadis itu terkesiap dan mengeratkan kepalan tangannya pada celana panjang yang ia kenakan. “Ah, ani. Kyu Hyun-a… bisakah kau menemuiku sekarang di taman dekat rumahku?”

“Baik. Tunggu aku dan jangan ke mana-mana. Aku akan segera ke sana.” Dan terdengar langkah kaki dipercepat. Selanjutnya sambungan telepon terputus.

Gadis yang dipanggil Aki itu menghela nafas berat. Butuh perjuangan yang ekstra keras untuk bisa berbicara kembali dengan pemuda itu. Pemuda itu, pemuda yang langsung membuatnya jatuh hati saat pertama kali mereka bertukar pandang.

Aki menunduk dan membenamkan wajahnya pada kedua telapak tangannya yang masih basah oleh air mata. Memori otaknya terputar ke masa ke saat ia dan pemuda itu pertama kali bertemu, memaksanya untuk mengingat masa yang paling disyukurinya sepanjang Tuhan memberi kehidupan untuknya.

 

“Aki-ya aku pulang duluan, ya. Kau benar tak apa sendiri?” teriak Min Ji dari arah pintu.

Jari-jari Aki baru saja akan menekan tuts-tuts piano yang ada di hadapannya, lalu terhenti ketika mendengar suara Min Ji yang terbilang sangat besar. Aki berbalik arah, mendelik pada Min Ji dengan tajam.

“Min Ji-ya… aku sungguh tak apa sendiri. Aku hanya belum puas karena belum menyentuh ini,” kata Aki halus, telunjuknya merujuk pada piano yang sedari tadi ingin dimainkannya.

“Hhh. Aki sayang, kau masih punya banyak waktu untuk memainkannya. Tapi, terserah kau saja.” Min Ji tersenyum lepas, lalu berlalu dari pandangan Aki perlahan.

Seakan baru saja mendapat mainan baru, kedua mata Aki mengerjap-ngerjap bahagia menatap tuts-tuts piano yang ada di hadapannya. Dengan sangat hati-hati, ia mulai menekan tuts-tuts piano itu dan memainkan lagu favoritnya.

“I believe… kudaen gyote opjiman,

(I believe… that you are not by my side,)

Idaeron ibyorun anigyetjo?

(but this isn’t goodbye, is it?)

I believe… na-e-ge orun girun

(I believe… you’re taking the longer road)

Cho-gum molri, tora-ol ppunigetjyo?

(To come back to me, aren’t you?)

Modu jinagan ku gi-ok-sukeso

(All my memories have passed by)

Naega nalrul apuge ham- ah, lupa lagi, kan,“ keluh Aki putus asa sambil menggelengkan kepalanya.

“Naega nalrul apuge hamyo nunmurun manduljyo (As I hurt myself, tears are made) ….”

Aki mengerjapkan kedua matanya seakan tak percaya dengan pendengarannya. Tak mungkin ada hantu yang bisa bernyanyi, kan? Lalu, itu suara siapa? Mengingat hari yang mulai gelap, Aki makin merasa takut. Dengan amat perlahan, ia membalikkan kepalanya, mencari asal suara yang menyambung nyanyiannya.

“Kenapa tak kau lanjutkan permainan pianomu, nona? Cukup bagus padahal,” celetuk sosok jangkung itu.

Aki mendelik terpana. Sosok itu sama sekali bukan hantu, jelas. Tentu saja. Bagaimana mungkin ada hantu yang semempesona itu? Dan… suaranya juga.

Sosok itu perlahan melangkah mendekati Aki. Semakin dekat sosok itu mendekatinya, detak jantung Aki semakin tak karuan. Matanya awas mengamati sosok itu dari ujung kaki sampai ujung kepala.

“I Believe. Shin Seung Hun. Aku juga suka lagu itu,” ujar sosok yang berwujud pemuda tampan itu sambil tersenyum ketika sudah tepat berada di hadapan Aki. Bibirnya membentuk lukisan pelangi terbalik yang indah, menurut Aki.

Aki masih diam sehingga pemuda itu mengambil inisiatif dengan mengibaskan tangannya tepat di depan kedua mata Aki. Pemuda itu tersenyum semakin lebar ketika berhasil memulihkan kesadaran Aki.

Aki mengembungkan pipinya kesal, merasa sedang dipermainkan. “Kau siapa?” tanyanya ketus.

Pemuda itu menjulurkan tangan kanannya. “Cho Kyu Hyun. Kelas X-A.”

Aki menatap tangan Kyu Hyun sesaat dan menimang, lalu perlahan membalas uluran tangan Kyu Hyun. “Lee Aki. Kelas X-C,” ujar Aki. Senyuman manis terukir indah di wajah putihnya.

Kyu Hyun mengerutkan dahinya. “Aki? Jenis nama apa itu?”

Aki tersenyum geli dan melepas genggaman Kyu Hyun pada telapak tangannya, lalu memandang keluar jendela pada daun-daun yang berguguran di halaman sekolah.

“Sekarang musim apa?” tanya Aki lembut.

Dahi Kyu Hyun semakin berkerut. “Musim gugur.”

“Itu arti namaku dalam bahasa Jepang.”

 

“Aki-ya! Apa yang kau lakukan tengah malam begini di sini, hah? Kau sudah gila?”

Aki terperanjat hebat, terbangun dari kenangan yang sepintas lalu menggulung lembut tiap saraf otaknya.

Perlahan ia berdiri. “Hai! Lama tak jumpa,” sapa Aki ramah.

Kyu Hyun mendelik marah. “Ya, benar! Sangat lama kita tak berjumpa. Dan aku nyaris mati merindukanmu. Jangankan untuk mendengar celotehan atau kiriman teks darimu, kau di mana saja aku tak tahu!”

Aki tersentak. Memang ia sudah sering melihat kemarahan Kyu Hyun, tapi tidak semenyakitkan saat ini. Ia tahu. Sangat tahu kalau ia telah melakukan kesalahan teramat besar pada Kyu Hyun. Dan ia tak ingin Kyu Hyun tambah tersakiti oleh kesalahannya.

“Kau sungguh marah rupanya.” Aki tersenyum.

Nafas Kyu Hyun masih tersengal-sengal sehabis mengeluarkan emosinya. Ia memandangi Aki intens, masih dengan tatapan marahnya.

“Anggap saja kau sedang latihan hidup tanpa aku, Kyu Hyun-a.”

“Apa?” tanya Kyu Hyun nyaris tak terdengar, berpikir ia salah mendengar apa yang dikatakan Aki.

“Aku diterima di salah satu universitas yang aku inginkan. Dan itu sangat jauh. Selama dua minggu ini, aku sibuk mengurus kuliahku. Maka dari itu, aku ingin kau melupakanku dan hubungan ini kita akhiri saat ini juga. Kau bisa, kan?” Aki berkata santai, masih dengan ulasan senyum yang tak lepas dari bibir mungilnya.

“Tak semudah itu, Lee Aki!” teriaknya, nyaris membuat Aki menutup kedua telinganya.

“Mudah, asal kau tak menganggapnya sulit,” tanggap Aki, lagi-lagi dengan santai, teramat malah.

Kyu Hyun semakin marah. Wajahnya yang putih perlahan memerah menahan marah yang semakin menjadi. Ia seperti akan melahap Aki hidup-hidup.

“Kita bisa long distance relationship, Aki-ya. Kenapa pikiranmu sempit sekali, hah?” tanya Kyu Hyun ketus.

“Ck. Kau masih menganggapku sebagai orang yang narrow-minded rupanya. Cho Kyu Hyun-ssi, perlu aku ingatkan sekarang bahwa statusmu sudah berubah. Tak lama lagi kau akan menjadi salah satu idola negeri ini. Hanya dalam hitungan bulan, ratusan bahkan ribuan wanita akan mengelu-elukan namamu. Lalu, aku? Kau tak berpikir bahwa aku akan sangat terganggu dengan itu? Aku hanya ingin tenang belajar. Itu saja.”

Kyu Hyun tersentak mendengar pernyataan Aki, menyadari bahwa apa yang dikatakan Aki memang benar adanya. Memang ia sekarang sedang dalam masa trainee untuk kemudian diorbitkan sebagai salah satu anggota boyband Korea Selatan, Super Junior, beberapa bulan ke depan.

“Kita bisa backstreet, Aki-ya. Dan kau tak perlu menghiraukan mereka yang katamu akan mengelu-elukan namaku. Aku juga tak akan menghiraukannya! Mudah, kan?” sahut Kyu Hyun putus asa.

Aki menghela nafas panjang, lalu kembali tersenyum. “Tak akan semudah itu, Kyu Hyun-a. Bagaimana jika mereka mengorek-ngorek kehidupan pribadimu? Sangat mungkin bahwa aku akan terlibat, dan kemudian hal ini mengacaukan kehidupan pribadiku. Dan kau lupa sesuatu….”

“Apa?” tanya Kyu Hyun ketus.

“Jika kau bisa dengan leluasa berjuang mencapai impianmu, lalu kenapa tidak kau biarkan aku mencapai impianku? Dengar, aku hanya ingin ketenangan dalam belajar. Hanya itu.”

Kyu Hyun berdiri putus asa. Ya, apa yang dikatakan gadis yang ada di hadapannya sekarang ini sepenuhnya benar. Sangat tak mungkin menentang keinginan gadis yang ia kenal berpendirian teguh dan ambisius ini.

Kyu Hyun menghela nafas. “Baiklah kalau itu maumu.”

Aki tersenyum lepas.

“Universitas mana?” tanya Kyu Hyun dingin.

“Aku tak akan menyebutkan namanya. Terlalu beresiko haha. Tapi, aku yakin kau akan segera tahu. Terletak di negeri yang orang-orangnya terkenal sangat ramah. Di negeri yang terdapat banyak kebudayaan dan sastra yang bisa aku pelajari, ya kau tahu aku sangat menyukai hal-hal itu. Dan di sana tak ada musim gugur….”

 

——————————————————————————————————————————————-

 

BRAKKK!

Aki menutup pintu rumahnya dengan kasar, lalu menyandarkan pasrah tubuhnya pada pintu itu. Bulir-bulir air mata perlahan mulai membasahi kembali wajahnya.

Aki mengangkat kepalanya yang semula tertunduk. “Aki sudah melepaskannya, bu,” kata Aki saat tahu bahwa ibunya telah berdiri di hadapannya.

Han Yeon Ra, ibu Aki, mengelus kepala putrinya lembut. Hatinya turut merasakan pedih yang dialami putrinya.

Han Yeon Ra menyeka air mata di wajah Aki dan mendekapnya lembut. “Kenapa kau melepaskannya, nak? Ia semangat hidupmu. Ibu tahu itu.”

Aki tersenyum tipis. “Aki hanya tak ingin ia merasakan sakit yang lebih nantinya. Itu saja.”

“Tapi, kau juga merasa sakit, nak.”

“Ibu tahu kalau Aki sangat kuat….”

Aki tak sempat menyelesaikan kata-katanya ketika gelap perlahan menyergapnya.

 

——————————————————————————————————————————————-

 

“Kyu Hyun-a… ada temanmu. Ibu langsung suruh ke atas, ya?” teriak Kim Ha Na, ibu Kyu Hyun, dari lantai bawah.

Kyu Hyun yang sedang asyik dengan drama yang ditontonnya melalui komputer tersentak. “Iya. Langsung suruh ke atas saja, bu,” teriak Kyu Hyun tak kalah kencang dengan ibunya.

Kyu Hyun lantas fokus kembali dengan layar komputernya hingga tak ia sadari bahwa teman yang dimaksud ibunya telah berdiri di sampingnya. Kyu Hyun menoleh dan sedikit terperanjat melihat sosok teman yang sedang menatap penuh minat pada drama yang nyaris membuatnya seperti orang sakit karena seharian berada dalam kamar.

“Oh. Ternyata kau lagi, Aki-ya. Kenapa?” tanya Kyu Hyun, lanjut fokus pada layar komputernya kembali.

“Kau sedang menonton drama? Jangan-jangan kau mengunduhnya karena kau mati-matian suka dengan drama ini. Drama ini kan sudah lumayan lama,” ujar Aki bingung. Sepintas ia melihat nama file video yang sedang ditonton oleh Kyu Hyun. Autumn in My Heart. Atau lebih dikenal dengan judul Endless Love.

“Iya, memangnya kenapa? Masalah? Aku hanya tak pernah sempat menontonnya saat drama ini tayang dulu, padahal aku sangat mengidolakan aktris utamanya hahaha, makanya aku sampai susah payah mengunduhnya. Dan kau belum menjawab pertanyaanku.” Kyu Hyun membalik badannya sempurna menghadap Aki, lalu melepas kaca mata yang ia kenakan.

“Ya ya, laki-laki mana yang tak suka dengan seorang Song Hye Kyo. Hmmm… aku ingin berguru matematika denganmu lagi,” kata Aki dengan mata yang berbinar.

“See? Aku benar-benar dewa kalau menyangkut matematika. Kau juga mengakuinya hahaha.”

Aki berdecak. Bukan karena kesal, lebih karena ia merasa prihatin dengan Kyu Hyun. Prihatin karena laki-laki yang ada di hadapannya sekarang ini besar rasa sekali. Belum juga ia memuji, laki-laki ini sudah langsung beranggapan bahwa dirinya hebat. Apalagi kalau ia sampai memujinya, pasti kepalanya akan besar sekali. Aki menggelengkan kepalanya perlahan memikirkan hal itu.

“Kenapa dengan dirimu?” tanya Kyu Hyun geli melihat Aki menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri sendiri.

Aki tersadar dari lamunannya. “Ah, tidak. Eh, ngomong-ngomong soal drama itu, kau sudah nonton sampai akhir?”

Kyu Hyun kembali tersenyum geli. “Aku sudah menonton drama ini berulang-ulang dan aku selalu akan sampai pada bagian akhir drama ini, tapi kemudian aku memundurkan kembali adegannya. Aku tak akan pernah sanggup menonton bagian akhir drama ini. Terlalu menyedihkan. Aku benci hal itu.”

“Sama sekali tak pernah menonton bagian akhirnya?” Aki melongo.

Kyu Hyun menggeleng mantap.

“Kau harus menonton bagian akhirnya, Kyu Hyun-a, walaupun cuma sekali. Itu sama sekali tak menyedihkan. Mengharukan lebih tepat.” Aki tersenyum jenaka.

“Apanya? Mengharukan dan menyedihkan itu tak ada bedanya. Kisah cinta yang berakhir menyedihkan seperti itu… aku tak akan pernah mau menontonnya!”

Aki berdecak lembut. “Cinta sejati memang tak pernah berakhir bahagia, Kyu Hyun-a….”

“Maksudmu?”

 

——————————————————————————————————————————————-

 

“Kau gugup, Kyu Hyun-a?”

Kyu Hyun sedang melihat pemandangan malam kota Seoul dari jendela apartemen Super Junior ketika Lee Teuk, leader Super Junior, menanyakan keadaannya yang terlihat sangat mengkhawatirkan. Adik paling bungsu di Super Junior itu memang sangat tidak bersemangat akhir-akhir ini.

Kyu Hyun tersenyum tipis. “Gugup untuk apa, hyung?”

“Besok penampilan perdanamu setelah masa trainee¬-mu berbulan-bulan lalu. Pastinya kau gugup sekali, kan? Aku juga merasakannya dulu ketika debut pertama kali.”

Kyu Hyun menggeleng. “Tidak sama sekali, hyung.”

Lee Teuk mengerutkan dahinya.

“Bagaimana mungkin aku merasa gugup jika satu-satunya orang yang bisa membuatku gugup tak ada di sini? Aku lebih merasa sedih karena tak bisa bersama ia di saat penting seperti ini. Aku pun sangsi apakah ia akan menonton penampilan perdanaku di panggung atau tidak.”

Lee Teuk tersenyum mengerti dan menepuk pundak Kyu Hyun hangat.

“Aku yakin ia selalu bersamamu, di manapun, kapanpun. Jadi, berikanlah yang terbaik besok. Fighting!”

Lee Teuk berlalu dari hadapan Kyu Hyun setelah sebelumnya terus mencecar Kyu Hyun dengan nasihat-nasihat yang Kyu Hyun sendiri tak terlalu berminat mendengarnya.

Kyu Hyun kembali memandangi pemandangan malam kota Seoul. Lampu-lampu jalan yang ia pandangi perlahan membawa otaknya memutar kembali memori saat ia bersama gadis itu. Saat itu, saat yang paling membahagiakan Kyu Hyun, dan juga Aki. Saat itu musim dingin, juga malam natal yang indah.

“Yak! Kenapa kau menyatakan cintamu di saat seperti ini, hah?”

“Memangnya kenapa? Kau tak suka denganku, ya?”

“Aduh… bukan seperti itu. Maksudku, kenapa di saat musim dingin seperti ini, Kyu Hyun-a babo? Kenapa tidak di saat musim gugur kemarin? Kau tahu aku sangat suka musim gugur, kan? Ah, Kyu Hyun babo, tak bisa memilih momen yang tepat!”

Saat itu Kyu Hyun benar-benar tercengang dengan respon Aki. Bingung dan tak enak hati berbaur menjadi satu. Gadis ini memang penuh kejutan.

“Jadi, kau mau aku menunda pernyataan cintaku sampai tahun depan ketika musim gugur datang, Lee Aki?”

Kyu Hyun sangat ingat ekspresi lucu yang ditampakkan Aki saat melihat ia kebingungan dengan respon yang diberikan Aki. Aki malah tersenyum lebar dan berlari agak menjauh dari Kyu Hyun.

“Mana mungkin aku mau menunggu setahun lagi pangeran cintaku menyatakan kembali perasaan cintanya padaku hahaha. Tentu saja kau diterima jadi kekasihku, Cho Kyu Hyun bodoh!”

 

——————————————————————————————————————————————-

 

“Kita kembali ke kamar sekarang, ya? Ibu dan ayahmu pasti khawatir mencarimu.”

“Tunggu sebentar lagi. Ah… lihat bunga mawar ini, Min Ji-ya. Kyu Hyun pernah memberikan yang serupa di hari valentine tahun kemarin,” ujar Aki lembut sambil menyentuh satu-satu kelopak setangkai mawar merah yang dipegangnya.

Min Ji mendelik tajam pada Aki.

“Kau kenapa, Min Ji-ya?” tanya Aki lembut, sadar akan delikan Min Ji yang tertuju padanya.

Min Ji menggelengkan kepalanya prihatin. “Setiap hal yang kau temui setiap hari selalu mengingatkanmu pada Kyu Hyun. Tak pernah sekalipun aku tak mendengar nama Kyu Hyun disebut setiap harinya. Jadi, berhenti membodohi dirimu sendiri, Aki-ya! Kau mencintai laki-laki itu, dan kau merindukannya.”

Aki tersentak mendengar perkataan Min Ji. Tapi, ia sangat mengerti kenapa Min Ji sampai berkata seperti itu. Sahabatnya itu pasti sangat mengkhawatirkan dirinya.

Aki perlahan tersenyum pada Min Ji. “Aku memang menghindarinya, bahkan terkesan membuangnya. Tapi, semuanya beralasan. Menahannya bersamaku hanya akan memberikannya kesedihan yang lebih mendalam dari yang ia rasakan sekarang.”

“Jangan berbohong pada perasaanmu, Aki-ya. Cepat atau lambat, kau akan menyesalinya. Aku mohon, biarkan aku membawanya padamu. Ya?” mohon Min Ji lembut.

Aki menggeleng cepat. “Jangan pernah kau lakukan itu!” ancam Aki tajam.

“Tidak! Aku akan tetap membawanya padamu, bahkan sekarang akan aku lakukan itu. Lihat keadaanmu sekarang, Aki-ya! Kau lebih dari sekedar membutuhkannya! Kyu Hyun… semangat hidupmu.”

Min Ji akan berbalik dari dari hadapan Aki ketika tangan Aki dengan cepat menangkap pergelangan tangannya. Pegangan tangan Aki sangat kuat. Sampai-sampai Aki hampir terjatuh dari… kursi rodanya. Dan botol infusnya pun hampir terlepas dari tempatnya.

“A-aku mohon jangan lakukan itu, Min Ji-ya….”

Nafas Aki tercekat dan kegelapan menyergapinya. Lagi.

 

——————————————————————————————————————————————-

 

“Well done, Kyu Hyun¬-a! Penampilan perdanamu benar-benar memukau. Kau berhasil membuat ELF histeris! Aku yakin single U ini akan segera meledak di pasaran.”

Pujian terus mengalir untuk Kyu Hyun dari para kakak-kakaknya di Super Junior selepas mereka menyelesaikan first stage untuk single U. Penampilan perdana Kyu Hyun sekaligus penanda bahwa Super Junior sekarang berjumlah 13 orang.

“Aku tak melakukan banyak hal, hyung. Justru hyung sekalian lah yang telah banyak bekerja keras untukku,” ujar Kyu Hyun sambil membuka tutup botol air mineral.

Belum sempat tutup botol itu terbuka, sayup-sayup terdengar suara wanita memanggil dirinya. Kyu Hyun menoleh mencari asal suara itu.

“Tolong… izinkan aku bertemu Cho Kyu Hyun. Dia itu temanku. Aku mohon… seseorang sangat membutuhkannya sekarang.”

Kyu Hyun tercekat ketika ia mendapati Min Ji lah yang sedari tadi memanggil namanya. Min Ji masih tersiksa dengan pegangan erat para security.

“Lepaskan ia. Ia temanku.”

Seperti terkontrol otomatis, pegangan di tangan Min Ji terlepas.

“Kyu Hyun-a, aku mohon untuk ikut aku sekarang. Aki… ia sangat membutuhkanmu.” kata Min Ji dengan nafas yang masih belum sepenuhnya beraturan.

“Aki? Bukannya ia sedang di luar negeri?” tanya Kyu Hyun bingung.

“Nanti aku ceritakan semuanya di mobil. Ayo cepat! Kita tak punya banyak waktu.”

——————————————————————————————————————————————-

Kyu Hyun merasa ia berjalan dengan sangat lambat untuk mencapai kamar Aki. Rumah sakit ini memang besar, namun dirasa Kyu Hyun terlalu besar untuk ia segera memeluk Aki.

“Aki berbohong padamu, Kyu Hyun. Ia tak pernah masuk universitas manapun, apalagi untuk kuliah di luar negeri. Bahkan untuk sekedar ke luar kota saja ia dilarang keras.”

Nafas Kyu Hyun terasa berhenti seketika ketika mendengar hal itu dari Min Ji. Aki berbohong padanya? Untuk apa? Kenapa ia sampai menyiksa dirinya sendiri?

“Aki sakit kanker. Ia pernah sembuh, namun kambuh lagi. Dan kali ini berkali lipat lebih parah. Ia berbohong padamu karena ia tak ingin membuatmu khawatir dan menyusahkanmu. Aki hanya ingin kau hidup tenang tanpa beban pikiran tentang dirinya dan berkonsentrasi untuk mencapai cita-citamu.”

Membuat khawatir? Menyusahkan? Justru dengan ia seperti inilah, ia jadi menyusahkan dan membuat khawatir. Dasar Aki bodoh! Kenapa ia selalu berpikiran sempit? Kyu Hyun mengumpat dalam hati.

Waktu berjalan sangat lambat ketika Kyu Hyun bergerak cepat menelusuri lorong-lorong rumah sakit. Entah bagaimana akhirnya ia bisa sampai di ruangan yang penuh dengan alat-alat mengerikan. Dan alat-alat mengerikan itu terhubung pada tubuh Aki. Tubuh gadis yang dicintainya.

Ayah dan ibu Aki berdiri di samping Aki, juga satu dokter dan tiga suster. Menyadari kedatangan Kyu Hyun, ibu Aki mendekati Kyu Hyun. “Waktumu tak banyak, Kyu Hyun. Ia bisa bertahan sampai saat ini karena masih menunggumu,” bisik ibu Aki dengan nada yang menggetarkan seluruh urat syaraf Kyu Hyun.

Kyu Hyun melangkah mendekati Aki yang terbaring lemah. Mata Aki masih tertutup. Perlahan Kyu Hyun duduk di samping Aki dan mengambil tangan kanan Aki. Dipegangnya tangan itu lembut, sama seperti saat-saat ia menggandeng tangan itu di hari-hari mereka biasa menghabiskan waktu bersama.

“Aki-ya, ireona….”

Kyu Hyun mengecup tangan Aki lembut.

Seperti orang yang merasa terpanggil, perlahan kelopak mata Aki bergerak. Aki membuka matanya dan langsung menatap Kyu Hyun lurus. Tatapan kerinduan yang langsung membuat Kyu Hyun tak bisa membendung air matanya.

“Hai! Lama tak jumpa. Kenapa kau menangis? Kau bahkan bernyanyi dengan baik di penampilan perdanamu.” Aki tersenyum manis. Manis sekali.

Kyu Hyun mengusap rambut Aki dengan lembut. “Kau menontonnya?”

“Tentu saja. Kau yang paling tampan diantara 13 orang yang aku tonton itu hehe.” Aki terkekeh. Kekehan yang tak disadari semakin membuat tubuhnya melemah dengan drastis.

“Kau berbohong!” tuding Kyu Hyun.

“Tentu saja tidak!”

“Ah, memang aku dilahirkan untuk menjadi manusia yang paling mengagumkan ya hahaha.”

Aki berdecak keras. “Cho Kyu Hyun….”

“Ehm?”

“Aku mau menyanyikan lanjutan lagu itu.”

“Lagu apa? ” Kyu Hyun membelai lembut kening Aki.

“Lagu yang membuat aku mengenalmu.”

“Nyanyikanlah…. Aku akan mendengarkannya. Aku tahu kau adalah pemilik suara terindah yang pernah ada. Bahkan aku pun kalah.”

Aki menggetok kepala Kyu Hyun, nyaris tak terasa sakit sama sekali dirasa Kyu Hyun. “Aku sedang serius, Kyu Hyun-a!”

“Aku juga. Bernyanyilah….” kata Kyu Hyun, kali ini dengan menahan keras air mata yang menggenang di pelupuk matanya.

Aki tersenyum tipis dan menyenandungkan lantunan bait lagu yang sangat disukainya. Bahkan di saat seperti ini pun, lagu itu masih sangat pas untuk dinyanyikan.

“Namankum ulji anh-kirul, kudae-manun!

(Don’t cry like me, at least you shouldn’t!)

Nunmul obshi nal pyonhage ttona-jugirul

(I hope you can let me go without tears)

Onjen-ga tashi-dura ol

(Someday you’ll come back to me)

kudae-ranun gyol algiye / nan mitko itkiye

(I believe that you will)

Kidaril-keyo… nan kudae-yo-ya-man hajyo

(I will wait for you… it has to be you)”

Kyu Hyun menyeka air mata yang mulai keluar tanpa kontrol darinya.Perlahan ia tersenyum kembali pada Aki.

“I will. I always and I will always, Aki-ya….”

Aki kembali tersenyum dan mengenggam semakin erat tangan Kyu Hyun.

“Kyu Hyun-a, berjanjilah kau akan selalu bernyanyi. Bernyanyilah untuk siapapun.”

Kyu Hyun mengangguk mantap. “Aku janji, Aki-ya”

“Dan selalu tersenyum, ya. Bukan hanya karena kau sedang merasa bahagia, tapi karena dengan tersenyum kau akan membuat dirimu bahagia.”

Kyu Hyun tersenyum. “Kau lihat aku sedang tersenyum, kan?”

Aki mengangguk lemah dan menatap lekat kedua mata Kyu Hyun.

“Cho Kyu Hyun…” bisik Aki pelan sebelum menutup matanya abadi. “Saranghae….”

 

——————————————————————————————————————————————-

 

27 Juni 2012, Jakarta, Indonesia

“Kau kelihatan bahagia sekali hari ini Kyu Hyun-a,” ujar Sung Min lembut melihat adik yang paling disayanginya itu tak berhenti menatap pemandangan di luar hotel tempat mereka menginap untuk keperluan SS4.

Kyu Hyun menoleh dan tersenyum tipis menimpali perkataan Sung Min.

“Ah, hyung. Bagaimana aku tak senang? Akhirnya aku kembali lagi ke sini. Ke sini, ke tempat yang pernah Aki sebut-sebut. Aki suka negeri ini. Dan aku menyukai apa yang Aki suka.”

“Kau semakin gila.”

“Tidak. Tapi, apa yang Aki katakan itu memang benar. Beberapa waktu lalu aku menerima kado ulang tahun berbentuk scrap book yang berisi banyak tentang foto negara ini. Dari mulai tempat wisata sampai kebudayaannya. This country is totally unique! Kita tak akan pernah kehabisan tempat untuk dikunjungi, dan tak akan pernah kehabisan budaya untuk dipelajari. Aki sungguh memiliki selera yang bagus.”

Sung Min tersenyum menatap Kyu Hyun. “Lain kali, kita harus banyak meluangkan waktu untuk berlibur di sini. Dan… ngomong-ngomong tentang Aki, aku turut menyesal dengan apa yang terjadi padamu, Kyu Hyun-a. Seperti apa yang orang bilang, kisah cinta itu tak selalu berakhir bahagia.”

Kyu Hyun terkekeh mendengar perkataan Sung Min. “Hyung, sejak kapan kau jadi melankolis begini. Dan lagi, aku perjelas ya, cinta sejati itu memang tak pernah berakhir bahagia.”

Sung Min mengerutkan dahinya. “Kenapa begitu?”

“Karena cinta sejati tak memiliki akhir. Ia kekal. Seperti cinta Aki dan… cinta ELF.”

 

 

THE END

——————————————————————————————————————————————-

Berikan penilaian kalian tentang FF ini di kolom komentar. Don’t be silent reader ya ^^

Pos ini dipublikasikan di Fan Fiction, K-DID dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Don't be silent reader, tulis komentarmu di sini ^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s