[FF] Triangle Twin (Chapter 2)


Triangle Twin (Chapter 2)

Nama: Mualimatul Kurniyawati
Nickname: Niya
Akun Twitter: @kurniya12
Title FF: Triangle Twin
Genre: Family, Friendship, School Life, Romance
Main Casts:
  • Kim Jongin (Kai)
  • Oh Hara (You)
  • Kim Taemin
Supporting casts:
  • Kim Haemi (OC)
  • EXO (K)
  • Park Eunri (OC)
Length: Multi Chapter

Buuugg

Tubuhku terpental. Tidak sengaja aku menubruk tubuh seorang namja yang berpostur lumayan tinggi. Perasaanku kian berubah menjadi tidak enak. Dasar kenapa kau menubruk orang Oh Hara, apa kau tidak melihat orang berjalan didepanmu. Rutukku dalam hati.

“Aiish, apa kau tidak punya mata haah? Berjalanlah dengan benar, Pabo! Kau mengotori bajuku, kau mau cari mati!”

Hah suara itu, aku yakin suara itu tidak asing. Aku sangat mengenal suara itu. Aku tertunduk dan tidak berani mendongakkan kepalaku. Matilah aku, kenapa aku begitu ceroboh.

****

 

POV Oh Hara

 

Kai, apa itu kau? Ucapku dalam hati. Masih dalam posisi yang sama, aku tidak berani mendongakkan kepala. Mata itu, aku tidak mampu melihat tatapan mata itu. Tatapan mata yang dingin, tajam, dan kosong. Sulit untuk diartikan tatapan mata Kai. Membuatku ingin tau, mengapa kau mempunyai tatapan mata seperti itu Kai. Aku merasa sepertinya ada sesuatu hal yang membuatmu seperti ini.

Kau tau, menatapmu sama saja membunuhku perlahan. Membuat detak jantungku berhenti dan seketika membuat nafasku tertahan. Aku harus pergi, aku harus menghindari mu Kai.

Chakkaman, aku tidak suka diabaikan. Kau tahu, bajuku basah karnamu!” terdengar Kai setengah meneriakiku.

Mi…miianhae, joeng..mal mianhae” susah payah aku pengumpulkan sisa-sisa keberanianku untuk menjawab perkataan Kai. Meskipun terdengar terbata-bata.

Mendengar perkataan Kai yang setengah berteriak, kini semua orang memperhatikanku. Ku lihat Eunri sedang menatapku tajam. Seolah berbicara, kau benar-benar gadis yang bodoh Oh Hara.

“Kai, sudahlah. Kau membuat dia ketakutan, apa kau tidak kasihan melihatnya?” kulihat seorang namja berjalan menghampiri Kai, berusaha menarik dan membawa Kai pergi. Ya, namja itu Sehun. Aku mengenalnya, semua orang juga mengenalnya. Dia seperti Kai, terlihat hebat dalam menari. Tapi aku tetap lebih meyukai Kai.

“Hey kenapa aku tidak pernah melihatmu sebelumnya? Bahkan dengan wajah takutmu kau masih terlihat cantik.” Mataku terbelalak, setelah sesaat kemudian aku menyadari Chanyeol yang berdiri tepat disampingku.

“Chan..chanyeol..”

“Bagaimana bisa kau tahu namaku?” jawab Chanyeol dengan tatapan seolah mencari jawaban.

“Yak berhenti menggoda wanita Chanyeol-ah”.

Aku membuang nafas dalam. Beruntung Sehun meneriaki Chanyeol sambil berjalan meninggalkan kantin. Mungkin Chanyeol sedikit malu dengan teriakan Sehun, hingga akhirnya ia berjalan keluar mengikuti Sehun.

****

Detik demi detik, menit demi menit, bahkan hari demi hari, waktu terasa berjalan begitu cepat. Tanpa terasa ujian masuk perguruan tinggi begitu dekat. Saat Oh Hara mendengar bahwa Jongin akan mencapai Seoul National University of Art, ia berusaha keras untuk mencapainya juga. Setiap hari Oh Hara tidak pernah absen belajar, hingga larut malam pun ia masih belajar. Ia menyadari untuk mencapai Seoul National University of Art  itu sangat tidak mudah. Apalagi dengan daya pikirnya yang begitu pas-pasan. Baginya ujian masuk perguruan tinggi itu sangat penting, penting sekali bahkah melebihi kepentingan apapun.

Akhirnya hari itu tiba, dengan persiapan yang matang Oh Hara meyakinkan diri. Ia harus mencapai universitas itu, sekaligus ia akan membuktikan bahwa perkataan banyak orang yang menganggap dirinya bodoh adalah salah besar.

Eomma, Hara berangkat dulu. Doakan Hara semoga berhasil.”

Ne Eomma akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu.” Kemudian Hara memeluk ibuknya dan beranjak pergi.

Kajja Appa.” Tentunya dengan diantarkan Ayahnya, Hara berangkat menuju tempat ujian itu.

Skip

Para pelajar yang mengikuti ujian perguruan tinggi, kini berhamburan keluar. Mereka telah menyelesaikan ujiannya yang berlangsung cukup lama.

“Hey Oh Hara.”

Mendengar ada yang memanggil namanya. Hara pun segera mengedarkan pandangannya untuk mencari sumber suara itu.

“Ah kau ternyata Baekhyun-ah, kau mangikuti ujian di sini juga? Bukankah kau akan mangambil di Kedokteran?”

Pabo, kau percaya padaku? Hhahaa.”

“Aish, harusnya aku sadar kau membodohiku ternyata.”

“Ku kira kau bercanda akan mengikuti Kai, ternyata kau begitu terobsesinya dengan Kai.”

“Yaa siapa bilang aku bercanda, dari awal aku serius. Selain itu aku juga ingin membuktikan padamu, aku tidak sebodoh yang kau pikirkan Baekhyun-ah. Bahkan aku bisa mengalahkanmu.” Ujar Hara sambil menjulurkan lidahnya.

****

Semua tempat penuh sesak dan ramai. Tepat dua puluh hari setelah ujian masuk perguruan tinggi, kini hasilnya akan segera mereka ketahui. Banyak pelajar berdesakan untuk melihat nama-nama siapa saja yang akan diterima. Tanpa mempedulikan dorongan dari orang lain pun, Hara berjalan memasuki kerumunan.

“Yak Baekhyun, kau lihat namaku terpampang dan hey namamu juga ada Baekhyun-ah.” Dengan gembira Hara berteriak memberitahu Baekhyun.

Jinjja? Namaku dan namamu ada? Ah kau tau, aku tidak jadi keren.”

Waeyo? Apa maksudmu?”

“Ku pikir hanya ada namaku, ternyata ada namamu juga. Bukankah aku akan terlihat keren jika diantara kita berdua hanya aku saja yang diterima.”

”Aish kau sangat meremehkanku Baekhyun-ah.” Pletak “Rasakan kau.”

Appo, aku hanya bercanda. Hey lihatlah aku berada di jurusan tarik suara, sesuai yang kuinginkan.”

Mwo, aku berada di jurusan seni lukis dan eh, mengapa ada nama Park Eunri di sini?”

Mwo Park Eunri? Aish bahkan dia tidak memberitahu kita kalau dia juga mengikuti ujian di sini.”

“Jangan-jangan dia lupa mengatakannya pada kita. Dasar anak itu….. Lalu bagaimana dengan Kai? Aku tidak menemukan nama Kai.” Ujar Hara dengan tatapan penuh teliti mencari nama Kai.

“Kau tidak menemukan Kai, karna dia berada di jurusan seni tari. Kai dan temannya masuk di jurusan yang sama.”

“Kurasa tarianku begitu buruk. Mungkin itu sebabnya aku tidak diterima di seni tari.” Ucap  Hara dengan nada frustasi.

“Tarianmu tidak buruk, hanya saja mungkin mereka lebih mengagumi lukisanmu daripada tarianmu. Dan itu cukup membuktikan kalau kau sangat hebat dalam melukis. Kau bukan gadis bodoh lagi Hara-ah.”

Hara merunduk lalu mengangguk pelan. “Kau benar Baekhyun-ah.”

Kai POV

 

Diikuti dengan Chanyeol dan Sehun, aku berjalan menuju papan pengumuman untuk melihat daftar nama calon mahasiswa yang diterima. Aku sengaja menunggu tempat itu sepi, karna aku tidak suka berdesakan dengan banyak orang.

Kulihat ada seorang yeoja dan namja sedang berbincang di depan papan pengumuman. Aku semakin mendekat, bukankah yeoja itu yang menabrakku di kantin waktu itu. Dasar gadis ceroboh, aku tidak mempedulikan dia yang tiba-tiba pergi seolah menghindariku.

“Kai, namamu ada. Itu artinya kau diterima.” Terdengar suara bass yang tak lain pemiliknya adalah Chanyeol.

“Hey lihatlah, kita bertiga masuk di seni tari.” Ucap Sehun dengan antusias.

“Apa itu benar?”

Dengan maksud meyakinkan diri. Kuarahkan pandanganku menatap lekat pada setiap daftar nama. Kuletakkan ujung jari telunjukku pada papan nama, lalu kugerakan jariku mengikuti pandanganku. Dengan maksud agar namaku tidak terlewatkan pada penglihatanku. Belum sempat aku menemukan namaku, tiba-tiba jariku berhenti di satu nama yang kurasa sudah tidak asing lagi. Rahangku seketika mengeras dan mataku terbelalak melihat nama itu.

“Bukankah kau sudah meninggalkan Seoul? Aku benar-benar membencimu, sangat membencimu. Bahkan kehadiranmu tidak aku harapkan.” Seruku dalam hati. Membuat tanganku mengepal menahan emosi.

“Kai, gwenchana? Apa yang terjadi padamu?” Tanya Sehun dengan tatapan bingung

“Ah anniya. Gwenchana. Kajja kita pergi.”

****

Terlihat senyum damai sedang berkembang di wajah seorang namja. Ia berjalan kaki sembari melihat kota Seoul yang terlihat indah di matanya. Sepertinya suasana hatinya sedang bahagia.

“Seoul, aku sudah kembali lagi. Kai aku sangat merindukanmu.” Gumamnya lirih dan seolah berbisik kepada angin yang berlalu.

****

@Seoul National University of Art

 

Pagi ini terasa begitu berbeda dari pagi sebelumnya. Mereka berhamburan masuk menuju kelasnya masing-masing. Hari ini adalah hari dimana mereka pertama kali menjalani rutinitasnya sebagai seorang mahasiswa. Sepertinya perasaan mereka menjadi campur aduk, di sisi lain mereka juga memikul beban lebih berat. Betapa tidak, menjadi mahasiswa bukankah itu berarti menjadikan diri mereka untuk lebih dewasa. Dan dewasa itu berarti dimana senyummu akan semakin berkurang.

“Park Eunri, yak kau akan menerima hukuman. Kau tidak memberitahuku kalau kau juga masuk di sini, eoh?”

“Ah mianhae Hara-ah, jeongmal mianhae. Aku pikir aku sudah mengatakannya padamu. Kau tau kan bukankah daya ingatku sangat lemah?”

“Aish, tapi ini keterlaluan Park Eunri. Aku tidak akan memaafkanmu.”

Jinjja kau tidak memaafkanku? Meskipun aku akan mentraktirmu selama tiga hari kedepan?”

Chakkaman, sepertinya aku berubah pikiran Eunri-ah.”

“Yak dasar kau, apa aku harus selalu mentraktirmu untuk mendapatkan maaf darimu?”

Geure, harusnya begitu.” Ucap Hara dengan tersenyum evil dan mengedipkan matanya.

Pada jam yang sama, di tempat yang berbeda. Seorang sedang menuruni mobil mewahnya yang berwarna hitam. Dengan perasaan penuh bahagia ia menyunggingkan sedikit senyuman. Ia mengenakan seragam mahasiswa seperti yang lainnya. Namja itu, berkulit putih dan berpostur tinggi dengan jam tangan hitam yang terpasang di tangannya, membuat namja itu semakin terlihat memikat.

Kai POV

 

Dengan langkah santai aku berjalan melewati lorong kampus. Sembari kedua tanganku, ku masukkan ke dalam saku celana. Ku edarkan pandanganku ke sekeliling kampus, lihatlah mereka begitu gembira menjalani hari pertama masuk di kampus. Tapi aku, yah meskipun dalam hatiku merasa senang tapi aku tidak suka menunjukkan ekspresi yang berlebihan.

Apakah aku akan baik-baik saja setelah dia juga masuk di seni tari? Entah lah, kurasa akan membuatku terasa hambar. Yang jelas aku sangat tidak menginginkan kehadirannya.

“Chanyeol-ah, kau membodohiku. Hey kau kalah, harusnya kau menggendongku sampai kelas.”

“Yak kau curang Sehun, aku tidak akan menggendongmu. Dan satu lagi, sudah kuperingatkan. Panggil aku Hyung.”

Mwo, tidak akan. Sudahlah, kau harus menggendongku.”

“Kau mengabaikanku, haah? Bersiaplah berlari, aku akan memukulmu.”

“Kau yang curang Chanyeol-ah, bukankah aku yang harusnya mengejarmu. Kau tidak menggendongku, kenapa jadi kau yang mengejarku.” Cibir Sehun sambil berlari melarikan diri dari Chanyeol.

“Hey apa yang kalian lakukan? Kalian terlihat seperti anak kecil.” Ujar ku saat tiba-tiba melihat Chanyeol dan Sehun saling berkejaran.

“Kai awas minggir, kau menghalangi jalanku.” Pekik Sehun yang mengabaikan perkataan Kai.

****

Terkadang yang membuat kita sakit bukanlah dia, melainkan harapan kita sendiri yang terlalu besar terhadapnya. Mungkin itulah yang dirasakan Oh Hara saat ini. Sebulan sudah mereka menjalani rutinitasnya sebagai seorang mahasiswa. Berharap setelah Hara mencapai perguruan yang sama dengan Kai, ia akan bisa bertemu Kai dengan mudah. Namun kenyataannya setelah sebulan ia menjalaninya, sekalipun ia belum pernah bertemu dengan Kai kecuali saat di depan papan pengumuman penerimaan mahasiswa baru.

“Hara, sampai kapan kau akan terus melamunkan Kai?”

“Ehh..ahh Baekhyun. Sejak kapan kau sudah berada di rumahku? Siapa yang membukakan pintu?”

“Bahkan kau tidak menyadari kehadiranku, Eomma mu yang membukakan pintu.”

“Ohh.. hmm aku tidak melamunkan Kai, aku hanya memikirkan….”

“Kau tidak bisa mengelak Oh Hara dan kau tidak bisa menyembunyikannya dariku.” Seru Baekhyun sembari duduk di samping Hara.

“Ahh.. ani, anniya aku hanya…..”

“Aku tau kau ragu untuk mengucapkan apa yang ada di hatimu karena kau tidak yakin dia akan mendengarkanmu.”

“Maksudmu? Aku tidak mengerti.”

“Jika kau ragu untuk mengucapkannya, ini…tulis saja apa yang ada di hatimu pada kertas ini.” Ucap Baekhyun sambil menyodorkan secarik kertas kepada Hara.

“Aku mengerti sekarang. Ne gomawo Baekhyun-ah.” Jawab Hara yang kemudian mengambil secarik kertas yang disodorkan Baekhyun.

“Beritahu aku saat kau telah selesai menulis. Karena kau tidak yakin dia akan mendengarmu, aku akan menyimpan dan membaca tulisanmu.”

“Baekhyun-ah.” Ucap Hara yang kemudian memeluk Baekhyun

“Kita bersahabat sudah cukup lama, jangan segan-segan bercerita terhadap aku maupun Eunri Ne?.” Ujar Baekhyun yang kemudian membalas pelukan Hara dan mengelus punggung Hara.

Ne.”

****

 

@Seoul National University of Art

 

Aigo, kau mengagetkanku Baekhyun-ah. Kau kenapa datang ke kelasku? Apa yang kau lakukan? Ahh biar ku tebak, kau mau menggoda teman sekelasku? eoh?”

“Yaa apa-apan kau ini. Aku tidak tertarik menggoda mereka. Bukankah justru mereka yang ingin menggodaku.” Umpat Baekhyun kepada Eunri

“Aish, kau ini terlalu percaya diri Baekhyun-ah.”

“Aku ke sini ingin bicara penting denganmu. Lihat ini, aku membawa kertas tulisan Hara. Ia menulis semua perasaanya terhadap Kai di sini.”

“Lalu apa yang akan kau lakukan?”

“Mungkin aku terlihat sedikit jahat, tapi percayalah niatku ini baik. Aku hanya ingin Kai mengetahui perasaannya Hara. Hanya itu saja. Aku membutuhkan bantuanmu.”

Ne, aku akan membantumu. Sejujurnya aku tidak tega melihat Hara yang memendam perasaannya. Lalu apa yang bisa kulakukan?”

“Kau hanya menaruh kertas ini di lokernya Kai. Kudengar nomor loker Kai dua satu, itu berarti 21. Kau harus mengingat itu. Ara?”

Ne arraseo, Bukankah itu cukup sulit? Bagaimana jika Kai melihatku?”

“Tidak akan jika kau berhati-hati Ne? Saat ini mereka sedang latihan menari. Pergilah dan lakukan sekarang”

“Hmm…Ne aku akan berhati-hati. Aku pergi sekarang.”

“Ingat jangan sampai ada orang lain atau Kai yang melihatmu.”

Ne, aku tau.”

Park Eunri POV

 

Dengan langkah kecil aku berjalan menuju tempat loker seni tari. Sebisa mungkin aku menahan  diriku untuk tidak menimbulkan suara. Jika aku bersuara, aku takut bagaimana jika ada orang yang mendengarnya kemudian melihatku.

Ku edarkan pandanganku ke segala arah, lalu kuhembuskan nafas dalam. Ah sepi sepertinya tidak ada yang melihatku, bagus beruntunglah aku.

Apa itu lokernya? Kemudian aku berjalan cepat namun kecil untuk mendekati loker itu. Setelah sampai, perlahan aku membuka lokernya.

“Chakkaman, Pabo bagaimana bisa aku melupakan nomor loker Kai”  rutukku dalam hati.

Seingatku kata Baekhyun dua satu, ahh ani dua satu apa satu dua? Pabo, mengapa daya ingatku begitu lemah sekali. Aku yakin pasti nomornya satu dua, berarti nomor 12, ahh iyaaa nomor 12. Dengan cepat aku segera menaruh kertasnya di loker nomor 12. Kemudian aku segera pergi dan meninggalkan tempat itu.

Park Eunri POV End

 

“Park Eunri, kau dari mana? Mengapa kau berlarian?”

“Ahh Hara, kau mengagetkanku. Ku kira kau siapa.”

“Hey kau tidak menjawab pertanyanku, mengapa kau berlarian? Kau habis melakukan apa?”

“Kau tau untunglah tidak ada orang yang melihatku. Aku baru saja meletakkan kertasmu di lokernya Kai.”

“Haaa…apa maksudmu Eunri? Kertas apa?”  Hara curiga kepada Eunri, sepertinya ia menyadari kertas yang dimaksud Eunri

“Ahh..Ani anniya, maksudku kertas…” belum sempat Eunri mengelaknya, Hara langsung berlari menuju loker seni tari.

Ottoke, Apa yang kamu katakan Park Eunri. Pabo kau benar-benar pabo. Mati kau.” Gumam Eunri yang mencibir dirinya sendiri sambil memukul pelan kepalanya.

Hara berlari begitu cepat ia berusaha mengambil kertas yang ada di lokernya Kai. Ia tidak bisa membayangkan, bagaimana jika Kai membaca kertas itu. Ia tidak akan mengampuni Baekhyun dan Eunri.

Di jam yang sama, di sisi lain terdengar suara bel yang menandakan latihan kelas menari sudah selesai. Para mahasiswa berhamburan keluar menuju lokernya masing-masing. Termasuk Kai yang berjalan menuju lokernya. Namun rahang Kai terlihat mengeras saat ia tiba di depan lokernya. Ia melihat namja yang berdiri tak jauh dari lokernya.

“Akhirnya kita bertemu lagi Kkamjong. Bagaimana kabarmu? Aku merindukanmu.” Ucap namja itu yang mulai menyapa Kai. Ia menaikkan salah satu sudut bibirnya, hingga membentuk suatu lengkungan senyuman. Senyuman yang menunjukkan bahwa ia benar-benar merindukan Kai dan bahagia setelah bisa melihat Kai kembali.

“Jangan sebut aku Kkamjong lagi, aku bukan yang dulu lagi.” Jawab Kai dengan seringai kecil. Kemudian Ia mengabaikan namja itu dan membuka lokernya.

Namun sayang. Kai orang yang dirindukan namja itu, justru malah terlihat membencinya dan setengah mengabaikan dirinya. Namja itu hanya bisa tersenyum tipis melihat tanggapan Kai terhadap dirinya, lalu ia memilih untuk membuka lokernya juga.

Saat Kai dan namja itu membuka lokernya, terlihat Hara berdiri di dekat loker sembari mengatur nafasnya setelah ia berlarian cukup jauh.

“Kai.” Pekik Hara.

Mendengar ada yang memanggilnya, Kai kemudian menoleh dan mencari sumber suara itu. Hara terlihat diam membeku, ia terlihat kalut. Apa Kai sudah membacanya, pikiran itu jelas terlintas di benak Hara.

“Hara, apa kertas ini untukku?” Hara mengernyitkan dahinya, bukan Kai yang menjawab panggilannya, namun namja lain. Dan bukan Kai yang memegang kertasnya, tapi justru malah namja lain. Ia semakin bingung.

“Bagaimana kau bisa tau namaku? Chakkaman, mengapa kau terlihat mirip seperti Kai? Bagaimana bisa kertasku ada di tanganmu?” Banyak pertanyaan dilontarkan Hara terhadap namja yang sangat asing bagi Hara namun justru malah mengetahui nama Hara.

“Apa ini surat cinta? Kau menyatakan perasaanmu padaku?” namja itu berkata sambil memperlihatkan kertasnya. Bahkan ia tidak menjawab satu pun dari pertanyaan Hara.

“Ah anniya itu salah paham, sebenarnya kertas itu….” Hara berusaha menjelaskannya, namun sayangnya perkataan Hara dengan cepat dipotong namja itu.

Nado saranghae. Kau tau sejak hari pertama masuk kuliah, kau adalah yeoja pertama yang kulihat. Kurasa aku begitu mengagumimu. Awalnya aku hanya ingin tau tentangmu lalu aku penasaran dan aku mulai mengkhawatirkanmu, hingga akhirnya aku selalu merindukanmu. Sejak itu lah aku tau namamu dan selalu memperhatikanmu?” ujar namja itu dengan panjang lebar.

Mwo? Kau menyukaiku? Bisa ku jelaskan, ini hanya salah paham, kertas itu sebenarnya bukan untukmu.” Hara terlihat frustasi bagaimana cara menjelaskannya.

“Sekarang kau resmi menjadi yeojachinguku. Kita memiliki perasaan yang sama” Ucap namja itu dengan tidak memperdulikan perkataan Hara.

Kai merasa kejadian di depan matanya itu sangat mengganggunya, kemudian ia memutuskan untuk meninggalkan tempat itu.

“Kau membuatku muak Taemin-ah” Umpat Kai saat melalui namja itu dan ternyata namja itu bernama Taemin.

Taemin tidak mengerti dengan sikap Kai yang ia sebut sebagai Kkamjong itu. Taemin hanya menatap lekat punggung Kai atau Kkamjong yang semakin menjauh dari pandangannya.

Hara semakin tidak mengerti dengan situasi ini. Dan mengapa namja yang bernama Taemin itu terlihat mirip dengan Kai. Tanpa Hara sadari Eunri dan Baekhyun ternyata melihat kejadian tersebut dari awal. Mereka terlihat menyesal atas apa yang mereka perbuat terhadap Hara.

TBC

Jeongmal mianhae L ceritanya tambah membosankan, gak jelas, dan bertebaran typo disini. Cerita ini murni pemikiran author sendiri, author juga tidak terlalu tau banyak mengenai Seoul National University of Art jadi yang tentang jurusan itu author ngarang banget. Gomawo juga buat para readers yang sudah menyempatkan membaca ff ini. Jangan lupa komen yak J DON’T BE SILENT READER.

Pos ini dipublikasikan di Fan Fiction, K-DID dan tag , , . Tandai permalink.

Don't be silent reader, tulis komentarmu di sini ^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s