[FF] A Day


@We_LoveKDrama

@We_LoveKDrama

Nama: Rahmalia Audina

Nickname: Rahmalia Audina

Akun Twitter: @aliayeol

Title FF: A Day

Genre: Romance

Main Cast: Kim Ryeowook, Lee MinAh

Supporting casts: Kim Heechul, Lee Sungmin

Length: OneShot

——————————————————————————————————————————————-

You always ask, how much I love you..

Sometimes you get worried about the far ahead future…

AH? Apa sekarang dia ada dibelakangku?

“ah oppa? apa kau sudah bangun? Cepat cuci muka dulu.. aku sedang membuatkan mu nasi goreng kimchi kesukaan mu, hihi”

kataku ‘riang’ tanpa menoleh.

Hening tanpa jawaban.

hanya suara pisau mengiris tomat-tomat milikku yang terus mengisi alunan udara di ruang makan yang cukup lenggang ini.

Tek tek tek tek~

Tek tek tek tek~

Tek tek tek tek~

Aku tetap meneruskan kepalsuan ini.

“ige oppa~ makanannya sudah siap.. cepatlah makan, aku tau kau lapar..” aku berjalan meletakkan piring di meja makan dengan semangat.

Hening. Tanpa jawaban.

Aku duduk di depan kursi itu sambil memandang ‘sosok’ udara kosong di depanku. Air mata ku masih tertahan di ujung pelupuk mataku.

“oppa, bicaralah, bagaimana rasanya? Enak kah?” Tanya ku dengan suara tercekat, sambil terus saja menahan butiran air yang terus memaksa keluar.

Hening. Tanpa suaranya

sedikit pun.

“oppa, aku tau hik, nasi goreng buatanku tak enak kan? Ha-hiks-hahaha kau tau kan ini pertama kalinya aku memasak nasi goreng keahlianmu?” aku mengusap kuat mataku. Aku tak ingin menangis. Tapi Sulit.

Hening. Tanpa jawaban.

“hiks kalau kau tak mau makan hiks, biarkan aku hiks yang menghabiskannya yaa?” aku tak bisa menahan lagi tangis ku. Bulir-bulir air kini mengalir mantap. Pipi ku makin basah. Aku raih piring yang ada di depan kursi nya. Aku menatap nasi goreng panas yang utuh. Tanpa tersentuh sama sekali. Sama sekali tidak.

“aaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhh”

PRANG

Aku menepis piring yang tadi hingga jatuh dan membentur lantai dengan keras. Piring bening tak bersalah itu pecah hingga berkeping-keping. Aku menangis sekeras-kerasnya. Sampai seluruh ruangan di rumah ini hanya terdengar suara tangisku yang menggema. Memang tidak ada suara lain. Tidak ada lagi.

Disini hanya ada aku. Sendirian. Kau tau bagaimana sendirian disini tanpamu? Benar, Menakutkan.

Aku membenamkan kepalaku di atas meja makan dan mengurungnya dengan kedua tangan ku. Sesekali mengetuk kepala ku keras dengan tanganku sendiri.

“OPPA !!” teriakku keras

Ya tuhan, sungguh, aku mencintainya..

Aku mencintainya..

Jeongmal..

Don’t worry, don’t torture yourself.

You’re my perfect love.

#FLASHBACK

*some days ago*

Tek tek tek tek

Tek tek tek tek

Suara itu? Lagi? Ya tuhan..

Aku mengerjap-ngerjapkan mataku. Ah berat sekali mataku. Sinar matahari masuk dari jendela kamar yang sudah setengah terbuka. Silau sekali. Terang dan hangat Membuatku malas membuka mataku dan ingin menyelimuti tubuhku lagi dengan cuaca yang lumayan dingin ini. Ah Tapi aku harus menghentikan dia…lagi…

“aih kenapa matahari selalu cepat datang? Tak bisakah menungguku?” gerutu ku sendiri sambil turun dari kasur dan berjalan malas kearah suara yang rutin tiap pagi aku dengar itu.

Duk

Aku menabrak tembok. Lagi-lagi.

Ini juga kebiasaanku yang tak terlewatkan tiap pagi :p

“aish jjinja” aku melangkahkan lagi kaki ku sambil mengusap-usap keningku yang tadi terbentur. Memang salahku, berjalan dengan mata setengah terbuka (—__—)

Akhirnya sampai juga aku di dapur. Yah bisa juga di bilang ruang makan mengingat dapur dan ruang makan berada di satu ruangan seperti ini dengan dinding berlapis soft purple dengan beberapa lukisan kecil yang sengaja kami beli untuk mengisi kekosongan ruangan-ruangan di rumah ini.

Aku melihat seorang namja dengan baju tidur polos putihnya. Memunggungiku dengan celemek kotak kotak melingkar di tubuhnya

“selamat pagi chagi..” dia meninggalkan aktifitasnya-memotong sayuran-dan mendekatiku hanya untuk mengacak rambutku

“ hihi matamu masih setengah terpejam, cepatlah cuci muka, aku sedang membuat nasi goreng kimchi kesukaanmu” lanjutnya dengan suara manis dan mendorong pelan tubuhku kearah kamar mandi.

“oppa.. biar aku saja yang me..”

“ssstt sudahlah cepat, biar aku saja” ia mendorong lagi badanku.

Aku hanya mengangguk kecil lalu berjalan kearah kamar mandi sambil membetulkan rambut panjang ku yang berantakan.

“oppa..” kata ku sambil duduk di kursi meja makan.

“ne’ chagi?” katanya sambil meletakkan piring yang penuh dengan nasi goreng kimchi di depanku. Lalu ia melepas celemeknya dan duduk di depanku sambil menuangkan air putih dan meminumnya.

Aku tersenyum melihatnya. Kenapa seorang lelaki bisa semanis itu? Ah bahkan mungkin aku sebagai wanita kalah telak olehnya. Tapi itu yang selalu membuatku …hmm terhibur? Entahlah, setiap kali melihat wajah polosnya, aku selalu tertawa atau setidaknya tersenyum

“oppa apa kau tak lelah? Kenapa kau tidak membangunkanku dan membiarkan aku yang memasak?” tanyaku sambil menopang daguku dengan sebelah telapak tangan ku.

“aniyo chagi.. kau tau kan aku memang suka memasak?” katanya sambil mengaduk makanannya, meniup dan memasukkannya kedalam mulut mungilnya.

Geurae, suamiku ini memang senang memasak. Sudah 2bulan berlalu sejak pernikahan kami, setiap pagi selalu saja ia yang memasak untukku. Aku tidak pernah memintanya. Tapi ia menikmati kebiasaannya itu. Selalu saja bangun mendahuluiku dan membuat sarapan. Tapi untuk makan malam, tentu saja aku yang membuatnya.

“aishh oppa..” aku menggelengkan kepala ku dan mulai memakan nasi goreng kimchi yang masih panas.

Walaupun aku tak melihatnya, aku yakin dia sedang menatap ku dan tersenyum.

Even if you’re just breathing, even if you don’t have makeup on.

You’re beautiful. Eye blinding~

“oppa? Neo Gwaenchanayo?” kataku yang melihat ia tiba-tiba menyandarkan kepalanya.

“ah? nan gwaenchanayo chagiyaa” ia tersenyum sambil melepaskan sandaran kepalanya di sofa dan kembali memakai sepatunya.

“oppa.. istirahatlah..sehari saja” kataku cemas sambil mengelus punggungnya.

“aniyo chagi.. bagaimana nanti restoran tanpaku? Hehe”

“kau bisa meminta sungmin oppa untuk membantumu mengurus restoran kan? Hari ini saja oppa..” kataku memelas.

Lagi-lagi ia tersenyum,senyumannya yang kadang membuatku khawatir.

lalu ia berdiri dan meraih kedua tanganku dan mencium keningku lembut.

“jjinjayo nan gwaenchana, MinAh..”

Aku hanya tersenyum sambil menatapnya.

“baiklah, hati-hati chagi..istirahatlah kalau kau memang lelah”

“kau juga yaa chagi.. jagalah anak kita.. nak, Appa pergi dulu ya. Jangan nakal pada umma. Ok?” katanya sambil merunduk dan mengelus perutku yang sama sekali belum membesar. Janin ku masih berumur 6minggu.

“hahahahaaa ne’ appa” kataku menirukan suara anak kecil.

“hahhaa. Kalau begitu,.. aku berangkat dulu yaaa” dia mengelus pipiku dan mencium lembut bibirku sekilas.

“ne, chagi..”

Ia berjalan keluar dan aku mengikutinya. Aku berhenti di depan pintu utama. Ia terus berjalan.

Sesampainya ia di pagar, ia berhenti dan menoleh padaku. Aku melambaikan tanganku tapi ia malah membuat love sign dengan tangannya dan berteriak.

“SARANGHAE KIM MIN AH”

“hyaa oppa! Malu di dengar tetangga!” aku menahan tawaku.

Dia memajukan bibirnya, haha aku mengerti, dia meminta jawabanku.

“NADO SARANGHAE KIM RYEOWOOK” kata ku ikut berteriak lalu aku tertawa.

Dia tersenyum puas dan berjalan lalu melambaikan tangannya. Restoran yang di kelolanya tidak terlalu jauh. Jadi dia lebih memilih naik kendaraan umum dari pada membawa mobil sendiri.

Aku masuk dan menutup pintu.

I think of you just once a day. It can’t be more, because I’m saving you up.

*malamnya*

“besok? kenapa tiba-tiba Rye?” kataku sambil membalikkan badan dan menatap nya yang berbaring di sebelahku. Ia mengelus pipiku.

“ah? Apa kau tak senang aku mengajakmu jalan-jalan?”

“aniyo Rye.. tapi tumben sekali kau mengambil cuti dan mengajakku jalan-jalan”

Dia hanya diam tersenyum sambil memainkan tangannya di rambutku.

“kalau kau mengambil cuti, apa tak sebaiknya kau istirahat dirumah?” lanjutku.

“aissh jjinja… itu membosankan sekali MinAh..”

Aku hanya tersenyum. Ah benar-benar, tingkah nya manis sekali.

“eotte chagi? Ya? Ya? Ayolah..” katanya manja dan memajukan bibirnya

“hahaha.. ne’ ne’ baik lah, chagi.. aku mau”

“ah? Jjinja? Hyaa kau memang istriku yang baik” girangnya dan mencubit gemas pipiku.

“ne’ oppa.. yasudahlah cepat kita tidur oppa” aku mengubah posisi tidurku. Aku memeluknya.

“ne’ chagi.. jaljayo” ia mengecup tanganku dan menaruhnya diatas tubuhnya.

Ia menaruhnya tepat di atas detak jantungnya..

Hihihi bahkan walaupun kita sudah menikah, ia masih gugup saat bersamaku. Detak jantungnya cepat sekali. Mungkin dia tak merasakannya. Tapi aku juga masih sangat gugup.

Damai.. aku merasa damai disaat seperti ini. Seakan ragaku dan raganya bersatu.

Tuhan.. biarkan jantungnya tetap berdetak.

Aku mencintainya.

Jeongmal…

The sunshine of a hard day if only you are here, it’s ok. That’s all I need.

“aku lelah oppa.. apa kau tidak lelah?” aku menyandar di bangku. Aku melihat orang-orang yang berlalu lalang mencari wahana yang akan mereka naiki. Ramai sekali. Membuatku pusing.

“ah? Aniyo hehehee aku senang disini..” katanya duduk di sampingku.

“aishh jjinja” aku menggeleng-gelengkan wajahku.

Apa aku sudah bilang hari ini dia sangat tampan? Aih jjinja.. dia memakai celana panjang hitam dengan kaos biru langit. Rambutnya yang sedikit kecoklatan dengan poni yang menjuntai di sebelah kiri. Tampan.

Dia ikut menyandar dan mengadahkan kepalanya keatas. Ah? Matanya terpejam, dan…. ia mengerutkan dahinya. Apa yang sedang ia rasakan sekarang?

“oppa.. gwaenchanayo?” aku mengelus kepalanya.

“aniyo chagi.. neomu gwaenchana..” ia menatap ku dan tersenyum. Lagi-lagi senyum itu..

Aku tau dia berbohong. Ah oppa, kenapa kau berbohong padaku? Apa kau tak bisa mengatakannya padaku? Istrimu ini?

“kajja, kita makan.. aku lapar” ia menarik tanganku lalu menuju restoran kecil di shappire world ini.

Aku hanya mengikutinya, sambil tidak melepaskan tatapanku padanya. Kenapa dia begitu senang sedangkan aku begitu cemas seperti ini?

Semoga ia baik-baik saja.

——————————————————————————————————————————————-

“oppa, hajja kita pulang” aku menggenggam tangannya yang ada di atas meja. Tersenyum dengan terpaksa. Aku tau dia lelah sekali.

“tapi chagi, ada satu tempat lagi yang ingin kudatangi bersamamu. Ya?” ia meletakkan tangannya yang lain diatas genggaman tanganku.

“oppa… tapi….”

“jebal MinAh~” ia memelas padaku.

Ah Aku tak bisa berkata apa-apa lagi bila wajahnya sudah seperti itu. Dia selalu meluluhkan hatiku.

Bersikap tegas melarangnya? Aku tak tega

Aku hanya tersenyum dan mengangguk. Kini senyum manis nya mengembang di wajahnya. Aku suka senyumnya yang itu. Murni. Tanpa unsur kepura-puraan tersirat disana.

“kajjjaaaaaaa” katanya riang dan menarikku dari restoran itu menuju mobil yang di parkirkan tidak jauh dari restoran ini.

When I see you, I feel comfortable.

Even though you don’t like it when I say that.

I’m Happy but you’re still nervous

Sudah setengah jam mobil ini membawa kami, tapi belum ada pertanda mobil ini akan berhenti. Jam tanganku sudah menunjukkan pukul 4 sore.

“Rye, kita mau kemana?”

“sabar chagi, kau pasti suka” katanya lembut, wajahnya masih tertuju pada jalan.

sepanjang jalan yang kami lewati hanya terlihat pohon-pohon hijau rindang. Kulihat angin-angin menggerakkan puncaknya. Aku tak bisa merasakannya karena berada didalam mobil. Tapi yang aku tau pasti, pemandangan di luar ini cukup indah dengan di selimuti langit senja yang indah. Di tambah sepinya jalan ini.. hanya satu-dua mobil yang tadi mendahului kami, membuat aku merasa tenang tanpa harus mendengar suara deru mobil yang lain. Aku menutup mataku. Aku lelah.

——————————————————————————————————————————————-

“MinAh..MinAh” ah aku mendengar suara manis itu. Aku merasakan sebuah tangan menyentuh keningku. Tangan itu mengelus keningku lembut.

“oppa?” kataku sambil mengerjapkan mataku.

“kita sudah sampai chagi…” katanya sambil tersenyum.

Aku mendengar kan suara desiran indah. Aku mengadahkan kepalaku keluar jendela.

Aku membulatkan mataku tak percaya.

Laut?

Aku menoleh kearah ryeowook. Ia tersenyum lagi.

“kau suka?” tanyanya.

Aku hanya mengangguk cepat dan segera keluar dari mobil.

Aku berjalan pelan sambil merentangkan kedua tanganku. Ah indah~

Aku menyukai laut..

Angin-angin lembut menyapu wajahku. Terasa menyegarkanku. Seakan angin-angin itu ikut menerbangkan segala rasa lelah dan kantuk yang tadi menjalar pada diriku.

Kuhirup udara disini. Sejuk sekali~ Aku menutup kedua kelopak mataku. Mencoba merasakan lebih perasaan ini. Aku benar-benar menikmatinya.

Ah? Sepertinya aku melupakan sesuatu?

Aku merasa ada dua tangan yang memeluk tubuhku dari belakang.

“oppa?” kataku sambil membuka mataku dan menggenggam tangannya yang masih melingkar ditubuhku.

Ia meletakkan dagunya dibahu kanan ku.

“MinAh.. kau melupakanku.” Katanya manja

“hihihi maafkan aku oppa.. kau tau, aku sangat menyukai laut kan?” aku tertawa dan mengelus kepalanya dengan tangan kananku.

“jadi? Kau lebih mencintai laut daripada aku?”

“aniyo oppa, tentu saja aku lebih mencintaimu..”

“hahahah baguslah..”

Kami terdiam sambil terus menatap laut.

Hanya gesekan angin di telinga kami yang mengisi suara diantara kami.

Di saat-saat seperti ini.. mengapa dunia tidak berhenti berputar? Menyisakan kami berdua dalam keadaan hangat seperti ini. Tak memisahkan diri satu sama lain? Aku harap waktu benar-benar berhenti sekarang. Ini indah..damai sekali bila kami berdua menghabiskan waktu seperti ini.

“chagi..” katanya membuka suara..

“hm?”

“apa kau akan selalu mencintaiku?”

“tentu saja oppa.. kenapa kau bertanya seperti itu?”

“walaupun aku tak sempurna seperti ini? Kau akan terus begini? Mencintaiku? Tetap bersamaku?”

Aku terdiam sejenak. Ya tuhan, pertanyaan apa ini?

“apa kau meragukan aku oppa?”

“ah aniyo, bukan begitu” katanya sambil lebih membenamkan wajahnya di bahuku.

Aku melepaskan tangannya dari tubuhku, memutar badanku dan memeluknya.

“oppa, aku tidak akan berhenti mencintaimu. Kau tau pasti itu kan? Aku tak butuh orang lain yang sempurna. Aku hanya membutuhkanmu. Aku akan terus berada di sampingmu. Mendukungmu. Disaat sedih mu, senangmu, sehatmu, sakitmu.. seperti janjiku saat kita berdiri didepan altar pernikahan 2 bulan lalu. Kau ingat kan?” baiklah, aku menangis saat mengatakan semua ini. Bukan Karena aku ragu dengan semua hal yang barusan kuucapkan. Tapi karena aku benar-benar yakin dengan semua itu.

“oppa, tetaplah di sampingku” lanjutku.

Ia membalas pelukanku. memelukku lebih erat. Ia mengelus rambutku.

“saranghae..neomu saranghae MinAh-ya..” gumamnya tepat ditelingaku.

“nado oppa.. saranghae, neomu saranghae..” kataku dengan suaraku yang bergetar.. aku masih menangis..

Ia melepaskan pelukannya. Tangannya memegang kedua bahuku. Perlahan wajahnya mendekat. Aku menutup mataku. ku rasakan bibir lembutnya mendarat di bibirku. Lama..

Sampai Aku merasakan..bibirku…. asin..?

Dia melepas bibirnya perlahan dan..

BRUKK

Ya tuhan bila ini mimpi buruk, aku mohon bangunkan aku sekarang juga! Sekarang!

Ige mwoya? Mwoyaaa?

Aku mengusap bibirku yang tadi terasa asin…

Hm?darah? tapi…tapi aku yakin ini bukan darahku.

Dia tergeletak di depanku dengan darah mengalir dari hidungnya. Pemandangan apa ini? Apa?

Pertama kalinya aku melihat ia tak berdaya seperti ini. Ingin aku berteriak sekeras-kerasnya. Tapi rasanya lidahku kelu. Bibirku tak bisa bergerak. Tenggorokanku tercekat.

Ada apa ini?

Aku menjatuhkan tubuhku di sebelahnya. Kakiku lemas tak dapat menopang lebih lama untuk menahan beban tubuhku saat melihat apa yang ada di depanku. Aku mencari letak jantungnya.. benar jantungnya! Di sebelah kiri bukan? Tapi kenapa tidak ada detakan sedikitpun? Apa jantungnya pindah ke sebelah kanan? Tapi apa itu mungkin?

Kenapa aku merasa sesak? Tak dapat bernapas.. apa di laut ini tak ada udara? Aku melihatnya lagi. Aku lupa satu hal.. bagaimana aku bisa bernapas sedangkan namja yang ‘seakan’ menjadi nafasku sedang tergeletak tanpa detakan di jantungnya?

Tangisku meledak. Air mataku mengalir deras. Kenapa sekarang? Apa harus sekarang aku melepasmu? Tidak! Tidak! Aku tak mau dan takkan pernah mau!

Laut ini penuh dengan tangisku. Seakan ikut bersedih, matahari ikut terbenam…

Segera aku mengambil ponsel di sakuku yang berkali-kali ponsel itu jatuh Karena tangan ku yang tak berhenti bergetar hebat. Aku menekan tombol hijau saat menemukan nama oppa ku di list contact .

“yooboseo?”

“op…oppaaa..pa.. oppa..”

“ya? Ya? Waeyo MinAh? Kau menangis?”

“to..tolong..ak..kuu..to..long.. hkk..ryeo…ryeo..wook..hikk..jeb..jebal..”

“ryeowook? Ada apa? Kenapa dia? Hya! Eoddiya?” kurasakan heechul oppa ku cemas mendengar suara yeodongsaeng nya ini. Aku tak dapat menggambarkan bagaimana suara lemas ku dapat didengar oppa kesayanganku itu.

“laut, la..ut..tim..timur oppa… laut.. timur.. ppali op..pa..jeb..jebal..”

“ne’ ne’ aku kesana.. tunggulah” klik.

Aku melihatnya lagi. Ya tuhan wajahnya pucat. Tak ada keindahan yang seperti biasa terselimut di wajahnya. Tak ada lagi senyuman manis yang selalu terbentang di wajahnya. Tak ada. Sedikitpun tak ada.

“op..pa! hya oppa! IREONA! IREONAA! Apa kau mau meninggalkan aku? Bagaimana dengan aku? anak kita? Oppa!!, aku tak mau sendiri disini! Oppaaaaa!” aku mengeraskan suaraku. Walaupun sulit. Sakit. Hatiku seperti kosong. Ragaku hampa.

Tak ada reaksi dari tubuhnya. Aku guncangkan lagi tubuhnya.

Sia-sia.

Ahh aku tak ada kekuatan lagi.

Tubuhku benar-benar lemas.

BRUK.

Aku tak ingat apapun lagi.

——————————————————————————————————————————————-

Don’t doubt, Don’t torture your self.

Actually, This is a pure love.

Segaris cahaya menyilaukan mataku. Ah darimana asal cahaya ini? Oh lampu kah? Terang sekali. Pusing. Rasanya kepalaku berputar-putar. Aku masih mengedip-ngedipkan mataku agar terbiasa. Sesekali aku mengusap mataku dengan kedua tanganku yang masih lemas. Apa yang terjadi? Dimana ini? Dinding-dindingnya putih. Bukan warna dinding yang aku kenali. Sepertinya aku sedang tidak di kamar ku.

Klek

Pintu ruangan ini terbuka dan memperlihatkan seorang namja yang langsung menghampiriku.

“minAh… kau sudah sadar?” kata heechul oppa mengelus dan mencium keningku.

ia tersenyum , yang menurutku sedikit di-pak-sa-kan?

“oppa, dimana ini? Rumah sakit?” tanyaku sambil berusaha untuk duduk.

Ia hanya mengangguk pelan.

“kenapa aku ada disini?”

“……” Ia tak menjawab dan malah memeluk erat tubuhku.

“oppa? Waeyo?”

“kau harus sabar sayang” katanya lagi dengan suara pelan tapi cukup untuk aku dengar.

Kurasakan dagunya yang menopang bahuku bergetar. Apa…… ia menangis?

Apa maksudnya? aku mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi sebelum ini. Aku berpikir keras, berusaha mendapatkan jawaban sendiri tanpa harus kembali menanyakannya lagi pada oppaku yang masih memelukku ini.

Hmm tadi pagi aku pergi ke shappire world juga makan di restoran disana.. lalu ke laut bersama..ryeowook..dan…

oh ryeowook? Dia…tadi dia.. ya Tuhan aku melupakan kejadian buruk tadi.

Aku segera melepaskan pelukan heechul oppa dan menatap matanya yang basah. Benar saja, ia menangis.

“oppa? Dimana ryeowook oppa? Bagaimana keadaannya? Tadi…tadi dia…”

“MinAh.. tenanglah.. dengarkan oppa baik-baik..huuff” ia menahan kata-katanya.

“ relakan dia, biarkan ia tenang disana. Kau..kau tak ingin dia cemas kan?” katanya masih dengan suara pelan sambil mengusap mataku yang mulai mengeluarkan butir-butir bening.

Benar, sekarang aku ingat semua peristiwa mengerikan itu. Aku mengingatnya.. wajah terakhirnya…

“a-a-a-a,,,andwae! I-ini tidak benar kan? Tidak, tidak benar.. Andwae! ANDWAE!!!!!” teriakku mengisi ruangan. Aku tak percaya. Ini tidak benar kan? Ini hanya mimpi buruk kan?

“MinAh..MinAh..uljima, uljima.. tenanglah”

“op..oppa..ryeowook oppa.. andwae.. hikss andwae! andwae!!” airmataku mengalir deras.

“MinAh..” heechul oppa membenamkan wajahku ke dalam pelukannya. Membiarkan aku menangis keras disana.

“op..pa..oppa.. kenapa ia meninggalkan aku se..secepat ini oppa? Hikss rye…ryeowook oppa!!”

“uljima MinAh… aku tau ini berat untukmu MinAh.. rela kan ia minAh.. biarkan ia di surga”

“aku…aku tak bisa oppa!! AKU TAK BISA! Hiks hiks..otteokhae? Aku..aku..hiks” tangisku makin meledak.

Heechul oppa tetap memelukku, berusaha menenangkanku yang sulit menerima semua ini. Ia mendengarkan segala tangisku, keluhku, bahkan teriakkanku yang pasti membuat telinganya sakit, meluruskan segala pikiranku agar dapat berpikir dengan jernih dan tenang kembali.

Setelah aku mulai tenang, tangisan dari bibirku berhenti, butir-butir air yang tadi deras membasahi seluruh wajahku mulai mereda, heechul oppa melepaskan pelukannya..

Ia mengusap pelan mataku yang basah, juga matanya sendiri. ia berusaha tersenyum walaupun terasa getir. Rasanya pasti sulit sekali.

“apa kau mau oppa antarkan ke ruangan ryeowook?” tanyanya hati-hati.

Aku hanya mengangguk lemah dengan beberapa airmata masih mendesak keluar di ujung mataku.. Bibirku masih bergetar.

Apa nanti aku mampu melihatnya terbaring lemas?

#FLASHBACK END

When you give off that lovely smile with you eyes,

You’re beautiful, Eye blinding.

“OPPA..hiks..OPPA!!” suara tangisku terus menjalari ruangan ini.

Kenapa kau harus pergi?

Kita berjanji kan untuk terus bersama?

Bagaimana janji kita berdua di altar pernikahan 3 bulan lalu.

Tapi mengapa justru penyakit itu yang memisahkan kita?

Aku egois? Iya, aku egois. Aku memaksa untuk tetap menikah denganmu walaupun aku tau bagaimana penyakit yang akan membuatmu terpisah denganku kapan saja.

Sekali itu aku boleh egois kan? Aku mencintaimu.

Tapi sekarang…

Tidak ada lagi yang bisa mengusap mataku saat menangis.

Tidak ada lagi yang bisa tersenyum padaku sepertimu.

Tidak ada lagi suara pisau yang akan membangunkanku.

Tidak ada lagi yang akan menggengam tanganku.

Tidak ada lagi yang akan mendekapku sehangat pelukanmu.

Tidak ada lagi yang akan menemaniku tidur.

Tidak ada lagi suara tawamu yang membuat ku bahagia.

Tidak ada lagi yang…

Ah aku tak sanggup lagi melanjutkannya.

Tidak ada lagi. Tidak ada ryeowook lagi.

Tidak ada lagi suamiku yang kucintai. Tidak ada lagi appa dari janinku, dari anakku nanti.

Bagaimana aku melanjutkan semua ini?

Sehari pun, ah tidak. bahkan semenit pun mungkin aku tak akan sanggup.

Di rumah ini, rumah impian kita.

Yang walaupun belum lama kita tempati, sudah terlewati banyak kenangan indah.

bisakah kau datang sekali lagi?

Dan beritahu apa yang harus aku lakukan sekarang?

Aku tau banyak yang menyayangiku.

Umma, appa, heechul oppa, umma-mu dan appa-mu.

Teman-temanku.

Tapi, tapi..

Aku tetap tak bisa.

Ku gerakkan tubuhku yang masih di sertai dengan isakkan di bibirku ke arah pecahan-pecahan piring tadi.

Aku memegang pecahan yang paling besar dan…tajam.

Aku terus memperhatikan pecahan itu dan pikiran gila langsung berkelebat di dalam pikiranku.

Ini yang aku butuhkan agar dapat bertemu lagi denganmu.

Dan dapat terus bersamamu. Abadi.

“oppa..hiks tunggu aku. Bersiaplah hiks untuk bertemu lagi hiks denganku”

Aku mengarahkan pecahan itu pada pergelangan tangan kiriku, dimana urat nadi terbentang dengan banyak darah segar mengalir disana.

Kuurungkan sejenak posisiku barusan dan aku meletakkan tangan kiriku pada perutku, rahimku.

“anakku, kita akan hiks bertemu dengan appa-mu. Kita hiks akan bahagia disana hiks…selamanya..”

Ku arahkan lagi pecahan tadi untuk membelah urat nadiku.

“oppa, aku datang”

I think of you just once a day.

It can’t be more, because I’m saving you up.

THE END

——————————————————————————————————————————————-

Berikan penilaian kalian tentang FF ini di kolom komentar. Don’t be silent reader ya ^^

Pos ini dipublikasikan di Fan Fiction, K-DID dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Don't be silent reader, tulis komentarmu di sini ^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s