[FF] Aku Takut (무 서 워 요 : Museowoyo)


@We_LoveKDrama

@We_LoveKDrama

Nama: Siya

Nickname: Eoran and Oraonokjenenge

 Akun Twitter: @EOraon

 Title FF: AKU TAKUT [무 서 워 요 : Museowoyo]

 Genre: Romance

 Main Casts:

  • Strawberry Caramel
  • Ren ( Choi min ki) Nu’est

 Supporting casts:

  • All member Nu’Est

Length: Oneshot

——————————————————————————————————————————————-

“Caramellll!!!”

Brukk!

Dukk!

“Aw!!”

Errr… Pagi yang indah. Tunggu! kuralat. Lebih tepatnya pagi yang menggemparkan! Dibangunkan dengan teriakan merdu. Di lanjutkan jatuh dari kasur empukku. Dan lantai menyambutku dengan begitu ‘nyaman’ dalam artian buruk.

“Nenekkkk!! Caramel udah bangun!! bisakah berhenti berteriakkk!” pekikku kesal sembari mengelus kepalaku yang kejedot lantai.

Tepat jam 6 pagi di seoul, dan itu berarti waktunya aku pergi ke sekolah. Sejak lulus SMP di Indonesia, ayah dan eoma menitipkan ku kepada nenek yang super duper cerewet. Alasan mereka menendangku ke negara gingseng ini…

“Eomma dan ayah harus mengembangkan bisnis ke Amerika. Jadi, biar pengeluaran kita tidak terlalu banyak lebih baik Caramel ikut nenek saja. Lagi pula sebentar lagi Caramel akan menjadi warga negara Korsel.” Jelas eommaku panjang lebar sebelum meninggalkan aku di sini.

yah… yah… kedua orang tuaku berasal dari negara yang berbeda. Karena itu juga namaku Caramel strawberry. Itu adil bukan? namaku lebih identik dengan negara barat, dan yang pasti namaku mampu membuat air liur siapapun mengalir bagai air terjun.

“High school of Art” itulah nama sekolahku dua tahun ini. Sesuai dengan namanya sekolah ini di khususkan untuk seni, mulai dari musik, lukis dll -yang penting seni. Dan karena bakat melukisku-lah nenek memasukan cucunya ini di salah satu sekolah ter-elit di Seoul. Seperti reputasinya, lebih banyak anak orang kaya yang menuntut ilmu di sekolah ini. Dan yang paling aku benci, mereka semua sombong.

Aku pencinta drama korea dan oleh karena itu aku tak menolak pindah ke negara ini. Dulu aku berfikir F4 itu cuman hanya ada di drama Korea. Seperti BBF drama yang booming di Indonesia-Negara asal ayahku.

Kadang aku tak percaya kalau F4 itu benar-benar ada. Tapi semenjak sekolah di sini,F4 benar-benar ada. Sebut saja mereka NU’EST. Sebenarnya berlima tapi karena salah satu anggotanya sudah lulus dua tahun yang lalu jadi tinggal berempat deh. Seperti halnya F4, mereka adalah murid yang berpengaruh besar. Selain berasal dari keluarga kaya tapi mereka juga adalah boyband papanatas di Korsel.

Tapi aku bersyukur tak pernah berurusan dengan mereka. Lebih tepatnya aku menghindari mereka-atau mungkin karena penampilanku yang culun bagai betty la fea?

Mereka semua tampan tapi mereka bagai F4 nyata di sekolah sehingga aku tidak mau ‘bermain’ dengan mereka.

Hm… Hari-hari di sekolah kujalani dengan rasa tak nyaman. Terlalu banyak murid muna berkeliaran di sini. Memamerkan harta adalah hal wajib bagi mereka. Dan itulah yang membuatku memilih menjadi siswi tak terlihat-Culun. Aku tak memiliki teman di sini. Melihat mereka saja sudah muak apalagi berteman dengan mereka. Oh no!

Dan sejak pertama masuk, aku cuma satu kali ke kantin. Dan jika ada yang bertanya dimana aku menghabiskan jam istirahatku. Jawabannya… Atap sekolah. Dan di sinilah aku sekarang. Duduk bersila. Membuka mulut lebar-lebar dan bersiap-siap melahap bekal favoritku.

“Telur orak arik, Sepertinya itu enak?”

Bagus! siapa yang berani-beraninya mengganggu ritual makanku, Kesal? jelas-lah!

Kuputar kepalaku dengan kesal. Mengarah ke asal suara tepat di balik punggungku. Akan ku tendang jika dia- ucap batinku menggantung.

Mataku melebar. Apakah ini mimpi buruk? atau ini pertanda buruk? Sepertinya ini dua-duanya. Begitu sadar dari rasa kagetku. Aku bergegas berlari kencang meninggalkan tempat itu. Otakku memberi perintah cepat padaku untuk menjauhinya. Menjauh menghindari malapetaka. Aku tidak mau berurusan dengan salah satu member NU’EST! Aku tidak mau senasib dengan tokoh utama wanita dalam drama BBF. Endingnya memang happy tapi drama dan dunia nyataku berbeda.

Nafasku memompa cepat. Berlari dari atap sekolah-lantai 5- sampai ke lantai dua sudah pasti membuatku lelah.

“Ya Tuhan lebih baik Engkau pertemukan aku dengan hantu dari pada dengan salah satu dari mereka. Syukurlah aku bisa menghindarinya huft…” gumamku lega sambil membelai dadaku lembut.

——————————————————————————————————————————————-

Sial! Sejak kejadian kemarin aku terpaksa makan bekal di kelas. Aku masih takut bertemu dengannya. Untung saja kelas selalu sepi saat jam istirahat jadi aku bisa bebas makan.

Kubuka kotak bekalku. Telur orak arik buatan nenek adalah favoritku. Kubuka mulutku lebar-lebar, bagai singa siap melahap mangsanya.

“Ternyata kamu disini!”

Tuhan… Kemana hari-hari damaiku di sekolah ini. Dengan terpaksa kututup rapat mulutku. Lalu kuputar kepalaku kearah pintu kelas dengan kesal, lebih tepatnya ke asal suara itu.

Mataku kembali melebar. Otak dan kakiku menyuruhku lari tapi jalan keluarnya cuman pintu itu! Bagaimana ini? batinku gugup.

“kamu mau kabur lagi?”tanyanya datar.

“…” aku cuma diam dengan kaki dan tubuh yang gemetar.

Kesimpulannya, aku ini pengecut. Dan aku tak akan peduli dengan predikat itu. Karena itulah kenyataannya.

“Jangan kabur lagi, aku tak akan membunuh mu.” ucapnya datar seraya melangkah pelan ke arah tempat dudukku.

Aku langsung meringkuk rapat dengan kepala menunduk takut. Berharap ini semua hanya-lah mimpi buruk.

“Ini… Kemarin kau meninggalkan bekal makan mu” ucapnya sembari menyodorkan kotak bekalku dengan nada datar.

“Eh…” aku mendongak dengan wajah begok “te-rima kasih” kataku dengan suara bergetar dan dengan cepat, ku ambil kotak itu dari tangannya.

Sekilas ku lihat dia tertawa kecil. Tawanya mampu membuatku membeku kagum. Benar-benar manis… Apa? Tidak! Tidak! Aku menggeleng cepat menyadarkan diriku yang hampir terpesona olehnya. Radar di otakku memberi tanda agar aku menjauh dan menjaga jarak darinya.

“Maaf, karena bekal mu begitu menggoda. Aku jadi lapar. Dan ini…” ujarnya sembari menyerahkan kartu tanda pelajarku.

Aku benar-benar ceroboh. Bukan hanya kotak bekal yang aku tinggalkan tapi juga kartu ini. Dengan pipi yang merona karena malu, ku ambil kartu itu. Dan menunduk mengucapkan terima kasih lagi.

“Untung saja kartu itu ikut tertinggal, kalau tidak aku tidak akan bisa mengembalikan kotak bekal mu.” jelasnya.

“Maaf aku merepotkan mu… Maaf” sesal ku dengan menunduk kembali.

“Sudahlah, aku juga salah. Kamu bawa telur orak arik? Boleh aku memintanya?” pintanya seraya menarik salah satu kursi di samping mejaku. Dan dia langsung duduk lalu memakan bekalku tanpa menunggu persetujuanku. Hei! pergi ke mana urat malunya? Dia benar-benar tak sopan. Apa dia benar-benar orang Korea?

Aku hanya bisa melongo dengan bibir selebar huruf O.

“Telur orak arik mu benar-benar enak” ucapnya disela-sela dia melahap bekalku. Aku hanya bisa memanyunkan bibirku, aku kesal tapi seperti yang kubilang tadi. Aku terlalu pengecut untuk memarahinya.

“Ren!”

Dia menoleh menghentikan makannya dan melihat si pemilik suara yang memanggilnya. Matanya memutar seakan merasa terganggu dengan temanya yang tiba-tiba hadir diantara kami, atau lebih tepatnya datang pada saat dia lagi asyik makan-bekal ku.

“Ren apa yang kau lakukan disini?!” Omel temanya kesal.

Dia tidak menjawab malah melanjutkan makannya yang tertunda. Temannya, sebut saja JR terlihat marah karena dicuekin oleh Ren.

JR melangkah dengan kesal kearah kami. “Ren!” pekiknya.

“Ada apa? Kau tidak lihat? Aku sedang makan bodoh!” ujarnya tak suka.

JR memutar matanya.

“Sudahlah terserah kau. Tapi sekarang kita harus bertanding basket, sebantar lagi pertandingannya akan di mulai!” ucapnya galak.

“Ck! Iya baiklah!” ia menutup kotak makan-ku.

“Ayo!” ajaknya padaku.

Tunggu! Dia mengajak siapa?

“Ka- kamu mengajakku?” tanyaku terlihat bodoh.

Ia menaikkan sebelah alisnya.

“Aku mengajak mu-lah… Ayo! ” tanpa menunggu jawabanku lagi. Tangan kanannya menarikku sedangkan tangan kirinya memegang kotak bekal makan-ku.

Kening JR terlihat berkerut namun ia kembali bersikap acuh. Dan melangkah menyusul Ren yang menarikku dengan brutal. Saatku bilang brutal itu benar-benar brutal.

Aku ingin berontak, dan lari. Tapi rasa takutku terlalu mendominasi membuatku hanya diam pasrah bagai boneka tak bernyawa.

Sesampainya di lapangan basket Ren memberiku tempat duduk di samping para pemain pengganti. Dan jika ada yang bertanya bagaimana reaksi seluruh penonton alias para siswi yeoja itu? Jawabannya sudah sangat jelas. Mereka semua menatapku bagai mangsa yang siap untuk di telan hidup-hidup.

“Pegang kotak bekalmu, baju uniformku dan jangan lari. Atau seluruh gadis gila disini akan menerkam mu! Mengerti?” ujarnya memperingatiku.

Aku hanya mengangguk pelan. Seluruh badanku menjadi gemetar. Aku hanya menunduk, berharap setelah kejadian ini tak akan ada yang berencana meng-bullyku.

Sepertinya Ren menyadari ketakutanku. Tiba-tiba dia berjongkok. Memegang tanganku yang dingin dengan lembut. Dan mataku melihatnya tak percaya-lebih tepatnya seluruh manusia yang ada di lapangan ini juga begitu- Sudut bibirnya ditarik membentuk senyum kecil menenangkan.

“Tenanglah selama bersamaku kau pasti aman.” Dan entah setan apa yang merasukiku, begitu mendengar ucapannya senyumku mengembang tulus. Dan jantungku memompa lebih cepat. Ucapannya bagai sihir yang menenangkanku.

“Kau lebih manis kalau tersenyum, semanis nama mu… Caramel” Puji Ren.

Aku yakin! Pipiku pasti merona semerah apel. Aku langsung menunduk malu. Terdengar Ren tertawa renyah seraya bangkit berdiri namun ia sedikit mencondongkan tubuhnya, lalu… dia mencium dahi ku. Mwo!

Jantungku terasa lebih kencang berbunyi, seakan mau meledak. Seluruh orang di lapangan ini berteriak kaget. Tapi teriakan dan bisikan iri mereka seakan tak terdengar bagiku. Saat bibir hangat itu menyentuh keningku begitu lama nan lembut.

Dan lebih bodohnya lagi, aku seakan menolak jika ciuman itu berhenti. Pipiku sekarang benar-benar bagai warna merah bendera negara Indonesia. Sangat merah dan malu, tapi aku juga senang.

“Ren! sampai kapan kau mau bermesraan dengan yeojachigumu, hyungmu ini jauh kesini bukan mau menonton drama romantis mu!” Protes Aron di salah satu kursi penonton. Dan dia-lah anggota NU’EST yang lulus dua tahun lalu.

Mendengar teriakan itu rasa maluku semakin mendominasi dan aku hanya bisa menunduk takut. Mencengkram erat kotak bekal dan baju uniform Ren.

“Arggh! Hyung bisakah kau diam! Kau membuat chagiku takut!” Balasnya tak terima.

Mwo! Chagi! Sejak kapan? Oh no! Pasti seluruh yeoja di sekolah ini akan memenggal kepalaku. Ren aku mohon diam dan bertandinglah. Kau benar-benar ingin membunuhku? Hatiku terus menggerutu khawatir dengan nasibku setelah ini.

Pertandingan-pun dimulai. Semakin waktu berjalan suasana lapangan ini semakin tegang. Begitu-pun dengan hatiku yang was-was. Bagaimana tidak? seluruh mata yeoja disini benar-benar siap membunuhku.

Entah sudah berapa kali aku menelan ludah. Apa yang harus ku lakukan agar semua hal ini tak terjadi?

“Kenapa dari tadi kau menunduk saja? Apa kau tidak mau melihat namjachigu mu bertanding?” Tiba-tiba suara Aron datang menegurku.

Aku tidak berani menatapnya. Hanya bisa menggeleng takut.

“Hm… Jika tidak mau menonton, setidaknya jangan menunduk seperti manusia teraniaya. Kau membuat konsentrasi Ren tak fokus. Permainannya buruk.” ucap Aron seraya terus menatap pertandingan basket itu.

Mendengar sesuatu tentang Ren. Apalagi hal buruk, kepalaku langsung melihat kearah Ren yang sedang bertanding. Aku merasa khawatir. Entah kenapa aku takut dia terluka. Sekarang bukan hanya ucapan lembutnya yang menyihirku tapi juga namanya dan segala hal tentangnya.

Aron tertawa kecil melihat reaksiku. “Sepertinya Ren berhasil menarik hati mu.”celetuknya, “Nah, Kalau kepala mu tak menunduk seperti tadi, Ren pasti lebih semangat” ujarnya seraya tersenyum.

Aku hanya bisa terdiam malu. Tapi syukurlah Ren tidak apa-apa. Rasanya lega melihatnya baik-baik saja.

Jujur aku sedikit menyesal melewatkan 30 menit pertandingannya. Ren terlihat sangat manis. Walau face-nya secantik yeoja-androgini korea. Tapi jiwa laki-lakinya masih benar-benar terlihat. Dia tampan dalam versi-nya. Dengan rambut pirang terikat, poni tengah menutupi alis benar-benar membuatnya terlihat manis. Seragam basketnya yang basah, gayanya bermain basket, dia terlihat sexi.

Dan tanpa sadar bibirku mengembang membentuk senyum. “Dia sangat maniskan?” kata Aron.

“Sangat, sangat manis” ucapku tanpa sadar.

“Ren benar-benar pencuri ulung” celetuknya seraya terkekeh.

“Apa?” pekikku tersadar.

“Dia berhasil mencuri hatimu dengan pesonanya.” kata Aron seraya tersenyum tipis.

OMG! karena pesona Ren mulutku begitu bodoh terpancing. Dan bukan hanya itu, setelah beberapa menit mata ku tak bisa lepas menatap sosoknya. Tiba-tiba mata Ren membalas tatapanku. Ia tersenyum tipis seraya memainkan bola orange-nya. Pipiku semakin memerah. Aku kembali menunduk malu sepanjang waktu pertandingan tersisa sampai pertandingan berakhir.

“Chagi bagaimana pertandinganku? Apa permainanku jelek?” ucap Ren terlihat kecewa.

“Ah, Tidak! Permainan mu bagus kok!” jawab ku cepat. Aku serasa tak rela melihatnya sedih.

“Tapi kenapa chagi terus menunduk?” tanyanya dengan wajah imutnya.

Jiahh! Nih namja sengaja bikin aku malu yah. Arghh! Untung pipiku bukan bom kalau tidak, pipiku ini pasti meledak.

“Itu…itu… It-”

“Ne… Aku mengerti.” potongnya seraya terkikik.

“Mwo! Kau menjahiliku?” teriakku pura-pura kesal.

Ia kembali terkekeh “kau begitu manis kalau lagi malu-malu.”

Mata ku kembali melebar dan pipiku ingin segera meledak. Dengan cepat aku menunduk malu.

“Ren sudahlah… Jangan menjahilinya lagi… Caramel jangan hiraukan namja pabo ini” tegur Baekho.

“Ren kau benar-benar maknae evil NU’EST” Timpal Min hyun. Dan disusul tawa seluruh member NU’EST.

Aku hanya bisa menunduk malu. Lebih tepatnya menahan malu. Tuhan bisakah Engkau mengambil urat maluku sekarang?

——————————————————————————————————————————————-

Sejak kejadian di lapangan basket kemarin atau sejak bertemu dengannya. Masa-masa sekolahku yang tenang, damai dan tentram. Berubah 180 derajat, seluruh murid menatapku tajam. Berbisik mencemooh dibelakangku. Kadang ada yang mengunciku di kamar mandi seharian. Melemparku dengan telor busuk, tepung, mungkin setelah ini mereka akan menyirami ku dengan minyak. Dan akhirnya aku akan menjadi manusia crispy pertama. Mereka semua melakukannya saat aku tak bersama Ren atau member NU’EST yang lain.

Bullying hal yang paling ku hindari selama dua tahun ini. Tapi kenapa sekarang aku harus mengalaminya.

Dan sejak hari itu pula aku menjauhi Ren. Mencoba hilang dari pandangannya. Aku tak mau semuanya jadi lebih runyam.

Lamunanku membuat ku tak sadar melangkah ke atap sekolah. Sudah satu minggu aku tak pernah ke sini. Rindu rasanya dengan tempat rahasiaku ini.

Selain sepi, hal yang palingku sukai adalah pemandangannya. Berdiri disini membuatku bisa melihat sebagian kota Seoul dari atas. Sangat indah apalagi dengan hembusan angin yang membelai rambut pendekku. Rasanya segala bebanku hilang terbawa hembusan angin ini.

“Sangat indah bukan?”

Aku langsung tersentak kaget. “Ren?! Kenapa bisa-”

“Disini? Aku mencari mu chagi, aku rindu hm.. bukan! Maksudku, aku sangat merindukanmu.” ucapnya dengan nada datar dan pura-pura kesal.

Pipiku langsung memerah dan aku hanya menunduk. “Kenapa kamu tidak langsung kabur? Biasanyakan kau selalu kabur jika melihat ku?”ujarnya.

“Mwo!” begitu mendengar ucapannya. Aku baru sadar, ini bukan seperti aku. Tubuh dan fikiranku berubah. Aku menggeleng pelan “Aku lelah” kataku pasrah. Oh no! Apa yang ku ucapakan? Lelah?! Benarkah?

Aku memang lelah tapi kenapa aku sejujur ini padanya? Kenapa mulutku begitu lancang?

Tiba-tiba tangan hangat Ren membelai puncak rambut ku, bagai peliharaannya aku tak marah bahkan senang dan merasa sangat nyaman. “Maaf aku membuatmu lelah seperti ini…”ucapnya dengan lembut.

“Bu-bukan it-” ucapan ku terpotong karena tiba-tiba dia menarikku ke dalam pelukannya.

Aku terdiam membeku. Rasanya nyaman. Sangat nyaman… “Dengar?” ucapnya sembari memelukku lebih erat. Dahiku mengerut tak mengerti.

“Dengar tidak? Setiap aku dekat dengan mu jantungku berdetak lebih kencang. Tapi aku selalu nyaman bersama mu…”katanya bagai berbisik pelan.

Aku tersenyum. Perlahan ku pejamkan mataku. Lebih ku rapatkan lagi telingaku pada dada datarnya.

Deg!

Deg!

Deg!

“Sama” ujarku.

“Apanya yang sama?”

“Detak jantungnya sama”

“Sama dengan jantung mu?” tanya-nya.

Aku hanya mengaguk pelan. Dan dia lebih merapatkan pelukannya. Setan sepertinya telah benar-benar merasukiku.

Selama jam pelajaran setelah istirahat kami bolos. Dia memaksaku untuk tetap dalam pelukannya. Dan aku tak akan menolaknya.

“Hm…Ren kenapa kau menyukaiku?” tanyaku gugup.

Dia tersenyum kecil “Kau menjauhi keramaian, memilih jadi murid tak terlihat, kau selalu duduk di atap sekolah pada waktu jam istirahat. Mengomel sendiri sambil makan. Kau unik” jelasnya.

“Unik? Apakah itu buruk atau baik?” tanyaku.

“Dulu aku merasa itu buruk” jawabnya singkat.

“Sekarang?” sahutku tak sabar.

Dia tersenyum perlahan mencondongkan kepalanya sehingga jarak kepala kami hanya beberapa centi.

“Masih buruk. Tapi kelemahan mu itulah yang membuat ku tertarik dan akhirnya-” ucapnya menggantung.

“Akhirnya apa?”sahutku lagi tak sabar.

Dia menyeringai, dan dengan gerakan cepat, bibirnya menyapu lembut bibirku. Seluruh waktu terasa terhenti pada saat dia menciumku dengan lembut. Jangan tanya jantungku, rasanya bagai gendang dangdut yang berdendang dengan kencang. Aku melayang, senang. Oh bukan! tapi sangat senang.

Ciuman itu terasa manis walau tak berlangsung lama. Dia tersenyum menatapku dalam. “Kau tahukan akhirnya?” Ujarnya singkat.

Aku langsung menunduk malu. Pipiku serasa terbakar. Dan aku hanya diam tak berani membalas tatapannya.

“Apa kau masih belum mengerti?” dahinya berkerut saat menanyakan itu.

Aku langsung mendongak takut dia kecewa karena aku tak menjawabnya. “Bukan!”aku menggeleng cepat, “Aku cuma takut…”

“Takut?” dahinya berkerut.

Aku kembali menunduk sembari menggigit bibir bawahku “Aku takut… Aku ini pengecut Ren. Aku takut dibully, kau idola sekolah ini. Sedangkan aku cuma murid cupu, jelek dan hanya bisa bikin malu. Aku-“kata-kata ku terpotong saat bibirnya mencium pipi merahku lembut.

Lagi-lagi kecupan singkatnya ini berefek besar pada ku. Waktu terasa terhenti kembali. Sampai dia melepas kecupannya. Ia lebih mencondongkan tubuhnya. Kepalanya mendekat ke telingaku.

Hembusan nafasnya terasa geli di samping telingaku. “Jika itu alasanmu aku tak akan pernah peduli. Aku tak pernah meminta mereka mengidolakanku, dan siapapun yeoja yang berdiri di sapingku nanti, mereka harus menerimanya.” bisiknya.

Aku memutar sedikit kepalaku, membuat mata kami saling menatap dan hidung kami saling menyentuh. Dalam persekian detik mata ku terpaku pada matanya. Benar-benar tak ada kepalsuan di mata sipitnya. Hembusan nafasnya serasa menyegarkan bagai daun mint.

“Apa yang bisa ku katakan lagi Ren, jika ini keputusan mu aku mau menjadi yeoja yang berdiri disamping mu” ucap ku pelan dengan pipi yang bersemu merah.

“Kau bukanlah yeoja yang akan berdiri di sampingku” ujarnya singkat dan datar.

Dahiku berkerut. Apa aku terlalu GR?.

Dia terkekeh “Kamu… yeoja yang akan melangkah bersama ku dalam satu jalan yang di sebut… jalan cinta” ucapnya lembut. Dan tanpa menunggu aba-aba bibirnya langsung menyapu lembut bibirku.

Aku begitu senang hingga aku ingin waktu berhenti lagi, agar ciuman ini terasa lebih lama.

Ini-lah kisah cinta pertama ku. Dan aku selalu berharap ini akan menjadi terakhir bagiku. Ren namja cantik yang mencuri hal sensitifku. Dia mencuri hati ku dan aku begitu nyaman bersamanya.

Kisah kami memang sederhana namun cinta kami tak pernah bisa di sebut sederhana. Karena cinta anugerah terindah Tuhan. Tak bisa di jelaskan namun bisa dirasakan. Itu cinta bagiku padanya.

Dan jika ada yang tanya bagaimana reaksi para siswi disini. Mereka semakin marah dan selalu mencuri waktu untuk menjahiliku. Tapi sayangnya Ren pindah ke-kelas ku, duduk di sampingku dan terus bersama dengan ku. Bisaku bayangkan betapa marahnya mereka pada ku.

Aku takut? aku tetap takut. Tapi…

“Teruslah takut dengan begitu aku akan terus melindungi mu sebagai namjachigu mu, Chagi… ” ucap Ren.

Dan ucapannya benar-benar menjadi sihir bagiku.

THE END

——————————————————————————————————————————————-

Berikan penilaian kalian tentang FF ini di kolom komentar. Don’t be silent reader ya ^^

Pos ini dipublikasikan di Fan Fiction, K-DID dan tag , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke [FF] Aku Takut (무 서 워 요 : Museowoyo)

  1. jinyeongie berkata:

    Endingnya aku suka!>< "Teruslah takut dengan begitu aku akan terus melindungimu sebagai namjachingumu," aww~ itu so sweet amat *cheesy*
    Tapi kalau menurutku alurnya kecepetan ._. dan ada beberapa typo. Bukan ngebas/ngflame loh, ya? Aku cuma berpendapat aja^^
    well, lumayanlah epepnya^^
    semoga menang, ya?🙂

Don't be silent reader, tulis komentarmu di sini ^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s