[FF] My Happiness is Your Smile


@We_LoveKDrama

@We_LoveKDrama

Nama: Nova Ratna

Nickname: Vha

Akun Twitter: @novaratnas

Title FF: My Happiness is Your Smile

Genre: Sad Romance

Main Casts: Infinite Sung Trio (Sungyeol, Sungkyu, Sungjong), Kim Minji (OC)

Length: Oneshot

——————————————————————————————————————————————-

Aku mulai memainkan kameraku, membidik sana-sini mencari objek yang tepat. Aku berada di Pulau Nami saat ini. Pemandangan pepohonan di Pulau Nami benar-benar indah. Tempat yang cocok bagi para pemburu gambar. Aku mulai mencari objek ke sisi lain dari yang sebelumnya. Tiba-tiba lensa kameraku menangkap satu titik dimana yang aku lihat adalah seseorang yang juga mengarahkan kameranya kepadaku. Kami saling melihat dalam lensa kamera kami masing-masing. Aku mengalihkan kameraku dari pandangan. Begitu juga yang dilakukan oleh orang itu. Kutatap orang itu dari kejauhan. Seorang gadis cantik dengan rambut hitam panjang tergerai indah itu juga menatapku dari tempatnya. Kucoba berjalan perlahan mendekatinya. Tak kusangka dia bahkan lebih cantik ketika aku melihatnya dari dekat.

“Hai..” Sapaku.

Dia hanya membalas sapaanku dengan senyuman manis. Aku sudah sering mengobrol dengan banyak gadis disekolah sebelumnya, tapi aku tidak pernah merasakan jantungku berdegup sekencang ini.

“Lee Sungyeol..” Kuulurkan tangan kananku mencoba berkenalan dengannya.

Dia menatapku sebelum akhirnya dia membalas uluran tanganku. “Kim Minji.” Ucapnya.

“Kau menyukai fotografi?” Tanyaku berbasa-basi.

“Iya. Sangat suka.” Jawabnya.

“Sejak kapan kau menyukai fotografi?”

“Ayahku adalah seorang fotografer. Sejak kecil aku sudah sangat akrab dengan kamera.”

“Wah hebat sekali. Aku baru beberapa tahun belakangan ini menyukainya. Sepertinya aku bisa belajar banyak darimu.”

“Kenapa kau menyukai fotografi?”

“Entahlah, aku hanya melakukannya sebagai hobi demi menghilangkan penat. Bagiku, fotografi menghasilkan karya yang tidak pernah menipu. Mendekatkanku pada alam sekitar, dan mampu membuatku menjadi sangat tenag ketika melakukannya.”

Dia hanya menganggukkan kepala tanpa berkata apa-apa.

Hening sesaat. Kucoba memainkan kameraku sebelum akhirnya aku mendapat inspirasi untuk menanyakan sesuatu pada gadis ini.

“Biasanya, objek apa yang sering digunakan oleh seorang fotografer?”

“Objek apa saja. Benda matipun, seorang fotografer harus bisa menjadikannya seolah benda itu mempunyai nyawa. Tapi Ayahku lebih suka memotret Ibuku dibandingkan benda-benda sekitar.”

“Kenapa?”

“Ibuku adalah seorang model. Ayahku adalah fotografernya. Itulah mengapa mereka bisa bertemu.”

“Kisah yang romantis.” Aku dan Minji tertawa bersama. Terlihat matanya bersinar saat dia tersenyum, bahkan tertawa.

“Sungyeol, boleh aku tahu usiamu? Jangan salah paham. Hanya saja jika kau lebih tua dariku, mungkin aku bisa lebih bersikap formal terhadapmu.”

“Mudah saja. Jika aku lebih tua, kau bisa memanggilku oppa, dan jika kau yang lebih tua, maka aku akan memanggilmu noona. Aku 19 tahun.”

“Sepertinya panggilan-panggilan itu tidak perlu. Karena aku juga 19 tahun.”

“Jadi kita sebaya?”

“Sepertinya begitu.”

Gadis ini sebaya denganku? Aku tidak percaya ini. Wajahnya begitu kalem dan tenang. Membuatku mengira dia lebih tua dariku.

Hening kembali mengusik. Aku bingung harus bertanya apalagi agar kami bisa terus mengobrol. Aku memutar otak. Mencoba mencari pertanyaan yang tepat.

“Minji, kau punya adik atau kakak?” Bodoh, pertanyaan macam apa ini. Kenapa tiba-tiba keluar dari mulutku. Minji pasti akan menganggapku sangat aneh.

“Aku anak tunggal. Kalau kau?” Gadis ini sangat baik hati. Tak kusangka dia menggubris pertanyaan konyol macam itu. Bahkan dia kembali bertanya padaku. Gadis yang menghargai orang lain.

“Aku punya satu kakak laki-laki dan satu adik laki-laki. Nama kami memang mirip, tapi kami sangatlah berbeda. Kalau kau bertanya siapa yang paling tampan diantara kami bertiga, tak dapat dipungkiri karena memang akulah yang paling tampan.”

Minji tertawa. Kali ini lebih lebar dari sebelumnya. Matanya yang kecil itu semakin kecil terlihat. Jantungku kembali berdegup kencang. Andai aku bisa membenamkan wajahnya didadaku dan membiarkan telinganya mendengar betapa gugup aku dibuatnya.

Dia berhenti dari tawanya, nampaknya dia mulai ingat sesuatu. Dia melihat jam tangannya, lalu membereskan kameranya. Aku hanya diam menatapnya.

“Sungyeol mianhae, sepertinya aku harus pergi sekarang. Kapan-kapan kita mengobrol lagi ya, kuharap kita bisa bertemu lagi. Annyeong.” Dia menarik tasnya kasar. Kulihat sebuah kertas terjatuh dari tasnya.

“Minji, kertasmu terjatuh.” Kurasa aku sia-sia karena Minji sudah jauh meninggalkanku sebelum aku menjawab ‘annyeong’ untuk balasan kata perpisahan darinya.

Kupungut kertas itu. sebuah foto. Foto Minji bersama seorang namja yang wajahnya sudah tidak jelas karena sepertinya Minji memang sengaja memburamkan wajah namja itu. kulihat bagian belakang foto terdapat tulisan ‘Maaf aku meninggalkanmu. Saranghaeyo’.

——————————————————————————————————————————————-

Kurebahkan tubuhku diatas kasur nyamanku. Kubaca berulang kali tulisan itu. Sesekali kutatap foto Minji. Sangat cantik. Aku tak bisa berhenti memikirkannya. Kuharap aku bisa bertemu lagi dengannya.

“Hyung, aku lapar. Buatkan makanan untukku.” Adikku, masuk kekamarku tiba-tiba. Memintaku membuatkan makanan untuknya. Itu sudah menjadi kebiasaannya. Ayah dan Ibuku memang sedang keluar negeri. Untuk itu, aku hanya tinggal bertiga bersama adik dan kakakku.

“Aku lelah, kau minta tolong Kyu hyung saja ya.” Aku menolak. Karena aku memang sangat lelah setelah seharian berjalan-jalan di Pulau Nami.

“Kyu hyung sedang pergi. Aku mohon, Yeol hyung.” Dia selalu memasang wajah imutnya untuk hal-hal yang ia inginkan.

“Ayolah Jong-ah, aku lelah. Kau buat sendiri saja ya. Kau kan sudah dewasa.” Aku memalingkan wajah dan menutup mataku. Aku tahu adikku kesal terhadapku malam itu, tapi aku tidak peduli. Ibu terlalu memanjakannya, hingga diusianya yang sudah 17 tahun dia tak kunjung dewasa.

——————————————————————————————————————————————-

“Yeol-ah, kau tidak sarapan?” Suara hyungku memberhentikan aku sekejap dari keterburu-buruanku. Aku memang sudah terlambat masuk kelas hari ini.

“Tidak hyung, aku ada presentasi hari ini. Kyu hyung, Jong, aku pergi dulu ya.” Aku bergegas keluar rumah. Tak lupa membawa kamera kesayanganku. Hadiah ulang tahun dari Kyu hyung. Aku sangat menyukainya.

Aku kuliah di salah satu universitas di Seoul jurusan bisnis. Ayah yang memaksaku masuk ke jurusan ini. Padahal ini sangat membosankan. Itu semua gara-gara Kyu hyung. Kalau saja dia tidak memilih seni musik dan lebih memilih bisnis, aku tidak akan menjadi korban obsesi Ayah untuk menjadi pebisnis hebat seperti dirinya.

——————————————————————————————————————————————-

Jong, nama panggilan sayang dari keluargaku untuk dirinya. Adikku ini sangat mencintai modern dance. Dia selalu meluangkan waktunya untuk menari dimanapun dia berada. Bahkan ketika disekolah sekalipun.

Seorang yeoja melewati ruangan berpintu kaca dimana terlihat seorang siswa sedang menari dengan hebatnya. Sepertinya yeoja itu tertarik memasuki ruangan. Diambilnya gambar-gambar siswa itu sedang menari menggunakan kamera yang ia kalungkan dilehernya.

Siswa yang menyadari hal itu, kemudian berhenti menari dan melepas headphone dari telinganya.

“Kau siapa? Kenapa memotretku?”

“Aku tertarik dengan tarianmu. Maaf aku mengambil gambar tanpa ijin. Tapi itu sangat keren.” Kata yeoja itu sembari melihat-lihat hasil potretannya.

“Benarkah? Terimakasih. Namaku Sungjong. Kau siapa? Sepertinya bukan siswi sekolah ini.” Jong, dia memperkenalkan dirinya.

“Namaku Kim…” Yeoja itu berhenti mendadak setelah ponsel yang ada disakunya itu berbunyi. Sepertinya alarm.

“Oh, maaf Sungjong, sepertinya aku harus pergi.” Yeoja itu pergi seketika dari hadapan Sungjong.

——————————————————————————————————————————————-

“Hyung, tadi aku bertemu yeoja disekolah. Dia masuk ke ruang latihanku tiba-tiba dan memotretku saat sedang menari.” Sungjong selalu menceritakan apa yang dia alami kepada aku dan Kyu hyung.

“Benarkah? Cantik tidak? Siapa namanya?” Kyu hyung, kakak tertua kami yang berusia 21 tahun itu, selalu berusaha menjadi pendengar yang baik untuk adik-adiknya.

“Sangat cantik. Tapi sepertinya dia lebih tua dariku. Dia tidak memakai seragam sekolah. Namanya Kim, ah dia tidak melanjutkan memberitahu namanya.”

Kim Minji, kenapa tiba-tiba aku terpikir olehnya setelah mendengar cerita dari Sungjong. Tapi kuharap itu benar. Sedang apa dia disekolah Sungjong? Ah molla! Dia membuat jantungku berdegup kencang kemarin, dan sekarang dia membuatku memikirkannya.

——————————————————————————————————————————————-

“Kim Minji, kuharap kau benar-benar ada disini.” Gumamku.

Jadwal kuliah telah usai. Aku pergi diam-diam ke sekolah Sungjong. Kutelusuri semua sudut sekolah dengan hati-hati. Susah payah aku memanjat gerbang agar bisa masuk kedalam sini. Jangan sampai seseorang mendapati orang asing sepertiku berada disekolah yang bukan sekolahnya.

Siapa gadis itu? Gadis yang duduk dibangku taman belakang sekolah ini. Membaca buku sambil menikmati suasana. Terlihat sebuah kamera tergeletak disampingnya. Tidak salah lagi, itu pasti Minji. Aku mulai berjalan mendekatinya.

“Kim Minji..” Teriakku memanggilnya. Gadis itu menoleh. Mata itu, mata bercahaya yang kulihat beberapa hari yang lalu.

“Sungyeol..” Ucap gadis itu.

“Kau masih ingat aku?”

“Tentu saja.”

“Sedang apa kau disini?”

“Bernostalgia.”

Aku mengerutkan kedua alisku. Tak mengerti apa yang gadis ini bicarakan. Tapi gadis ini malah tertawa melihatku bingung.

“Sungyeol, wajahmu lucu ketika alismu berkerut menyatu seperti itu.” Dia tertawa terbahak-bahak. Aku semakin tidak mengerti apa yang ada dipikirannya. Selucu itukah wajahku?

“Hey, tapi orang-orang selalu memujiku bahwa aku ini tampan.” Aku semakin membuatnya tidak berhenti tertawa. Apa ada yang salah pada diriku?

“Minji, kau sedang apa disini? Bukankah orang luar tidak boleh masuk kemari?” Kali ini aku tidak bercanda. Ini pertanyaan serius yang ingin kutanyakan sejak kemarin jika aku bertemu lagi dengan gadis ini.

“Aku adalah alumni dari sekolah ini. Aku hanya ingin mengenang masa-masa laluku. Aku bisa masuk karena penjaga itu sudah mengenalku selama aku bersekolah disini. Kau sendiri? Apa kau juga dari sekolah ini?”

“Tidak, aku tidak bersekolah disini.”

“Lalu bagaimana kau bisa masuk kemari?”

“Aku memanjat gerbang dan berharap akan bertemu denganmu.”

“Bertemu denganku? Untuk apa?”

Jantungku kembali berdegup kencang. Aku mulai merasa sesak. Pertanyaan itu sungguh mematikan. Bagaimana ini? Haruskah aku mengatakan bahwa aku menyukainya saat ini juga? Oh Tuhan, bagaimana ini?!

“Minji, aku meyukaimu sejak awal pertemuan kita di Pulau Nami.” Bodoh, kenapa tiba-tiba terucap? Ah, dasar Sungyeol babo! Tidak bisa menjaga mulut. Bagaimana ini? Bagaimana kalau dia menolakku? ‘bertahanlah Sungyeol, apapun jawabannya kau harus menerimanya.’ Batinku menguatkan diriku sendiri.

Gadis itu menatap mataku dalam. Seakan menelusuri, mencari tahu apa yang ada didalam mataku. Kemudian dia tersenyum. Ah lagi-lagi senyuman itu. Senyuman yang sejak pertama aku bertemu dengannya, menyambutku hangat hingga membuat jantungku berdegup sangat kencang.

“Kenapa kau menyukaiku? Baru dua kali kita bertemu.”

“Aku menyukaimu sejak awal. Kau membuat jantungku berdetak kencang ketika aku melihatmu. Melihat wajahmu, melihat senyummu, melihat tawamu. Aku tahu kau adalah gadis baik. Kau selalu menggubris pertanyaan-pertanyaan bodoh dariku. Hingga sejak itu, aku menyukaimu. Tapi semuanya kuserahkan padamu. Apapun jawaban darimu, aku bisa menerimanya. Bahkan ketika kau menolakku dan menamparku karena aku tahu, sikapku ini sangat konyol. Aku akan menerima semuanya.” Kuungkapkan semua yang ada dihatiku.entah apa yang menjadi jawabannya, tapi dengan ini aku akan bisa menjadi lebih lega.

Minji menatapku dan menggenggam tanganku. DEG! Sepertinya jantungku akan berhenti saat ini juga. Gadis ini, kenapa selalu membuatku menjadi seperti ini? Nafasku mulai terasa sesak, lidahku kelu, mataku hampir tak berkedip, keringat mengucur diseluruh bagian tubuhku. Dapat kurasakan alirannya begitu cepat. Tubuhku, mati rasa dibuatnya. Kufokuskan telingaku pada apa yang akan dia ucapkan. Aku tidak mau tertinggal satu katapun darinya.

“Sungyeol, aku senang kau menyukaiku. Aku juga senang kau mengakuinya padaku. Kau pria baik dan jujur yang berani mengakui segala yang ada dihatimu tanpa memerdulikan bagaimana resikonya. Kau bisa membuatku tertawa. Kau teman yang baik. Tapi maaf, aku tidak bisa menerimamu. Bukan apa-apa, tapi karena aku merasa lebih nyaman jika kita berteman. Tidak lebih dan tidak kurang. Kuharap kau mengerti.” Keringatku membeku saat dia mengatakan bahwa dia tidak bisa menerimaku. Tubuhku mematung dihadapannya. Tak percaya dengan apa yang kudengar. Tapi tak apalah, setidaknya beban ini berkurang setelah aku mengakuinya.

“Sungyeol, kita berteman kan?” Tanyanya sembari menunjukkan jari kelingkingnya yang mungil itu.

Aku tersenyum menatap jari kelingkingnya. Lalu kulingkarkan jari kelingkingku pada jari Minji.

“Tentu, aku adalah temanmu.”

“Akhirnya, aku bisa punya teman selama berada di Korea.” Ucapnya dengan senyum lebar.

“Selama di Korea?” Aku tidak mengerti apa maksudnya. Kembali aku mengerutkan kedua alisku.

“Iya, aku baru seminggu yang lalu tiba disini setelah dua tahun orangtuaku membawaku ke Amerika.”

“Oh, jadi untuk itu kau bernostalgia ditempat ini?” Perlahan aku mulai mengerti.

“Iya.”

“Ini adalah sekolah hyungku dan juga adikku. Sayang sekali, kalau saja Ayah dan Ibu memasukkanku ke sekolah ini, pasti aku sudah mengenalmu akrab.”

“Kenapa kau tidak bersekolah disini seperti mereka?”

“Semasa SMA, orangtuaku yang super sibuk menyuruhku menemani Nenekku yang sedang sakit di Jinan, yah walaupun sekarang Nenek sudah meninggal. Pada saat itu, hyungku sudah kelas 3 SMA, jadi dia harus mempersiapkan diri untuk ujian kelulusan. Sedangkan adikku, dia masih terlalu kecil untuk hidup mandiri. Apa boleh buat, hanya aku harapan mereka. Sekarang, karena ulah hyungku yang minta dikirim keluar negeri demi memasuki jurusan seni musik disana, aku menjadi korban obsesi Ayah. Beliau menyuruhku masuk ke jurusan bisnis agar bisa menjadi seperti dirinya. Adikku sangat menyukai dance. Aku yakin saat dia lulus nanti, dia juga akan meronta sebagaimana hyungku ketika Ayah menyuruhnya masuk ke jurusan bisnis.” Aku bercerita panjang lebar mengenai kehidupanku yang kurasa ini sangatlah membosankan.

“Sungyeol, kau memang malaikat. Jika hyungmu dan adikmu tidak mau masuk ke jurusan bisnis, setidaknya ada kau yang sudah mau menuruti keinginan Ayahmu. Kau juga patuh kepada Ayah dan Ibumu yang menyuruhmu pergi ke Jinan untuk menemani Nenekmu. Betapa beruntungnya keluargamu memilikimu.”

‘Minji, dan betapa beruntungnya aku bertemu gadis sebaik dirimu.’ Aku bergumam dalam hati.

——————————————————————————————————————————————-

“Yeol-ah, ayo makan malam bersama. Jangan bermain terus dengan kameramu.” Kyu hyung, kakak yang sangat bertanggung jawab terhadap adik-adiknya. Dia selalu berteriak ketika aku dan Jong tidak kunjung berada di meja makan. Karena kami berdua tahu, masakan yang selalu dimasak oleh Kyu hyung tidak pernah benar. Setiap hari, rasa dari masakannya selalu berubah-ubah. Terlalu manis, terlalu asin, atau bahkan pahit karena hangus. Maka dari itu, Jong lebih sering memintaku untuk memasakkan makanan untuknya dibandingkan dengan Kyu hyung. Walaupun sama-sama kacau, setidaknya masakanku lebih baik dari Kyu hyung.

“Hyung, tahu begini, kupesan pizza saja dari tadi.” Jong mngeluh setelah mencoba masakannya.

“Kau tidak boleh terlalu banyak memakan makanan seperti tu. Masakan rumahan jauh lebih sehat.” Kyu hyung mulai mengomel. Lagi-lagi sikap dewasanya terlihat. Aku mengaguminya jauh dibandingkan aku mengagumi Ayahku sendiri.

“Tapi ini sama saja kau membunuhku. Makanan ini terlalu asin. Bukan menjadi sehat, yang ada aku terkena darah tinggi.” Jong tetap mengeluh. Anak ini memang sangat keras kepala.

“Sudahlah Jong, makan saja. Lagipula Kyu hyung sudah bersusah payah membuatkan untuk kita.” Aku mulai berbicara. Aku memang tidak suka dengan orang yang tidak menghargai usaha orang lain.

“Jong-ah, dengarkan itu kata-kata hyungmu. Kau harus belajar menghargai karya orang lain. Oh iya, besok aku akan pulang agak malam. Ada beberapa urusan dengan teman-teman bandku.” Kyu hyung memang tidak pernah lepas dari musik. Dia adalah vokalis di grup bandnya. Harus kuakui, suara Kyu hyung sangatlah bagus. Aku selalu bisa terhanyut dalam nyanyiannya. Benar-benar indah.

——————————————————————————————————————————————-

Pagi ini, aku berangkat kuliah seperti biasa. Entah kenapa rasanya hari ini aku sangat penat, aku bosan, dan aku butuh hiburan. Kim Minji, benar, kenapa tidak kuajak saja dia jalan-jalan. Aku akan bolos kuliah hari ini. Kucoba menghubungi nomor ponselnya setelah kami berbincang banyak ditaman sekolah Jong kemarin, dan akhirnya saling bertukar nomor ponsel.

“Yeoboseyo?” Ucapnya diseberang sana.

“Minji, apa kau ada waktu hari ini? Aku ingin mengajakmu memotret keramaian. Apa kau mau?”

“Memotret keramaian? Aku sangat mau.” Terdengar suara girang Minji yang sepertiya sangat tertarik dengan tawaranku ini.

“Kalau begitu, kutunggu kau di Taman dekat sekolah kemarin ya. Sampai bertemu.”

——————————————————————————————————————————————-

“Wah, Pasar Namdaemun, aku lama sekali tidak kemari. Terimakasih Sungyeol, kau sudah mengajakku.” Wajahnya sangat ceria. Bola matanya yang hitam pekat nampak bersinar. Aku senang bisa membuatnya bahagia seperti ini.

“Ayo, mulai memotret.”

Aku berjalan bersama Minji menelusuri berbagai sudut tempat ini. Memotret setiap momen yang dilakukan orang-orang disini. Sampai akhirnya, Minji kelelahan dan mengajakku beristirahat disebuah cafe. Aku melihat-lihat hasil potretanku pada kamera. JPRETT! Aku mendongakkan kepala. Aku terkejut. Tak kusangka Minji memotretku.

“Minji, kau memotretku?”

“Wajahmu lucu kalau sedang serius.” Minji tertawa. Aku hanya tersenyum menanggapi gadis ini. Jujur saja, perasaan itu, perasaan aku menyukainya, masih tersimpan dalam hatiku. Kuharap suatu saat nanti aku bisa mengungkapkannya kembali.

Aku baru ingat, aku belum mengembalikan foto Minji yang terjatuh saat itu. “Minji, maaf aku lupa. Ini, fotomu terjatuh saat kau buru-buru pergi di Pulau Nami.” Aku menyerahkan fotonya.

Minji kaget dan membelalakkan matanya. Sesegera mungkin dia merebut foto itu dari tanganku. “Bagaimana bisa ini ada padamu?” Tanyanya.

“Saat itu fotomu terjatuh. Aku memungutnya. Tapi saat akan kukembalikan, kau sudah tak terlihat dari pandanganku. Maaf.”

“Tidak apa-apa. Hanya saja foto ini sangat berarti untukku. Terimakasih kau mengembalikannya.”

“Jika foto itu sangat berarti, kenapa kau memburamkan wajah namja ini? Kalau boleh tahu, dia siapa?”

“Namja ini, namja menyebalkan yang aku cintai.” Minji mulai bercerita. Namja yang dia cintai, karenanya kah dia tidak bisa menerimaku? Karena dia masih mencintai namja itu? Entahlah. Tapi kucoba menabahkan hatiku mendengar kisahnya.

“Aku dan dia berpacaran sejak SMA. Pada saat itu, aku masih duduk di kelas 1 dan dia berada di kelas 3. Tapi setelah dia lulus, dia lebihmemilih untuk kuliah diluar negeri dan meninggalkanku. Beberapa hari setelah dia pergi, dia mengirimkan foto ini beserta tulisan yang ada dibaliknya. Saat itu aku benar-benar hancur. Aku menumpahkan kebencianku dengan memburamkan wajahnya pada foto ini. Tapi hatiku tidak bisa berbohong. Aku masih mencintainya. Aku kuliah di Amerika, dan rencananya aku akan melanjutkan kuliahku di Seoul. Untuk itu aku kembali kesini seminggu yang lalu, berharap aku bisa bertemu lagi dengannya.” Aku baru menyadari dia bercerita sambil meneteskan air mata. Baru kali ini aku melihatnya menangis. Kuulurkan tanganku mendekati wajahnya. Kuusap air mata yang membasahi wajahnya.

“Jangan menagis. Aku yakin kau akan bertemu dengan namja itu lagi.” Aku mencoba menghiburnya. Padahal kata-kata hiburanku ini sangat membuatku sakit sendiri.

“Gomawo Sungyeol, kau teman yang baik.” Jawabnya sembari tersenyum tipis.

“Oh iya, aku ingin menunjukkan hasil potretanku kepadamu. Aku ingin kau mengomentarinya.”

“Benarkah? Aku mau melihatnya.”

“Tapi aku tidak membawanya sekarang. Apa tidak masalah jika aku mengajakmu kerumahku? Tenang saja, aku bukan orang jahat.”

“Aku percaya padamu. Kau orang yang baik. Tentu saja tidak masalah jika harus kerumahmu.”

“Benarkah? Kalau begitu kita pergi sekarang ya. Akan kukenalkan juga kau pada adikku, Jong, dan hyungku, Kyu hyung.” Kami beranjak dari cafe. Sesegera kami menuju rumahku.

——————————————————————————————————————————————-

Kutekan-tekan angka pada kunci elektronik rumahku. Kumasukkan password yang sudah kuhafal diluar kepala tentunya agar kunci pintu terbuka secara otomatis.

“Duduklah, anggap saja rumah sendiri. Ah, aku lupa. Hyung bilang dia akan pulang agak malam hari ini. Adikku paling-paling sedang menonton street dance. Jadi aku tidak bisa mengenalkanmu pada mereka.” Kataku agar dia merasa lebih nyaman berada dirumahku. Dia menatap sekeliling rumahku.

“Kyu? Yeol? Jong? Kenapa namanya sangat lucu?” Minji tertawa sesaat setelah melihat 3 pintu kamar dengan tulisan namaku, Jong, dan Kyu hyung.

“Oh, itu panggilan-panggilan sayang dari keluargaku untukku dan saudara-saudaraku. Memang sangat aneh.” Jawabku sembari menyodorkan sekaleng minuman soda untuknya. “Tunggu sebentar ya, akan kucarikan album hasil potretanku.”

Dia hanya mengangguk. Aku meninggalkannya sendiri diruang tamu. Dia melihat-lihat sekeliling rumahku dan mulai memotret. Entah mengapa dia memotret, padahal rumah ini, tidak ada yang menarik disini. Seseorang membuka pintu memasuki rumah. Ah mungkin Jong, pikirku.

“Kau siapa?” Tanya orang itu kepada Minji yang sedang asyik memotret.

Minji membalikkan badan. Tak percaya pada apa yang dilihatnya. Dia melebarkan mata dan menutup mulutnya yang terperangah menggunakan satu tangannya. Sedangkan tangan yang lainnya masih memegang kamera.

“Kim Minji? Kau Minji kan?” Orang itu tampak mengenali Minji.

“Sungkyu oppa..” Ucap Minji pelan. Sungkyu, nama lengkap dari Kyu hyung. Sama seperti aku, Sungyeol dan adikku, Sungjong.

Aku keluar dari kamar membawa beberapa album hasil potretanku yang akan kutunjukkan pada Minji. Kulihat Sungkyu hyung yang kupikir tadi adalah Sungjong, sedang bertatapan dengan Minji.

“Hyung, kau sudah pulang? Bukankah kau bilang kau akan pulang agak malam?” Sungkyu hyung hanya mematung ditempat tanpa menjawab pertanyaanku, begitu juga dengan Minji.

“Kalian kenapa? Apa kalian saling mengenal?” Aku bertanya untuk kedua kalinya. Tetap tidak ada jawaban.

Minji tersadar dari lamunannya. Sesegera ia meraih tasnya. “Sungyeol, aku harus pergi.” Ucapnya. Lalu ia berlari meninggalkan rumahku.

“Minji..” Kyu hyung memanggil Minji dan berusaha mengejarnya. Tapi sengaja kucegah dengan menahan lengannya.

“Hyung, apa kau mengenal Minji?” Aku bertanya pada Sungkyu hyung. Tapi dia tidak menjawab dan berusaha melepaskan cengkeramanku dari lengannya. “Hyung, jawablah!” Aku berteriak padanya. Aku tahu ini tidaklah sopan, tapi aku terpaksa melakukan ini.

“Seperti yang kau lihat.” Jawab Kyu hyung singkat kemudian berhasil melepaskan cengkeramanku. Sungkyu hyung berlari menuju pintu. Aku tahu dia ingin mengejar Minji. Tapi lagi-lagi aku mencegahnya.

“Biar aku saja.” Ucapku sembari membanting album-album yang masih kupegang itu ke lantai, kemudian pergi meninggalkan Sungkyu hyung.

Gadis itu, kemana dia pergi? Kenapa langkah kakinya begitu cepat? Aku tidak tahu harus kemana lagi mencarinya.

“Kim noona!” Teriak seorang anak laki-laki memanggil seorang gadis. Namun gadis itu hanya terus berlari tanpa menghiraukan panggilan dari anak laki-laki itu. sepertinya aku mengenal suara itu.

“Yeol hyung..” Kali ini suara anak itu memanggilku. Tidak salah lagi, suara ini..

“Jong-ah, kemana orang yang kau panggil Kim noona itu pergi?” Tanyaku kepada Sungjong yang masih bingung melihat aku seperti bermain kejar-kejaran bersama Minji.

“Kim noona? Ke arah sana.” Sungjong menunjuk ke arah pintu keluar gedung.

Sesegera aku berlari menuju pintu keluar. Kuharap Minji belum jauh dari tempat ini. Sungjong hanya bisa menggaruk kepalanya karena kebingungan melihatku. Mataku tak berkedip. Bola mataku berlari kesana kemari mencari gadis itu. Dapat. Gadis yang sedang duduk di halte seberang terlihat sedang menangis. Kulangkahkan kakiku mendekati gadis itu.

“Minji..” Ucapku perlahan.

Gadis itu mengusap kasar wajahnya yang basah karena air mata. Lalu mendongakkan kepalanya menatapku. Aku duduk disampingnya. Mencoba membantu menyeka air matanya. Tapi tangan gadis ini menahan tanganku yang hampir mendarat diwajahnya. Hingga aku mengurungkan niatku. Perlahan, kucoba mengajaknya bicara.

“Minji, apa kau kenal dengan Kyu hyung?” Tanyaku.

“Kyu hyung, kau selalu memanggilnya dengan nama Kyu. Kenapa kau tidak memanggilnya Sungkyu saja? Dengan begitu, aku bisa tahu sejak awal kalau hyungmu itu adalah Sungkyu oppa.” Minji menghembuskan nafas panjangnya.

“Kenapa memangnya? Ah benar. Kalian satu sekolah sebelumnya kan? Apa kalian pernah saling mengenal disekolah?”

“Sungkyu oppa, namja itu, dia adalah namja yang berada difotoku.”

“Apa? Jadi orang yang sangat kau cintai itu… Kyu hyung?” aku kaget bukan main. Nafasku sesak. Tak kusangka aku menyukai gadis yang sangat mencintai hyungku. Kenapa harus Kyu hyung? Kenapa harus kakakku? Aku mematung. Pandangankuku tertuju pada jalanan yang ramai oleh kendaraan berlalu lalang, tapi pikiranku sudah melambung jauh entah kemana.

“Sungyeol..” Gadis itu melambaikan tangannya didepan wajahku. Mencoba menyadarkanku dari lamunan. Aku mulai tersadar. Kutengok dia sebentar sebelum akhirnya aku memalingkan wajahku.

“Gwaenchana?” Tanyanya.

“Hmm. Gwaenchanayo.” Jawabku datar.

Sebuah busway berhenti tepat dihadapan kami. “Sungyeol, aku harus pulang. Kau juga pulanglah.” Minji melangkahkan kakinya masuk kedalam busway.

Aku mematung seperti sebelumnya tanpa menengok ke arah Minji sedikitpun. Tapi bisa kulihat saat ia duduk didalam busway, air matanya mulai mengalir. Disaat-saat seperti itu, ingin rasanya aku menyeka lembut air matanya, menenangkannya, dan memeluknya hangat. Tapi bahkan dia menghalangi tanganku saat akan mengusap air mata diwajahnya. Aku tak menyangka doaku begitu cepat terkabul. Rasanya baru beberapa jam yang lalu aku mengatakan kepadanya ‘kau pasti bisa bertemu lagi dengan namja itu’. Tapi kenapa harus hyungku? Kenapa? ARRGGHH!! Aku berteriak sekencang mungkin. Tidak peduli bagaimana orang-orang melihatku. Aku mengacak-acak rambutku. Tertunduk lemas tidak tahu harus bagaimana. Seseorang menepuk pundakku. Aku mendongakkan kepala melihatnya.

“Hyung, gadis itu, gadis yang aku ceritakan waktu itu, Kim noona, adalah mantan pacar Kyu hyung? Dan kau menyukainya?” Sungjong, bocah itu ternyata melihat semuanya.

“Jong-ah, kenapa aku yang harus menjadi korban cinta mereka? Kenapa Jong-ah? Kenapa aku mencintai gadis itu? WAEE?!” Rasanya aku ingin menangis. Tapi aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak pernah menangis. Apalagi dihadapan Sungjong. Karena akulah yang mengajarinya untuk tidak menangis. ‘Pria sejati tidak boleh takut terhadap apapun dan tidak boleh menangis’. Begitu yang selalu aku katakan kepada adikku ini ketika dia mulai takut terhadap sesuatu, lalu menangis. Untuk itu, aku sangat berani mengungkapkan perasaanku kepada Minji tanpa memikirkan resikonya.

“Bukan salahmu hyung, semua itu terjadi dengan tidak sengaja. Aku tidak pernah bertemu Kim noona saat dia masih bersekolah disekolahku dulu. Aku juga bertemu dengannya secara tidak sengaja. Semua ini karena ketidak sengajaan, hyung.” Sungjong menepuk punggungku. Mencoba memberi semangat untukku.

——————————————————————————————————————————————-

Aku memutuskan untuk pergi ke Pulau Nami pagi ini. Pulau kesukaanku yang mampu membuatku tenang ketika menatap barisan pepohonannya. Berharap semua kegundahanku dapat terhapuskan selama berada disini.

Aku mengangkat kameraku dan bersiap membidik. Namun, sepertinya seseorang menggangguku. Dia mendekatkan wajahnya tepat didepan lensa kameraku. Aku menurunkan kameraku dan melihat siapa orang yang telah menggangguku ini.

“Minji..” Kenapa aku bertemu gadis ini disini? Padahal aku ingin melupakan semuanya sejenak.. tapi kenapa dia muncul tiba-tiba dihadapanku?

“Sungyeol, annyeong.” Minji tersenyum sangat lebar kepadaku seperti sedang tidak punya beban apapun. Padahal aku masih ingat betul kejadian semalam.

“Minji, sedang apa kau disini?”

“Angin yang membawaku kemari.” Untuk kesekian kalinya dia membuatku mengerutkan alis.

“Apa kau selalu ceria seperti ini ketika dihadapan orang lain? Bahkan sepertinya kau sudah melupakan kejadian semalam.”

“Aku memang tidak pernah meunjukkan kesedihanku kepada siapapun. Lagipula sepertinya air mataku akan sia-sia jika aku menangisinya.” Dia menatap langit seolah langit itu adalah orang yang sedang dibicarakan.

“Kyu hyung? Apa kau sangat mencintainya?”

“Aku sudah pernah menceritakan ini padamu. Aku sangat mencintai namja itu.”

“Tapi kenapa kau tiba-tiba pergi semalam?”

“Aku mencintainya, tapi aku tidak berani menatap matanya. Aku takut rekaman masa lalu akan terputar kembali saat aku menatap matanya.

Hening merasuk. Bahkan suara dedaunan yang sedang bercengkerama itu dapat aku dengarkan. Aku berpikir keras. Sngat keras. Sebelum akhirnya aku berani mengatakan sesuatu hal yang rasanya sangat menyaklitkan untukku.

“Minji, aku bisa membantumu kalau kau mau. Aku bisa mendekatkanmu kembali dengan Sungkyu hyung. Kalian bisa bersama lagi.” Ucapanku begitu cepat. Aku tidak mau menambah rasa sakitku dengan memperlambat ucapan. Tapi sepertinyaa Minji mengerti apa yang aku katakan.

“Sungyeol, kenapa kau melakukan ini? Bukankah akan semakin menyakitkan untukmu sendiri?” Minji menatapku sayu. Kurasakan jantungku bergerak sangat kencang. Tapi aku tidak mau terlarut dalam suasana. Aku tidak ingin egois memikirkan diriku sendiri. Kupegang tangan Minji.

“Minji, aku tidak mau egois. Aku memang menyukaimu. Tapi kau lebih mencintai Kyu hyung. Kalian saling mencintai. Aku tidak mau menjadi batu penghalang diantara kalian. Aku ingin kau bersatu dengan Sungkyu hyung. Kalian berdua sama-sama orang yang aku sayangi. Akan merasa bahagia jika kalianpun bahagia.”

“Sungyeol, kau benar-benar malaikat. Jeongmal gomawo Sungyeol. Kau teman yang sangat baik. Aku senang bisa bertemu denganmu, berkenalan denganmu, bahkan menjadi temanmu.” Minji memelukku. Kurasakan kebahagiaannya. Akupun menjadi lega. Kuharap semua yang kulakukan ini adalah benar.

“Minji, aku punya satu permintaan.”

“Katakan, apa itu?”

“Bolehkah aku berfoto bersamamu, satu kali saja?”

Minji tersenyum. “Tentu. Kenapa tidak.”

Aku mengambil posisi bersebelahan dengannya dan mulai mengambil gambar. Aku berharap foto pertama dan terakhirku bersama dengan Minji ini akan menjadi sebuah kenangan yang sangat indah dan akan kusimpan baik-baik.

——————————————————————————————————————————————-

“Yeol-ah, darimana saja kau baru pulang?” Kyu hyung mendapati aku pulang tengah malam hari ini. Sepertinya dia tahu hari ini aku tidak masuk kuliah lagi.

“Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan diluar.” Jawabku singkat.

“Kau tidak masuk kuliah?” Kyu hyung menginterogasiku.

“Aku lelah. Aku mau tidur.” Aku berjalan menuju kamar. Namun terhenti ketika Kyu hyung mulai mengajakku berdebat.

“Berikan kameramu. Kau hanya bisa bermain-main dengan benda itu sedangkan kau mulai melupakan kewaajibanmu.”

“Kau mau menyita kameraku? Aku tidak akan menyerahkannya padamu.” Kamera ini memang Kyu hyung yang memberikannya padaku. Tapi aku tidak pernah rela jika harus membiarkan kameraku jatuh ke tangan orang lain maupun Kyu hyung sendiri. Karena bagiku, kamera ini adalah teman setiaku. Selalu ada kapanpun aku membutuhkannya.

“Kau berani membantah hyungmu?”

“Kau mau melaporkannya pada Ayah dan Ibu? Silakan saja. Aku tidak peduli.”

“Kau ini.. Sejak kapan kau membantah hyungmu? Kupikir kau anak yang pendiam. Tapi sepertinya aku salah.”

“Hyung, kau tidak sadar? Kau yang membuatku seperti ini. Kau yang mengacaukan semuanya. Kau yang membuatku tidak bisa mengekspresikan apa yang ada dihatiku selama ini. Karena dirimu, Ibu menyuruhku sekolah di Jinan sehingga aku tidak punya teman di Seoul. Karena dirimu, Ayah menuntutku masuk ke jurusan bisnis. Padahal itu sangat membosankan. Karena dirimu, aku tidak bisa memiliki gadis yang aku sayangi. Semua itu karena dirimu. Bodohnya aku kenapa aku selalu mengalah untukmu. Kau egois, hyung. Tidakkah kau merasakan apa yang aku rasakan? Menyakitkan!” Aku masuk ke kamarku, membanting pintu sangat kencang dan tertunduk lemas. Aku tidak tahu kenapa aku mengucapkan kata-kata itu. Aku sudah berjanji pada Minji untuk mendekatkannya kembali dengan Sungkyu hyung. Tapi kenapa semua ini terjadi secara tiba-tiba? Bagaimana caraku mendekatkan mereka kembali sedangkan perasaanku sedang tidak nyaman terhadap Sungkyu hyung saat ini.

——————————————————————————————————————————————-

“Yeol hyung, kau tidak sarapan?” Sungjong berusaha membangunkanku.

“Tidak.” Jawabku datar kemudian menutupi wajahku dengan bantal.

“Kalau begitu aku pergi sekolah dulu ya hyung.” Pamit Sungjong. Aku tahu Sungjong mendengar perdebatanku dengan Kyu hyung semalam. Maka dari itu, dia menjadi khawatir terhadapku.

Ini hari ketiga aku membolos kuliah. Aku tidak peduli jika pihak universitas melaporkannya pada Ayah maupun pada Kyu hyung. Aku hanya ingin sekali ini saja merasakan bagaimana menjadi anak yang memberontak. Kudengar seseorang membuka pintu kamarku. Sungjong-kah dia? Bukankah dia sudah keluar dari kamarku sejak tadi? Kenapa dia masuk lagi kekamarku?!

“Yeol-ah, mianhae.” Suara Kyu hyung. Tapi untuk apa dia meminta maaf? Apa karena semalam?!

Aku mengangkat bantal yang menutupi wajahku. Kulihat Kyu hyung duduk dipinggiran tempat tidurku. Menatapku dengan penuh rasa bersalah.

“Yeol-ah, mianhae. Kau benar. Aku sudah menjadi hyung yang egois untukmu. Semua itu kesalahanku. Kalau saja saat itu aku tidak memepersiapkan untuk ujian kelulusan, mungkin aku yang akan dikirim oleh Ibu ke Jinan, bukannya kau, kalau saja saat itu aku tidak memberontak, mungkin kau bisa memasuki jurusan sesuai dengan keinginanmu, dan kalau saja saat itu aku tidak berpacaran dengan Minji, mungkin kau bisa memilikinya sekarang. Jeongmal mianhae, Yeol-ah.” Tampak penyesalan diwajah Kyu hyung. Aku tidak menyangka dia benar-benar memikirkan perkataanku semalam.

“Hyung..” Aku bangkit dari baringanku. Aku duduk mendekat dengan Kyu hyung. Dia memelukku. Pelukan seorang hyung, membuatku merasa nyaman.

“Maafkan aku, Sungyeol.” Sekali lagi dia meminta maaf.

“Bukan salahmu hyung. Aku tahu itu semua karena keadaan. Jangan pikirkan kata-kataku semalam.”

“Tidak, kau benar. Aku baru menyadarinya. Aku adalah kakak tertua yang seharusnya bertanggung jawab. Tapi kau mengambil alih semuanya. Aku memang sangat egois. Bodoh, seorang kakak macam apa aku ini yang baru menyadari keegoisan terhadap adiknya sendiri setelah bertahun-tahun? Kau pasti sangat tersiksa Sungyeol, maafkan aku karena tidak bisa menjadi kakak yang baik untukmu dan Sungjong.”

Aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Aku hanya terdiam mendengar ucapan Kyu hyung. Dia melepas pelukan dan menatapku.

“Yeol-ah, kau menyukai Minji?”

“Mwo?” Aku tersadar dari lamunanku setelah Kyu hyung menanyakan hal itu padaku.

“Aku tahu kau menyukai Minji. Aku rela jika kau berpacaran dengannya. Minji adalah gadis yang baik. Saat itu memang akulah yang salah, aku meninggalkannya demi pembelajaran musik yang lebih baik diluar negeri. Aku yakin dia tidak ingin melihat wajahku lagi. Bahkan kemarin dia pergi begitu saja setelah melihatku.” Kyu hyung bercerita sama seperti yang diceritakan Minji.

“Tidak hyung, kau salah. Minji, gadis yang kusukai itu, dia masih sangat mencintaimu. Bahkan dia masih menyimpan foto yang kau kirimkan untuknya dimana foto itu terlihat dirinya sangat bahagia bersanding denganmu. Dia juga kembali ke Seoul setelah 2 tahun berada di Amerika dengan harapan bisa bertemu lagi denganmu. Beberapa kali dia datang ke sekolah Sungjong yang dulunya adalah sekolahmu, mengenang masa lalunya saat ia sedang bahagia bersamamu. Dia sangat mencintaimu, tapi dia tidak berani menatapmu. Dia takut kejadian masa lalu akan terulang lagi, kejadian ketika kau meninggalkannya.”

“Apa? Kau, bagaimana kau tahu tentang foto itu?”

“Aku sempat menyimpan foto itu beberapa hari. Tapi sudah kukembalikan kepada Minji. Kurasa itu tidak penting sekarang. Hyung, maukah kau berjanji padaku untuk tidak mengecewakan aku lagi?”

“Itu, tentu saja. Aku janji tidak akan mengecewakanmu lagi. Aku akan bertanggung jawab atas dirimu dan Sungjong layaknya seorang kakak.”

“Kalau begitu hyung, maukah kau kembali bersama Minji? Aku sudah berjanji padanya untuk mempertemukan kallian kembali.”

“Apa? Kau gila? Kau mengorbankan perasaanmu sendiri? Aku tidak mau jika harus mengorbankan perasaan orang lain, terutama kau. Aku tidak mau jika harus seperti itu.”

“Tidak hyung, aku akan baik-baik saja. Jangan pikirkan aku. Ya hyung?”

“Kau pikir aku bodoh? Kau pikir aku percaya jika kau mengatakan kau akan baik-baik saja seperti itu? Akupun punya perasaan, Sungyeol. Akupun akan merasa sangat sakit jika harus mengorbankan orang yang aku sayang bersama dengan saudaraku sendiri. Orang bodoh mana yang akan melakukan hal konyol seperti itu? Aku tidak mau.”

“Ayolah, hyung. Kau kan sudah berjanji padaku. Aku tahu kau juga masih mencintai Minji.”

“Kau gila! Aku berjanji bukan untuk hal ini. Aku tidak mau. Jangan memaksaku!” Kyu hyung keluar dari kamarku.

Aku tidak tahu harus bagaimana lagi membujuk Kyu hyung agar mau menemui dan kembali bersama Minji lagi. Mungkin yang dikatakannya benar. Aku sudah gila. Bagaimana bisa aku mengorbankan perasaanku sendiri demi orang lain. Tapi, apapun akan kulakukan demi Minji jika itu bisa membuatnya bahagia. Sekalipun harus mengorbankan perasaanku sendiri. Aku ingin selalu membuatnya tersenyum.

Aku berpikir keras mencari cara agar Sungkyu hyung mau menuruti kenginanku ini. Aku mencoba membujuknya terus menerus. Tapi sepertinya itu sia-sia. Jawabannya tetap sama, ‘tidak’. Aku mencoba menghubungi Sungjong. Kuharap dia bisa membantuku.

“Yeoboseyo?” Ucap Sungjong.

“Jong-ah, kau bisa pulang lebih cepat tidak? Aku sangat membutuhkan bantuanmu.”

“Waeyo hyung? Ada masalah apa?”

“Aku kuceritakan saat kita bertemu nanti. Kutunggu kau di taman dekat sekolahmu pukul 6 malam ini ya. Jangan terlambat.” Aku menutup ponsel. Kuharap Sungjong benar-benar bisa membantuku.

——————————————————————————————————————————————-

Aku menunggu Sungjong di taman dekat sekolahnya selama 2 jam. Hari sudah mulai gelap dan dia belum juga muncul menemuiku.

“Hyung, ada apa?” Sungjong tiba dengan nafas yang tersengal-sengal.

“YA! Dari mana saja kau ini? Sudah 2 jam aku menunggumu.”

“Mianhae hyung. Aku bolos pelajaran dan kabur untuk berlatih dance tadi. Tapi guru menemukanku dan menghukumku.” Sungjong tertawa. Entah kenapa dia malah menganggap itu semua lucu. Dasar bocah ini, tidak pernah menyerah walaupun sudah dihukum ratusan kalipun, tetap saja kecintaannya terhadap dance sangatlah besar.

“Memangnya ada apa hyung?” Tanya Sungjong padaku.

“Aku membutuhkan bantuanmu untuk mempertemukan Kyu hyung dengan Minji. Aku ingin mereka bersama lagi. Aku sudah membujuk Kyu hyung berkali-kali, tapi Kyu hyung tetap tidak mau.” Terangku.

“Hyung, kau gila? Jelas saja Kyu hyung tidak mau. Dia tidak ingin kau tersakiti. Ah, bodoh sekali kau hyung.”

“Ah, kenapa semua orang menganggapku gila? Jelas-jelas aku mengatakan ini dengan kesadaran. Jong-ah, ayolah. Bantu aku ya? Aku tidak mau menjadi orang ketiga diantara mereka. Aku ingin membuat Minji bahagia, dan kau tahu apa kebahagiaan Minji? Kyu hyung! Minji akan bahagia jika ia bisa bersma dengan Kyu hyung lagi. Jong, kau tahu perasaanku kan?”

“Hyung, kau memang orang yang baik. Aku mendengar percakapanmu dengan Kyu hyung semalam. Aku beruntung memiliki hyung seperti dirimu, Yeol hyung. Selama itu membuatmu menjadi lebih tenang, aku akan membantumu. Katakan saja, apa yang bisa aku bantu?”

“Gomawo Jong-ah. Aku ingin kau menghubungi Kyu hyung. Aku tahu Kyu hyung tidak akan mengangkat ponselnya jika tahu aku yang menelpon. Katakan apa saja yang bisa membuatnya datang kemari. Tapi beberapa menit setelah aku menghubungi Minji. Aku ingin kau menemui Minji terlebih dulu. Jangan bertanya mengapa, karena aku tahu kau akan menganggapku pengecut jika aku mengatakan alasannya. Kau mengerti?”

“Ah, arrasseo! Kalau begitu cepatlah menghubungi Minji noona.”

Aku mencari-cari ponselku di saku celana. Segera aku menghubungi Minji.

“Yeoboseyo?” Ucap Minji dalam telepon.

“Minji, bisa kita bertemu di taman dekat sekolah sekarang? Ada yang ingin aku bicarakan.”

“Apa sangat penting, Sungyeol? Haruskah sekarang juga?”

“Hmm, iya. Cepat datang ya.” Aku menutup ponsel. Hingga beberapa menit kemudian, aku menyuruh Sungjong menghubungi Sungkyu hyung.

“Yeoboseyo Jong-ah?” Kyu hyung mengangkat ponselnya.

“Hyung, bisa kau datang ke taman dekat sekolahku sekarang? Aku butuh bantuanmu hyung. Kakiku terluka.”

“Jong-ah gwaenchana? Jong-ah?” Kyu hyung tampak mengkhawatirkan Sungjong. Tapi secepatnya kusuruh Sungjong menutup ponselnya.

“Bagus Jong-ah. Kau luar biasa.” Aku tersenyum memuji adikku itu. aku tahu Sungjong sangat suka jika seseorang memuji dirinya.

“Sepertinya aku punya bakat akting juga ya selain dance.” Sungjong tertawa setelah mengenali bakat barunya itu. Aku mengacak-acak rambut Sungjong, tapi dengan cepat dia menepis tanganku.

“Hyung! Jangan menyentuh rambutku, apalagi mengacaknya. Sudah kuperingatkan kau sejak dulu.” Sungjong memang tidak suka jika seseorang menyentuh bahkan mengacak-acak rambutnya. Walau hanya satu helaipun, dia tidak pernah membiarkan orang menyentuhnya. Baginya, rambut adalah mahkota termahal yang pernah ia miliki. Aku hanya bisa tertawa melihat tingkah kekanakkan dari adikku ini.

——————————————————————————————————————————————-

Minji tiba di taman tempat perjanjian. Mencari-cari seseorang yang menyuruhnya datang, yaitu aku. Namun aku sudah menyerahkan semuanya pada Sungjong. Aku tidak bisa keluar dari tempat persembunyianku untuk menemui Minji. Aku takut jika aku menatap matanya, aku akan menjadi semakin dalam mencintainya.

“Kim noona. Kau masih ingat aku?” Sungjong mulai memanggil Minji, membuat Minji menoleh ke asal suara.

“Kau, dancer keren disekolah itu kan? Kalau tidak salah ingat, namamu Sungjong? Minji menanggapi pertanyaan Sungjong.

“Dancer keren? Ah, Kim noona, kau terlalu memujiku.” Sungjong tertawa terbahak-bahak.

“Kim noona? Kenapa kau memanggilku seperti itu?”

“Bukankah kau tidak melanjutkan memberi tahu namamu saat itu?”

“Ah benar. Mianhae. Sedang apa kau disini sendirian?”

“Oh iya aku lupa, Sungyeol hyung menyuruhku untuk menemuimu.”

“Sungyeol? Kau mengenal Sungyeol? Dimana dia sekarang?”

“Namaku Sungjong, noona. Aku adik dari Sungyeol hyung dan Sungkyu hyung. Nama kami sama kan?”

“Ah benar. Kenapa tidak terpikir olehku? Lalu, mana Sungyeol? Kenapa dia memintamu untuk menemuiku?”

“Aku tidak bisa memberitahu alasannya. Oh sepertinya aku harus pergi sekarang. Seseorang akan menemuimu nanti, noona. Jadi tunggulah dia.”

“Sungjong, tunggu. Bisa kau berikan ini pada Sungyeol? Aku tidak berani jika harus memberikannya langsung.” Minji menyerahkan sebuah amplop pada Sungjong. Aku tidak yakin apa isinya.

“Serahkan padaku. Aku pergi dulu, noona.” Sungjong berlari meninggalkan Minji yang sedang duduk menanti seseorang.

“Sungjong-ah, kau dimana? Sungjong…” Seseorang berteriak mencari-cari Sungjong. Kyu hyung, benar. Dia datang. Tampak kekhawatiran diwajah Kyu hyung.

“Sungkyu oppa..” Minji yang melihat Kyu hyung tidak bisa menahan diri untuk memanggilnya. Kyu hyung menoleh ke asal suara dan mendapati Minji dihadapannya.

“Minji..” Ucap Kyu hyung lirih.

“Sedang apa kau disini, oppa?” Minji memberanikan diri untuk bertanya.

“Adikku menuruhku datang. Dia bilang, kakinya sedang terluka. Tapi aku tidak melihatnya daritadi. Kau sendiri sedang apa?”

“Sungyeol menyuruhku kemari. Dia bilang ada yang ingin dibicarakan. Tunggu, apa adik yang kau maksud adalah Sungjong?”

“Bagaimana kau tahu? Dimana dia sekarang?”

“Dia sempat berbincang denganku tadi. Tapi dia sudah pergi. Sepertinya dia baik-baik saja. Bahkan dia berlari ketika meninggalkanku.”

“Apa? Sungyeol! Ah bodoh. Kenapa aku bisa tertipu? Anak bodoh itu, dia benar-benar melakukan hal ini.” Kyu hyung yang sduah tahu dirinya tertipu, bergumam mengolokku.

Sebenarnya, aku tidak benar-benar bersembunyi. Aku melihat apa saja yang mereka lakukan dari tempatku berada. Hanya beberapa meter dari tempat mereka, aku bisa melihat semuanya. Aku mengambil ponselku. Mencoba mengirim pesan teks untuk Kyu hyung.

~Hyung, ungkapkan semua yang ingin kau katakan kepadanya~

Tak lama, aku bisa melihat Kyu hyung membuka ponselnya dan membalas pesanku.

~YA!! Kau gila? Kenapa kau berani melakukan hal bodoh ini? Melibatkan Sungjong sangat tidak adil untukku~

Aku tertawa membaca balasan dari Kyu hyung.

~Sudahlah hyung, kau kan sudah berjanji padaku untuk tidak mengecewakan aku. Mulai malam ini, Minji kuserahkan padamu. Jangan kecewakan dia juga. Buatlah dia tersenyum. Karena senyumnya adalah kebahagiaan untukku~

Kumatikan ponselku agar Kyu hyung tidak membalas pesanku atau bahkan menghububungiku untuk memarahiku lagi.

“Jadi seseorang yang dimaksud Sungjong adalah dirimu? Oppa, jangan salahkan Sungyeol karena malam ini. Dia berjanji padaku untuk mempertemukanku denganmu. Awalnya aku menolak, tapi dia memaksa. Aku tidak tahu kalau dengan cara ini dia melakukannya. Dia malaikat, oppa. Tidakkah kau berpikir seperti itu juga?” Minji mulai berbicara.

“Hmm, dia malaikat juga untukku. Sifatnya yang dewasa membuatku kagum padanya.”

“Oppa, aku merindukanku.”

“Minji, aku minta maaf atas kejadian waktu itu. Itu karena aku sangat menyukai musik. Aku ingin mendapat pelajaran musik yang lebih baik disana.”

“Aku mengerti, oppa.”

“Kudengar kau masih menyimpan foto yang kukirimkan itu? Kau juga mengenang masa lalu kita saat disekolah? Apa itu benar?”

“Itu, ah pasti Sungyeol yang mengatakannya padamu. Membuatku malu saja.”

“Tidak apa-apa Minji, aku… juga sangat merindukanmu..”

“Oppa, boleh aku memelukmu?”

Sungkyu hyung merentangkan kedua tangannya dan melebarkan dadanya. “Kemarilah.” Ucapnya.

Minji tersenyum dan mulai memeluk Sungkyu hyung. Begitu juga dengan Sungkyu hyung yang tampak sangat bahagia bisa bertemu lagi dengan kekasih lamanya itu.

Dari tempatku berada, aku hanya bisa menatap mereka sayu sebelum akhirnya seseorang memanggilku.

“Yeol hyung.” Aku menoleh.

Sungjong memberikan sebuah amplop padaku. “Ini dari Minji noona. Dia bilang dia tidak berani jika harus memberikannya langsung.” Lanjutnya.

Aku membuka amplop itu. Sebuah foto beserta surat. Fotoku yang diambil oleh Minji secara diam-diam saat kami berada di cafe dekat Pasar Namdaemun beberapa hari yang lalu. Perlahan aku mulai membaca surat tersebut.

Sungyeol, kau memang malaikat. Patuh terhadap Ayahmu mengenai jurusan, membantu nenekmu yang sedang sakit di Jinan, dan kau mau membantuku bertemu dengan Sungkyu oppa. Sebagaimana keluargamu, akupun merasa sangat beruntung bisa bertemu dan menjadi temanmu. Gomawo Lee Sungyeol. Wajahmu terlihat lucu jika sedang serius seperti itu.

Tidak terasa, air mataku mulai menetes. Kali ini tidak memerdulikan keadaan dimana Sungjong sedang berada disampingku.

“Hyung, gwaenchana?”

Aku tersenyum kemudian memeluk Sungjong.

“Jong-ah, kenapa perasaanku seperti ini? Apa aku salah harus melakukan ini? Mungkin kau benar, aku sudah gila. Rasanya sangat sakit. Bahkan aku hampir tidak bisa bernafas. Aku mencintainya tapi melepaskannya. Apa aku salah? Kenapa seperti ini? Kenapa Jong-ah? WAEE?? Aku benar-benar pria bodoh. Aku mengajarimu untuk tidak menangis, tapi aku malah menangis dihadapanmu. Aku bodoh kan Jong? Benar kan?” Aku menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Sungjong.

“Hyung, yang kau lakukan itu benar. Aku mendapat satu pelajaran lagi darimu, hyung. Membiarkan orang yang kau cintai bersama orang lain adalah pilihan yang tepat, jika dibandingkan dia tetap bersamamu tapi tidak mencintaimu. Kau akan merasa semakin sakit. Tidak apa-apa hyung, menangislah semaumu. Sepertinya pelajaran yang kau berikan untukku bahwa pria tidak boleh menangis adalah salah hyung. Semua manusia mempunyai perasaan, termasuk pria tangguh sekalipun. Jika kau sedih, maka menangislah. Dengan begitu, beban yang kau rasakan akan berkurang.” Sungjong, bocah ini, sejak kapan ia berubah menjadi pria dewasa? Bahkan dia lebih dewasa daripada aku.

Aku melepas pelukannya dan tersenyum sembari mengacak-acak rambutnya. Tapi kali ini dia tidak menepis tanganku. Entah mengapa dia malah membiarkanku mengacak-acak rambutnya.

“Kau sudah dewasa sekarang? Candaku.

“Gwaenchana hyung?” Tanya Sungjong yang menatapku iba.

“Gwaenchana. Jangan menatapku seperti itu. Ayo pulang.” Aku berjalan menuju arah pulang meninggalkan Sungjong. Sungjong yang tertinggal, mulai berlari menyamakan posisinya denganku.

Dalam perjalanan, aku terus memikirkan ucapan Sungjong. Dia benar. Kuharap yang kulakukan ini tidak salah. Kim Minji, terimakasih telah menjadi cahayaku. Aku senang bertemu denganmu. Kebahagiaanku adalah ketika kau tersenyum. Jadi, tersenyumlah selalu. Maka aku akan menemukan kebahagiaanku

THE END

——————————————————————————————————————————————-

Berikan penilaian kalian tentang FF ini di kolom komentar. Don’t be silent reader ya ^^

Pos ini dipublikasikan di Fan Fiction, K-DID dan tag , , , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke [FF] My Happiness is Your Smile

  1. jacquelinehan77 berkata:

    aigoo bacanya sedih😦
    tapi ffnya keren, bahasanya juga bagus

    keep writing author! ^^

  2. Kudilsiipelupaa berkata:

    Kudiill sakiit baca.a ;( . Gyeol oppa baiiiikkk banget . Bener bener malaikat .
    Ff.a jjang ! Kudiil tunggu next fic , annyeong .

Don't be silent reader, tulis komentarmu di sini ^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s