[FF] Only One Person


Nama: Chusnul C

Nickname: -chae-

Akun Twitter: @chusveela

Title FF: Only One Person

Genre: Sad, Romance

Main Casts: FT Island Song Seunghyun, Han Chaehyun (OC)

Supporting casts: Super Junior Kyuhyun, FT Island Jonghun

Length: OneShot

——————————————————————————————————————————————-

I want to be that one person eternally, that someone

If you spare me, if I just wish..

You make me almost lonely, I miss you

My solace is as big as my yearning for someone

 

I love you, like this I love you

Slowly your goodness opens my heart

I am here, and I still wish you were

Take my heart forever

I still just want to be your one person

 

I lost my memories of that one person, that someone

I want you to be beside me for ten years..

You have hurt me endlessly and made me insecure,

But you hurt me as much as you make me happy

 

I love you, like this I love you

Slowly your goodness opens my heart

I am here, and I still wish you were

Take my heart forever

I still just want to be your one person.. *)

[Seunghyun POV]

“ Seunghyun ah..” aku mendengar suara Jonghun Hyung memanggilku. Hal tersebut membuatku menghentikan langkahku dan menoleh padanya.

“ Ne, Hyung..wae geuraesseo?” tanyaku padanya.

“ Aaaa..kau melupakan sesuatu..barangmu ada yang tertinggal, Seung..” ujarnya menyerahkan sehelai sapu tangan berwarna kuning ke tanganku. Langsung saja kuambil dan kusimpan ke dalam saku celanaku.

“ Gomawo, Hyung..” aku tersenyum padanya. “ Benda ini sangat berarti sekali bagiku..”

Jonghun Hyung membalas senyumanku dengan senyuman juga. “ Ara..ya sudah..hati-hati..”

“ Ne..aku pamit dulu..” ujarku sebelum meninggalkannya di depan kafe tempatku bekerja. Sebenarnya tidak bisa disebut bekerja juga. Jonghyun Hyung, pemilik kafe tersebut adalah kakak sepupuku. Dia memintaku untuk bernyanyi di kafenya tiap malam. Karena aku menyukai pekerjaan tersebut, jadi ku terima saja tawarannya.

Aigoo..menjelang berakhirnya musim gugur..cuaca sudah mulai dingin..aku merapatkan mantelku..

Seperti biasanya..aku berjalan menuju halte bus..dengan gitar di punggungku..gitar..benda yang selalu ada bersamaku..

BRUKK..

Aku melihat seorang gadis yang jatuh terjerembab di depanku. Tanpa sengaja aku menabraknya. Aigoo..ini karena aku terlalu sibuk melihat ke arah halte bus, sehingga tidak melihat seorang gadis sedang berjalan terburu-buru. Aku mengulurkan tanganku padanya. Wajahnya masih tertutup rambutnya.

“ Jwisonghamnida, Nona..” ujarku padanya.

“ Ne..gwaenchanayo..” dia menerima uluran tanganku.

Suara ini..

Aku mengamati wajahnya yang sudah terlihat agak jelas karena dia menyingkirkan rambutnya ke belakang telinganya.

“ Chaehyun ah?” tanyaku agak ragu. Aku masih mengamati wajahnya.

Gadis itu mendongakkan wajahnya. Ia tampak terkejut melihatku.

“ Song Seunghyun..” ujarnya terbata-bata.

Ternyata benar..dia Chaehyun..Han Chaehyun..

Aku tersenyum padanya. Ya Tuhan..wajahnya masih sama seperti dulu..tidak ada yang berubah sama sekali..

“ Sudah lama sekali ya..” ujarku padanya. “ Apa yang kau lakukan di Seoul, Chae?” tanyaku agak canggung.

“ Ne..ahhh aku baru saja pindah ke kota ini, Seung..” jawabnya, tidak kalah canggung.

Apa yang terjadi pada kami? Kenapa suasana menjadi tidak nyaman seperti ini?

“ Lalu kenapa kau berjalan terburu-buru sekali?” tanyaku lagi.

“ Aku lupa jalan pulang menuju rumah, Seung..” sahutnya pelan. Dia menundukkan wajahnya.

“ Itu sebabnya kau terlihat seperti orang yang sedang kebingungan..kenapa kau tidak menelpon orang tuamu, Chae?” tanyaku penasaran.

“ Ponselku mati..” sahutnya pelan. Wajahnya terlihat sangat kelelahan sekali.

“ Memangnya kau dari mana, Chae?” tanyaku cemas.

“ Aku..” kemudian tubuhnya jatuh menimpaku. Ya Tuhan..dia pingsan..

“ Chae..kau kenapa?” aku menahan tubuhnya agar tidak terjatuh. “ Chae..”

——————————————————————————————————————————————-

Aku membawanya ke rumahku. Setelah merebahkan tubuhnya secara perlahan di atas ranjang, aku mengamati wajahnya.

Kenapa aku tiba-tiba bertemu dengannya lagi? 5 tahun..waktu yang lama sekali..tapi entah mengapa aku masih ingat saat-saat ketika bersamanya.

Aku menyentuh wajahnya, menyingkirkan beberapa helai rambut dari wajahnya.

“ Kenapa aku harus bertemu denganmu lagi, Chae?” ujarku pelan.

[Flashback]

“ Jeogiyo..bibirmu berdarah..” ujar seorang gadis yang tiba-tiba berada di sampingku. Dia meyodorkan sehelai sapu tangan berwarna kuning.

Aku hanya melihatnya dengan tatapan dingin, berharap agar dia meninggalkanku. “ Bukan urusanmu..”

Tiba-tiba dia menyentuh sudut bibirku yang berdarah dengan sapu tangannya tersebut. Hal tersebut membuatku membelalakkan mataku sejenak. Kemudian aku menepis tangannya.

“ Apa yang kau lakukan? Aku tidak suka jika orang lain sembarangan menyentuh wajahku..” ujarku padanya.

“ Aniyo..hanya saja aku tidak bisa melihat orang lain yang sedang terluka..pasti sakit sekali..” sahutnya, tanpa rasa takut sama sekali.

Aku bangkit dari dudukku, kemudian berjalan meninggalkan gadis itu.

“ Ya~ kau mau kemana?” teriaknya dari belakangku, sepertinya dia mengejarku. Aku semakin mempercepat langkahku.

“ Kau murid baru, bukan? Tadi aku melihat anak-anak itu sedang memukulimu..mereka memang anak-anak yang nakal..tunggu saja, aku pasti akan melaporkan mereka ke kepala sekolah..” ujarnya penjang lebar, dia masih berusaha mengejarku.

“ Ya~ namamu Song Seunghyun, bukan? Bukankah kita satu kelas? Aku selalu melihatmu diam saja di kelas..apakah kau..” aku menghentikan langkahku dan membalikkan tubuhku, hal tersebut membuatnya menghentikan kata-katanya.

“ Berhenti mengikutiku..” ucapku.

“ Aku tidak mengikutimu..aku hanya ingin pulang..dan aku harus melewati jalan ini jika pulang..” ujarnya, tersenyum padaku.

“ Terserah kau saja..” ujarku kesal.

Menyebalkan sekali. Kenapa aku harus pindah ke kota ini? Kota yang sangat membosankan. Hanya orang bodoh yang bisa tinggal di kota pinggiran seperti ini.

“ Ya~ Song Seunghyun-shi..kau tinggal dimana? Bukankah kau baru saja pindah ke kota ini?” aku mendengar gadis itu mengajukan beberapa pertanyaan. Aku sama sekali tidak menghiraukannya.

“ Jika kau mau berjalan-jalan, aku bisa mengantarkanmu..aku tahu semua tempat menarik di kota ini..” ujarnya. Aku menghentikan langkahku.

“ Apakah kau menyukaiku? Kenapa kau terus saja mengikutiku?” tanyaku tidak sabar. Dia hanya menatap mataku, kemudian tersenyum.

“ Ne..aku ingin berteman denganmu..karena sepertinya kau tidak punya teman..” sahutnya enteng. Kemudian dia mengulurkan tangannya padaku. “ Song Seunghyun-shi..mari kita berteman..” ujarnya, masih tersenyum. “ Nae iremeul..Chaehyun..Han Chaehyun..”

Apa gadis ini sudah gila? Gadis yang aneh..

Tapi kemudian, aku menyambut uluran tangannya dengan perasaan sedikit ragu. Entah kenapa senyum gadis tersebut mengalahkan akal sehatku..

——————————————————————————————————————————————-

“ Seunghyun ah..apakah kau ada di dalam?” aku mendengar suara Chae dari balik pintu. Kemudian aku melihatnya membuka pintu secara perlahan.

“ Kenapa kau bisa tahu jika aku ada disini?” tanyaku padanya, meletakkan gitar di sampingku.

“ Hanya menebak saja..” dia menghampiriku, sesekali melihat ke sekeliling ruangan. Sepertinya dia agak kurang nyaman berada di tempat ini. Tentu saja, mana ada seorang gadis yang nyaman dengan gudang tua yang sudah kotor seperti ini. Walaupun bagiku, tempat ini jauh lebih nyaman daripada kamarku. “ Apa yang kau lakukan disini, Seung?” tanyanya.

“ Menenangkan diri..” jawabku singkat.

“ Kenapa kau membolos?” tanyanya agak sedikit takut.

“ Hanya malas..” jawabku tak kalah singkat.

Kemudian dia duduk disampingku. Matanya tertuju pada gitar yang tergeletak di samping tubuhku.

“ Kau senang bermain gitar?” dia bertanya lagi.

Aku hanya menganggukkan kepalaku pelan.

“ Nae oppa..dia suka senang sekali bermain gitar..tapi..sayang sekali..dia tidak bisa mewujudkan impiannya sebagai gitaris..” ujarnya dengan nada sedih.

“ Wae?” tanyaku penasaran. Wajahnya terlihat sedih sekali.

“ Karena Tuhan sudah memanggilnya terlebih dulu..tepat saat dia akan mengikuti audisi..” Jelasnya pelan. Matanya tampak berkaca-kaca.

Jadi kakaknya sudah meninggal.

“ Kalau aku melihat benda itu..” dia menunjuk gitarku. “ yang kuingat adalah wajah bahagianya saat memainkan gitar..”

“ Mianhae..” ucapku pelan.

Kemudian dia tertawa. “ Ya~ kau tidak perlu menganggapnya terlalu serius..” dia mengusap sedikit air mata yang hampir saja keluar dari kelopak matanya. “ Ahhh..ne..aku hampir saja lupa..” dia mengambil sesuatu dari tas nya. Bekal makanan.

“ Kau pasti belum makan?” tanyanya, tersenyum padaku. “ Uri eomma..dia selalu membawakan bekal yang sangat banyak sekali..aku tidak pernah bisa menghabiskannya seorang diri..jadi ayo kita makan bersama-sama..”

Dia mulai membuka satu per satu bekal makanannya. Aku hanya melihatnya melakukan semua itu.

Ya Tuhan..perasaan apa ini? Kenapa tiba-tiba aku merasa sangat bahagia sekali?

——————————————————————————————————————————————-

“ Chae..” panggilku pelan. Kulihat Kim Songsaengnim sedang mengajar di depan. Aku tidak ingin dia tahu kalau aku sedang memanggil Chae.

“ Chae..” panggilku lagi.

Kemudian dia menoleh ke arahku, dengan wajah ingin tahu. “Mwo?”

“ Ayo kita keluar..” ujarku padanya, tetap dengan suara yang agak pelan.

“ Mwoya? Sekarang?” tanyanya tidak percaya.

“ Jebal..” aku memohon padanya.

“ Geundae..eottokhae?” tanyanya lagi.

“ Tenang saja..aku yang akan mengurus semuanya..” ujarku percaya diri.

“ Song Seunghyun-shi..” panggil Kim Songsaengnim tiba-tiba. “ Apakah ada masalah? Sepertinya kau tidak memperhatikanku dari tadi?”

“ Ahhhh..aku sedikit tidak enak badan..apakah aku boleh beristirahat sebentar di ruang kesehatan..” ujarku, dengan ekspresi kesakitan.

“ Hmmm..baiklah cepat pergi..aku tidak mau muridku tidak berkonsentrasi jika aku sedang mengajar..” sahutnya.

Yeah..aku beranjak dari bangku, kemudian berjalan pelan menuju pintu kelas. Saat melewati bangku Chae, aku melirik ke arahnya, mencoba memberi tanda padanya agar segera mengikutiku keluar. Gadis itu tampak salah tingkah.

Sebenarnya aku ingin mengajaknya ke suatu tempat. Tempat yang baru saja kutemukan. Dan entah kenapa, saat menemukan tempat itu, hanya ada satu nama yang sangat ingin kuajak ke sana.

Aku tidak menuju ke ruang kesehatan. Yang kulakukan adalah berdiri di koridor dan menunggu Chae keluar dari kelas. Aku yakin dia pasti akan keluar mengikutiku. Beberapa saat kemudian, aku melihatnya berjalan tergesa-gesa ke arahku. Wajahnya tampak penasaran dan tidak tenang.

“ Ya~ kau mau mengajakku kemana? Ini masih waktunya belajar, Seung..” ujarnya pelan.

Tanpa pikir panjang, kuraih tangannya. “ Kkaja..” aku menarik tangannya, sedikit berlari menuju luar sekolah.

“ Ya~ Song Seunghyun..kau mau membawaku kemana?” ujarnya panik.

“ Sudah kau diam saja..aku yakin kau tidak akan menyesal..” jelasku padanya. Aku menggenggam tangannya erat, membawanya masuk ke dalam hutan yang letaknya tidak jauh dari sekolah kami.

“ Ya~ kenapa kita masuk ke dalam hutan, Seung?” tanya Chae dengan nada suara ketakutan.

“ Gwaenchana..tempat itu ada di dalam sana, Chae..lagipula kau tidak perlu takut, ada aku disini..” ujarku mencoba menenangkannya.

“ Memangnya tempat seperti apa yang akan kau tunjukkan padaku, Seung?” tanyanya lagi.

“ Bimil..” jawabku singkat.

“ Ya~” ujarnya.

“ Sebentar lagi kita sampai, Chae..apa kau lelah?” tanyaku cemas.

“ Anieyo..hanya saja..aku tidak pernah pergi sejauh ini ke dalam hutan..orang tuaku selalu melarangku..” jelasnya.

“ Kau pergi denganku..tidak akan terjadi apa-apa padamu..percayalah padaku..” ujarku.

“ Ne..nan mido..” sahutnya, tersenyum padaku.

Aku menyingkirkan ranting-ranting pohon yang menghalangi jalan di depanku. Kemudian aku melihat bunyi gemericik air tidak jauh dari tempat kami. Aku yakin tempat itu sudah dekat. Kuhentikan langkah kakiku.

“ Wae? Kenapa kau berhenti, Seung?” tanya Chae penasaran.

“ Jamkaman..” aku menariknya mendekat, kemudian meletakkan kedua telapak tanganku menutupi kedua matanya.

“ Ya~? Kenapa kau menutup mataku, Seung? Aku tidak bisa melihat apa-apa..” ujarnya panik.

“ Sudah kubilang..ini kejutan, Chae..” godaku.

Aku membimbingnya berjalan di depanku. Berusaha agar kami tidak terjatuh, karena jalan menuju danau yang agak naik turun. Setelah sampai tepat di tepi danau, aku melepaskan tanganku secara perlahan.

“ Ya~ Song Seunghyun..bagaimana bisa kau tahu jika di hutan yang menyeramkan ini ada tempat yang sangat indah?” tanyanya.

Aku tersenyum mendengarkan ucapannya. Tempat yang indah. Aku yakin dia akan mengatakan hal tersebut. Sebuah danau di tengah hutan dengan banyak kupu-kupu yang berterbangan di sekitarnya. Kupu-kupu dengan bermacam-macam warna. Sungguh sederhana sekali pemikiran seorang gadis. Hal-hal semacam itu bisa menjadi sesuatu yang sangat indah bagi mereka.

“ Apakah aku harus memberitahumu?” tanyaku.

Dia menatap wajahku. Hal tersebut membuatkan sedikit salah tingkah.

“ Neomu yeppeuda..sampai-sampai aku ingin menangis..” ujarnya.

“ Jangan terlalu berlebihan, Chae..hanya sebuah danau dengan kupu-kupu yang berterbangan di atasnya..” ujarku padanya.

“ Dasar namja..mereka tidak akan pernah tahu sesuatu yang indah dan tidak..” gerutunya. Dia berjalan mendekati danau. Aku pun mengikutinya dari belakang. Saat kulihat dia mencoba masuk ke dalam air danau tersebut, aku menahan tangannya.

“ Kau mau apa, Chae?”

“ Aku ingin merasakan air danau ini, sepertinya akan menyenangkan sekali..” ujarnya senang.

“ Ya~ bajumu bisa basah..” aku melarangnya.

Kemudian raut wajahnya terlihat kecewa sekali. “ Benar yang kau katakan, Seung..bajuku pasti akan basah jika aku masuk ke dalamnya..”

Dia berjalan menjauhi danau, kemudian menjatuhkan tubuhnya diatas rumput hijau yang tumbuh menutupi tanah di sekitar danau. Matanya tidak lepas dari kupu-kupu yang berterbangan di sekitarnya. Dan entahlah..melihat wajah bahagianya tersebut, membuat hatiku sangat tenang.

“ Ya~ Seunghyun ah..kenapa kau hanya berdiri disitu..duduklah disini..” ujarnya, menarik tanganku agar aku bisa duduk di sebelahnya. “ Bertahun-tahun aku hidup disini, aku tidak tahu jika ada tempat seindah ini..”

“ Itu karena hidupmu hanya kau habiskan di rumah dan di sekolah saja..benar, bukan?” sahutku.

Dia menganggukkan kepalanya. “ Ne..memang seperti itu..sekarang pun, jika Appa tahu kalau aku sedang di tengah hutan besama seorang namja, pasti dia akan marah besar..” ujarnya serius.

“ Seharusnya kau tadi tidak menuruti ajakanku..” ujarku sambil tertawa.

“ Geurae..seharusnya seperti itu..tapi..setelah tiba disini..aku tidak menyesal karena sudah menuruti ajakanmu..” sahutnya, tersenyum padaku.

Hentikan tersenyum seperti itu padaku, Chae..kau bisa membuatku gila.

Perlahan, dia merebahkan tubuhnya diatas rerumputan. Dan entah kenapa, aku juga mengikutinya, merebahkan tubuhku disampingnya.

“ Kenapa kupu-kupu tersebut sepertinya sangat sulit ditangkap ya?” tanyanya, lebih kepada dirinya sendirinya. Dia mengulurkan tangannya keatas, seakan-akan mencoba menagkap salah satu kupu-kupu yang sedang terbang melewatinya. “ Ahhh..suasana disini membuatku mengantuk, Seung..” lanjutnya, mendekatkan kepalanya kebahuku.

Ya Tuhan..apa yang sebenarnya terjadi padaku? Kenapa jantungku berbunyi seperti ini? Semoga saja dia tidak mendengarkannya.

“ Chae..” panggilku pelan.

Tidak ada sahutan darinya. Aku memberanikan diri untuk melihat wajahnya. Matanya terpejam. Aigoo..ternyata dia tertidur. Aku mengubah posisi tidurku sehingga aku bisa leluasa melihat wajahnya. Kemudian aku menyentuh wajahnya dengan tanganku. Menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajahnya.

Sepertinya aku memang sudah jatuh cinta dengan gadis ini..

[Flashback End]

[POV End]

[Author POV]

“ Oppa..”

Samar-samar terdengar suara seorang gadis yang membuat Seunghyun terbangun dari tidurnya. Sontak saja, dia langsung melihat ke arah Chaehyun.

“ Oppa..” gadis itu mengigau. Hal tersebut membuat Seunghyun bangkit dari tidurnya, kemudian beranjak ke arah ranjang dimana Chaehyun sednag berbaring.

“ Oppa?” ujar Seunghyun penasaran. Lalu dia ingat cerita Chaehyun tentang kakak laki-lakinya yang meninggal karena kecelakaan. “ Pasti dia sangat menyayanginya..”

Gadis itu membuka matanya secara perlahan. Saat melihat siapa yang sedang berada di depannya, dia mencoba bangun dari tidurnya. Melihat semua itu, Seunghyun mencoba membantunya bangun dari tidurnya.

“ Gwaenchana?” tanya Seunghyun cemas.

Chaehyun hanya menganggukkan kepalanya. “ Dimana ini?”

“ Rumahku..tadi kau pingsan, Chae..” sahut Seunghyun, masih terlihat cemas atas keadaan Chaehyun.

“ Aigoo..sudah pagi..aku tidak pulang ke rumah, Eomma pasti khawatir..” ujar Chaehyun panik.

“ Bukankah kau lupa jalan pulang ke rumah? Aku akan membantumu, Chae..” ujar Seunghyun.

Kemudian gadis itu menatap Seunghyun lama sekali. Hal tersebut membuat Seunghyun salah tingkah. “ Wae?”

“ Anieyo..kau masih sama seperti 5 tahun yang lalu, Seunghyun ah..” sahut gadis itu. “ Ponselku..” dia mencari tasnya yang ternyata berada di sampingnya. Kemudian dia mengambil ponsel dari dari dalam tasnya. “ Ponselku mati..” ujarnya sedih.

“ Kau pakai ponselku, Chae..” ujar Seunghyun, menyerahkan ponselnya pada gadis itu. Chaehyun meraih ponsel tersebut dari tangan Seunghyun.

“ Gomawoyo, Seunghyun ah..” ucapnya pelan.

“ Gwaenchanayo..” sahutnya singkat. “ Aku ke kamar mandi dulu..” ujar Seunghyun, sebelum beranjak meninggalkan Chaehyun yang sekarang sedang mencoba menelpon seseorang.

“ Apa yang kau pikirkan, Seunghyun ah?” tanya Seunghyun pada bayangannya di cermin. “ Lima tahun..kau yang meninggalkannya..apa sekarang kau mau mengejarnya lagi?”

Seunghyun mengacak-acak rambutnya. “ Aku seperti orang bodoh saja..” gumamnya.

Beberapa saat kemudian dia keluar dari kamar mandi, menghampiri Chaehyun yang masih berada di ranjangnya.

“ Seunghyun ah..apa kau mau menolongku?” tanya Chaehyun ragu.

“ Tentu saja, Chae..” sahutnya cepat.

“ Ibuku baru saja mengirimiku alamat rumahku melalui ponselmu, apa kau bisa mengantarku? Karena aku tidak tahu bagaimana kesana..” jelasnya pelan.

“ Baiklah aku akan mengantarmu..bagaimana kau bisa lupa jalan pulang ke rumahmu, Chae?” tanyaku, tersenyum padanya.

“ Aku baru saja pindah kesini, Seung..wajar saja jika aku belum mengenal kota ini..” jawabnya.

“ Ayo..aku akan mengantarmu..” Seunghyun mengulurkan tangannya, berniat meraih tangan Chaehyun. Tapi gadis itu tiba-tiba menjauhkan tangannya. Hal etrsebut membuat Seunghyun sedikit heran.

“ Sekarang sudah tidak sama lagi seperti dulu, Seung..” ujar Chaehyun.

“ Ahhh ne..mian..” sahutnya.

Chaehyun beranjak dari ranjang, mengikuti Seunghyun yang berjalan menuju pintu.

——————————————————————————————————————————————-

“ Jadi kau tinggal disini?” tanya Seunghyun saat mereka tiba di sebuah rumah yang tidak cukup besar. Hanya saja halaman penuh tumbuhan hijau, membuat rumah tersebut tampak indah.

“ Ne..apa kau mau mampir, Seung?” tanya Chaehyun.

“ Ahhh..lain kali saja, Chae..hmmmmm..apakah kita masih bisa bertemu lagi?”

Chaehyun tersenyum padanya. “ Tentu saja..aku sudah menyimpan nomor ponselku di ponselmu..mian..aku tidak menanyakan padamu terlebih dulu..”

“ Aniyo..gwaenchana..” sahut Seunghyun. “ Baiklah..aku pergi dulu..Chae..” ujar Seunghyun sebelum meninggalkan Chaehyun yang masih berdiri di depan pintu pagar rumahnya.

[Flashback]

“ Chae..” panggil Seunghyun. Gadis yang dimaksud tetap memejamkan matanya. “ Chae..sebentar lagi akan hujan, sebaiknya kita kembali ke sekolah..”

“ Hmmmm..” gadis itu hanya menjawab dengan gumaman. “ Seunghyun ah…” ujar Chaehyun pelan, membuka matanya secara perlahan.

“ Sebentar lagi akan hujan..kkaja..” Seunghyun meraih tangan Chaehyun, membantunya berdiri dari tidurnya.

“ Aigooo..sudah hampir malam..kenapa kau tidak membangunkanku, Seung?” tanya gadis itu panik.

“ Tidurmu damai sekali, Chae..mana mungkin aku tega membangunkanmu..” elak Seunghyun. Alasan sebenarnya kenapa dia tidak membangunkan Chaehyun adalah karena dia masih ingin bersama dengan gadis itu. Ia masih ingin memandangi wajah gadis itu.

Tak jauh mereka berjalan meninggalkan danau tersebut, tiba-tiba hujan turun sangat deras.

“ Aigoo..eottokhae?” tanya Chaehyun semakin panik. Seunghyun menari tangannya agar tubuhnya lebih dekat dengannya. Kemudian dia melepaskan jaket yang ia kenakan, menggunakannya untuk memayungi tubuh mereka dari hujan. Mereka berteduh dibawah pohon besar.

“ Gwaenchanayo?” tanya Seunghyun cemas karena melihat wajah Chaehyun yang gelisah.

“ Sebentar lagi pasti gelap, Seung..kita masih berada di dalam hutan..” ujar Chaehyun yang tampaknya akan menangis.

“ Gokjongma..aku bersamamu, Chae..” sahut Seunghyun, menggenggam erat tangan gadis itu.

“ Tapi kita tidak mungkin terus-terusan berteduh di bawah pohon ini, Seung..berbahaya sekali..” ujar gadis itu.

“ Kkaja..” Seunghyun mengajak Chaehyun berjalan meninggalkan pohon tersebut. Hujan yang sangat deras membuat tubuh mereka basah kuyup. Seunghyun berniat mencari sebuah gubuk yang ia pernah temukan saat pertama kali ia masuk ke dalam hutan. Dia mencoba mengingat-ingat dimana letak gubuk tersebut. Setelah berjalan tanpa arah, ia melihat gubuk tersebut.

“ Kita kesana, Chae..” ujar Seunghyun.

Chaehyun hanya menuruti kata-katanya saja, karena ia tidak tahu harua berbuat apa. Yang ia pikirkan saat ini adalah keluar dari hutan ini. Ia yakin, orang tuanya pasti mencemaskannya. Seunghyun membuka pintu gubuk tersebut secara perlahan. Tempat yang sangat kotor sekali. Banyak sekali kayu-kayu atau ranting pohon yuang berserakan di dalamnya. Jika bukan karena hujan deras, dia tidak akan pernah membawa Chaehyun ke tempat seperti ini.

“ Seunghyun ah..apakah kau yakin disini akan baik-baik saja?” tanya Chaehyun gelisah.

“ Terpaksa, Chae..diluar hujan turun sangat deras sekali..setidaknya kita bisa berteduh di tempat ini sampai hujannya reda..” ujar Seunghyun, mulai menyingkirkan kayu-kayu yang berserakan.

Chaehyun hanya melihat ke sekelilingnya dengan perasaan sedikit takut. Kemudian matanya berhenti pada lengan kiri Seunghyun. Ia melihat darah mengalir dari lengannya.

“ Aigoo..lengan kirimu, Seung..” ujar Chaehyun, menghampiri Seunghyun. Dia menyentuh lengan Seunghyun, kemudian wajahnya terkejut saat melihat luka gores dengan darah yang mengalir, membuat lengan seragamnya berwarna merah karena darah.

“ Aahhhh..mungkin tadi tergores ranting pohon..” sahutnya enteng. “ gwaenchanayo..”

Tiba-tiba Chaehyun mengambil sesuatu dari saku seragamnya. Sebuah saputangan berwarna kuning. “ Duduklah, Seung..aku akan membersihkan darahnya lebih dulu..”

Tanpa pikir panjang, Seunghyun menuruti perintah gadis itu. Ia duduk di lantai gubuk tersebut. Chaehyun duduk di sebelahnya, kemudian mulai membersihkan darah yang mengalir dari luka tersebut. Setelah yakin bahwa sudah tidak ada darah lagi yang mengalir, Chaehyun membalut lengan Seunghyun dengan saputangannya yang basah karena hujan.

“ Setidaknya saputangan ini bisa menghentikan pendaharan pada luka di lenganmu..ya~ kenapa kau tidak merasakan apa-apa? Padahal tanganmu sudah berdarah seperti itu..”

“ Karena..yang kupikirkan saat ini hanya kau, Chae..” ujarnya pelan. Membuat Chaehyun terdiam dan hanya menatap mata Seunghyun lekat-lekat.

“ Ya~ ayo kita bersihkan tempat ini bersama-sama..” ujar Chaehyun salah tingkah. Ia berdiri dan mulai mengambil ranting-ranting yang berserakan di lantai.

——————————————————————————————————————————————-

“ Chae..gwaenchanayo?” tanya Seunghyun. Mereka berdua sedang duduk bersandar di dinding gubuk yang sekarang sudah agak nyaman untuk digunakan sebagai tempat berteduh.

Hari sudah malam, sedangkan hujan masih turun dengan derasnya. Tempat tersebut menjadi gelap saat malam tiba.

“ Seung..kenapa tiba-tiba aku merasa kedinginan?” ujar gadis itu pelan. Seunghyun menatap wajah Chaehyun dalam gelap. Wajah gadis itu pucat sekali. Kemudian dia mengulurkan tangannya, menyentuh kening Chaehyun dengan punggung tangannya.

“ Aigoo..panas sekali..” ujar Seunghyun cemas. Ia mendekatkan tubuh Chaehyun ke tubuhnya, berusaha membuat agar tubuh gadis itu bisa sedikit lebih hangat . “ Chae..apa yang kau rasakan?”

“ Kepalaku pusing, Seung..dingin..telinganku berdengung..” sahut gadis itu pelan.

Seunghyun memeluknya erat. “ Apapun yang kau rasakan saat ini..kumohon kau jangan sampai tertidur, Chae..”

“ Tapi mataku berat sekali, Seung ..” bisik gadis itu.

“ Anieyo..” sahut Seunghyun singkat. “ Aku tidak akan membiarkanmu tertidur..”

“ Hmmmm..” gumamnya pelan. “ Kalau begitu kau bernyanyilah untukku..”

“ Bernyanyi? Aku tidak bisa bernyanyi, Chae..”

“ Geotjimal..kau bisa bermain gitar..kau pasti bisa bernyanyi juga..” ujar gadis itu.

“ Ani..”

“ Baiklah aku tidur saja..” sahut gadis itu.

“ Andwaeyo..baiklah aku akan bernyanyi..”

Dia mencoba mengingat sebuah lagu. Lalu ia teringat sebuah lagu yang setiap pagi selalu didengarkan oleh ayahnya.

Jalga majimaginsaro sarangeul bonaemnida

Ajigeun jogeum bujokhan sarange geudaereul japjimotamnida

 

Ijen oraetdongan geudae mannaji motajiman

Geudaega geudongan naegejwotdeon sarangeul gieokhamnida

 

Ttaeron apatdeongieoge nunmuldo nasseotjiman

Geudaewa hamkkehan sunganeun naesaenge gajang keun seonmuriramnida

 

My love bureugo bulleodo boiji annneun naesarang

Eonjenga dasipume angigil nan gidohamnida

 

My love ireumman deureodo nunmullaneun naesaranga

Eodideun naege oneunnalkkaji haengbokhaejwoyo **

Setelah bernyanyi beberapa bait lagu, ia melihat wajah Chaehyun. Ia terkejut saat melihat mata Chaehyun yang sudah terpejam.

“ Chae..” panggil Seunghyun. “ Chae..aigoo..kau tidak boleh tidur, Chae..”

Gadis itu tidak merespon panggilan Seunghyun. Tubuhnya tidak bergerak. Seunghyun mengguncang-guncangkan tubuhnya. Tetap saja ia tidak bergerak sama sekali. Kemudian ia meletakkan telinganya di dada Chaehyun. Ia masih mendengar detak jantung gadis itu. Hal tersebut membuatnya lega. Ternyata Chaehyun hanya pingsan. Ia meraih tangannya dan menggenggamnya erat.

“ Kau tidak boleh meninggalkanku sebelum aku mengatakan kalau aku mencintaimu, Chae..” gumam Seunghyun, mencium kedua tangan Chaehyun.

——————————————————————————————————————————————-

“ Yeobo..uri Chaehyun..kenapa pihak sekolah masih belum mengatakan apa-apa pada kita?” tanya Chaehyun Eomma pada suaminya.

“ Tenanglah..tidak akan terjadi apa-apa padanya..kau jangan cemas..” sahut Chaehyun Appa.

“ Bagaimana aku tidak cemas..setelah kematiannya, hanya Chaehyun yang kita miliki..aku tidak mau kehilangan anakku lagi…” ujar Chaehyun Eomma, air matanya mengalir deras.

“ Kau jangan bicara seperti itu..”

“ Kita sudah menunggu disini sejak tadi malam..tapi kepala sekolah tidak tahu dimana Chaehyun..” ujar Chaehyun Eomma putus asa.

“ Aigoo..kemana sebenarnya anak itu..” ujar Chaehyun Appa cemas. Mereka datang ke sekolah karena cemas putrinya tidak pulang tepat waktu. Apalgi dengan keadaan hujan deras seperti kemarin. Tapi mereka tidak menemukan Chaehyun di sekolahnya, membuat mereka semakin khawatir. Guru yang saat itu sedang mengajar juga hanya bilang bahwa Chaehyun ijin keluar kelas sebentar karena harus ke toilet. Tapi sampai jam mengajarnya berakhir, gadis itu tidak kembali ke kelas.

“ Ini sudah pagi..kenapa uri Chaehyun masih belum kembali?” tangisan Chaehyun Eomma semakin kencang. Chaehyun Appa hanya bisa menenangkan istrinya, sementara perasaannya juga sangat mengkhawatirkan putrinya.

“ Omo..ternyata kalian ada disini..Chaehyun….” ujar salah satu guru sekolah tersebut tiba-tiba.

“ Chaehyun ah..eoddiseo?” tanya Chaehyun Appa panik.

“ Dia tidak sadarkan diri..seorang pemuda yang sepertinya juga adalah seorang siswa sekolah ini menggendongnya kesini..mereaka ada di depan..” sahut guru tersebut.

Hal tersebut membuat orang tua Chaehyun bergegas ke depan. Saat melihat putrinya tidak sadarkan diri di pelukan Seunghyun, Chaehyun Appa langsung menghampirinya dan mengambil alih tubuh putrinya tersebut.

“ Chaehyun ah..aigoo..apa yang terjadi?” ujarnya panik.

“ Jwisonghamnida, Ajushi..semua ini salahku..” Seunghyun membungkukkan tubuhnya, meminta maaf pada Chaehyun Appa.

“ Siapa kau? Apa yang kau lakukan pada putriku?” tanya Chaehyun Appa, lebih menyerupai bentakan.

“ Aigoo..Chaehyun ah..” ujar Chaehyun Eomma, langsung memeluk putrinya.

“ Aku mengajaknya ke dalam hutan..” ujar Seunghyun, menundukkan kepalanya.

PLAKK!!

Chaehyun Appa menampar wajah Seunghyun.

“ Kau jangan pernah menemui putriku lagi..apa kau sudah gila? Membawa putriku ke tengah hutan..aigoo..” ujarnya.

Seunghyun hanya diam saja. Matanya tertuju pada Chaehyun yang masih tidak sadarkan diri.

“ Yeobo..sebaiknya kita membawa Chaehyun ke rumah sakit..aku tidak ingin terjadi apa-apa padanya..” Chaehyun Eomma menangis kencang sambil memeluk putrinya.

“ Ne..” Chaehyun Appa mengendong putrinya, membawanya menuju ke mobilnya. Seunghyun berniat mengikuti mereka, tapi ia mengurungkan niatnya saat menyadari bahwa ayah Chaehyun tidak akan senang melihatnya ada di dekat putrinya. Dia hanya bisa melihat kepergian mereka dengan perasaan cemas,

——————————————————————————————————————————————-

“ Seunghyun ah..dari mana saja kau? Kenapa tadi malam tidak pulang? Aigoo..kenapa lenganmu?” tanya ayahnya saat ia baru saja masuk ke dalam rumah.

“ Gwaenchana..” jawab Seunghyun singkat.

Entah kenapa ia masih tidak bisa menganggap laki-laki di depannya tersebut sebagai sosok ayah. Orang tuanya sudah berpisah sejak ia masih berumur 5 tahun. Ia tinggal dengan ibunya di Seoul. Sedangkan ayahnya, sejak bercerai, ia tidak pernah sekalipun bertemu dengan ayahnya. Tapi tiba-tiba ibunya menyuruhnya tinggal bersama ayahnya. Walaupun Seunghyun awalnya menolak, tapi karena ibunya memohon padanya, maka ia pun menuruti permintaan ibunya untuk tinggal bersama ayahnya di tempat ini. Tinggal dengan seorang ayah yang tidak pernah ia temui selama 13 tahun merupakan sesuatu yang agak sulit, karena pria tersebut tetap asing bagi Seunghyun.

“ Apakah kau masih belum bisa memanggilku dengan sebutan Ayah?” tanya ayahnya.

Seunghyun hanya diam saja. Kemudian ia pergi ke kamarnya tanpa sepatah katapun.

“ Aku harus ke rumah sakit..aku harus menemuimu, Chae..” ujar Seunghyun pelan, ia duduk bersandar di ranjangnya.

Setelah berganti baju, ia bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit.

[Flashback End]

[POV End]

[Seunghyun POV]

Chae..aku tidak tahu kenapa Tuhan mempertemukanku denganmu lagi..mungkin Dia tahu kalau aku tidak pernah melupakanmu..5 tahun..aku selalu mencintaimu..

Aku memegang sapu tangan kuning milik Chae..sapu tangan yang ia gunakan untuk membalut lukaku. Karena hanya benda inilah yang tetap membuatku ingat padanya.

Hari ini..aku akan mengatakannya..aku akan mengatakan perasaan yang seharusnya kusampaikan padanya 5 tahun lalu..aku tidak ingin kehilangannya untuk yang kedua kalinya..mungkin karena itulah, Tuhan mempertemukanku dengannya lagi.

——————————————————————————————————————————————-

Aku berdiri di depan rumah Chaehyun. Berusaha mengumpulkan semua keberanian untuk menyatakan perasaanku. Mungkin sudah hampir satu jam aku berdiri disini. Tanpa melakukan apapun. Tiba-tiba aku melihat sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah Chaehyun. Aku memperhatikan mobil tersebut, kemudian seorang pemuda keluar dari dalam mobil tersebut.

“ Oppa..kau sudah datang?” tanya suara yang kukenal. Aku menoleh ke arah asal suara tersebut. “ Seunghyun ah..apa yang kau lakukan disini?” tanya Chae padaku. Wajahnya tampak heran.

“ Ahhhh..tadi aku tidak sengaja lewat di depan rumahmu, Chae..” ujarku, berbohong padanya.

“ Ohhh..ne..” sahutnya singkat.

“ Siapa dia, Chae? Temanmu?” tanya pemuda tersebut. Usianya tampak lebih tua dariku. Siapa sebenarnya orang ini?

“ Ne, Oppa..kami sekelas waktu SMA..” jawab Chaehyun.

“ Senang bertemu denganmu..namaku Cho Kyuhyun..” ujar pemuda tersebut, mengulurkan tangannya padaku, berniat menjabat tanganku. “ Aku adalah tunangan Chaehyun..” lanjutnya.

Tunangan?

Aku menerima uluran tangannya dengan ragu. “ Song Seunghyun..” sahutku pelan.

“ Sebentar lagi lagi kami akan menikah, Seung..” ujar Chae, dia tersenyum padaku.

Aku melihat pemuda yang bernama Cho Kyuhyun tersebut meraih tangan Chaehyun.

“ Seunghyun-shi..kuharap kau bisa menghadiri pernikahan kami..” ujarnya. “ Ayo kita pergi, Chae..bukankah hari ini kita akan ke tempat orang tuaku?”

“ Ahhh ne, Oppa..” sahut Chae. “ Kami pergi dulu, Seung..”

Aku hanya mengangguk pelan. Menyaksikan mereka berdua berjalan bergandengan tangan, masuk ke dalam mobil, membuat dadaku sesak sekali.

Ya~ Song Seunghyun..lihatlah..gadis yang sangat kau cintai, sebentar lagi akan menjadi milik pria lain. Itu semua karena kebodohanmu.

Perlahan aku membalikkan badanku, berniat pergi dari tempat ini.

“ Seung..” aku menghentikan langkahku saat kudengar Chaehyun memanggil namaku. Ia berlari ke arahku, dengan sebuah benda di tangannya.

“ Wae?” tanyaku.

“ Igo..” dia menyerahkan benda yang ternyata adalah sebuah undangan pernikahan padaku. “ Kau harus datang..aku ingin semua orang yang kusayangi menghadiri pernikahanku..” ujarnya, tersenyum padaku.

“ Anieyo..” jawabku singkat. “ Aku tidak akan datang, Chae..” ujarku, tersenyum padanya.

Chaehyun menatapku dengan wajah terkejut sekaligus kecewa. “ Waeyo?”

“ Hanya saja..aku tidak bisa datang, Chae..” ujarku. “ Selamat atas pernikahanmu..Annyeong..” aku meninggalkannya dengan perasaan yang sangat hancur sekali.

——————————————————————————————————————————————-

Aku menginjakkan kakiku kembali di kota ini. Kangwon-do. Kota yang awalnya sama sekali tidak kukehendaki untuk tinggal disana, karena sangat asing bagiku. Sama asingnya dengan dengan pria yang tinggal bersamaku disini. Pria yang tak lain adalah ayah kandungku. Awalnya aku tidak tahu kenapa Eomma bersikeras menyuruhku tinggal bersamanya. Tapi hari itu, aku mengerti apa tujuan Eomma melakukan hal tersebut. Hari dimana aku harus pergi meninggalkan Chae. Karena di hari itu juga, pria asing yang merupakan ayah kandungku tersebut pergi meninggalkan dunia ini untuk selamanya.

[Flashback]

Sudah hampir tiga hari, Chae masih belum sadar juga. Walaupun aku tidak bisa bertemu dengannya, tidak berada di sisinya, tapi aku selalu datang kesini. Setidaknya kami berada di dalam gedung yang sama. Ayah Chae benar-benar tidak membiarkanku bertemu dengan Chae, walaupun aku sudah berkali-kali meminta maaf padanya, memohon padanya. Tapi tetap saja ia tidak menghiraukaku sedikitpun.

“ Kau tahu, kondisi kesehatan putriku itu lemah sekali. Ia sangat mudah sekali kelelahan, tapi kau membawanya ke dalam hutan, membiarkannya kehujanan, tidak makan apapun, sehingga ia jatuh pingsan dan tidak sadarkan diri sampai hari ini. Bagaimana aku bisa membiarkan putriku bersama denganmu, anak muda?”

Aku teringat perkataan ayah Chaehyun. Kalau saja aku tahu dari awal, aku tidak akan mengajaknya pergi ke tempat itu. Aku bodoh sekali. Aku telah membuat gadis yang kucintai terbaring tidak berdaya di dalam sana. Dan sekarang, aku hanya bisa menjaganya secara diam-diam. Berdiri di luar kamarnya dengan perasaan khawatir bahwa ayah Chae akan memergokiku berada disini.

“ Jeogiyo..” aku mendengar suara seorang wanita. “ Selama tiga hari ini, aku selalu melihatmu disini..tapi kau hanya berdiri di luar..apakah gadis yang sedang terbaring di dalam adalah temanmu?” ujar wanita tersebut yang ternyata adalah seorang perawat.

“ Ne..dia adalah temanku..” jawabku singkat.

“ Lalu kenapa kau tidak masuk ke dalam saja?”

“ Aku tidak bisa masuk kedalam..apakah kau tahu kondisinya sekarang? Kau sering masuk ke dalam, pasti kau tahu bagaimana keadaanya..bukankah kau seorang perawat di rumah sakit ini?” tanyaku padanya.

“ Dia sudah melewati masa-masa kritis, dia hanya perlu beristirahat beberapa hari untuh memulihkan kesehatannya..” jelas perawat tersebut.

“ Syukurlah..apakah dia sudah sadar?” tanyaku lagi.

“ Ani..dia belum sadar..tapi kau tenang saja..temanmu pasti akan baik-baik saja..” ujarnya sebelum pergi meninggalkanku.

Chae..aku sangat ingin bertemu denganmu..melihat wajahmu..kuharap kau bisa merasakan bahwa selama kau ada disini, aku tidak pernah sekalipun meninggalkanmu, Chae..

Kurasakan ponselku bergetar..Eomma..

“ Ne, Eomma..wae geurae?” tanyaku.

“ Seunghyun ah, eodisseoyo?” tanya suara Eomma.

“ Aku sedang di rumah sakit..” jawabku.

“ Kau pulanglah sekarang, nak..ke rumah ayahmu..”

“ Jigeum?” tanyaku, tapi kemudian aku melihat seorang dokter dan dua orang perawat yang berjalan tergesa-gesa menuju kamar Chaehyun. Aigoo..Chae..apa yang terjadi padanya?

“ Eomma, aku harus menutup telponnya..nanti akan kuhubungi lagi..” ujarku sebelum memutuskan panggilan dari Eomma. Aku berjalan menuju pintu kamar Chae, mencoba mencari tahu apa yang sedang terjadi. Aku melihat dari kaca pintu. Saat kulihat Chaehyun dengan mata yang sudah tidak terpejam lagi, perasaan khawatirku lenyap seketika. Ternyata dia sudah sadar.

Ya Tuhan..terima kasih karena Kau telah membuatnya sadar..

Aku kembali duduk di kursi yang terletak di depan kamarnya. Setidaknya, perasaanku sudah tidak secemas tadi. Kemudian aku melihat Ayah Chae berjalan dengan tergesa-gesa menuju kemari, hal tersebut membuatku beranjak pergi. Aku mencari tempat agar dia tidak bisa melihatku, untung saja ada sebuah pot bunga yang cukup besar untuk menutupiku agar tidak terlihat oleh ayah Chae. Beberapa saat kemudian, aku melihat orang tua Chae keluar dari kamarnya bersama dengan dokter dan dua perawat yang tadi masuk ke dalam kamar Chae. Itu artinya, Chae sedang sendirian di dalam kamarnya. Aku berjalan menuju kamarnya, tapi bunyi getaran ponselku membuatku menghentikan langkah.

“ Ne, apa lagi, Eomma?”

“ Seunghyun ah..ayahmu..” Eomma menghentikan kata-katanya, ia terdengar sedang menangis.

“ Wae?”

[Flashback End]

Rumah ini. Rumah yang sempat kutinggali selama beberapa minggu saja. Tidak banyak kenangan disini. Tapi entah kenapa, kembali kesini membuat dadaku terasa sesak.

Aku mengambil kunci dari dalam tas ku, kemudian membuka pintu pagar. Halaman rumah sudah tidak sama lagi seperti saat aku tinggal disini. Rumput-rumput liar banyak tumbuh disekitarnya. Mataku tertuju pada beberapa pot bunga yang keadaannya sudah mengkhawatirkan. Walaupun seperti itu, aku masih bisa mengingat dengan jelas, tiap pagi saat aku pergi ke sekolah, Appa selalu merawat tanaman hias yang tadinya tumbuh sangat indah di dalam pot-pot tersebut. Mengucapkan selamat jalan padaku, dengan senyum diwajahnya.

Tanpa terasa aku menitikkan air mataku. Kenapa mengingat semua itu membuat perasaanku menjadi sedih sekali.

Jika aku bisa mengulang waktu, jika aku tahu saat itu kau akan pergi meninggalkanku, Appa. Aku akan mencoba menganggapmu sebagai ayah yang sudah tinggal bersamaku sejak aku lahir. Aku akan melakukan semua hal yang dilakukan seorang anak dengan ayahnya. Dan aku akan memberimu banyak sekali kenangan indah. Dan satu hal yang sampai saat ini sangat kusesali adalah..aku belum pernah sekalipun memanggilmu dengan sebutan “Appa”

Aku berjalan menuju pintu rumah, kemudian membukanya secara perlahan. Gelap sekali, bau lembab memasuki hidungku. Tanganku meraba-raba dinding di samping pintu, mencari sakelar untuk menghidupkan lampu. Tidak ada yang berubah dari rumah ini. Hanya saja, semua perabot yang ada di dalam tertutup kain berwarna putih. Aku pun mulai membersihkan tempat ini. Lima tahun tidak berpenghuni, banyak sekali debu yang memenuhi semua benda di rumah ini. Aku memutuskan untuk tinggal disini bebrapa hari. Meninggalkan kepenatan di Seoul. Mencoba menenangkan pikiranku.

Dan..aku ingin melupakan bahwa hari ini adalah hari pernikahan gadis yang sangat kucintai dengan pria lain.

Penyesalan..apa mungkin perasaan yang kurasakan saat ini adalah sebuah penyesalan? Yang kutahu..aku tidak akan pernah memberitahunya bahwa dia adalah satu-satunya gadis yang terpenting dalam hidupku..memberitahunya bahwa aku sangat mencintainya..tak sekalipun aku memikirkan gadis lain selain dirinya..tapi hari ini, aku harus mengubur semua perasaan tersebut dalam-dalam.

Aku melihat sebuah pintu yang kutahu bahwa dibaliknya merupakan kamar Appa. Selama tinggal disini, aku sama sekali belum pernah masuk kedalam kamarnya. Kulangkahkan kakiku menuju kamarnya. Kubuka pintu tersebut, mataku langsung tertuju pada dua benda yang berada di sudut kamar.

Sebuah piano dan gitar akustik.

Seharusnya aku tahu dari mana aku mendapatkan bakat bermain musik, karena Eomma tidak tahu apa-apa tentang musik. Dan saat ini aku merasa sangat menyesal sekali. Air mataku kembali jatuh saat menyentuh kedua benda tersebut dengan tanganku.

Appa..kenapa kau cepat sekali pergi dari dunia ini?

——————————————————————————————————————————————-

Beberapa hari tinggal di kota ini, membuat hidupku tenteram sekali. Sebenarnya aku sangat enggan sekali karena harus meninggalkan kota ini. Kota yang menyisakan banyak kenangan yang cukup indah saat bersama dengan Chaehyun. Tapi tempatku bukan disini, karena itulah hari ini aku akan kembali ke Seoul.

Chae..pasti saat ini kau sangat bahagia sekali..bersama dengan pria itu..membayangkanmu sedang bersama dengan pria itu saja sudah membuat hatiku sakit sekali. Ya Tuhan..apakah aku bisa berhenti mencintainya?

[POV End]

[Author POV]

Kereta yang ditumpangi oleh Seunghyun mulai memperlambat lajunya. Itu artinya sebentar lagi kereta tersebut akan sampai di stasiun Seoul. Seunghyun bersiap-siap turun dari dari kereta. Saat kereta benar-benar sudah berhenti, ia melangkahkan kakinya, turun dari kereta. Ia berjalan menuju halte terdekat, karena ia harus naik bus terlebih dulu untuk sampai ke rumahnya. Tapi kemudian ia melihat seorang gadis yang sangat ia kenal. Gadis itu sedang berdiri di tepi jalan raya. Pandangan matanya kosong. Saat menyadari apa yang akan dilakukan oleh gadis itu, Seunghyun berlari menuju tempat gadis itu berdiri. Ia berlari dengan panik.

TIIIIINNN!!!

Bunyi klakson yang sangat memekakkan telinga. Gadis itu tiba-tiba melangkahkan kakinya, berjalan menuju tengah jalan raya. Untung saja, Seunghyun menarik tangan gadis itu sehingga mereka berdua jatuh terjerembab di tepi jalan.

“ Kau sudah gila, Chae? Apa yang sedang kau lakukan? Kenapa kau tiba-tiba berjalan ke tengah jalan raya? Apa kau ingin mati?” tanya Seunghyun dengan nada suara yang hampir menyerupai bentakan.

Chaehyun hanya diam saja, ia memandang wajah Seunghyun sejenak. Setelah melepaskan tangannya dari cengkraman tangan Seunghyun, ia mencoba berdiri dan berjalan pergi meninggalkan Seunghyun yang masih terduduk di tepi jalan. Seunghyun pun tidak diam saja, ia langsung berdiri dan mengikuti Chaehyun. Setelah apa yang terjadi baru saja, ia sangat mencemaskan gadis itu.

“ Chae..” panggilnya pada gadis itu. Tapi gadis yang dimaksud hanya diam saja dan terus berjalan tanpa menghiraukan lututnya yang mengeluarkan darah. Seunghyun melihat darah di lutut Chaehyun. “ Lututmu berdarah, Chae..” ujar Seunghyun yang tiba-tiba sudah berada di depan Chaehyun.

“ Kau jangan menghalangi jalanku, Seung..” sahut Chaehyun. Tatapan matanya masih sama. Kosong.

“ Tidak, Chae..setelah melihat perbuatanmu tadi, mana mungkin aku membiarkanmu pergi begitu saja..” ujar Seunghyun keras kepala. Kemudian meraih tangannya, berniat membawanya ke rumah sakit, hanya sekedar mengobati lututnya yang berdarah.

“ Lepaskan aku, Seung..” ujar gadis itu, berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman tangan Seunghyun. Sedangkan Seunghyun sama sekali tidak menghiraukannya. Ia tetap bersikeras membawa gadis itu ke rumah sakit.

“ LEPASKAN AKU!!” bentak Chaehyun keras. Hal tersebut membuat Seunghyun terkejut. Ia melepaskan tangan Chaehyun secara perlahan. “ Jangan mempedulikan aku lagi, Seung..” ujarnya lagi, sebelum berjalan meninggalkan Seunghyun yang berdiri dengan wajah terkejut. Ia tidak pernah melihat Chaehyun semarah itu. Ia hanya melihat kepergian Chaehyun dengan perasaan yang kacau.

BRUKK!!

“ Chae..” panggilnya panik. Chaehyun tergeletak pingsan di jalan. Tanpa pikir panjang, Seunghyun langsung berlari menghampirinya.

——————————————————————————————————————————————-

“ Bagaimana keadaannya, Dokter? Apakah dia baik-baik saja?” Tanya Seunghyun, dia membawa Chaehyun ke rumah sakit.

“ Hmmm..nona ini baru saja mengalami kejadian yang sangat menyakitkan sekali..dia mengalami depresi..” jawab dokter tersebut.

“ Depresi? Mana mungkin, Dokter. Dia baru saja menikah..mana mungkin sebuah pernikahan merupakan hal yang sangat menyakitkan?” ujar Seunghyun tidak sabar.

“ Chaehyun ah..” seorang wanita tiba-tiba masuk ke dalam kamar, langsung menghampiri Chaehyun yang sedang terbaring di ranjang. “ Apa yang terjadi pada putriku, Dokter?” Tanya wanita yang ternyata adalah Chaehyun Eomma.

“ Apakah Anda adalah ibunya?” Tanya dokter.

“ Ye..aku adalah ibunya..”

“ Sebenarnya apa yang terjadi pada putri Anda, Nyonya..dia mengalami depresi yang sangat berat sekali..” jelas dokter tersebut.

“ Omo..Chaehyun ah..” seru Chaehyun Eomma, menangis memeluk putrinya. “ Dia pasti belum bisa melupakan kematian calon suaminya..”

Seunghyun terkejut mendengar perkataan Chaehyun Eomma.

“ Baiklah..aku sudah memberikan sedikit obat penenang..dia akan baik-baik saja, Nyonya..”

“ Ye..gamsa hamnida, Dokter..” ujar Chaehyun Eomma.

Dokter tersebut keluar dari kamar. Seunghyun mendekati Chaehyun Eomma.

“ Jeogiyo, Ahjumma..” ujarnya.

“ Nuguseyo?” Tanya Chaehyun Eomma heran.

“ Namaku Song Seunghyun..aku teman Chaehyun waktu SMA..aku yang membawanya kesini..” jelasnya.

“ Aigoo..gamsa hamnida, Seunghyun-shi..aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada putriku jika kau tidak ada..”

Seunghyun tidak menceritakan secara detail kenapa Chaehyun bias pingsan. Ia tidak mau membuat Chaehyun Eomma cemas jika mengetahui bahwa putrinya berniat bunuh diri.

“ Ne, Ahjumma..sebenarnya apa yang terjadi padanya? Bukanhkah ia baru saja menikah?” Tanya Seunghyun penasaran.

Chaehyun Eomma menangis. Tangannya menggenggam erat tangan Chaehyun. “ Uri Chaehyun yang malang..hari yang seharusnya menjadi hari yang paling bahagia di hidupnya, calaon suaminya, Kyuhyun, mengalami kecelakaan saat akan menghadiri upacara pernikahan..ia meninggal dunia..” ujar Chaehyun eomma, masih menangis.

Seunghyun menatap wajah Chaehyun. Ia melihat air mata mengalir dari matanya yang terpejam. Melihat semua itu, membuat hati Seunghyun sakit sekali.

“ Ahjumma, aku permisi keluar sebentar..” ujarnya sebelum berjalan menuju pintu dan keluar dari kamar Chaehyun.

[POV End]

[Seunghyun POV]

Aku keluar dari kamar Chaehyun. Kemudian duduk di kursi yang terletak tepat di depan kamarnya.

“ Chae..” gumamnya pelan. “ Kau pasti sangat mencintainya..sehingga kau menjadi seperti ini..”

Jadi..dia sengaja berjalan ke tengah jalan raya untuk mengakhiri hidupnya. Aigoo..

“ Seunghyun-shi..” aku mendengar suara Ahjumma memanggilku.

“ Ye, Ahjumma..” sahutku, sambil berdiri.

“ Apakah kau bisa menjaga Chaehyun sebentar..aku mau ke ruang Dokter sebentar, menanyakan sesuatu padanya..”

“ Ahh ye, tentu saja, Ahjumma..” jawabku, bergegas masuk kembali ke dalam. Aku menghampiri Chaehyun, kemudian duduk di tepi ranjangnya.

“ Chae..kau tahu, aku sangat iri pada pria itu..kau mencintainya begitu besar sekali..sampai-sampai kau berniat menyusulnya..geundae..jebal..jangan pernah berpikiran untuk pergi menyusulnya, Chae..” aku menggenggam tangannya. “ Aku..aku tidak mau kehilanganmu untuk kedua kalinya..satu kali saja, sudah membuatku begitu tersiksa..” aku mencium tangannya.

“ Oppa..” aku mendengar suaranya. “ Oppa..kkajima..jangan tinggalkan aku..”

Mendengarnya memanggil pria itu dalam keadaanya yang sedang tidak sadarkan diri, membuat hatiku sakit sekali.

“ Aku akan membuatmu melupakan pria itu, Chae..karena aku yakin aku mencintaimu sama dengan pria itu mencintaimu..bahkan lebih..”

——————————————————————————————————————————————-

“ Seunghyun-shi..” samara-samar aku mendengar suara Ahjumma. “ Nak..”

Aku membuka mataku secara perlahan.

“ Ini sudah malam..sebaiknya kau pulang dulu..biar aku saja yang menjaga Chaehyun..” ujarnya.

“ Animida, Ahjumma..aku akan tetap disini..” sahutku pelan.

“ Tapi dari tadi kau belum makan apapun, Seunghyun-shi..” sahutnya, wajahnya terlihat mencemaskanku.

“ Ne, Ahujumma..aku akan mencari makanan dulu di sekitar rumah sakit..nanti aku kembali lagi..” ujarku, beranjak dari kursi, kemudian berjalan menuju pintu.

Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Chae..sama seperti lima tahun lalu..aku akan selalu menjagamu..

Aku mencari letak kafetaria di rumah sakit ini. Ahh sepertinya disana tempatnya.

“ Seung..” panggil suara yang sangat kukenal. Aku menoleh keasal suara itu.

“ Hyung..apa yang kau lakukan disini? Siapa yang sakit? Noona?” tanyaku padanya.

Jonghun hyung hanya tersenyum mendengarkanku mengajukan beberapa pertanyaan padanya. “ Anii..tidak ada yang sakit, Seung..sebaiknya kau memberiku ucapan selamat..karena aku baru saja menjadi seorang ayah..”

“ Ayah..aigoo..noona sudah melahirkan?” tanyaku penasaran.

Jonghun Hyung menganggukkan kepalanya. “ Aku sangat bahagia sekali, Seung..”

“ Ya~ selamat, Hyung..” ujarku memeluknya.

“ Lalu, kau sendiri..apa yang kau lakukan disini? Apa kau sakit? Atau ibumu?” Tanyanya penasaran.

“ Bukan, Hyung..” sahutku.

“ Lalu?”

“ Temanku..” jawabku singkat.

“ Teman? Teman yang seperti bagaimana sehingga membuatmu rela menjaganya, padahal ini sudah menjelang tengah malam.” Ujarnya tidak percaya. “ Jadi..siapa yang sedang sakit?”

“ Chaehyun..” jawabku.

“ Chaehyun? Nugunde?” Tanyanya penasaran. “ Sepertinya aku pernah mendengar nama itu..ahh..seolma..pemilik sapu tangan kuning itu?”

Aku hanya mengangguk pelan.

“ Bukankah dia tidak tinggal di kota ini? Bagaimana kau bisa bertemu dengannya?”

“ Dia baru saja pindah ke kota ini, Hyung..dan..dia seharusnya akan menikah..”

“ Apa maksudmu dengan seharusnya akan menikah?” Tanya Hyung bingung.

“ Calon suaminya meninggal dalam kecelakaan, tepat di hari pernikahannya..” sahutku pelan.

“ Aigoo..malang sekali nasibnya..” Jonghun Hyung menghela napas.

“ Kau tahu, Hyung..melihat kondisinya sekarang..aku rela menggantikan posisinya, menanggung semua sakit yang ia rasakan..”

“ Hmmm..Seunghyun ah, sepertinya kau sangat mencintai gadis itu..” ujarnya menepuk pundakku.

“ Selama lima tahun ini, aku selalu menutup hatiku untuk gadis lain..itu semua karena Chaehyun, Hyung..aku masih sangat berharap akan bertemu dengannya lagi..” ujarku.

“ Aigoo..gadis itu sangat beruntung sekali..” Jonghun hyung tersenyum. “ Dicintai begitu besar oleh pria sepertimu..baiklah, aku pergi dulu..kau harus semangat, Seung..”

“ Gomawoyo, Hyung..” ujarku, tersenyum padanya.

[POV End]

[Chaehyun PoV]

Cahaya yang sangat menyilaukan. Dimana ini?

Aku sedang berdiri di tengah padang rumput hijau. Tidak ada apapun disini. Tempat apa ini?

“ Chae..” aku mendengar suara yang sangat kukenali. Karena beberapa hari ini, aku sangat merindukan suara ini. Aku membalikkan tubuhku.

“ Oppa..” gumamku pelan.

Kyuhyun Oppa sedang berdiri di depanku. Dia sedang tersenyum padaku.

“ Oppa..” aku berjalan mendekatinya. Dia hanya diam saja. Setelah cukup dekat dengannya, aku menyentuh tangannya. “ Oppa..aku sangat merindukanmu..” ujarku, air mataku mulai mengalir.

“ Mianhae, Chaehyun ah..” ujarnya pelan. Tangannya menyentuh wajahku, menghapus air mataku.

“ Wae? Kenapa kau minta maaf padaku?” tanyaku, masih menangis.

“ Aku harus pergi..” sahutnya.

“ Aku ikut denganmu, Oppa..bukankah kita akan menikah? Kau pernah bilang tidak akan pernah meninggalkanku..jadi biarkan aku ikut denganmu..”

“ Anieyo..kau tidak bisa ikut denganku, Chae..” ujarnya.

“ Wae? Kenapa aku tidak bisa ikut denganmu..kau hanya cukup membawaku pergi..aku ingin bersamamu, Oppa..” rengekku padanya, tangisanku semakin keras..aku menggenggam tangannya erat.

“ Jeongmal mianhae..aku benar-benar harus pergi..” sahutnya, melepaskan berusaha melepaskan genggaman tanganku.

“ Jangan lakukan ini padaku, Oppa..” ujarku.

Dia hanya menatap wajahku. Setelah berhasil melepaskan tanganku, ia berjalan pergi meninggalkanku.

“ Oppa..” panggilku. “ Oppa..kkajima..jangan tinggalkan aku..” aku terus menerus memanggilnya. Tapi dia berjalan semakin menjauh. Hingga aku tidak bisa melihatnya lagi. Kemudian semuanya menjadi samar dan gelap.

“ Chaehyun ah..” aku mendengar suara Eomma. Aku berusaha membuka mataku. Bau khas rumah sakit. Kemudian aku melihat wajah Eomma. Ia terlihat sangat cemas sekali.

“ Eomma..” ujarku pelan.

“ Kau sudah sadar rupanya..” ujarnya lega.

“ Kenapa aku bisa disini?” tanyaku padanya.

“ Temanmu yang membawamu kesini..” jawabnya.

Kemudian aku mengingatnya. Seunghyun. Pasti dia yang membawaku kesini.

“ Eomma..aku mau keluar sebentar..” ujarku, beruasaha melepaskan jarum infuse di pergelangan tanganku.

“ Aigoo..kau baru saja sadar, Chae..kau mau kemana?”

“ Aku hanya ingin mencari udara segar saja..kau jangan khawatir..” aku beranjak dari ranjang kemudian berjalan menuju pintu. “ tenanglah, Eomma..aku hanya ingin berjalan-jalan di sekitar rumah sakit.” Ujarku sebelum membuka pintu.

Mimpi yang sangat nyata. Aku bisa berbicara dengannya. Aku bisa menyentuh tangannya.

Ya Tuhan..kenapa kau melakukan semua ini padaku? Satu per satu orang yang kucintai pergi meninggalkanku.

Aku duduk di sebuah kursi taman. Udara malam sama sekali tidak mempengaruhiku. Mungkin karena hatiku yang sudah dingin, sehingga aku tidak merasa kedinginan lagi. Tiba-tiba ada yang memakaikan mantel ditubuhku.

“ Apa yang sedang kau lakukan disini, Chae? Udara sangat dingin..” ujar Seunghyun.

“ Jangan mempedulikanku, Seung..sebaiknya kau pulang saja..aku sedang ingin sendirian..” sahutku datar.

“ Ayo kita masuk, Chae..kau baru saja sadar..tidak baik untuk kondisi tubuhmu..” ujarnya, bersikeras mengajakku masuk kedalam.

“ Apa pedulimu, Seung? Kenapa kau sangat mengkhawatirkanku?” tanyaku padanya.

Dia hanya diam saja.

“ Sudahlah..kau sendiri saja yang masuk..”

“ Ani..aku akan menemanimu disini..” sahutnya, mempererat mantel di tubuhku.

Entah berapa lama kami duduk disini. Tidak mengatakan apa-apa. Hanya duduk dalam diam.

“ Kalau kau ingin menangis, menangislah, Chae..” ujarnya memecah kesunyian.

“ Huh..kenapa aku harus menangis?” sahutku.

“ Chae, aku tahu hal tersebut pasti sangat menyakitkan sekali bagimu..tapi, kumohon..jangan melakukan hal bodoh seperti yang kau lakukan tadi siang..” ujarnya, nada suaranya terdengar seperti orang yang sedang memohon.

“ Aku bukan siapa-siapamu, Seung..jadi, kau tidak berhak melarangku melakukan apapun yang ingin kulakukan..” ujarku. “ lagipula kau sama saja dengan mereka..bukankah kau juga pergi meninggalkanku?”

“ Chae..waktu itu, aku terpaksa meninggalkanmu..aku..”

“ Geumanhae..” aku memotong kata-katanya. “ Semuanya sudah terjadi, Seung..mungkin memang sudah nasibku, ditinggalkan oleh semua orang..”

“ Kumohon jangan mengatakan hal seperti itu, Chae..mereka semua tidak benar-benar meninggalkanmu..” ujarnya. “ Mereka masih akan terus hidup dihatimu..”

“ Sudahlah, Seung..jangan mengatakan apa-apa lagi..sebaiknya mulai sekarang kau jangan menemuiku lagi, Chaehyun yang dulu sudah mati..” ujarku, berdiri dari kursi, kemudian pergi meninggalkannya.

Kenapa aku harus bertemu denganmu lagi? Disaat perasaanku sudah mati. Disaat aku sudah berhasil mengubur perasaan cintaku untukmu.

[Flashback]

“ Kenapa kupu-kupu tersebut sepertinya sangat sulit ditangkap ya?” tanyaku, lebih kepada diriku sendiri. Aku mengulurkan tanganku keatas, berusaha menggapai salah satu kupu-kupu yang sedang terbang di atasku. “ Ahhh..suasana disini membuatku mengantuk, Seung..” ujarku seraya menyandarkan kepalaku di bahunya.

Gomawoyo, Seunghyun ah..sungguh tempat yang indah sekali. Dan yang membuatku sangat bahagia, aku adalah gadis yang pertama kali kau ajak ke tempat ini.

Aku mulai memejamkan mataku, mencoba beristirahat sejenak.

“ Chae..” aku mendengar Seunghyun memanggilku pelan. Aku diam saja. Bersandar seperti ini dibahunya terasa sangat nyaman sekali. Dan aku merasa, jika aku membuka mataku, semuanya akan berakhir. Jadi kuputuskan untuk pura-pura tidur saja. Mianhae, Seunghyun ah..

“ Chae..kau tidur?” tanya Seunghyun lagi.

Aku masih diam saja, tidak menjawabnya. Bukankah aku sudah memutuskan untuk pura-pura tidur..kemudian aku merasa ada yang membelai wajahku, menyelipkan rambutku ke belakang telinga. Aigoo..eottokhatji?

“ Mungkin aku hanya bisa melakukan semua ini saat kau sedang tidur, Chae..” ujarnya.

Tiba-tiba saja jantungku berdebar-debar. Perasaan takut, bahagia, berbunga-bunga, semua menjadi satu. Sejak pertama kali aku melihatnya, entah kenapa jantungku langsung berdebar-debar. Aku selalu ingin berada didekatnya, walaupun teman-temanku memberitahuku bahwa dia bukan namja yang ramah. Tapi aku tahu, mata tidak bisa berbohong. Jika aku melihat matanya, sorotan matanya terlihat sangat menyedihkan sekali. Kurasa ia sangat kesepian tinggal di kota ini. Hal itulah yang membuatku berani mendekatinya. Dan entah kenapa..melihat matanya, membuat hatiku tenang.

“ Sepertinya aku memang sudah gila..” aku mendengarkannya berbicara lagi.

Wae? Kenapa dia mengatakan hal seperti itu?

Hampir saja aku membuka mataku saat aku merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirku. Aigoo..dia menciumku..Eomma, eottokhae? Tapi, bibirnya terasa lembut sekali. Dan sepertinya aku juga sudah mulai gila, karena aku berharap ia tidak melepaskan bibirnya dari bibirku.

“ Mianhae, Chae..” ujarnya pelan, setelah melepaskan bibirnya. “ Karena mungkin aku tidak akan berani melakukannya dalam keadaan kau terjaga..”

Baboya..neon jeongmal baboya, Seunghyun ah..

——————————————————————————————————————————————-

“ Chaehyun ah..kenapa kau sangat gelisah sekali? Kau sedang mencari siapa?” tanya Yujin penasaran.

“ Yujin ah..kenapa Seunghyun belum datang? Dia sudah hampir telat..Kim Songsaengnim bisa memberinya hukuman..” ujarku panik. Mataku terus memandang kearah pintu, berharap Seunghyun tiba-tiba masuk ke dalam kelas.

“ Seunghyun?” ujar Yujin heran. “ Kau belum tahu, Chae?”

“ Tahu tentang apa, Yu?” tanyaku penasaran.

“ Seunghyun sudah tidak bersekolah lagi disini..tiga hari yang lalu ia pindah dari kota ini..”

Aku terkejut mendengar ucapan Yujin. Pindah. Tiga hari yang lalu. Bukankah tiga hari yang lalu adalah hari disaat aku sadar dari pingsanku..

“ Kau pasti membohongiku, Yu..dia tidak mungkin pergi tanpa mengucapkan apa-apa padaku..” ujarku padanya.

“ Untuk apa aku membohongimu, Chae? Kau tanya saja pada semua orang disini..” sahut Yujin.

“ Andwaeyo..” ujarku pelan, berusaha menahan air mataku.

Aku beranjak dari tempat dudukku, tanpa pikir panjang aku berlari meninggalkan kelas. Aku tidak peduli saat aku melewati Kim Songsaengnim. Yang kupikirkan saat ini adalah memastikan apakah benar Seunghyun sudah pindah dari kota ini. Aku terus berlari menuju rumahnya. Saat tiba di depan pintu pagar rumahnya, aku langsung memukul pintu pagarnya berkali-kali.

“ Seunghyun ah..” panggilku keras, air mataku mulai jatuh. “ Seunghyun ah, kau tidak pergi, bukan? Kau masih ada didalam, bukan?” tanyaku, terisak-isak. “ Seunghyun ah, buka pintunya..” aku terus menerus memukul pintu tersebut. Saat kusadari jika di dalam memang tidak ada siapa-siapa, aku menjatuhkan tubuhku di depan pintu. Air mataku terus mengalir tak terkendali.

Wae? Kenapa kau meninggalkanku tanpa mengucapkan apa-apa padaku, Seung?

[Flashback End]

[POV End]

[Seunghyun POV]

“ Ahjumma..apakah Chaehyun ada di rumah?” tanyaku saat ahjumma membukakan pintu pagar rumahnya untukku.

“ Aigoo..tadi pagi dia berpamitan padaku, dia bilang ingin ke Kangwon-do..” ujar Ahjumma.

“ Kangwon-do?” tanyaku heran.

“ Dia bilang mau mengambil barang-barangnya yang masih tertinggal dirumah..” sahutnya. “ Sebenarnya aku ingin menemaninya, tapi dia melarangku..dia mengatakan jangan mengkhawatirkannya..”

“ Gamsa hamnida, Ahjumma..kalau begitu, aku pamit dulu..” ujarku sebelum meninggalkannya.

Kangwon-do..apa yang dia lakukan disana? Mengambil barang-barangnya. Mengapa tiba-tiba aku mencemaskannya. Aku takut dia akan melakukan hal yang tidak-tidak.

Baiklah..aku menyusulnya kesana saja..

——————————————————————————————————————————————-

Chae..semoga saja kau masih bias berpikir jernih..kumohon, jangan melakukan hal bodoh yang bias membahayakan nyawamu.

Akhirnya kereta yang kutumpangi sampai juga di stasiun Kangwon-do. Aku bergegas turun dari kereta. Entah kenapa aku merasa bahwa aku harus pergi ke sekolahku dan Chaehyun dulu.

Setelah sampai ke sekolah, aku mencarinya ke seluruh bagian gedung. Tapi aku tidak menemukannya ditempat ini. Aigoo..Chae, kau dimana?

Hutan..apa mungkin dia pergi ke tempat itu? Tidak mungkin..dia tidak mungkin pergi ke dalam hutan sendirian. Bukankah dulu dia pernah bilang jika ia tidak pernah berani masuk ke hutan sendirian.

“ Chaehyun yang dulu sudah mati..”

Aku teringat kata-katanya saat di rumah sakit. Tanpa piker panjang, aku langsung berlari menunju ke hutan yang letaknya tidak jauh dari sekolah. Mencoba mengingat-ingat letak tempat itu. Sebuah danau dengan kupu-kupu yang berterbangan disekitarnya. Aku terus berlari, tidak peduli dengan ranting-ranting pohon yang berulang kali menggores tubuhku. Saat ini yang kupikirkan hanya Chaehyun.

Akhirnya aku sampai di tempat itu. Tapi yang kutemukan hanya kupu-kupu yang berterbangan. Tidak ada tanda-tanda bahwa Chaehyun ada disini. Aku menjatuhkan tubuhku diatas rerumputan, dengan napas terengah-engah.

“ Chaehyun ah, eodisseoyo?” gumamku, merebahkan tubuhku diatas rerumputan.

[POV End]

[Chaehyun PoV]

Oppa..mianhae..

Walaupun aku terus mencoba melupakanmu, tapi aku tidak bias melakukannya. Mungkin karena aku terlalu mencintaimu, Oppa..maka hari ini..aku akan pergi menemuimu, Oppa..kau harus menungguku..

Aku sedang berdiri di tepi jurang. Aku tidak pernah tahu bahwa di hutan ini terdapat sebuah jurang. Saat Seunghyun meninggalkanku lima tahun yang lalu, aku sering sekali pergi ke tempat itu. Tempat yang ia tunjukkan padaku. Tempat yang sangat indah sekali. Pernah satu kali aku tersesat saat akan pulang dari tempat itu. Sampai akhirnya aku menemukan jurang ini. Dan hari ini, di jurang inilah aku akan mengakhiri hidupku.

Mianhae, Eomma..jika aku terus hidup seperti ini, akan membuatmu menderita. Lebih baik aku pergi.

Aku melangkahkan kakiku secara perlahan, mendekati bibir jurang. Kupejamkan mataku, yang kulihat saat ini adalah Kyuhyun Oppa yang sedang sedang tersenyum padaku.

Namun, kurasakan ada yang menarik tubuhku. Membuat tubuhku jatuh ke belakang.

“ Neon michigesseo?” bentak Seunghyun. Wajahnya terlihat marah sekali. Tangannya mencengkeram lenganku.

“ Lepaskan aku, Seung..aku akan pergi bersama Kyuhyun Oppa..” ujarku, mencoba melepaskan cengkeraman tangannya.

“ Apa kau sangat ingin meninggalkan dunia ini, Chae? Apa kau tidak memikirkan ibumu? Apa kau tidak memikirkan orang-orang yang masih mencintaimu? Dan apa kau tidak pernah sekalipun memikirkanku?” dia menyerangku dengen beberapa pertanyaan. Aku hanya diam saja, yang kulakukan hanyalah berusaha melepas tangannya dari lenganku.

“ Kumohon, Seung..” ujarku, memohon padanya.

“ Baiklah..” dia melepaskan tanganku. Membuatku sedikit terkejut. Tapi kemudian dia meraih tanganku, menggenggamnya erat. “ Kita melompat bersama-sama..”

Kata-kata terakhirnya membuatku membelalakkan mataku. “ Mwo?”

“ Kita melompat bersama-sama..aku akan ikut denganmu..” ujarnya tenang.

“ Apa maksudmu, Seung? Andwae..kau tidak boleh melompat bersamaku..” uajrku, mulai panik.

“ Bukankah kau sangat ingin meninggalkan dunia ini, Chae? Aku sudah tidak menghalangimu lagi, tapi justru aku akan menemanimu..”

“ Apa kau sudah gila, Seung?”

“ Iya benar, Chae..aku sudah gila..aku kehilangan akal sehatku..itu semua karena dirimu..” ujarnya, menarik tanganku, dia membawaku ujung jurang.

“ Hentikan, Seung..apa yang kau lakukan?” tanyaku, air mataku mulai mengalir. Aku menatap wajahnya. Saat kusadari dia benar-benar akan membawaku terjun ke jurang tersebut, aku menjerit dan menutup mataku.

“ Aku yakin..hatimu yang paling dalam, kau tidak ingin pergi dari dunia ini, Chae..” ujarnya pelan. Dia memeluk tubuhku erat.

Tiba-tiba aku tidak bisa membendung air mataku. Aku menangis dengan kencang di dalam pelukannya. Kurasakan tangan Seunghyun membelai punggungku, mencoba menenangkanku.

“ Kematian bukan satu-satunya jalan yang terbaik bagimu saat ini, Chae..kau kira, dia akan senang jika melihatmu seperti ini..” ujarnya. Aku tahu yang dia maksud adalah Kyuhyun Oppa. “ Bukankah kau sangat mencintainya? Dan aku yakin dia juga sangat mencintaimu..mungkin karena itulah, dia tidak membiarkanmu untuk pergi dengannya..”

“ Jika dia mencintaiku, kenapa dia pergi meninggalkanku, Seung?” tanyaku, masih terisak-isak dipelukannya.

“ Mungkin memang saatnya dia harus meninggalkanmu, Chae..kita tidak pernah tahu apa rencana Tuhan, bukan?” sahutnya.

“ Kumohon..jangan hidup seperti ini, Chae..” ujarnya melepaskan pelukannya. “ Aku yakin, jika dia melihatmu seperti ini, dia tidak akan bisa pergi dengan tenang..”

Aku diam saja.

“ Hiduplah demi orang-orang yang mencintaimu..demi ibumu..dan..hiduplah demi aku, Chae..” ujarnya, menatap mataku lekat-lekat. “ Kau tahu..kau adalah satu-satunya orang yang paling penting baguku..melihatmu seperti ini, membuat hatiku sakit, Chae..”

“ Tapi..kenapa waktu itu kau meninggalkanku, Seung? meninggalkanku tanpa mengatakan apa-apa padaku..”

“ Waktu itu aku sangat bodoh sekali, Chae..aku terlalu takut untuk menyatakan perasaanku padamu..aku merasa bahwa aku sama sekali tidak pantas untuk mencintaimu..” ujarnya pelan, nada suaranya terdengar putus asa. “ Hari itu, saat aku berniat untuk menemuimu di rumah sakit, aku kehilangan orang yang sebenarnya sangat kusayangi..ayahku meninggal sebelum aku sempat memanggilnya ayah..” lanjutnya.

Aku terkejut mendengarkan perkataannya. Ayahnya meninggal. Ayah yang terasa asing baginya, ia selalu menceritakan hal itu padaku.

“ Selama lima tahun ini, hal yang selalu kusesali adalah..yang pertama, aku menyesal karena aku tidak bisa bersama ayahku disaat terakhirnya. Yang kedua..aku harus meninggalkanmu tanpa mengatakan perasaanku padamu..bahwa aku sangat mencintaimu..tak pernah sekalipun aku berpikir tentang gadis lain selain dirimu, Chae..karena, kau adalah orang yang sangat penting bagiku..”

Entah kenapa pernyataannya tersebut membuatku air mataku kembali mengalir. Sedalam itukah perasaan cintanya padaku?

“ Tapi aku merasa aku tidak pantas menerima cintamu, Seung..aku takut, aku takut akan mengecewakanmu..aku takut tidak bisa melupakan Kyuhyun, Oppa..” ujarku, terisak-isak.

“ Aku akan menunggumu, Chae..bukankah selama lima tahun ini hal tersebut yang kulakukan? Menunggu dan terus menunggu. Sampai akhirnya Tuhan kembali mempertemukanku denganmu lagi..” ujarnya.

“ Kau memang bodoh, Seung..masih banyak gadis yang lebih pantas menerima cintamu..kenapa kau..”

Dia meletakkan jarinya di bibirku. “ Ssssttt..aku tidak mau mendengarmu mengatakan hal itu, Chae..aku sudah memberitahumu akan menunggumu..1 tahun, 10 tahun, bahkan selamanya aku akan selalu menunggumu..”

“ Baboya..” gumamku, kembali menenggelamkan wajahku ke dalam pelukannya. Seperti saat aku tidur di bahunya, memeluknya seperti terasa sangat nyaman sekali.

Seunghyun ah..walaupun mungkin tidak mudah bagiku melupakan Kyuhyun Oppa, tapi aku janji padamu, aku akan berusaha mencintaimu lagi. Karena aku tahu, kau adalah cinta pertamaku. Dan jujur, aku tidak pernah melupakan cinta pertamaku.

——————————————————————————————————————————————-

2 tahun kemudian…

“ Ya~ kenapa kau masih menyanyi di tempat Jonghun Oppa, Seung?” tanyaku padanya.

“ Aku senang melakukannya, Chae..wae?” dia merangkul pundakku.

“ Kau harus bekerja di pagi hari, malam hari kau harus bernyanyi disana..aku hanya mencemaskan kesehatanmu, Seung..” ujarku cemas.

“ Gwaenchana..yang penting kau selalu datang melihatku bernyanyi..” ujarnya, mempererat rangkulannya. “ Aigoo..semakin malam udara semakin dingin saja..”

Aku meraih tangannya, menggenggamnya erat.. “ Apakah masih terasa dingin?” tanyaku padanya.

Dia tersenyum padaku. “ Ani..”

Aku membalasnya dengan senyuman. “ Seunghyun ah..”

“ Ne..”

“ Dua tahun yang lalu..saat di jurang..ake selalu bertanya-tanya..bagaimana kau bisa tahu jika aku sedang berada disana?” tanyaku penasaran.

“ Kau sungguh ingin tahu?”

“ Tentu saja aku ingin tahu..” sahutku.

“ Hmmmm..aku hanya mengikuti kupu-kupu..” jawabnya.

Aku menghentikan langkahku. “ Jinjja?” tanyaku tidak percaya.

“ Saat itu aku merasa putus asa karena tidak bisa menemukanmu..aku berbaring di tepi danau, mencoba menenangkan pikiranku..lalu ada dua ekor kupu yang berteebangan diatasku. Entah kenapa, perasaanku menjadi aneh melihat kupu-kupu tersebut. Mereka seperti memberi isyarat agar aku mengikuti mereka. Terdengar bodoh sekali, bukan? Tapi buktinya, karena mengikuti kupu-kupu tersebut, aku bisa menemukanmu..” jelasnya.

“ Sungguh hal yang menakjubkan..” ujarku.

“ Bisa dibilang karena kupu-kupu tersebut, saat ini aku bisa bersama denganmu, Chae..” ujarnya pelan. Dia menatap mataku lekat-lekat, kemudian mulai mendekatkan wajahnya padaku. Aku memejamkan mataku. Kurasakan bibirnya sudah mencapai bibirku.

“ Ahhh..” pekikku, membuatnya melepaskan bibirnya.

“ Wae?” tanyanya cemas.

Aku menyentuh perutku. “ Dia menendang perutku, Seung..”

“ Sepertinya dia iri padaku, Chae..” godanya.

“ Ya~ tidak biasanya dia bergerak terlalu aktif..” ujarku pelan.

“ Kalau begitu aku tidak akan dekat-dekat denganmu, Chae..” sahutnya, tertawa. Kemudian kurasakan tangannya menyentuh perutku. “ Ya~ cepatlah datang ke dunia ini..aku sudah tidak sabar bertemu denganmu..” ujarnya, wajahnya terlihat sangat bahagia sekali. Hal tersebut membuatku menitikkan air mata. Air mata bahagia.

Mungkin aku memang harus kehilangan orang-orang yang kucintai, tapi Tuhan sudah menggantinya dengan satu orang yang sangat berharga sekali.

Gamsa Hamnida, karena Kau sudah memberiku seorang pria bernama Song Seunghyun.

THE END

——————————————————————————————————————————————-

Berikan penilaian kalian tentang FF ini di kolom komentar. Don’t be silent reader ya ^^

Pos ini dipublikasikan di Fan Fiction, K-DID dan tag , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke [FF] Only One Person

  1. Kim Joon Ri berkata:

    Sedih Thor… Seunghyun baik banget, nunggu ampe sama gitu… Ternyata dulu Chaehyun suka Seunghyun juga? Omooo~ nice ending Thor!^^

Don't be silent reader, tulis komentarmu di sini ^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s