[FF] My Life is You


@We_LoveKDrama

@We_LoveKDrama

Nama: Feni Yuli A.

Nickname: Feni

Akun Twitter: @Feeltop_couple

Title FF: My Life is You

Genre: Romance

Main Casts:

  • Choi Hyun Yoo
  • Choi Seung Hyun

Supporting casts:

  • Choi Siwon
  • Choi SooYoung
  • Choi Minho

Length: Oneshot

——————————————————————————————————————————————-

Kata adalah Doa

Cinta adalah Rasa

Walau ku berkata kalau ku tak mencinta

Tapi kenyataanya adalah sebaliknya

Karena cinta sulit untuk diterka

Tak dapat dipikir secara logika

Hanya bisa dirasa

Dan tak tahu kapan datangnya

“Yeoboseyo?,” tanya Seung Hyun oppa mengangkat telepon.

“Oppa, are you okay?,” tanyaku.

“Ne, gwaenchana. Don’t worry!”

“Bagaimana bisa sepeda motormu menyerempet mobil? Sudah kubilang kalau naik motor jangan mengebut! Tapi kau malah tak menggubrisku.”

“Mianhae!”

“Tapi, kau sungguh tak apa kan?”

“Ye,” jawab Seung Hyun oppa lalu menutup teleponnya.

“ Hash… Selalu saja begitu!,” desahku kesal.

“Waeyo?,” tanya Minho.

“Seung Hyun oppa menyerempet mobil lagi untuk kesekian kalinya!”

“Hahaha.. Kau sungguh menyukainya ya?”

“Eoh? Kau sudah gila? Mana mungkin aku menyukainya? Sudah ayo kita ke kelas!”

**********

“Oppa, kenapa aku tak melihatmu?,” tanyaku lewat SMS.

“Dimana?”

“Di Langit!”

“Hah? Kau sedang bercanda?”

“Anio! Aku serius. Aku tak melihat bulan milikku, yang biasanya menerangi malamku. Oppa, waktu kecil kamu suka main jungkat-jungkit ya?”

“Emang kenapa?”

“Karena saat ketemu kamu jantungku suka loncat-loncat gitu.”

“So?”

“Oppa, kau tahu tidak mengapa aku selalu memilih sekolah yang sama denganmu?”

“Ani. Waeyo?”

“Supaya aku bisa bernafas dengan ketemu kamu. Supaya aku bisa tenang dengan melihatmu. Supaya aku bisa hidup dengan melihatmu dan bertemu denganmu setiap hari!”

“Kau ini senang sekali menggombaliku! Jangan – jangan kau menyukaiku ya? Lalu bagaimana dengan Minho?”

“Aish.. PD sekali kau ini? Aku tidak menyukaimu! Aku dan Minho hanya teman, no more!”

“Ah, kau yakin tak menyukaiku?”

“Remember and catet baik – baik ya! Aku Choi Hyun Yoo tidak akan pernah dan tidak akan mungkin menyukai yang namanya Choi Seung Hyun untuk selamanya! Inget baik – baik dan simpan di memori otakmu yang Pentium 1 itu”

“Sudah malam! Tidur sana!”

“Aish… kenapa jawabanmu hanya seperti itu?”

“Kau bilang tidak menyukaiku, lalu kenapa masih mengirimiku SMS?”

“Lupakan!”

*********

Keesokan harinya..

Malam begitu dingin, sunyi dan senyap. Aku berdiri sambil melamun disamping jendela kamarku memandang langit yang bertabur bintang. Hingga suara dentuman mobil Alphard yang keras, memecahkan lamunanku. Kuperhatikan mobil itu berhenti dan parkir di depan rumah Seung Hyun oppa yang berada di samping rumahku. Betapa terkejutnya aku melihat yang keluar dari mobil itu seorang yeoja cantik, anggun dan sexy. Secepat kilat aku memutar otak mencari alasan agar aku bisa datang ke rumah Seung Hyun oppa.

“Excuse me!,” teriakku sambil mengetuk pintu.

“Mau apa kau datang kesini?,” tanya Seung Hyun oppa dengan ketus setelah membuka pintu dan melihat aku ada di depan rumahnya.

“Aish… Kau ini sangat tidak ramah pada tamu!”

“Memangnya kau tamu? Biasanya saja kau masuk dan keluar rumahku sesuka hatimu!”

“Oppa, bolehkah aku meminjam pemanggang rotimu?”

“Ani!,” jawabnya ketus.

Tanpa mempedulikannya aku langsung menerobos masuk ke dalam rumahnya dan menuju ke ruang tamu dengan Seung Hyun oppa dibelakangku berteriak keras mengomeliku.

“Annyeong Siwon oppa!,” sapaku ketika sampai di ruang tamu dan melihat Siwon oppa dan yeoja tadi duduk di sofa.

“Oh, kau Hyun Yoo? Ada apa?,” tanya Siwon oppa.

“Aku hanya ingin meminjam pemanggang roti. Tapi Seung Hyun oppa tidak mengijinkannya!”

“Jangan hyung! Kau tahu sendiri saat kecil mainanku yang dia pinjam selalu rusak dan tidak ada satu pun yang selamat!,” sela Seung Hyun oppa.

“Hahaha… Kalian ini sudah dewasa masih saja kekanak-kanakan!,” ledek Siwon oppa.

“Oppa, dia siapa?,” tanyaku pada Siwon oppa sambil menunjuk yeoja disampingnya.

“Kenalkan, dia temanku Choi SooYoung!”

“Annyeong, SooYoung imnida. Bangapseumnida!,” ucap yeoja yang bernama SooYoung itu.

“Ne, annyeong. Hyun Yoo imnida,” jawabku.

“Ayo kita ke ruang makan! Aku tadi sudah memasak banyak makanan lezat. Kalian harus meghabiskannya!,” jelas Siwon oppa.

Di meja makan kulihat berbagai macam makanan mulai dari yang sederhana sampai yang kualitas nomor satu. Siwon oppa memang sangat pandai memasak sejak dulu, tidak seperti Seung Hyun oppa yang hanya bisa makan saja.

“Hyun Yoo makan yang banyak ya. Supaya kau tidak kuruss kering seperti ini!,” jelas Siwon oppa sambil mengacak – acak rambutku lembut.

“Ne,” jawabku.

“Selamat makan semuanya!,” ucap Siwon oppa.

Setelah selesai makan aku bersiap untuk pulang karena hari sudah malam . lalu aku berpamitan pergi dan meninggalkan semuanya.

“Hyung, kau lihat sendiri kan perempuan seperti apa Hyun Yoo itu? Habis makan banyak di rumah orang dengan rakus, gratis dan langsung pergi tanpa mengucapkan terima kasih! Sangat tak tahu diri!,” celoteh Seung Hyun oppa.

Aku yang kembali ke dalam ruang makan karena lupa mengucapkan terima kasih, diam terpaku mendengarkan ucapan Seung Hyun oppa. Hatiku terasa hancur berkeping – keping menjadi puzzle yang mungkin tak akan bisa untuk disatukan lagi.

“Hyun Yoo-ah?,” pekik Siwon oppa yang terkejut melihatku.

“Aku tidak menyangka oppa kalau ternyata penilainmu padaku selama ini seperti itu. Aku tak menyangka kalau kau sangat tidak menyukaiku dan membenciku! Maaf jika selama ini aku merepotkanmu!,” lalu aku berlari pergi karena sudah tidak tahan membendung air mataku lagi.

********

Aku menangis dan berteriak sekencang – kencangnya di bangku taman. Aku berharap dengan melakukannya bisa mengurangi sedikit rasa pedihku. Namun ternyata itu semua sia – sia. Rasa sedihku tak berkurang sama sekali. Sedikit pun! Hingga saat aku membuka mataku, aku melihat Siwon oppa berjongkok di hadapanku menengadahkan tangannya untuk menampung air mataku.

“Kau sudah lebih baik?,” tanyanya dengan nada suara menenangkan.

“Belum. Bagaimana oppa tahu aku disini?,” jawabku sambil menangis sesengukkan.

“Karena aku selalu mengikutimu kemanapun kau pergi tanpa sepengetahuanmu!,” jawabnya lalu mengecup kedua mataku yang sembap.

“Jangan menangis untuknya lagi ya! Dia tak pantas untuk kau tangisi! Air matamu terlalu berharga hanya untuk menangisinya!,” jelasnya, lalu ia mendekat ke wajahku , semakin dekat dan mencium bibirku dengan sangat lembut. Aku hanya bisa diam terpaku melihat apa yang dilakukan oleh Siwon oppa padaku saat ini.

“Ayo kita pulang! Udara malam tidak baik untukmu! Kau pasti lelah. Naiklah ke punggungku, aku akan mengantarmu sampai rumah!”

Aku hanya bisa pasrah menuruti kata – katanya, hingga tak sadar aku terlelap dalam gendongannya.

*********

“Hyun Yoo-ah, jam berapa ini? Ayo cepat bangun!,” teriak eomma dari dalam dapur.

“Ne, eomma,” jawabku lalu mengambil handphone di samping ranjang dan mendapati satu SMS masuk dari Siwon oppa.

“Jangan menangis lagi ya!

Jangan sedih lagi

Karena tangisanmu dan kesedihanmu juga kurasakan

Lukamu juga luka yang kurasakan

Hatiku menjerit melihat keadaanmu semalam!

Move on, okay?

Have a nice day ”

Aku hanya bisa menggaruk – garuk kepalaku yang tidak gatal menanggapi SMSnya dan beranjak dari ranjang menuju ke kamar mandi.

*****

Hari ini hari minggu. Ahjumma dan ahjussi selalu pergi mengunjungi rumah halmeoni, sedangkan aku mengunjungi rumah mereka untuk sekadar mengangu Seung Hyun oppa atau menanyakan resep kepada Siwon oppa.

“Excuse me! Excuse me!,” teriakku sambil mengetuk pintu rumah Seung Hyun oppa. Namun tak ada satu pun yang menyahut. Ku coba tuk menarik gangang pintunya yang ternyata memang tidak dikunci. Akhirnya aku masuk ke dalam dengan celingak celinguk ke kanan kiri dan Berjalan dengan mengendap endap. Kulihat pintu kamar Seung Hyun oppa terbuka. Dan benar saja, kesempatan untuk menjelajahi kamarnya tak kulewatkan begitu saja. Aku langsung berlari mendekati kamarnya dan masuk ke dalamnya. Lalu melihat- lihat isinya.

“Hey, nuguya? Masuk kamarku tanpa permisi!,” teriak seseorang yang suaranya tak asing untukku. Lalu aku berbalik untuk melihatnya. “OMO! Oppa kau??? Berbulu!!!,” teriakku melihat orang itu yang tak lain adalah Seung Hyun oppa yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan telanjang dada.

“Ah, aku harus mengabadikannya!,” ucapku lalu mengambil handphone di saku celanaku dan langsung memotretnya.

“A… Anio! Jangan memfotoku!,” teriaknya kesal sambil menutupi dadanya yang berbulu.

“Kau keren sekali oppa! Aku akan menunjukannya pada teman-temanku besok! Hahaha..”

Secepat kilat dan tanpa kusadari Seung Hyun oppa sudah berada di dekatku dan berusaha merebut handphoneku.

“Berikan!”

“Anio!”

“Berikan padaku sekarang, atau…”

“Atau apa?”

Tak kusadari wajah Seung Hyun oppa dan aku sangat dekat. Makin lama makin dekat dan tatapan matanya sangat intens penuh arti.

“Anio! Jangan menciumku oppa! Aku belum siap!,” teriakku sambil memejamkan mata dan badan sedikit bergetar karena ketakutan.

“Kau ini bodoh atau apa? Mana mungkin aku mencium bocah ingusan sepertimu?”

Spontan mataku langsung terbuka lebar karena mendengar ucapannya. Kulihat handphoneku sudah berada di tangannya dan di utak-atik olehnya.

“Ini kukembalikan padamu! Dasar yeoja pabo!”

“Oppa, kau mempermainkanku! Mengambil kesempatan dalam kesempitan!”

Tapi dia tak menggubrisku sama sekali, malah sibuk sendiri memakai baju dan berkaca di depan lemarinya.

“Oppa!,” teriakku kesal sambil memukul meja. Terlihat selembar kertas jatuh tepat dikakiku yang berasal dari atas tumpukan buku di atas meja yang kupukul. Kupungut kertas itu dan kubaca kata demi kata. Terlihat Seung Hyun oppa yang syok melihatku sedang membaca tulisannya, spontan ia langsung berlari ke arahku dan merebut kertas itu dariku.

“Oppa, jadi selama ini kau menyukaiku?”

“Anio!”

“Lalu apa maksud dari tulisan di kertas itu?”

“Itu semua hanya lelucon!”

“Huh? Lelucon? Bullshit!”

“Terserah jika kau tak percaya!”

“Tak mengertikah kau perasaanku selama ini padamu? Tak tahukah kau jika seorang wanita mengatakan tidak, maka kenyataanya adalah sebaliknya? Tidakkah kau merasakan perasaanku padamu selama ini? Huh?,” teriakku diiringi dengan air mataku yang mulai berjatuhan dan mengalir deras.

“So? You want to say if you loving me? Bullshit tahu ngak? Jika kau memang menyukaiku, kenapa kau membiarkan Siwon hyung menciumu, huh? Sebenarnya apa maumu?,” teriaknya lalu memukulkan kepalan tangannya ke lemari kaca di belakangku hingga pecah dan membuat tangannya terluka. Aku hanya bisa diam membisu mendengarkan ucapannya. Aku bingung harus menjawab apa. Aku bingung bagaimana bisa dia mengetahuinya.

“Kau tak bisa menjawabnya kan? Kau ini benar-benar murahan sekali!,” ungkapnya. Lalu spontan tanganku melayang ke pipinya.

“Dasar yeoja! Banyak maunya, semena-mena, seenaknya sendiri dan suka mengomel. Aneh sekali makhluk tuhan yang disebut yeoja itu! Sulit sekali dimengerti apa maunya!,” ungkapnya lalu pergi meninggalkanku. Jantungku terasa seperti tertusuk duri beracun yang sangat mematikan hingga membuatku sesak dan sulit bernafas. Lalu aku berbalik dan langsung mengejarnya.

“Oppa!,” ucapku setelah berhasil mengejarnya dan menghadang jalannya. Ku ambil vas bunga di meja, lalu kupecahkan dan kuambil kepingannya yang paling besar dan tajam.

“Manusia hidup di dunia dengan nyawa

Cinta butuh rasa untuk tetap ada

Tanpa cinta hidup terasa hampa

Tanpa rasa cinta tak kan ada

Karenamu aku ada

Karenamu aku tercipta

Karenamu hidupku berwarna

Karenamu aku merasakan apa itu cinta

Dan karenamu aku masih tetap bernyawa

Because MY LIFE IS YOU!

Jadi, jika kau yang menjadi nyawaku sudah tak dapat lagi berada disisiku, untuk apa aku hidup?,” jelasku lalu bersiap menggoreskan pecahan vas tadi ke nadiku. Tanpa sadar, Seung Hyun oppa sudah memegang tanganku dan berusaha merebut pecahan itu dariku. Namun aku meronta dan tak memberikannya. Hingga akhirnya tanpa sengaja pecahan itu menusuk mata kirinya.

“A.. Sakit!,” teriaknya sambil memegangi matanya yang mengeluarkan darah segar yang sangat banyak. Ahjussi, ahjumma, dan siwon oppa yang sedari tadi melihat pertengkaran kami sangat syok melihat pemandangan yang terjadi di depan mereka. Mereka langsung berlari ke arah Seung Hyun oppa dan membawanya ke rumah sakit. Aku hanya bisa terduduk lesu ke lantai tanpa rasa, gairah, dan kekuatan. Aku benar-benar terkejut melihat kejadian yang baru saja terjadi. Pikiranku kosong dan tak menggubris pertanyaan Siwon oppa yang ia lontarkan padaku. Hingga akhirnya semuanya menjadi gelap dalam penglihatanku dan aku tak dapat merasakan apapun.

********

“Dimana aku?,” tanyaku ketika aku tersadar dengan penglihatan yang masih samar.

“Kau di Byeong-won!,” jawab seorang namja yang suaranya tak asing untukku.

“Oppa, dimana Seung Hyun oppa? Bagaimana keadaanya?,” tanyaku setelah berhasil melihat namja itu dengan jelas yang ternyata adalah Siwon oppa.

“Dia…”

“Dia kenapa?”

Namun aku tak mendapat jawaban apapun darinya. Ia hanya diam membisu memandangiku dengan tatapan yang sangat menyedihkan.

Aku berlari keluar dari ruanganku berusaha untuk mencari tahu keadaan Seung Hyun oppa sendiri. Aku berlari tanpa arah, menanyai setiap orang yang kutemui dimana ruang rawat Seung Hyun oppa. Tapi tak ada satu pun yang menjawabku. Mereka semua malah mencibirku dan mengangapku gila. Tapi aku tak mempedulikannya. Aku terus berlari, terus mencari, hingga kakiku letih dan tak mampu berjalan lagi. Hingga akhirnya aku menemukannya. Terlihat eomma dan appa Seung Hyun oppa duduk di depan bangku tunggu ruang rawat dengan eomma Seung Hyun oppa yang menangis di pelukan nampyeonnya. Aku berjalan secepat yang ku mampu menuju ke ruangannya. Samar-samar kulihat ia dari depan pintu kaca ruang rawatnya, ia terbaring di tempat tidur yang putih dengan sebelah mata tertutup kasa putih. Tangannya juga diperban karena terkena kaca tadi. Keadaanya sangat menyedihkan, aku tak kuat melihatnya. Tangisku pecah di depan ruang rawatnya. Aku tak mampu melihatnya dengan kondisi seperti itu. Sungguh, lebih baik aku tak mengetahuinya daripada harus melihatnya seperti ini.

“Dasar kau! Wanita pembawa sial! Menghancurkan impian putraku! Puas kau sekarang, huh? Sudah membuat sebelah matanya buta!,” bentak eomma Seung Hyun oppa sambil menamparku dan penekanan suara pada kalimat terakhir.

“Ahjumma, oppa? Buta?,” tanyaku tak percaya dengan kenyataan yang baru saja kudengar.

“Ye! Puas kau sekarang, huh? Kau ini benar – benar!…” Lalu ahjumma bersiap untuk menamparku lagi untuk kedua kalinya tapi dihalangi oleh ahjussi.

“Hyun Yoo, sebaiknya kau pergi dulu sekarang! Keadaan saat ini sedang rumit!,” jelas ahjussi.

“Ne, mianhae!,”

**********

Kulangkahkah kakiku malas pergi menjauh dari ruang rawat Seung Hyun oppa tanpa arah dan tujuan. Hidupku terasa tak berarti lagi. Aku mengutuki diriku sendiri yang menyebabkan ini semua terjadi. Tanpa kusadari kakiku membawaku sampai ke depan rumah. Terlihat appa dan eomma sedang menungguku dengan penuh rasa cemas.

“Chagi, gwaenchanayo?,” tanya eomma. Tapi aku tak menggubris pertanyaanya dan malah melenggang masuk menuju kamarku. Kududukan badanku di pojok kamar, kugigiti jemari tanganku dan kupeluk lutut – lututku dengan tanganku yang lainnya sambil menggerak – gerakkan badan, persis orang yg sedang frustasi berat. Hanya itu yang kulakukan setiap hari, waktu dan detik. Bahkan sudah berhari – hari aku tidak makan, mandi, tidur, dan kegiatan lainnya yang dilakukan oleh manusia normal. Sedetik pun aku tak mau beranjak dari tempat dudukku saat ini. Setiap hari aku hanya duduk dengan diam membisu, pikiran kosong dan memandang dengan nanar nasib burukku ini. Mungkin jika keadaanku sekarang dibandingkan dengan orang gila maka takkan ada bedanya. Kumuh, pandangan dan pikiran kosong, rambut berantakan, tak terawat, tak mau melakukan apapun, hanya berdiam diri dan membisu tanpa kata. Hanya saja aku sedikit berbeda dengan mereka. Kalau orang sakit biasanya berada di rumah sakit, sedangkan aku masih tetap di rumah. Seung Hyun oppa sudah pulang ke rumah dari beberapa hari yang lalu. Namun aku tak berani menemuinya. Memandangnya saja tak mampu, apalagi berbicara dengannya.

“Hyun Yoo, apakah kau tidak lapar chagi? Apakah kau tidak ingin memakan sesuatu? Lihatlah keadaanmu sekarang, kau sangat kurus sekali!,” tawar eomma yang sudah hampir putus asa melihat keadaanku yang terus saja seperti ini tanpa perubahan sedikit pun. Aku hanya menggelengkan kepala sambil mengigiti jariku dan menggerek – gerakkan badanku.

Tujuh tahun yang lalu

Semenjak kepindahanmu kesamping rumahku

Kau telah berhasil mengalihkan duniaku

Mencuri hati dan jiwaku

Maafkanku melukis kata

Kata – kata yang mungkin tak kan ada gunannya

Maafkanku yang telah menorehkan luka

Tapi aku sungguh tak bermaksud tuk melakukannya

Cintaku tulus kepadamu

Tak mengharapkan apapun darimu

Jika memang tuhan tak menakdirkanku dengan dirimu

Maka lebih baik kau bunuh saja aku

Atau buatlah aku,

Melupakan semua kenangan tentangmu

Tiba – tiba terbesit ide gila dalam otakku. Aku tak tahu apa yang merasuki tubuhku saat ini. Aku mengambil gunting rambut yang ada di mejaku dan langsung menusukkannya ke mata kiriku. Jleb!! Darah segar mencuat dengan deras.

“Eomma, sakit!!!,” teriakku kencang, membuat eomma dan appa berlari tergopoh – gopoh ke kamarku untuk melihat keadaanku. Samar – samar kulihat eomma menangis, menjatuhkan air matanya untukku. Hatiku menjerit melihat seseorang yang telah melahirkanku ke dunia yang fana ini, menangis untukku menderita demi aku dan terluka karenaku. Appa yang kebingungan melihak keadaanku, langsung menggendongku ke dalam mobil dan membawaku ke rumah sakit.

Eomma,

Jika memang ini saat terakhirku

Aku ingin mengucapkan terima kasihku yang sedalam – dalamnya untukmu

Terima kasih telah mencintaiku dan menyayangiku

Terima kasih telah menghawatirkanku

Terima kasih atas semua jasamu

Dan terima kasih untuk semua yang telah kau beri untukku

Maafkan putrimu ini

Yang tak tahu diri

Dengan tega membuatmu terluka dan tersakiti

Maafkan putrimu ini

Yang tak tahu terima kasih sama sekali

Membuatmu bekerja tanpa henti

Eomma, jika memang ini benar – benar saat terakhirku

Aku ingin mengatakan padamu

Kalau aku sangat mencintaimu

I LOVE YOU MOM :’)

*************

“gwaenchanayo?,” tanya Seung Hyun oppa disampingku saat aku mulai sadar dan membuka mata.

“Ne”

“Kau ini benar – benar yeoja pabo! Untuk apa kau membuat matamu jadi sama sepertiku, huh?”

“Up to me! Walaupun aku pabo, kau tetap menyukaiku kan? Buktinya kau datang kemari dan mengkhawatirkanku!,” ledekku.

“Lupakan!,” ungkapnya lalu membuang muka.

“Oppa, mianhae!,” ungkapku sambil memegang tangannya memberi isyarat untuk menatap mataku. Lalu ia menatapku cukup lama kemudian mencium keningku dan berkata, “SARANGHAE! Jangan lakukan hal ini lagi. Aku sangat benci jika kau membuatku khawatir”

“Ne, oppa. Nado saranghaeyo!”. Lalu ia mendekatkan wajahnya ke wajahku dan mencium bibirku. Melumatnya lembut, sangat lembut dan menyenangkan. Memberikanku sensasi yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Hingga membuatku terbang, melayang ke surga cintaku dan Seung Hyun oppa.

********

Akhirnya setelah menunggu beberapa bulan. Aku dan Seung Hyun oppa mendapatkan donor mata. Kami melakukan operasi di rumah sakit yang sama, jam yang sama, ruangan yang sama dan mata dari orang yang sama. Operasinya berjalan lancar selama 4 jam. Sekarang, aku dan Seung Hyun oppa sudah bisa melihat dunia dengan dua mata lagi. Ahjumma juga sudah memaafkanku dan orang tua kami juga sudah menyetujui hubungan kami.

******

Hari ini Seung Hyun oppa mengajakku bertemu di Sungai Han. Aku sudah menunggunya lebih dari 2 jam. Tapi dia tak kunjung menampakkan dirinya. Dalam hati aku menggerutu dan berjanji akan mengomelinya jika ia datang nanti. Tiba – tiba ada seseorang yang menepuk bahuku yang aku yakin pasti dia Seung Hyun oppa. “Kau ini benar – benar …”. Hampir saja aku membully orang itu yang ternyata bukan Seung Hyun oppa.

“Ini noona, untuk anda!,” ungkapnya sambil memberikan secupuk surat. Ku buka surat itu dan ku baca perlahan.

Pejamkanlah matamu dan hitunglah dari satu sampai sepuluh. Lalu sebutkanlah namaku dan lihatlah keajaiban yang akan terjadi.

Namaku? Namanya siapa pikirku bingung. Aku memejamkan mataku dan mulai menghitung. Saat hitungan kesepuluh terlihat bayangan Seung Hyun oppa dan spontan aku langsung menyebut namanya lalu membuka mata.

Jdar.. Jdar.. Nging..

Suara petasan membahana disekitar area Sungai Han. Kulihat terukir sebuah tulisan di langit. Lalu kubaca dalam hati.

Choi Seung Hyun dangsineul saranghaeyo Choi Hyun Yoo.

Lalu aku hanya tersenyum memandanginya. Tiba – tiba seluruh lampu di dekat Sungai Han mati. Sontak aku terkejut dan langsung menjerit, “Oppa!” sambil menutup mata karena aku takut kegelapan.

“Aku disini chagiya!”. Mataku lansung terbuka dan terbelalak melihat Seung Hyun oppa dan teman – temanku yang datang bersama membawa lilin dan cake.

“Happy birthday for your sweet seventeen honey! I LOVE YOU!,” ungkap Seung Hyun oppa sambil membawa cake ultahku. Lalu semua berteriak cium, cium, cium dengan kompak sambil bertepuk tangan. Seung Hyun oppa langsung menarikku ke dalam pelukannya dan menciumku tepat di bagian bibir dengan sangat mesra dan basah. Untuk kedua kalinya dia membuatku kehilangan akal sehatku dan dikuasai nafsu. Akhirnya setelah beberapa detik Seung Hyun oppa melepaskan ciumanya padaku dan aku langsung mendapatkan timpukan cake dari Minho yang di ikuti oleh yang lain dengan mengocok – ngocok soju lalu menyemprotkannya. Lalu aku hanya tertawa dengan wajah penuh dengan cream dan menikmati malam hari jadiku bersama teman – temanku dan tentunya namja chinguku yang sangat kharismatik. Siapa lagi kalau bukan CHOI SEUNG HYUN?

Cinta yang kau rasa dalam dada

Butuh pengorbanan dan usaha

Percayalah jika kebahagiaan pasti akan datang pada saatnya

Menghampirimu dan orang yang kau cinta

Percayalah tak akan ada sesuatu yang sia – sia

Jika kau mau berusaha dan berdoa

Kau pasti bisa mendapatkannya

Kebahagiaan yang sempurna

Bersama orang yang kau cinta

THE END

——————————————————————————————————————————————-

Berikan penilaian kalian tentang FF ini di kolom komentar. Don’t be silent reader ya ^^

 

Pos ini dipublikasikan di Fan Fiction, K-DID dan tag , , , , . Tandai permalink.

Don't be silent reader, tulis komentarmu di sini ^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s