[FF] Don’t Let Dream Bother You!


@JDoramaID

@JDoramaID

Nama: Nurul Ardlianawati

Nickname: hikari

Akun Twitter: @ardlian22

Title FF: Don’t Let Dream Bother You!

Genre: romantic comedy

Main Casts: Mukai Osamu, Erina

Supporting Casts: Manager Mukai Osamu/Kennichi-san

Length: OneShot

——————————————————————————————————————————————-

Bandara Narita, Tokyo, Jepang, 7 Juli 2012

“Mukai-kun, sudah siap berangkat sekarang? Ayo, setelah ini pesawat kita akan berangkat,” sang manager membuyarkan lamunan  Mukai Osamu di ruang tunggu bandara Narita. Managernya kali ini seolah tak sabar ingin cepat-cepat sampai tujuan.

Haii’, wakarimashita,” mendengar itu Mukai-kun tersadar dari lamunannya, kemudian berkata,”Ano.. Sebenarnya saya tidak terlalu tau tentang negara tujuan kita ini Manager-san. Apakah saya bisa tinggal di sana ya?” Mukai-kun terdengar ragu beberapa saat.

Ara~, daijobu, daijobu, hahaha,” jawab manager dengan tertawa ramah. “Saya yakin Mukai-kun akan dapat melewatinya dengan baik. Kamu ‘kan pernah menjadi duta kebudayaan untuk Kamboja-Jepang. Ya, kali ini negara tujuan kita mirip lah dengan Kamboja, sama-sama negara Asia Tenggara. Memang lebih terkenal dengan wisata Bali islandnya, tapi kuliner di sana, sugoooi desu ne. Makanan apa itu namanya, saya lupa. Berwarna hijau mirip kacang tapi besar-besar, ditambah dengan bumbu yang mereka sebut rempah-rempah, honto ni oishii desu ne! Aa, Mukai-kun, segera setelah kita tiba nanti, akan saya ajak makan itu deh. Ah, saya sungguh kangen ke sana lagi,” jawab sang Manager, pikirannya menerawang jauh ke negara seberang.

“Hmm.. Haii’, haii’. Dozo yoroshiku ne Manager-san. Saya akan sangat bergantung pada Anda,” jawab Mukai-kun sambil tersenyum. Ya, maklum saja Mukai-kun sedikit merasa khawatir. Sejak debutnya menjadi aktor bertahun-tahun lalu, Mukai-kun tidak pernah sekalipun menginjakkan kaki di negara tujuannya kali ini. Apalagi ia ke sana bukan untuk sekedar jalan-jalan. Mukai-kun akan belajar kuliner negara itu. Ah, belajar kuliner dengan waktu yang sangat singkat tentu merupakan tantangan berat, pikirnya. Dan lagi kuliner kali ini benar-benar kuliner yang belum pernah dipelajarinya sama sekali. Mungkin jika perjalanannya ke Eropa, Mukai-kun akan merasa lega, karena ia pernah mempelajari kuliner Italia saat bermain dalam dorama Bambino. Ia juga familiar dengan masakan Perancis sebelum syuting dorama Hungry!. Setidaknya ia tidak akan merepotkan banyak orang untuk membantunya nanti.

Ara~ ara~ Iie’ iie’ desu ne. sudah menjadi kewajiban saya untuk membantu semua aktor di agensi kita. Apalagi aktor sehebat Mukai-kun, saya akan bangga sekali, hahaha. Nah, ayo kita check-in,” suara sang manager kembali menenangkannya.

……

Pesawat Japan Airlines saat ini sudah lepas landas menuju ke bumi bagian selatan, yang katanya lebih dekat dengan kutub, tapi hawanya panas karena dilewati khatulistiwa… Di dalamnya, Mukai-kun menerawang jauh memikirkan kembali seperti apa negara tujuannya. Negara kepulauan, sama seperti Jepang. Menurut informasi dari agensinya, kebudayaan negara itu sangat beragam, termasuk makanannya. Jadi untuk syuting episode spesial dorama Hungry! tahun depan yang dibintangi oleh dirinya, agensi menganjurkan Mukai-kun untuk belajar kuliner di sana selama 1 bulan. Hmm.. Memang ini bukan pertama kali perjalanannya ke luar negeri untuk mendalami suatu kebudayaan, atau pun kuliner. Ia pernah ke Kamboja, Italia dan Perancis dengan tujuan yang sama, training kuliner dan budaya. Tapi saat ini sebenarnya bukan itu yang paling ia pikirkan. Ia memikirkan sesuatu yang lain.. Meskipun akhir-akhir ini sesuatu itu tidak hadir lagi dalam tidurnya, tapi tetap, sesuatu itu membuatnya sedikit khawatir..

Tokyo, Jepang, 21 Juni 2012

Setelah press conference tentang rencana release episode spesial dorama Hungry!, Mukai-kun mencoba resep baru masakan Perancis yang kini sedang digandrunginya. Saat mencoba memotong-motong jamur Thruffle dan melengkapinya dengan siraman krim spesial campuran bahan Jepang-Perancis, tiba-tiba handphone-nya berdering. Ringtone The Bawdies mengalun berisik dari HP-nya.

….Rock me Baby, rock me Baby…..

Pada layar terpampang tulisan : manager-san.

Haii’, Mukai desu. Nani manager-san?” sapa Mukai-kun.

“A~, Mukai-kun, sudah buka email yang aku kirimkan?”

“Eh, email yang mana?”

Ara~, jadi kau belum buka? Baiklah, segera buka ya. Di situ ada file-file penting tentang Indonesia, negara tujuan kulinermu nanti. Jangan sampai kau tidak tau tentang Indonesia sama sekali. Paling tidak, kalau kau tau sedikit, orang-orangnya akan ramah padamu. Okay, jangan lupa malam ini kita ada meeting persiapan dengan agency dan tim Hungry!. Sore ja!”

Aah, manager-san mengganggu acara masak-masakku. Ya, ya, sejak tadi aku memang belum sempat mengecek email. Nanti sajalah setelah thruffle spesial ini selesai. Yosh, mari lanjutkan masaknya!

Thruffle kecoklatan dengan krim saus itu berbau harum. Mukai-kun pun menyusun masakan thruffle hasil uji coba di atas meja apartemennya, kemudian ia membawa laptop di atas meja makan, membuka email dan melaksanakan pesan managernya.

Triing.. Tanda pesan masuk. Ada dua pesan dari manager-san. Ia buka pesan pertama yang bertitle “pelajari ya Mukai-kun (^o^)/ ganbatte ne ~(^o^)~ ~(^o^)~ !”. Yieks, managernya ternyata pecinta icon. Ini sih seperti email untuk anaknya, manager yang unik, gumam Mukai-kun dalam hati sambil tersenyum kecil. Hmm.. email itu sesuai kata manager, berisi file-file pdf tentang seluk beluk negara itu, dan ada beberapa foto-foto sang manager saat berkunjung ke sana. Oke, bisa dipelajari setelah ini. Email kedua, forwarded email. Bertitel “forw: Re: Paman Kennichi..”. Ha? Nani kore? Paman? Perasaan Mukai-san mengatakan bahwa pesan itu hanya ditujukan untuk managernya, dan ter-forward kepada dirinya. Tapi, sebagian dari dirinya menginginkan untuk membuka email itu. Hmm, tidak apa-apa kan dibuka? Kalau memang benar-benar salah kirim, ya hapus saja setelah ini, gumamnya.

Klik klik. Sebuah jendela email berlatar belakang kartun mochi pun terbuka. Sebuah email yang Mukai-kun tidak mengerti artinya, bertuliskan huruf-huruf latin. Tapi bukan berbahasa Inggris. Aa, manager-san ceroboh sekali, jelaslah, ini salah kirim. Eh, tapi, tunggu dulu, di situ ada attach file berupa foto-foto. Kali ini secara otomatis, Mukai-kun men-download­nya. Serangkaian foto terpampang di sana.

Tokyo, Jepang, 22 Juni 2012.

Gadis itu duduk di atas batu karang, menghadap ke laut. Rambutnya yang terurai oleh angin sedikit bercahaya oleh cahaya bulan. Entah dorongan dari mana, Mukai-kun tiba-tiba menghampiri gadis itu. Lalu tiba-tiba gadis itu menoleh ke arahnya, Mukai-kun terus mendekat, hingga hanya berjarak setengah meter di hadapan gadis itu. Wajah yang sepertinya tidak asing. Mata itu lebar.. lentik bulu matanya.. cara ia menatap… Ah, tapi tiba-tiba tatapan sang gadis berubah berkaca-kaca dan tetap menatap lurus-lurus wajahnya. Mukai-kun salah tingkah, ia merasa tidak melakukan apa-apa pada sang gadis. Tapi, apa yang harus dilakukannya? Mengusap air matanya? Memeluknya? Aaaak~ Mukai-kun tidak bisa memprediksi reaksinya jika ia melakukan rencana yang sedang menari-nari di kepalanya saat ini. Do shite? Do shite?

Kriiiiiiiiiiiiiiing! Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing! Weker berbunyi keras tanpa ampun. Mukai-kun terbangun dari tidurnya dan melihat weker menunjukkan pukul 8 pagi. Ah, hanya mimpi. Tapi siapa gadis dalam mimpinya tadi? Mukai-kun mencoba mengingat-ingat. Tapi ia tak menemukan gambar gadis itu dalam kotak memorinya. Mungkin dia terlalu banyak berkhayal akhir-akhir ini.

Tokyo, Jepang, 23 Juni 2012

Jadwal hari ini yang sangat padat membuat Mukai-kun langsung merebahkan tubuh di tempat tidur sepulang dari acara agensi. Tapi matanya tidak dapat terpejam. Entah kenapa bayangan gadis dalam mimpinya kemarin terus menghantui. Dare desuka? Kanojo wa..dare? Dan matanya pun terpejam..

Ah, musim panas sudah sangat terasa sekarang. Bahkan malam hari pun hawa sangat panas. Mukai-kun merasa kahausan, ia pergi ke dapur kecilnya, mengambil sesuatu dari kulkas. Terdengar bunyi pisau mnegiris-iris sesuatu. Tek..tek..tek.. Dihampirinya suara itu, dari meja dapurnya! Ia yakin ada seseorang di sana. Mukai-kun terperanjat, seorang gadis berambut panjang sedang memotong-motong sesuatu di dapurnya. Ia memotong daging. Mungkin. Kelihatannya memang daging. Masih ada sisa darah yang terlihat. Dare desuka? Kenapa ada orang selain dirinya di apartemen? Stalker-kah? Mukai-kun sedikit merinding. Trek…trek..trek.. suara pisau mengiris-iris daging semakin membuat Mukai-kun mual. Dan tiba-tiba gadis itu menoleh ke arahnya dengan tatapan yang familiar. Gadis itu! Gadis dalam mimpinya!

Kriiiiiiiiiiiiing! Kriiiiiiiiing! Bunyi weker menyelamatkan Mukai-kun dari mimpi buruk. Pukul 8 pagi. Ah, gadis itu muncul lagi. Kali ini ber-setting horor. Siapa sebenarnya dia? Mukai-kun mulai frustasi dengan mimpi-mimpi tentang gadis berambut panjang dan bermata lebar itu.

……….

“Mukai-kun, kita majukan perjalanan kita ke Indonesia dua minggu lagi. Aku sudah mengatur jadwalnya,” manager-san memberikan lembaran jadwalnya yang baru di kantor agensi.

“Eh? Kenapa manager-san? Bukankah kita tidak terlalu terburu-buru?” Mukai-kun sedikit heran.

Gomen ne, Mukai-kun. Sama sekali tidak bermaksud tidak profesional. Tapi kepala manager telah menyetujui rencanaku untuk mengunjungi Indonesia lebih cepat seminggu dari jadwal kita.”

Are? Seminggu?? Bukankah jadwal kita minggu-minggu ini sudah sangat padat?” wajah Mukai-kun tampak memelas.

“Ada urusan yang juga harus aku selesaikan di sana, tetapi manager tidak ingin aku menelantarkanmu. Bacalah jadwal dan rencana kita minggu ini. Oke, ja!” kata-kata managernya tidak bisa dibantah lagi, ia pun berlalu meninggalkan Mukai-kun yang terbengong-bengong. Ya, biarlah, pikirnya. Mungkin dengan jadwal yang bertambah padat ia tidak akan bermimpi aneh-aneh lagi. Dan sebenarnya ia memang tidak ingin bermimpi.

Tokyo, Jepang, 24 Juni 2012

Pagi ini Mukai-kun dapat bangun tanpa dering weker. Setelah mandi dan memasak jamur shiitake kiriman anikinya, ia membuka-buka email untuk mempelajari Indonesia. Pagi ini jadwalnya kosong, maka ia membuka laptop dan iseng mengunjungi blog, lalu mengecek emailnya. Tidak ada email baru. Dengan bosan ia membuka-buka email masuk, lalu pandangannya tertuju pada email salah kirim kemarin. Klik klik. Eh? Nani kore?? batinnya dalam hati penuh dengan tanya. Ia baru saja sadar bahwa gadis dalam mimpinya adalah gadis yang kini fotonya terpampang di hadapannya. Nande? Foto gadis itu, seorang perempuan separuh baya, dan.. managernya dengan latar belakang restoran kecil bernuansa etnik. Jadi, gadis itu? Ada hubungannya dengan manager-san? Ya, ya, salahnya sendiri membuka email yang salah kirim. Jangan-jangan itu foto orang yang sudah meninggal, lalu tak sengaja ia buka, dan gadis itu tidak rela, sehingga selalu datang di setiap mimpinya. Nande?? Kenapa harus terjadi padanya? Pikiran-pikiran aneh memenuhi otaknya. Dan Mukai-kun yakin hari ini gadis itu akan datang kembali.

……….

Tik tok tik tok.. suara jam dinding apartemennya berdetak. Sudah menunjukkan tengah malam. Mukai-kun tak sanggup lagi menahan kantuknya. Ia pun tertidur..

Ia berada di bandara. Tapi bandara yang tidak dikenalnya. Ah, cepat sekali ia sampai. Pasti ini di Indonesia. Terlihat managernya sibuk memencet-mencet ponsel. Setelah ini ia akan istirahat di hotel dulu. Yosh! Indonesia, aku datang!batin Mukai-kun. Lalu seseorang menghampirinya. Seorang gadis berambut panjang. Ia menyalami manager dan berbincang akrab. Manager memperkenalkan Mukai pada gadis itu,”Mukai-kun, ini Erina, anak dari sepupu jauh saya. Erina, ini Mukai Osamu, saya bawa khusus dari Jepang. Ha-ha-ha.”

Gadis itu. Mukai-kun bergidik, ngeri membayangkan reaksi gadis itu. Tapi tatapan gadis itu kali ini teduh. Mukai-kun mengulurkan tangannya, gadis itu juga, tapi.. “Aaaa… tanganku! Manager, gadis ini akan membunuhku!” Gadis itu bertangan besi, tangannya penuh dengan tancapan duri-duri baja. Tangan itu terus menyalaminya sambil tersenyum jahat. “Selamat datang di Indonesia, Mukai-kun!”

“Aaaaaaaah!” Mukai-kun terbangun. Brakk! Kriiiiingg! Tangan Mukai-kun tidak sengaja menyambar weker di meja samping bed-nya. Untung hanya mimpi. Tapi, ia memimpikan gadis yang sama. Ah, tidak, perasaannya tidak enak. Jangan-jangan ini ada hubungannya dengan Indonesia. “Nanikaaa?!” Mukai-kun berteriak frustasi di apartemennya yang masih senyap.

Tokyo, Jepang, 25 Juli 2012

“Mukai-san, bagaimana? Sudah mempelajari Indonesia?” sapa manager setelah rapat agensi.

Haii’, sudah manager. Saya sudah membaca email dari manager. Negara yang sangat unik, ne?”

“Iya, orang-orangnya juga ramah. Menyenangkan sekali bisa ke negara itu Mukai-kun, kamu sangat beruntung.”

Ahh, so desuka. Anoo.. manager-san pernah tinggal di sana?” sedikit ragu Mukai-san bertanya.

“Haii’, terakhir kali 5 tahun lalu saya masih bekerja di sana. Ah, ngomong-ngomong soal email, sepertinya kemarin saya mem-forward email yang salah ya ke Mukai-kun?”

“Uhhuk!” Mukai-san terbatuk otomatis, dan dengan sedikit terbata menjawab,”Eh? A.. are?.. Email yang sa-lah? Maksud manager-san?”

“Hmm.. Entahlah, tapi sepertinya kemarin saya kirim email dua kali ke Mukai-kun, tapi di sent item kok tidak ada ya? Padahal saya ingat kirim dua. Mungkin terkirim di spam, wah, atau saya kirim ke orang lain ya? Padahal itu email dari anak sepupu jauh saya. Ada foto-foto yang tidak ingin ter-publish, hahaha.”

“Ah~, foto keluarga manager-san? Emm.. sepertinya tidak.. Ha-ha-ha,”tawa Mukai-san sedikit dipaksakan. Ara~ apakah sebaiknya ia jujur telah membuka foto-foto itu? Tapi ia tidak enak kepada manager. Aaaaak~ Akhirnya perbincangan itu tidak berlanjut, yang berarti Mukai-san resmi berakting tidak tau…

Jakarta, Indonesia, 7 Juli 2012

Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, Mukai-san dan managernya sampai di Indonesia. Meskipun sebelumnya merasa khawatir, tapi Mukai-kun yakin, mimpinya hanya sekedar bunga tidur, dan memikirkan akan memulai belajar memasak, ia pun mulai lega. Kali ini ia masih berada di bandara, managernya sibuk memencet tombol-tombol ponselnya menghubungi jemputan yang tak kunjung datang. Seseorang kemudian menghampiri managernya. Mukai-kun tak bisa melihat wajahnya secara jelas, tapi sepertinya perempuan, ia menggunakan topi, rambutnya panjang tergerai. Tunggu! Keadaan ini familiar. Mukai-kun mencoba meyakinkan dirinya bahwa ini nyata! Ia tidak ingin mengalami dejavu yang bagian ini. Iie’iie’. Lalu… managernya membalikkan badan sehingga gadis itu terlihat jelas, ia sedikit mendongak ke arah Mukai-kun, dia… gadis itu. Dan semuanya mendadak gelap.

……….

Dinding langit-langit yang bersih. Wallpaper kue mochi. Ha? Ini di mana? Mukai-kun masih yakin ia masih di bandara. Aa~ gadis itu! Kanojo wa doko? Apakah ia telah terbunuh? Di tangan gadis misterius itu??

“Ah~, Mukai Osamu-san, anda sudah bangun?” terdengar suara di sebelahnya. “Syukurlah, anda pasti kepanasan dan sedikit jetlag, jadi pingsan. Jakarta akhir-akhir ini memang panas seperti ini. Tapi syukurlah Mukai-san tidak apa-apa.

Ia masih terperanjat tak percaya, suara itu adalah suara sang gadis hantu. Ia tak tau harus berbuat apa. Ia hanya diam dengan mulut menganga.

“Mukai-san? Daijobu?” gadis itu menempelkan tangan kanannya ke kening Mukai-kun dan tangan kirinya ke keningnya sendiri. “Ah, Mukai-kun berkeringat dingin.” Lalu si gadis mengelap dahi Mukai-kun dengan lembut. Pada saat itu Mukai-kun hanya memandangi wajah si gadis. Satu detik. Dua detik. Tidak terjadi apa-apa. Seandainya dihujam oleh besi pun Mukai-kun sudah pasrah sekarang. Sepertinya tak ada gunanya melawan. Ia anggap keadaan ini sudah game over. “Mukai-kun mau minum?” gadis itu mengambilkan minum dari meja sebelah tempat tidur, dengan patuh Mukai-kun minum namun tetap tidak melepaskan pandangannya pada si gadis. Tegukan air yang membasuh tenggorokannya membuat ia tenang dan memejamkan mata. Ini pasti mimpi. Ia yakin ini masih mimpinya. Tapi kenapa gadis itu tidak seperti dalam mimpi-mimpi sebelumnya? Gadis itu sungguh baik dan sangat perhatian kepadanya. Mungkin ia salah menilai selama ini. Pasti itu karena rasa bersalahnya telah membuka email salah kirim manager, sehingga dihantui pikiran buruk. Seandainya ini mimpi, ia tidak ingin weker menyebalkannya berbunyi. Jika ini adalah kenyataan, ia ingin waktu berhenti berputar. Maka ia memejamkan matanya, kali ini perasaannya lega. Ia bertekad akan mengakui semuanya pada manager tentang email itu. Tentang mimpi-mimpinya, tentang Eri…na.

Kriiing! Kriiiiing! Weker membangunkannya tanpa ampun. Ah~ apakah tadi hanya mimpi? Iiieee’! Mukai-kun melihat weker, pukul 8 am. Secarik kertas tertulis di sebelah weker : “Mukai-kun, interview jam 10 pagi, jangan lupa. Kau kemarin jetlag! Ah, untung ada Erina yang merawatmu seharian. Ya, nanti kenalan yang formal ya dengan Erina-san. Dia keponakanku sekaligus guide dan penerjemahmu selama di Indonesia. Oke, jangan banyak-banyak merepotkannya, atau jadwalmu akan aku tambah, ha-ha-ha. Ja, cepat mandi. –manager Kennichi J – “

Eh~?! Jadi kebaikan Erina-san bukan mimpi? Eh? Mukai-kun pun tersenyum dan membayangkan mimpi-mimpinya selama di Indonesia akan manis dan indah, selalu. So desu ne, don’t let dream bother your walk, believe, it will be nice, someday, pikirnya sambil melangkah ke kamar mandi.

-THE END-

Pos ini dipublikasikan di Fan Fiction, J-DID dan tag . Tandai permalink.

2 Balasan ke [FF] Don’t Let Dream Bother You!

  1. houseofnurse berkata:

    nurul..selamat atas FF ptama mu..aku udah nge-vote kamu (aku ngefans Mukai Osamu..terutama pas di atashinci dan beck)

    Fighting!!!

    • hikari berkata:

      aaak~ sankyu maya-chan (^///^)
      Mukai Osamu emang keren, aku suka pas dia maen di dorama yg berbau masak2an, cowok kalo pake apron itu… keren maksimal. Haha

Don't be silent reader, tulis komentarmu di sini ^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s